Se connecterDorote tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati.
"Maaf, Nyonya. Itu tidak diperbolehkan."
Helena yang sedang bersandar di kursinya perlahan menoleh. Ada sedikit kebingungan di wajahnya karena ia tidak merasa permintaannya aneh. Meminta makan malam di kamar adalah hal yang biasa dilakukan bangsawan, terutama ketika mereka sedang tidak ingin bertemu banyak orang.
"Tidak diperbolehkan?" ulangnya.
Dorote mengangguk kecil. "Di kastel ini ada aturan bahwa makanan harus disantap di ruang makan. Makanan tidak boleh dibawa ke kamar."
Helena mengernyit.
"Aturan siapa?"
"Tuan Marquess." Jawaban itu membuat Helena terdiam sejenak.
Helena menatapnya.
"Tuan Marquess sangat menyukai kebersihan. Beliau tidak menyukai makanan berada di dalam kamar tidur."
Helena tanpa sadar melirik ke sekeliling kamarnya yang luas. Semuanya memang tampak sangat rapi. Tidak ada debu. Tidak ada barang yang diletakkan sembarangan. Bahkan bunga-bunga segar di dalam vas terlihat baru saja diganti.
Namun tetap saja, bukankah suaminya tidak tinggal di tempat lain?
"Bukankah beliau tinggal di paviliun timur?" tanya Helena.
Pertanyaan itu membuat Dorote berhenti sejenak sebelum menjawab.
"Benar, Nyonya."
"Kalau begitu mengapa beliau harus peduli dengan kamar saya?"
Dorote tampak ragu sesaat. Seolah sedang mempertimbangkan bagaimana cara menjawab pertanyaan itu dengan benar. Karena itulah ketika akhirnya ia berbicara, suaranya terdengar lebih pelan dibanding sebelumnya.
"Karena malam nanti beliau akan datang ke kamar Anda lagi."
Helena membeku, ia hanya menatap Dorote tanpa berkata apa-apa. Jantungnya berdetak sedikit lebih keras.
Bukan karena terkejut.
Sebenarnya sejak pagi ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Mereka adalah suami istri. Tidak ada alasan bagi Rezef Laurent untuk tidak datang menemuinya.
Namun mendengar orang lain mengatakannya secara langsung tetap memberikan perasaan yang berbeda.
Malam tadi terasa begitu dekat di ingatannya.
Helena menundukkan pandangannya, wajahnya terasa sedikit panas.
Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan menikah dengan orang asing, lalu membiarkan orang itu memasuki kehidupannya sedemikian cepat.
Namun beginilah kenyataannya sekarang.
Ia adalah seorang istri. Dan malam nanti ia harus kembali menjalankan perannya.
Dorote yang melihat Helena terdiam memilih tidak melanjutkan pembicaraan. Wanita itu hanya berdiri dengan tenang sambil menunggu perintah berikutnya.
Sementara itu Helena perlahan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Aku akan makan di ruang makan."
Dorote tersenyum kecil.
"Baik, Nyonya."
Helena mengangguk pelan.
***
Malam telah larut ketika Helena kembali berbaring di atas ranjang besar itu. Sama seperti malam sebelumnya, seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan.
Tidak ada cahaya lilin. Tidak ada cahaya bulan. Hanya keheningan yang menyelimuti setiap sudut kamar hingga membuat napasnya sendiri terdengar begitu jelas.
Ia berbaring membelakangi sisi ranjang yang kosong, mencoba memejamkan mata meski pikirannya sama sekali tidak tenang. Sejak makan malam berakhir, ia terus memikirkan banyak hal.
Suara pintu yang terbuka pelan memecah kesunyian.
Tubuh Helena langsung menegang saat mendengar langkah kaki terdengar mendekat.
Suara itu membuat jantung Helena berdetak sedikit lebih cepat. Ada sesuatu yang terasa begitu familiar, namun ia segera mengabaikan pikirannya sendiri. Tidak ada gunanya memikirkan hal-hal aneh lagi.
Beberapa saat kemudian, sisi ranjang di belakangnya bergerak halus.
