LOGINButiran pasir kembali jatuh, tetapi rasa waktu justru berhenti di tubuh Elena. Yang ada hanya jantungnya yang berdegup begitu keras sampai ia tak yakin apakah Rafael juga bisa mendengarnya.
Namun kali ini berbeda, Rafael tidak duduk. Ia hanya berdiri, punggungnya membelakangi Elena, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata manusia. “Elena,” suaranya pelan, tetapi anehnya lebih mengancam dibanding ketika ia berteriak. “Ada sesuatu dari caramu memandang yang membuat saya ingin menghancurkanmu.” Elena menelan ludah, tenggorokannya perih. “Saya … saya tidak tahu apa maksudmu.” “Kau melihat saya seperti ibuku melihat ayah saya,” jawabnya tanpa menoleh. Elena membeku. Ia tidak memahami apa pun dari kalimat itu, tetapi ia tahu satu hal, luka Rafael bukan tentang pembunuhan semalam, bukan hanya tentang rahasia De Luca, ini lebih pribadi. Terlalu pribadi, dan dia terseret masuk tanpa mengerti alasannya. Rafael menoleh perlahan, tatapannya tajam namun kosong, seperti luka lama yang belum pernah sembuh. “Ibu saya,” katanya datar, “dibunuh oleh orang yang ia percayai. Pengkhianatan terbesar dalam hidup saya bukan pedang di leher saya, tapi kenyataan bahwa saya gagal menyelamatkannya.” Elena menahan napas, untuk sepersekian detik ia melihat sisi manusia Rafael , dan di detik yang sama ia tahu sisi itu jauh lebih berbahaya. “Kau memandang saya seperti dia memandang ayah saya di malam sebelum ia mati,” lanjut Rafael. “Dengan campuran takut, dan berharap saya akan berubah.” Elena menggeleng cepat. “Saya tidak berharap apa pun dari ...” “Diam!" Satu kata itu seperti cambuk di udara, Elena langsung terdiam. Rafael akhirnya mendekat, ia berjalan perlahan seperti predator menghampiri mangsa, satu langkah yang membuat tubuh Elena semakin membatu. “Kau pikir saya masih bisa berubah?” bisiknya, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Elena. Elena tidak menjawab, ia tak tahu jawaban apa yang tepat, setiap kata terasa seperti bom waktu. “Jawab.” Rafael memaksa. Elena menarik napas gemetar. “Saya … saya pikir setiap orang bisa berubah kalau mereka mau ...” Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Rafael mendadak meraih kursinya, bukan tangannya, bukan rambutnya, tetapi kursinya, lalu mengangkatnya dari tanah dengan kekuatan yang mengejutkan. Elena terangkat bersama kursi itu, tubuhnya kaku karena shock. Punggung kursi membentur lantai kasar setelah Rafael melemparkannya ke samping. Bukan tubuh Elena yang terkena pukulan itu, tetapi rasa sakit dari benturan tali di pergelangan tangannya membuatnya hampir menjerit. Rafael berdiri tepat di atasnya. “Itulah masalahmu, kau berpikir manusia bisa berubah.” Nafasnya berat, dan zenit ancaman dalam suaranya jauh lebih menakutkan dibanding kekerasan fisik apa pun. “Saya tidak butuh orang yang berharap saya menjadi orang baik. Orang baik mati duluan dalam dunia saya.” Ia meraih kursi, memutarnya hingga Elena menghadapnya lagi. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Elena bisa merasakan hembusan napas Rafael di kulitnya. Setiap detik membuat seluruh tubuhnya menjerit untuk kabur, meski dia tidak bisa bergerak. “Kau bilang kau tidak tahu apa yang Marcello berikan pada saya,” katanya pelan, “dan mungkin itu benar, atau mungkin kau menyimpannya di kepalamu untuk ditukar dengan hidupmu.” “Saya tidak menyembunyikan apa pun! Saya tidak tahu apa!” “Kita lihat.” Rafael berbalik menuju meja baja, Elena langsung meronta panik. “Rafael! Tolong jangan lakukan apa pun! Saya tidak berbohong! Dengarkan saya!” Rafael mengabaikannya, ia mengambil selembar kain hitam, kemudian