Compartilhar

Bab 8

Autor: Lalapoo
last update Data de publicação: 2026-06-10 22:34:53

Helena membeku di tempatnya.

Ia bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika Rion sudah berbalik dan melangkah pergi. Sosok tinggi itu berjalan menyusuri lorong dengan langkah tenang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. 

Dalam beberapa detik, punggung pria itu menghilang di balik belokan koridor. Meninggalkan Helena sendirian dan meninggalkan kalimat terakhirnya yang masih terngiang jelas di kepala Helena.

Helena menundukkan pandangannya ke arah dokumen yang masih berada di tangannya. Jemarinya mencengkeram kertas itu sedikit lebih erat.

Baru sekarang ia menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari pikirannya. Rion bukan sekadar adik Marquess.

Semua orang di kastel ini mendengarkannya, keputusan seolah melewati tangannya, para pelayan mematuhi perintahnya. Bahkan kebutuhan Helena sendiri rupanya diatur atas instruksinya.

Dan ia baru saja menampar pria itu.

Helena memejamkan mata sejenak. Rasa malu perlahan mulai muncul menggantikan amarah yang sebelumnya menguasainya.

Sebagai seorang putri, ia dibesarkan untuk menjaga sikap dalam keadaan apa pun. Bahkan ketika marah, seorang bangsawan seharusnya tetap mampu mengendalikan dirinya.

Namun tadi ia benar-benar kehilangan kesabaran.

Meski demikian, Helena juga tidak bisa memaksa dirinya menyesal sepenuhnya.

Rion terus mendorong batas yang tidak seharusnya disentuh. Cara pria itu berbicara, cara ia memandangnya, bahkan cara ia menyebut kakaknya sendiri membuat Helena merasa tidak nyaman.

Pria itu seperti sengaja memainkan kesabarannya.

"Apa sebenarnya yang salah dengan pria itu..." gumam Helena pelan.

Ia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju kamarnya.

Lorong-lorong kastel kembali terasa sunyi. Tidak ada suara percakapan dan tidak ada pelayan yang berlalu-lalang. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang bergema pelan di sepanjang koridor batu.

Keheningan seperti ini masih terasa asing baginya.

Di istana Elvard, tempat ia dibesarkan, selalu ada kehidupan di setiap sudut. Para pelayan berjalan membawa nampan, para pengawal berjaga di koridor, para bangsawan datang dan pergi silih berganti.

Sedangkan kastel Laurent terasa seperti dunia yang berbeda.

Saat tiba di kamarnya, Dorote langsung membungkukkan tubuh.

"Nyonya."

Helena mengangguk kecil lalu berjalan masuk.

Wanita paruh baya itu tampak sedang mengatur beberapa pakaian di lemari ketika ia bertanya, "Apakah Anda ingin mandi sekarang?"

Helena melepaskan sarung tangan tipisnya sambil menggeleng.

"Mandi?"

"Ya, Nyonya. Biasanya akan lebih baik jika Anda mandi sebelum makan malam."

Helena berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang kastel.

"Aku akan mandi setelah makan malam." Ia menjatuhkan tubuhnya perlahan ke kursi di dekat jendela. "Dengan begitu aku bisa langsung beristirahat setelahnya."

Dorote mengangguk.

"Tentu, Nyonya."

Helena memandang keluar jendela beberapa saat sebelum pikirannya kembali pada percakapan dengan Tom.

"Berapa banyak pelayan yang bekerja di kastel ini?"

Pertanyaan itu membuat wanita itu terlihat sedikit terkejut.

"Mengapa Anda bertanya, Nyonya?"

Helena mengangkat dokumen di tangannya.

"Karena kurasa semua ini nantinya akan menjadi tanggung jawabku."

Dorote mengangguk pelan.

"Aku hanya merasa aneh. Kastel ini sangat besar, tetapi aku hampir tidak pernah melihat pelayan."

Dan itu memang benar. Sejak kemarin ia datang, jumlah orang yang ditemuinya bisa dihitung dengan jari. Padahal kastel sebesar ini seharusnya membutuhkan puluhan bahkan ratusan pelayan.

Dorote tersenyum kecil.

"Itu karena Tuan Muda Rion tidak menyukai keramaian."

Helena menoleh.

"Tidak menyukai keramaian?"