Seseorang naik ke atas ranjang. Kehangatan tubuh lain segera terasa di tengah dinginnya malam.
Helena menahan napas saat lengan melingkar di pinggangnya dari belakang.
Gerakan itu tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya sadar bahwa pria itu kini berada sangat dekat. Sesaat kemudian, embusan napas hangat menyentuh telinganya, diikuti kecupan ringan yang membuat bulu kuduknya meremang.
Perasaan asing itu kembali datang, perasaan yang sama seperti malam sebelumnya.
Helena perlahan membalikkan tubuhnya.
Dalam gelap, ia tidak bisa melihat apa pun. Namun ia tahu pria itu sedang menatapnya. Ia bisa merasakan keberadaannya begitu dekat hingga napas mereka seolah bercampur menjadi satu.
Keheningan hanya bertahan beberapa detik sebelum pria itu menariknya lebih dekat.
Helena memejamkan mata. Pikirannya mendadak kosong.
Segala pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya seolah menghilang begitu saja, tergantikan oleh kesadaran akan kehadiran pria di hadapannya.
Namun kali ini, sebelum semuanya berjalan lebih jauh, Helena memberanikan diri untuk berbicara.
"Saya harap Anda lebih lembut malam ini." Suaranya terdengar pelan.
Gerakan pria di hadapannya terhenti dan tidak ada jawaban. Tidak ada suara selain detak jantung Helena yang tiba-tiba terasa sangat keras di telinganya sendiri.
Helena menelan ludah. Panas menjalar ke wajahnya meski ruangan begitu dingin.
"Bagian bawah tubuh saya masih sakit,"
Helena mengernyit mendengar jawaban itu. Semakin lama, ia merasa Rion sengaja membuat segala sesuatu terdengar lebih rumit daripada yang seharusnya."Bagaimana seseorang bisa menarik perhatian tanpa sengaja?" tanyanya sambil memandang pria yang duduk di hadapannya."Percayalah," jawab Rion setelah beberapa saat, "para bangsawan memiliki bakat luar biasa untuk melakukannya."Helena menatapnya dengan curiga."Apa Anda sedang mengejek saya?"Pertanyaan itu membuat sudut bibir Rion bergerak samar."Tidak." Jawaban yang datang terlalu cepat justru membuat Helena semakin tidak percaya.Rion tampaknya menyadari hal itu, tetapi ia tidak berusaha membela diri. Sebaliknya, ia melipat salah satu kaki di atas kaki lainnya dan memandang Helena dengan ketenangan yang hampir membuat kesabarannya terkikis."Kau adalah istri Marquess Laurent yang belum pernah diperlihatkan kepada publik," ujarnya akhirnya. "Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat seluruh istana membicarakanmu."Kali ini Helena terdia
Helena mengernyit ketika mendengar ucapan Rion. Sejak tadi ia hanya mengikuti arah pembicaraan pria itu tanpa benar-benar memahami mengapa selembar cadar renda menjadi sesuatu yang begitu penting.Bagaimanapun juga ia telah menikah. Bukankah seorang wanita yang sudah memiliki suami tidak lagi diwajibkan mengenakan penutup wajah seperti para gadis yang belum bersuami?"Kenapa saya harus memakainya?" tanyanya akhirnya.Rion yang berdiri beberapa langkah darinya mengalihkan pandangan dari Dorote lalu menatap Helena. Tatapan merah itu terasa tajam, namun tidak menunjukkan kemarahan. Justru ketenangan itulah yang membuat Helena sedikit gugup."Kau mungkin tidak mengetahui aturannya."Helena tidak menjawab. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu akan berjalan.Rion menghela napas pelan sebelum melanjutkan, "Di Kekaisaran, hanya wanita yang telah menikah yang diperbolehkan tampil tanpa cadar renda di acara resmi."Mendengar itu, Helena langsung mengerutkan dahinya."Tapi saya sud
