LOGINCrystallyn Jade Wetzel, a lady who came from the orphanage and soon adopted by a married couple. She live having all the things she need and want but it was change when an incident happened to them and her poster parents died. Jade know that it was not just a simple accident. Then, she meet one of her friend that became the way for Jade to become the secretary of Agapius Greg Galveria a handsome, kind, smart and friendly CEO. Soon, Jade was reunited to her friends. As both Jade and Greg become close to each other, conflict start in their life. Ano kaya ang mga katotohanang mabubunyag tungkol sa kanilang dalawa? At ano nga ba ang totoong pagkatao ni Crystallyn Jade Wetzel?
View More"Tidak! Sampai kapan pun saya tidak mau menikah dengan Anda!" kata Arsela kepada dosennya sendiri.
Keputusan besar yang ia ambil sebulan lalu untuk membantu dosennya ternyata membawa petaka besar dalam hidupnya. Arsela Davina Maheswari, mahasiswa semester empat jurusan bisnis—jurusan yang ia ambil karena tuntutan keluarga. Ia terkenal cerdas dan cantik. Selain itu, Arsela juga dikenal ramah dan tidak sombong. "Arsela, saya mohon. Tinggal sekali ini saja kamu bantu saya," ucap dosennya. Dia adalah Devara Aryasatya Wiratama, dosen muda di kampus tempat Arsela kuliah. Bantuan yang diminta Arya saat itu sebenarnya tidak seberapa. Ia hanya meminta Arsela menjawab telepon dari ibunya, agar sang ibu percaya kalau Arya sudah punya pacar. Hanya itu. Arsela sempat menolak. Tapi karena Arya berkata akan memberinya nilai A waktu itu, ia pun menyetujuinya. Lagipula, hanya menjawab telepon yang berlangsung dua menit saja. Tapi ternyata, dosennya ini benar-benar gila. Di depan Arsela, Arya mengatakan bahwa perannya hanya sebagai pacar pura-pura. Tapi di depan ibunya, Arya mengatakan bahwa yang menjawab telepon itu adalah istrinya. Dan sekarang, Arya datang lagi, membujuk Arsela agar mau menjadi istri pura-puranya sekali lagi. "Saya punya pacar, Pak. Saya juga sudah membantu Bapak waktu itu, dan saya sangat menyesalinya. Salah Bapak sendiri, siapa suruh bilang istri ke ibu Bapak. Sudahlah, saya mau belajar. Besok saya ujian," kata Arsela, tak ingin berdebat lebih jauh. Rasa hormatnya pada Arya hilang seketika setelah membaca pesan dari dosennya satu jam lalu. Dan kini, pria yang berstatus sebagai dosennya itu datang ke kosan, memintanya untuk menemui ibunya dan berpura-pura menjadi istrinya. Yang benar saja. Arsela jelas-jelas tidak mau. "Kamu siapa, Arsela?" ucap seseorang dari belakang Arya, masih bisa melihat punggung Arsela yang belum terlalu jauh. "Saya..." Arsela yang mendengar suara itu langsung berbalik. Suara yang sangat ia kenali. "Mama," ucap Arsela. Suaranya cukup keras, terdengar jelas oleh Arya. Dan Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. "Saya pacarnya Arsela. Ibu siapa?" tanya Arya, padahal jelas-jelas dia mendengar Arsela memanggil wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski keriput itu dengan sebutan mama. "Pacar?" ulang mama Arsela dengan nada heran. Arya mengangguk. Tatapan wanita paruh baya itu kini beralih pada anak gadisnya yang berdiri di samping. "Mama sama siapa?" tanya Arsela, belum sempat mendengar ucapan mama dan Arya sebelumnya. "Kamu pacaran?" Deg. Pertanyaan itu membuat wajah Arsela pucat. Panik. Takut. Arya bisa melihat jelas perubahan ekspresi itu. "Ela nggak pacaran. Sumpah," kata Arsela sambil menyatukan kedua tangannya, berusaha meyakinkan mamanya. "Lalu kenapa pria ini mengaku kalau dia pacarmu, Nak?" Mata Arsela membelalak. Ia hampir tak percaya. Dosennya yang terkenal dingin dan karismatik itu ternyata cukup gila. "Tidak, Ma. Dia dosen aku. Namanya Pak Arya. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Beneran, Mama. Aku tidak bohong." "Jangan berbohong pada Mama, Ela. Seorang dosen datang ke kosan mahasiswanya itu sudah aneh. Jujur kamu sama Mama!" Arya hanya diam, melihat sejauh mana Arsela akan menjawab. Sesekali, Arsela melirik Arya dengan tatapan tajam. "Aku tidak bohong, Mama. Aku sudah berkata jujur. Lalu aku harus berkata lebih jujur apa lagi? Aku sudah bilang kebenarannya. Aku harus berkata apa lagi, Mama? Aku tidak pacaran. Aku sadar umurku dan dia..." Ucapannya terhenti saat matanya menatap Arya. "...umur kami cukup jauh, Ma. Aku juga bingung Pak Arya datang ke sini mau apa." "Saya ingin menikahi anak Ibu. Tapi dia menolak saya," ucap Arya tiba-tiba. Tatapan tajam langsung dilemparkan Arsela ke arahnya. Dengan napas menggebu, Arsela menjawab, "Sudah saya katakan, saya tidak ingin menikah dengan Bapak. Sekarang silakan pergi. Cari wanita lain yang mau. Saya tidak mau!" katanya, mencoba menarik mamanya masuk ke dalam. "Tunggu, Arsela Davina Maheswari!" ucap mamanya, menghentikan langkahnya. Nama lengkap itu keluar dari mulut sang ibu. Tandanya, mamanya sangat marah. "Kenapa pria ini ingin menikahimu tanpa sebab? Apa dia sering ke sini saat Mama dan Papa sedang di luar kota? Jawab Mama, Arsela!" Memang benar, orang tuanya hanya datang saat akhir pekan. Kadang Arsela yang pulang. Rumah mereka jauh dari kampus, karena itulah Arsela memutuskan untuk ngekos. Awalnya sempat ditentang, tapi akhirnya mereka mengizinkannya juga. "Tidak, Ma. Pak Arya—" "Ya, saya sering berkunjung, Tante," potong Arya. "Karena itulah saya ingin segera menikahi anak Tante." Plak! Satu tamparan mendarat ke pipi Arsela untuk pertama kalinya. "Mama tidak menduga ini yang kamu lakukan di belakang Mama dan Papa. Kalau Papa tahu, habis kamu, Arsela!" Arya terkejut melihat itu. Ada perasaan bersalah karena sudah membohongi, tapi di sisi lain, hanya Arsela yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan mamanya. "Mulai sekarang kamu tidak diizinkan ngekos lagi! Dan kamu," tunjuk mamanya ke arah Arya, "saya tunggu itikad baikmu. Datanglah ke rumah kami secepatnya." Mama memberikan kartu nama yang tertera alamat rumah mereka, lalu pergi meninggalkan Arya yang masih mematung. "Maafkan saya, Arsela," ucap Arya pelan. .... Malam itu, Arsela diadili oleh kedua orang tuanya. Mereka meminta penjelasan atas semua kejadian yang membuat mereka marah dan kecewa. Dengan suara terbata, Arsela menceritakan segalanya—tentang permintaan Arya sebulan lalu, tentang peran pura-pura yang kini berubah menjadi bencana. Namun, orang tuanya tetap bersikeras. Mereka menunggu kedatangan Arya. Cepat atau lambat, pria itu harus datang memberi penjelasan. Dengan mata sembab dan tubuh lelah karena kurang tidur, Arsela tetap memaksakan diri masuk kuliah hari ini. Ada ujian yang tak bisa ia lewatkan. Namun, tidak seperti biasanya, hari ini Arsela lebih banyak diam. Ia tak seaktif biasanya. Bahkan senyum tipis pun tak muncul di wajahnya. Di mata kuliah yang diajar Arya, ia nyaris tidak mengangkat tangan atau bertanya seperti biasanya. Sebenarnya, ia enggan mengikuti kelas itu. Tapi karena Arya adalah dosen pengampu mata kuliah wajib di jurusannya, ia tak punya pilihan. Setelah kelas usai dan semua mahasiswa keluar dari ruangan, hanya Arsela yang masih duduk di kursinya. Ia memang sengaja menunggu. "Maaf, karena saya, kamu sampai ditampar semalam," kata Arya pelan, memecah keheningan. Arsela menatapnya datar. "Saya minta Bapak datang ke rumah saya. Jelaskan semuanya. Karena Bapak bilang sering berkunjung ke kosan saya, sekarang orang tua saya tidak percaya lagi pada ucapan putri mereka sendiri." Suaranya dingin, penuh luka. Ia tidak terima kepercayaannya dihancurkan oleh seorang pria yang bahkan bukan siapa-siapanya. "Saya akan datang ke rumahmu, secepatnya. Dengan tujuan yang sama—untuk menikahimu." Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Arya. Arsela tidak habis pikir. Apakah pria ini benar-benar kehilangan akal? "Dasar gila!" katanya lantang. "Saya tidak akan pernah sudi menikah dengan Bapak! Saya masih ingin punya masa depan cerah. Saya tidak ingin hidup saya berakhir menjadi istri pria gila seperti Bapak!" lanjutnya, penuh kemarahan. Arya tidak berusaha menahan langkah Arsela yang beranjak pergi. Ia hanya berdiri kaku, menunduk, membiarkan tangan yang mengepal menahan luapan emosinya. Tamparan itu tidak berarti apa-apa. Tapi kata-kata Arsela—itulah yang benar-benar menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria. "Apa dia pikir... menikah denganku akan menghancurkan masa depannya?" gumam Arya pelan, sebelum akhirnya meninju meja dosen hingga retak.