"Ya. Sebagian besar pelayan tinggal di asrama setelah pekerjaan mereka selesai. Mereka hanya akan datang ketika dibutuhkan atau saat dipanggil."

Helena perlahan mengangguk karena penjelasan itu masuk akal.

"Aku mengerti."

Dorote kembali merapikan pakaian di lemari. Helena memperhatikannya sesaat.

Sebenarnya ia cukup menyukai wanita itu. Dorote sopan dan bekerja dengan baik. Namun tetap saja, memiliki satu pelayan pribadi terasa kurang nyaman baginya.

Terutama karena Dorote sudah cukup berumur dan tidak selalu bisa menemaninya ke mana-mana.

"Kalau aku meminta tambahan pelayan, apakah itu akan menjadi masalah?"

Dorote berhenti bergerak.

"Tidak, Nyonya."

"Lalu kepada siapa aku harus mengajukannya?"

"Kepada Tuan Muda Rion."

Helena menahan diri untuk tidak menghela napas.

"Kalau begitu berikan aku beberapa rekomendasi."

Dorote tersenyum.

"Anda ingin memilih sendiri?"

"Aku rasa itu lebih baik."

"Baik, Nyonya. Saya akan menyiapkan daftar pelayan yang tersedia."

Helena mengangguk lalu kembali memandang keluar jendela.

Matahari perlahan mulai turun di balik pegunungan yang mengelilingi kastel. Langit berubah menjadi semburat jingga keemasan yang indah.

"Aku ingin makan malam di kamar saja."

Keheningan mendadak memenuhi ruangan.

Helena membuka mata dan menoleh.

Dorote masih berdiri di tempatnya, wanita itu tampak ragu. Bukan ragu karena tidak mendengar, melainkan ragu karena tidak tahu harus menjawab apa.

Helena mengernyit karena reaksi itu terlalu aneh untuk permintaan yang sangat sederhana.

"Apakah tidak boleh?" 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 25

    Helena mengernyit mendengar jawaban itu. Semakin lama, ia merasa Rion sengaja membuat segala sesuatu terdengar lebih rumit daripada yang seharusnya."Bagaimana seseorang bisa menarik perhatian tanpa sengaja?" tanyanya sambil memandang pria yang duduk di hadapannya."Percayalah," jawab Rion setelah beberapa saat, "para bangsawan memiliki bakat luar biasa untuk melakukannya."Helena menatapnya dengan curiga."Apa Anda sedang mengejek saya?"Pertanyaan itu membuat sudut bibir Rion bergerak samar."Tidak." Jawaban yang datang terlalu cepat justru membuat Helena semakin tidak percaya.Rion tampaknya menyadari hal itu, tetapi ia tidak berusaha membela diri. Sebaliknya, ia melipat salah satu kaki di atas kaki lainnya dan memandang Helena dengan ketenangan yang hampir membuat kesabarannya terkikis."Kau adalah istri Marquess Laurent yang belum pernah diperlihatkan kepada publik," ujarnya akhirnya. "Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat seluruh istana membicarakanmu."Kali ini Helena terdia

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 24

    Helena mengernyit ketika mendengar ucapan Rion. Sejak tadi ia hanya mengikuti arah pembicaraan pria itu tanpa benar-benar memahami mengapa selembar cadar renda menjadi sesuatu yang begitu penting.Bagaimanapun juga ia telah menikah. Bukankah seorang wanita yang sudah memiliki suami tidak lagi diwajibkan mengenakan penutup wajah seperti para gadis yang belum bersuami?"Kenapa saya harus memakainya?" tanyanya akhirnya.Rion yang berdiri beberapa langkah darinya mengalihkan pandangan dari Dorote lalu menatap Helena. Tatapan merah itu terasa tajam, namun tidak menunjukkan kemarahan. Justru ketenangan itulah yang membuat Helena sedikit gugup."Kau mungkin tidak mengetahui aturannya."Helena tidak menjawab. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu akan berjalan.Rion menghela napas pelan sebelum melanjutkan, "Di Kekaisaran, hanya wanita yang telah menikah yang diperbolehkan tampil tanpa cadar renda di acara resmi."Mendengar itu, Helena langsung mengerutkan dahinya."Tapi saya sud

