Share

Bab 196

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-07-06 16:33:24
Pintu apartemen baru saja tertutup ketika Acha melepaskan tas selempangnya begitu saja ke atas sofa.

Bruk.

Sejak pagi tadi ia memang sudah memberi tahu Elvano bahwa sepulang kerja ingin menginap semalam di apartemen Celine. Namun, seperti biasa, pria itu tetap tak membiarkannya pergi sendirian. Bahkan, Raka diminta mengantarnya sampai benar-benar tiba di depan apartemen.

“Nih, orangnya datang juga,” celetuk Celine yang sejak tadi duduk selonjoran di karpet ruang tengah.

Tanpa banyak bicara,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Moms Nata
ka ko blm up bab selanjutnya sih
goodnovel comment avatar
Mhay Sasikirana
astagaaa...kok bab nya samaa
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
huhuhuhu bab yg sama la thorrr...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 244

    Elvano mengulurkan tangan ke arah Acha, meski wanita itu hanya menatap tangan tersebut dengan tatapan heran.Setelah beberapa saat terdiam, seolah mempertimbangkan ajakan Elvano, Acha akhirnya menerima uluran tangan itu.Jemari Elvano langsung menggenggam tangan Acha dengan erat, meski tidak memaksa. Seakan pria itu sengaja memberinya kesempatan untuk menarik tangan kapan saja jika berubah pikiran.Mereka akhirnya berjalan keluar dari penthouse bersama.Begitu pintu utama gedung terbuka di lantai bawah, Acha langsung melihat seseorang yang sudah berdiri di parkiran depan.“Dina?”Tampaknya, sahabatnya itu sudah datang untuk menjemputnya.Dina yang sejak tadi memainkan ponsel di dekat mobil seketika mengangkat kepala begitu melihat mereka. Matanya sempat berpindah dari Acha ke Elvano yang masih menggenggam tangan wanita itu.Acha spontan melirik tangan mereka.Elvano tampaknya juga menyadarinya, tetapi alih-alih melepaskan, pria itu justru tetap menggenggam tangan Acha.Berbeda dengan

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 243

    “Saya juga bukan sengaja pulang bareng dia,” ungkap Elvano. Nada suaranya tetap tenang. “Hanya kebetulan.”Mata Acha sontak menyipit tajam.Kebetulan lagi?Sialnya, pernyataan Elvano itu malah membuat dadanya jadi tak nyaman rasanya.“Dua hari sebelum saya ke Surabaya, Omanya meninggal,” lanjut Elvano. “Dimakamkan di sana karena kota kelahiran omanya memang di sana. Kebetulan, saat saya hendak kembali ke Jakarta, Nadine juga akan pulang.”Acha yang semula hendak kembali memalingkan wajah akhirnya terdiam.Ia menatap Elvano penuh, seolah masih butuh penjelasan lebih banyak lagi.“Kami berada dalam penerbangan yang sama.”“Saya memang ada urusan bisnis di Surabaya,” lanjut Elvano. “Nadine juga harus ke sana untuk pemakaman omanya, tapi kita nggak ketemu, selain ketika di akan pulang.”Acha masih menatapnya penuh selidik.“Sampai ikut ke kantor juga itu kebetulan?”“Taksinya terkena macet karena ada kecelakaan beruntun waktu itu. Jadi saya tawarkan tumpangan.”Acha tertawa hambar sambil

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 242

    Keduanya kini duduk berhadapan di dekat jendela penthouse.Acha menyilangkan tangan di depan dada. Salah satu kakinya bertumpu di atas kaki yang lain, sementara pandangannya sengaja diarahkan ke luar jendela. Ia tidak ingin terus menatap Elvano.Entah kenapa, melihat pria itu justru membuat dadanya semakin sesak.Ia sudah mengatakan akan mendengarkan. Jadi sekarang, ia hanya perlu mendengar.Di sofa tak jauh darinya, Elvano duduk dengan kedua tangan saling menggamit di atas paha. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pria itu tampak seperti sedang menyusun kalimat yang paling tepat untuk menjelaskan semuanya.Sampai akhirnya suara Elvano memecah keheningan di antara mereka.“Pertama, soal saya menjemput Nadine di bandara.”Acha menoleh sejenak, kemudian kembali menatap suasana malam di balik jendela.“Saya nggak akan mengelak.” Elvano menarik napas pelan. “Setelah mengantarmu pulang dari gala dinner malam itu, saya memang pergi untuk menjemput Nadine.”Acha menatapnya beberapa detik. Ia