sebuah wadah kecil logam. Elena tidak tahu itu apa, tetapi suara klik penutupnya membuat tubuhnya semakin beku. Rafael kembali mendekat, ia meraih wajah Elena, membungkus matanya dengan kain hitam, sepenuhnya gelap. “Tidak, tolong … jangan. Saya mohon …” “Diam,” Rafael mengikatkan kain lebih kencang. “Seseorang hanya bisa jujur ketika ia tidak tahu apa yang menunggunya.” Kini Elena tidak melihat apapun, dan ketakutan melonjak menjadi sesuatu yang jauh lebih parah, karena kesunyian kini lebih menyiksa daripada ancaman. Ia mendengar suara langkah, sesuatu diseret seperti laci dibuka, dan metal beradu. Elena merintih ketakutan. “Rafael, cerita apa pun yang kamu pikir saya tahu, saya tidak tahu! Saya tidak tahu!” Tidak ada jawaban, ada suara mendesis, seperti gas? seperti zat kimia? Elena panik. “Ketakutanmu bukan tentang rasa sakit,” Rafael akhirnya berkata pelan. “Ketakutanmu adalah tentang ketidakpastian.” Rafael mendekat lagi, suaranya nyaris menyentuh telinga Elena. “Dan saya akan menggunakan itu.” Ada sesuatu menyentuh kulit lengannya, dingin, tipis, logam. Bukan pukulan, bukan pisau, hanya sentuhan. Namun, karena ia tidak bisa melihat, tubuh Elena bereaksi seperti itu adalah ancaman kematian. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Tolong … tolong .…” Rafael tidak merendah, tetapi suaranya turun menjadi lirih seperti mematikan karena terlalu tenang. “Setiap orang yang pernah saya hukum, menangis saat mereka melihat darah, tapi kau menangis sebelum apa pun terjadi, kau pecah tanpa disentuh.” Rafael mengangkat dagu Elena perlahan, begitu pelan justru yang membuatnya lebih menakutkan. “Saya bisa merusak tubuhmu atau pikiranku bisa merusak jiwamu. Mana yang menurutmu lebih parah?” Elena tidak bisa menjawab, ia hanya menangis sambil menggigit bibir agar tidak berteriak. Rafael menurunkan kain penutup mata, tetapi tidak seluruhnya. Ia hanya menarik sedikit sehingga Elena bisa melihat bayangan, bukan detail. “Setiap detik dari sekarang kau tidak tahu apakah saya akan menyakitimu atau tidak.” Rafael meletakkan tinjunya di sandaran kursi, tubuhnya menunduk. “Dan pikiranmu akan menyiksa dirimu lebih keras daripada yang bisa saya lakukan.” “Kenapa ...,” suara Elena pecah. “Kenapa kau melakukan ini?” “Kau mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya kubunuh dulu,” jawab Rafael pelan. “Ibuku. Kalau saya membunuhnya sebelum ayahku, dia tidak akan menderita, dan saya tidak akan kehilangan segalanya.” Elena terpaku. “Kau menyalahkan dirimu ....” Rafael menepuk pipi Elena cepat, tidak menyakitkan tetapi untuk memotong kata-katanya. “Bukan urusanmu.” Ia berdiri, lalu berjalan lagi mengelilingi kursi. “Kau harus membayar sesuatu yang bukan salahmu. Itulah dunia, tidak adil, tidak logis, dan tidak peduli.” Langkahnya berhenti tepat di belakang, Elena merasakan napasnya di leher. “Tapi kalau kau ingin hidup,” bisiknya, “kau harus membuktikan bahwa kau bukan ancaman bagi saya.” “Bagaimana?!” Elena menangis frustasi. “Apa lagi yang kamu mau? Darah? Informasi? Kepatuhan?!” Rafael tidak menjawab, saat ia kembali muncul di depan, pandangannya gelap, bukan marah, tetapi jauh lebih kosong dari itu. “Yang saya inginkan,” katanya perlahan, “adalah memastikan kau tidak akan pernah melawan saya.” Rafael mengangkat tangan, menghapus setitik air mata dari pipi Elena dengan ibu jarinya. Sentuhan itu lembut, namun menyakitkan bagi Elena. “Selama kau takut pada saya, kau aman.” Itu kata-kata terburuk yang pernah didengar Elena. Jam pasir masih mengalir, waktu belum habis, dan itu bukan pertanda baik. Rafael membuka ikatan