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 23

    Helena mengerjap pelan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rion, merasa seolah baru saja salah mendengar apa yang dikatakan pria itu."Aku sudah menikah."Sulit dipercaya.Sejak tiba di Kastel Laurent, ia belum pernah sekalipun mendengar keberadaan seorang istri Rion. Tidak ada potret seorang wanita di ruang keluarga. Tidak ada nama yang disebut para pelayan. Bahkan Dorote yang selalu berada di sisinya tidak pernah menyinggung hal itu. Karena itulah, pengakuan tersebut terdengar begitu mengejutkan."Anda sudah menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan.Rion hanya mengangguk ringan, seolah itu bukan sesuatu yang layak diperdebatkan.Helena memperhatikannya beberapa saat. Entah kenapa, semakin tenang sikap pria itu, semakin besar rasa penasarannya. Jika memang benar Rion memiliki seorang istri, lalu di mana wanita itu sekarang? Mengapa tidak ada seorang pun yang membicarakannya?Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari bibirnya."Lalu... di mana istri Anda?"Rion tidak langsung menjawa

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 22

    "Apa kau keberatan?" Suara Rion membuyarkan lamunannya.Helena mengangkat kepala. Tatapan merah pria itu tertuju padanya dengan tenang, seolah benar-benar menunggu jawaban."Tidak." Jawaban itu keluar setelah jeda singkat. "Aku tidak keberatan."Rion tidak mengatakan apa-apa.Helena menghela napas pelan sebelum melanjutkan."Hanya saja... semuanya terasa begitu tiba-tiba."Sudut bibir Rion terangkat tipis. Namun kali ini senyum itu tidak mengandung godaan seperti biasanya. Justru terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang menurutnya menarik."Tidak ada yang tiba-tiba."Helena mengernyit."Tidak?""Tidak."Rion berjalan perlahan menuju jendela di belakang meja kerjanya."Kau adalah Marchioness Laurent." Nada suaranya terdengar datar, namun tegas. "Seharusnya kau sudah memahami posisimu bahkan sebelum menyetujui pernikahan ini."Helena tidak langsung menjawab.Tatapannya turun sesaat ke lembaran kertas di tangannya. Ia tahu Rion tidak sepenuhnya salah. Sejak awal,

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 21

    Helena mengikuti pelayan yang mengantarnya hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di ujung lorong. Setelah mendapat izin masuk, ia melangkah ke dalam ruangan yang ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.Ruangan itu tidak terlihat seperti ruang kerja seorang bangsawan pada umumnya. Tidak ada hiasan berlebihan ataupun perabot mewah yang sengaja dipamerkan untuk menunjukkan kekuasaan pemiliknya.Yang ada hanyalah rak-rak buku yang memenuhi sebagian besar dinding, meja kerja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen, serta jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya siang masuk dengan leluasa.Di balik meja itu, Rion sedang duduk sambil membaca sesuatu. Ia bahkan tidak langsung menyambut kedatangannya.Tatapan merah gelapnya masih tertuju pada dokumen di tangannya, sementara jemarinya yang panjang membalik halaman dengan tenang. Baru setelah beberapa saat, pria itu meletakkan dokumen tersebut dan mengangkat kepalanya."Aku rasa aku memintamu datang setelah kau selesai

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 20

    Dorote terdiam setelah mendengar pertanyaan itu. Helena yang duduk di depan meja rias memperhatikan wanita tersebut melalui pantulan cermin.Perubahan pada wajah Dorote sebenarnya nyaris tidak terlihat, hanya jeda sesaat sebelum menjawab dan cara pandangannya turun ke lantai seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Namun bagi Helena yang sejak kecil dibesarkan di lingkungan bangsawan, hal-hal kecil seperti itu justru lebih mudah ditangkap daripada kata-kata yang diucapkan dengan lantang."Aku hanya memastikan kepada Sir Tom," jawab Dorote akhirnya dengan nada hati-hati. "Beliau mengatakan bahwa Tuan memang datang ke kamar Anda sebelum fajar."Helena mengangguk pelan. Secara logika, jawaban itu seharusnya cukup. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Dorote telah memastikan kebenaran ucapannya dan kesalahpahaman itu selesai sampai di sana. Namun entah mengapa, semakin ia memikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Yang mengganggunya bukanlah isi jawaban Dorote, melainkan cara wanita

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status