Helena mengerjap pelan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rion, merasa seolah baru saja salah mendengar apa yang dikatakan pria itu."Aku sudah menikah."Sulit dipercaya.Sejak tiba di Kastel Laurent, ia belum pernah sekalipun mendengar keberadaan seorang istri Rion. Tidak ada potret seorang wanita di ruang keluarga. Tidak ada nama yang disebut para pelayan. Bahkan Dorote yang selalu berada di sisinya tidak pernah menyinggung hal itu. Karena itulah, pengakuan tersebut terdengar begitu mengejutkan."Anda sudah menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan.Rion hanya mengangguk ringan, seolah itu bukan sesuatu yang layak diperdebatkan.Helena memperhatikannya beberapa saat. Entah kenapa, semakin tenang sikap pria itu, semakin besar rasa penasarannya. Jika memang benar Rion memiliki seorang istri, lalu di mana wanita itu sekarang? Mengapa tidak ada seorang pun yang membicarakannya?Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari bibirnya."Lalu... di mana istri Anda?"Rion tidak langsung menjawa
"Apa kau keberatan?" Suara Rion membuyarkan lamunannya.Helena mengangkat kepala. Tatapan merah pria itu tertuju padanya dengan tenang, seolah benar-benar menunggu jawaban."Tidak." Jawaban itu keluar setelah jeda singkat. "Aku tidak keberatan."Rion tidak mengatakan apa-apa.Helena menghela napas pelan sebelum melanjutkan."Hanya saja... semuanya terasa begitu tiba-tiba."Sudut bibir Rion terangkat tipis. Namun kali ini senyum itu tidak mengandung godaan seperti biasanya. Justru terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang menurutnya menarik."Tidak ada yang tiba-tiba."Helena mengernyit."Tidak?""Tidak."Rion berjalan perlahan menuju jendela di belakang meja kerjanya."Kau adalah Marchioness Laurent." Nada suaranya terdengar datar, namun tegas. "Seharusnya kau sudah memahami posisimu bahkan sebelum menyetujui pernikahan ini."Helena tidak langsung menjawab.Tatapannya turun sesaat ke lembaran kertas di tangannya. Ia tahu Rion tidak sepenuhnya salah. Sejak awal,
Helena mengikuti pelayan yang mengantarnya hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di ujung lorong. Setelah mendapat izin masuk, ia melangkah ke dalam ruangan yang ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.Ruangan itu tidak terlihat seperti ruang kerja seorang bangsawan pada umumnya. Tidak ada hiasan berlebihan ataupun perabot mewah yang sengaja dipamerkan untuk menunjukkan kekuasaan pemiliknya.Yang ada hanyalah rak-rak buku yang memenuhi sebagian besar dinding, meja kerja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen, serta jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya siang masuk dengan leluasa.Di balik meja itu, Rion sedang duduk sambil membaca sesuatu. Ia bahkan tidak langsung menyambut kedatangannya.Tatapan merah gelapnya masih tertuju pada dokumen di tangannya, sementara jemarinya yang panjang membalik halaman dengan tenang. Baru setelah beberapa saat, pria itu meletakkan dokumen tersebut dan mengangkat kepalanya."Aku rasa aku memintamu datang setelah kau selesai
Dorote terdiam setelah mendengar pertanyaan itu. Helena yang duduk di depan meja rias memperhatikan wanita tersebut melalui pantulan cermin.Perubahan pada wajah Dorote sebenarnya nyaris tidak terlihat, hanya jeda sesaat sebelum menjawab dan cara pandangannya turun ke lantai seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Namun bagi Helena yang sejak kecil dibesarkan di lingkungan bangsawan, hal-hal kecil seperti itu justru lebih mudah ditangkap daripada kata-kata yang diucapkan dengan lantang."Aku hanya memastikan kepada Sir Tom," jawab Dorote akhirnya dengan nada hati-hati. "Beliau mengatakan bahwa Tuan memang datang ke kamar Anda sebelum fajar."Helena mengangguk pelan. Secara logika, jawaban itu seharusnya cukup. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Dorote telah memastikan kebenaran ucapannya dan kesalahpahaman itu selesai sampai di sana. Namun entah mengapa, semakin ia memikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Yang mengganggunya bukanlah isi jawaban Dorote, melainkan cara wanita