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 241

    Acha masih menatap Elvano dengan tatapan tak percaya.Beberapa detik lalu pria itu tiba-tiba menciumnya tanpa izin, dan sekarang dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak diizinkan pergi.Sebenarnya apa yang diinginkan pria ini darinya?“Nggak mengizinkan?” ulang Acha. Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.Elvano masih menatapnya lekat. “Iya.”Acha terdiam beberapa detik, seolah sedang memastikan bahwa dia tidak salah dengar, sebelum sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.Bukan karena lucu, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk tahu harus merespons seperti apa.“El, kamu ini sudah gila, ya?”Rahang Elvano mengeras. Dia belum menjawab ketika Acha kembali bicara.“Kamu nggak seharusnya melakukan ini!” Acha menunjuk bibirnya sendiri. Matanya mulai memerah. “Kamu mencium saya tanpa izin, lalu sekarang kamu malah bilang saya nggak boleh pergi?”“Acha, dengarkan saya.”“Saya sudah terlalu sering mendengarkanmu, El!”Acha mendorong dada Elvano hingga mundur satu langkah.Tangannya

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 240

    Tak menyerah, Acha kembali memasukkan PIN yang sama.Tit.Sayang, lampu indikator kembali berubah merah.Bagaimana mungkin?Acha menatap pintu di hadapannya dengan kening berkerut. Ia bahkan sudah yakin memasukkan angka yang benar. PIN itu sudah begitu lama ia hafal di luar kepala. Jari-jarinya seolah bisa mengetiknya tanpa perlu berpikir.Lalu, kenapa aksesnya malah ditolak? Apa mungkin Elvano mengganti PIN-nya?Kalau memang begitu, bagaimana ia bisa mengambil pakaian yang masih tersisa di dalam?Atau jangan-jangan pria itu memang sengaja tidak mengizinkannya kembali ke penthouse ini?Aih, menyebalkan.Acha mengembuskan napas frustrasi. Ia akhirnya mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari nama Elvano.Kalau Elvano memang tidak ingin dirinya datang lagi ke penthouse ini, tidak masalah. Toh, Acha juga tidak berniat tinggal di sini lagi.Tapi setidaknya, ia harus mengambil pakaian-pakaiannya di dalam.Acha baru saja menekan tombol panggil ketika sebuah nada dering terdengar dari bela

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 239

    Jemari Acha yang sejak tadi menggenggam tali tas langsung mengencang.Ia menatap Raka lebih serius, lalu menelan ludahnya dalam-dalam.“Me-menunggu saya?”“Iya.” Raka mengangguk pelan. “Saya sudah ajak pulang, tapi beliau tetap mau menunggu. Katanya, kalau kamu nantinya datang setelah beliau pergi, berarti beliau mengulang kesalahan yang sama.”Acha terdiam.Dadanya terasa sedikit sesak mendengar penuturan asisten pribadi Elvano itu.Jadi, semalam Elvano benar-benar datang ke restoran itu? Dan pria itu sampai menunggunya?Untuk beberapa detik, Acha bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sempat berpikir, kalaupun Elvano datang ke restoran itu, pria tersebut tidak akan benar-benar menunggunya selama itu.Tetapi ternyata dugaannya salah.Acha menunduk, memandangi tangannya sendiri. Sampai saat ini, jujur saja ia tidak mengerti mengapa Elvano sampai segitunya menunggunya.Bukankah pria itu sudah punya orang lain di hatinya?“Saya boleh tanya sesuatu, nggak, Cha?” tanya Raka tiba-tiba.A

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status