kain pada penutup mata Elena, kali ini sepenuhnya. Dunia kembali terlihat, tetapi bagi Elena tidak ada rasa aman. Elena terisak. “Saya tidak akan pernah bisa melawanmu, saya bahkan tidak bisa bergerak.” “Bagus,” Rafael mengangguk. Namun, suaranya berubah, bukan karena puas dan lega, melainkan kecewa. “Kau menyerah terlalu cepat. Kau tidak berjuang untuk hidupmu.” Elena membeku, ia baru sadar, Rafael tidak ingin kepatuhan. Ia ingin Elena melawan supaya ia bisa merasa berhak menghabisinya. Rafael menunduk sangat dekat ke wajah Elena, mata mereka terkunci. “Melawanlah,” bisiknya. “Buat saya membunuhmu dengan alasan.” Elena terguncang, ia tidak tahu bagian mana dari Rafael yang lebih berbahaya, yang ingin menyelamatkannya atau yang ingin menghancurkannya. Dan justru karena ia takut mati, ia terpaksa melawan. “Saya tidak akan menjadi milikmu,” Elena berkata pelan tapi tegas. “Kalau kau membunuhku, kau akan menanggungnya seumur hidup.” Tatapan Rafael tidak berubah, tetapi sesuatu di dalam dirinya jelas terguncang. Namun, dia tidak menunjukkan kelemahan itu. “Kesalahan,” katanya. Tangan Rafael terarah ke tengkuk kursi, jari-jarinya menegang seolah ia akan meremukkan besi itu.Ruangan itu kembali sunyi setelah pintu menutup, sepi yang bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sejenis pengosongan yang menempel pada dinding dan lantai. The Ghost berdiri beberapa saat di ambang pintu, tangan masih menjari gagang, lalu melangkah kembali ke meja. Ia menatap gelas bourbon yang selama ini tidak tersentuh. Jejak jarinya di bibir gelas itu tampak samar dalam gelap, seperti tanda yang menunggu untuk diartikan. The Ghost mengangkat gelas itu perlahan, bukan untuk menenggaknya, kebiasaan, atau ritual kecil untuk memastikan bahwa pilihan masih ada, lalu meletakkannya kembali. Di dalam sakunya ada sesuatu yang lebih penting, sebuah paket kecil yang ia tarik keluar dengan gerakan halus. Bungkusan kertas cokelat, pita hitam, tak ada label, hanya bau keringat manusia dan minyak mesin yang menempel sebagai kesaksian hidupnya yang berkelana di lorong-lorong gelap kota.Ia duduk. Meja baja memantulkan sedikit senyumannya yang kering. Dengan teliti The Ghost
Ruangan itu seperti perut malam yang menelan cahaya. Dinding-dindingnya hitam, bukan sekadar warna cat, tapi seperti menelan segala pantulan, membuat udara terasa berat. Di tengah ruangan, hanya ada meja baja tanpa pantulan dan dua kursi. Di atas meja, segelas bourbon yang belum disentuh, dingin seperti niat di balik pertemuan ini.Suara langkah muncul dari lorong panjang. Tak terburu-buru, tapi juga tidak malas, ritme terukur dari seseorang yang tahu betul siapa dirinya. The Ghost duduk, menunggu. Tubuhnya condong sedikit ke depan, jari-jari mengetuk pelan permukaan logam. Ketika pintu terbuka, cahaya dari luar hanya menampakkan siluet seseorang sebelum segera tertelan gelap lagi.“Sudah lama,” suara itu berat, datar, tapi penuh nada sindiran halus.“Belum cukup lama,” jawab The Ghost tanpa menoleh. “Waktu di dunia ini terlalu murah untuk disebut lama.”Orang misterius itu tertawa pendek. “Kau masih sama. Dingin. Sok tahu. Dan selalu berbicara seolah dunia ini di bawah kakimu.”“Buka
