Share

Bab 46 - Perhatian?

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-02-01 23:16:20

Keduanya masih duduk di lantai lift dengan kaki diluruskan, bersandar pada dinding logam yang dingin.

Kepala Acha terletak di bahu Elvano, sementara tangannya masih berada dalam genggaman pria itu, sesekali diusap pelan, seakan memastikan Acha benar-benar masih sadar.

Tarikan napas Acha belum sepenuhnya stabil, tetapi tidak lagi secepat tadi.

Acha tahu dengan posisinya saat ini, seharusnya ia menjauh.

Ini sangat salah, namun tubuhnya terlalu lelah untuk mematuhi isi kepalanya.

Beberapa saat b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dinlea
duhhh penasaran lanjutannya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 255

    “Sama sekali bukan begitu, Pak,” bantah Elvano cepat.“Kalau begitu, jangan ikut campur urusan keluarga saya!”Acha merasakan genggaman Elvano kembali mengerat, tetapi pria itu tidak membalas dengan nada tinggi. Bahkan ketika Yudi jelas-jelas menyalahkannya, Elvano tetap mempertahankan sikap hormatnya.“Saya nggak bermaksud mencampuri urusan keluarga Bapak. Saya hanya nggak ingin Acha terus disalahkan atas sesuatu yang nggak dia lakukan.”“Sudah, Yah!” Sukartini kembali menyela. Kali ini suaranya terdengar lelah. “Acha dan Nak Elvano baru datang. Bukannya disambut baik, mereka malah harus menghadapi pertengkaran seperti ini.”“Kalau Ibu nggak suka, suruh saja mereka pulang!” balas Yudi sambil membuang muka.Acha menunduk.Mendengar ayahnya sendiri menyuruhnya pergi ternyata terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.Padahal, sejak awal kedatangannya, ia tidak mengharapkan sambutan hangat, apalagi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 254

    “Pak Yudi, saya rasa ada sesuatu yang perlu saya luruskan.”Suara tenang Elvano membuat semua mata beralih kepadanya. Jantung Acha berdegup sedikit lebih kencang sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu kepada ayahnya, terlebih setelah berbagai perkataan menyakitkan yang baru saja mereka dengar.Yudi menatap Elvano tajam. “Apa lagi yang mau kamu katakan?”Elvano menarik napas sejenak sebelum menjawab, “Saya mengerti kalau Pak Yudi belum bisa menerima kehadiran saya.”Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.“Saya juga tidak datang ke sini untuk memaksa Bapak menyukai saya.”“Bagus kalau kamu sadar diri,” sahut Yudi sinis. “Harusnya dari awal kamu nggak usah dekatin Acha. Dia bisa dapat pria lajang, bukan jadi simpanan suami orang.”“Ayah, cukup!” Acha tak sanggup lagi menahan diri. “Aku nggak suka Ayah bicara begitu sama Mas El!

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 253

    Acha sedikit terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu. Ia refleks menggigit bibir bawahnya, sementara jemarinya saling meremas di depan tubuh.Matanya sempat melirik Elvano yang masih berdiri di samping ibunya, sekadar memastikan ekspresi pria itu. Namun, Elvano tampak tenang, seolah tidak terganggu oleh ucapan Yudi.“Mas Elvano juga mau jenguk Ayah,” komentar Acha berusaha tenang. “Makanya, dia ikut, sekalian mengantarku ke sini.”“Siapa yang minta dijenguk?” sahut Yudi ketus. “Ayah nggak butuh dijenguk sama dia.”Acha terdiam, seolah langsung kehilangan kata-kata.“Kamu ini tebal muka sekali, Acha!” cecar Yudi.Acha lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan ayahnya itu. “Ayah!” tegur Sukartini tegas, sontak menatap lurus kepada suaminya. “Jangan bicara begitu sama Acha. Dia datang jauh-jauh sampai ninggalin kerjaannya karena khawatir sama keadaan Ayah.”Yudi mendengus sinis. “Ibu selalu saja membelanya. Seharusnya mereka nggak usah datang sekalian!”Dada Acha terasa sesak menghimpit,

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 252

    Acha menghentikan langkahnya tepat di depan ruang rawat ayahnya.Sejak tiba di rumah sakit bersama Elvano beberapa menit lalu, ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk masuk. Namun, kini jemarinya justru mencengkeram tali tas dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada pintu di hadapannya.Ia hanya perlu membukanya, tetapi entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. Tamparan ayahnya seolah masih membekas di pipinya, begitu pula perkataan-perkataan menyakitkan yang hingga kini sulit ia lupakan.Acha menelan ludah.Bagaimana kalau ayahnya kembali marah? Bagaimana kalau kedatangannya justru membuat suasana semakin buruk?“Kenapa, Sayang?”Suara Elvano di sampingnya membuat Acha sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya.Acha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Elvano melirik pintu di hadapan mereka, lalu kembali menatapnya. Seolah memahami apa yang sedang berkecamuk

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 251

    Acha masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga. Pikirannya seolah berhenti bekerja setelah mendengar kabar dari ibunya, hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya.“Sayang, ada apa, hm?”Acha sedikit terkejut. Ia segera menoleh dan mendapati Elvano sudah berdiri di sampingnya entah sejak kepan, menatapnya dengan kening berkerut seolah ingin memastikan sesuatu.Acha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Elvano dengan wajah sendu.“Ayah keserempet motor, Mas,” ucapnya lirih. “Sekarang lagi di rumah sakit.”Elvano diam sejenak. Raut wajahnya berubah serius sebelum ia bertanya, “Kamu mau pulang?”Acha tak menjawab.Pandangannya justru jatuh pada ponsel di tangannya, sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat ayahnya begitu marah hingga tega menamparnya setelah mengetahui kedekatannya dengan Elvano.Hubungannya dengan sang ayah memang belum membaik sejak kejadian itu. Apalagi, perkataan-perkataan menyakitkan yang dilontarkan ayahnya kal

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 250

    Sambil menghela napas berat, Acha bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja Elvano. Hanya saja, tak tahu kenapa, begitu tiba di depan pintu, perasaannya mendadak tidak enak.Ia mendadak curiga kalau-kalau panggilan Elvano kali ini hanya akal-akalan pria itu. Namun, Acha tak ingin buru-buru menyimpulkan. Bagaimana kalau ternyata memang ada urusan penting?Acha mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Ia membuka pintu dan mendapati Elvano duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Jasnya tersampir di sandaran kursi, sementara beberapa dokumen terbuka di hadapannya.Acha melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.“Katanya memanggil saya?”Elvano mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja masuk.“Kenapa jauh sekali?”Acha mengerjap, tak mengerti arah pembicaraan itu. “Apanya yang jauh?”“Mejamu.” Elvano mengangguk ke arah pintu. “Dari sini.”Acha menatapnya tak percaya. “Mas El, saya baru s

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status