Rafael keluar dari mobilnya, mantel panjangnya berkibar ditiup angin malam. Marco berjalan di belakang, masih dengan perban di pelipis. Setelah pertemuannya dengan Marchetti, ia memutuskan ke klub malam miliknya. “Sudah lama kau tidak datang ke sini, Don,” ucap Marco. Rafael hanya menjawab dengan anggukan pelan. Asap rokoknya terhembus, memudar di udara. Di dalam, klub itu tidak seramai biasanya. Musik lembut dari piano mengalun, samar di antara percakapan pelan dan gelas-gelas yang saling beradu. Lampu-lampu gantung menyorot lembut, memantulkan cahaya ke dinding. Rafael melangkah masuk. Semua mata langsung menunduk. Para pelayan yang mengenalinya bergerak cepat, satu mengambil mantel, satu lagi menuntunnya ke meja pribadi di lantai atas, tempat biasa ia duduk. Namun langkahnya terhenti sebelum sampai ke tangga. Di panggung kecil di ujung ruangan, di bawah sorot cahaya biru muda, seorang wanita duduk di depan piano. Elena. Jari-jarinya menari di atas tuts, lembut nam
Di luar, pelabuhan sudah dikepung orang-orangnya. Puluhan pria berpakaian gelap bergerak tanpa suara, menyebar di antara peti-peti kontainer seperti bayangan yang sedang berburu. “Pastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup,” ucapnya datar. Salah satu anak buahnya pun menjawab, “Siap, Don.” Rafael menatap ke luar. Dari kejauhan, api kecil menyala, lalu meledak. Kontainer pertama terbakar, disusul ledakan kedua di sisi kiri dermaga. Suara tembakan mulai terdengar, bersahut-sahutan, memantul di antara dinding logam. Ia tersenyum kecil. “Sudah dimulai.” Marco duduk di belakang, kepalanya masih mengeluarkan darah segar, tapi matanya tajam. “Mereka pikir bisa menyentuh pelabuhan kita begitu saja.” “Tidak,” jawab Rafael. “Mereka pikir aku akan diam.” Di tangan kirinya, ia memegang pistol kecil. Di tangan kanan, sebatang rokok yang masih menyala. Asapnya menari-nari di udara dingin. Dua orang anak buahnya mendekat. “Don, mereka bersembunyi di gudang tiga. Sekitar delapan orang.
Waktu berjalan cepat, tapi bukan berarti Rafael berhenti. Sudah dua minggu sejak pencurian itu.Dan sejauh ini, nihil. Tak ada jejak. Tak ada nama.Semua anak buahnya seperti menabrak dinding yang tak terlihat.Rafael berdiri di ruang bawah tanah miliknya, memandang lampu-lampu yang berkelap-kelip. Asap rokok di tangannya menari, tipis, lalu menghilang diterpa angin. Di depan pintu, dua orang anak buahnya sedang menyeret seorang pria bertubuh gemuk ke tengah ruangan. Mulut pria itu ditutup lakban, tangannya diikat dengan tali plastik. Tubuhnya penuh debu dan keringat.“Buka,” kata Rafael datar.Salah satu anak buahnya merobek lakban itu. Pria gemuk itu langsung terbatuk, hampir tersedak udara.“Don Rafael, saya—”“Diam,” potong Rafael.Nada suaranya pelan, tapi mengandung sesuatu yang membuat semua orang di ruangan itu menelan ludah.Rafael menurunkan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke mata pria itu. Tatapannya dingin. Datar. Tak ada amarah, tapi justru itulah yang paling menakutka
Malam itu vila Rafael di tepi pantai Amalfi berkilau seperti istana para dewa. Lampu kristal bergantung di langit-langit tinggi, cahaya keemasan memantul di dinding kaca, sementara musik elektronik berdenyut menembus udara. Lantai marmer dingin dipenuhi jejak langkah tangannya. Model, bintang televisi, pengusaha yang haus sensasi, dan wanita-wanita muda yang datang hanya untuk menjadi bagian dari pesta sang Don.Di halaman belakang, kolam renang memantulkan cahaya bulan. Alkohol mengalir seperti sungai. Sampanye, bourbon, vodka, semua dituang tanpa henti. Tawa keras bercampur dengan desahan, tubuh-tubuh menempel, dan aroma parfum bercampur dengan bau tembakau mahal.Namun di tengah kegaduhan itu, Rafael duduk di kursi kulit hitam di ruang utama vila. Wajahnya tetap dingin, matanya kelam, menatap kerumunan tanpa benar-benar melihat. Ia menyalakan cerutu, mengisapnya dalam-dalam, lalu membuang asapnya dengan gerakan lambat.Semua ini seharusnya menghiburnya.Tapi tidak.Sejak malam di k