“What the?! What is this?!” galit at malakas na tanong ni Gwen. Kahit si Zhyryl ay naiinis na rin at mas lalong kumunot ang kanilang mga noo ng mabasa ang masasakit na salita na patungkol kay Jade sa article. Parang gusto rin na magwala ni Gwen ng mabasa na si Nathalie ang totoong girlfriend ni Greg at inaagaw ito ni Jade sa kaniya.“I already reported that article but it keeps appearing. And as of now… nakita at alam na lahat ng empleyado,” mahinang saad ng sekretarya niya.Hindi naman makapagsalita si Jade dahil hanggang ngayon ay hindi niya pa rin inaasahan ang nabasa. Lahat sila ay nagulat ng tumunog ng malakas ang dalawang telepono na naroon sa mesa ni Jade. Kaagad naman siya na nagtungo roon at sinagot ang tawag.“What was that article all about?!” mahina ngunit mariin at seryosong tanong ng isang lalaki. Sa tono pa lamang ng boses nito ay alam na niya kung sino ito. It is Mr. Klent, the cousin of Jade’s grandmother, who have five percent of the shar
"What's with the picture? I'm confused," saad ni Ken.Sa ngayon ay naroon si Jade sa kompanya ni Greg dahil magkakaroon ng meeting ang grupo nilang dalawa para sa project. Kasama niya rin sina Ken, Amelia, Clarisse at Elle. Nananatili muna sila sa kainan ng kompanya habang hinihintay na magsimula ang meeting ni Jade, lunch break din ng mga kasama niya kaya nag-usap-usap na muna sila."You know what? My jaw literally drop after I saw it. That might be fake because I didn't saw any spark on our boss eyes when that b*tch is near at him," Amelia said with a pissed look."Pero bakit kaya hindi pa nagsasalita si Mr. Galveria? The picture is spreading and I think that it's affecting the company. Napansin ko rin na mukhang matamlay ngayon ang boss natin," malungkot naman na saad ni Clarisse."Let's just wait for our boss to clarify it. But I'm hundred percent sure that there's nothing between the two of them. As of now, we must not let that b*tch enter th
“Love! Please, don’t believe what you saw and they say. I’ll explain it to you.” Bakas ang pag-aalala sa boses ni Greg na siyang ipinagtaka ni Jade. Nararamdaman ni Jade na masyadong kinakabahan ang lalaki kaya napapaisip na rin siya sa nangyari.“What are you talking about, love?” tanong niya habang naglalakad palabas sa conference room dahil kakatapos lamang ng kanilang meeting. It’s already nine in the evening and Jade feel exhausted. Ilang araw na rin na konting oras lamang ang kaniyang pahinga dahil sa dami ng kanilang ginagawa.Dalawang buwan na ang nakalipas, naging busy silang dalawa ni Greg dahil sa proyekto na kanilang ginagawa kaya hindi sila masyadong nagkikita noong mga nakaraan na araw. Both Greg’s and Jade’s team are preparing for their new project. Jade and her team prepare their presentation a while ago at sa kaniyang palagay ay 'yon din ang ginawa ng grupo ni Greg.Napagkasunduan ng dalawang kompanya na humanda ng kanilang presentasyon sa
"Whoa!" namamanghang saad ni Jade habang nakatingin sa paligid ng lugar na kanilang kinatatayuan. Bakas sa kaniyang mukha ang saya habang inililibot ang kaniyang paningin.Napapalibutan ng fairy lights ang malaking puno na animo'y mayroong mga kumikutitap na mga alitaptap, nagbibigay liwanag din sa kanilang kinaroroonan ang bilog na buwan at ilang ilaw na malapit sa kanila. Beside of it is a table and two chairs. And a romantic piano song from the speaker is playing.Sinabi ni Greg sa kaniya na kakain lamang sila sa isang restaurant pero hindi niya inaasahan na ang Desrosier's Villa and Restaurant ang kanilang pupuntahan.Desrosier's Villa and Restaurant is known as a romantic place at marami ang pumupunta sa lugar na ito. Mayroon itong ibat-ibang dating spots, pwedeng sa loob mismo ng restaurant na hanggang tatlong palapag, picnic area, may lake rin, a mini bar, a wide space of land where couples can star gazing, as well as, camping and the 'love tree' that
“What are you doing to your life?!” galit na sigaw ni Claire ng makapasok ito sa loob ng kwarto ni Greg. Lumapit naman siya sa kama ni Greg at niyuyogyog ang paa nito.“Please… I want to take a rest,” matamlay naman na tugon ni Greg habang bahagyang sinisipa ang kamay ng kaniyang kapatid
Ngumisi ang lalaki ng humarap na sa kaniya sina Greg at Jade. Sa kabilang banda, sumilay naman ang galit sa mukha ng dalawa habang nakatingin sa lalaki."I didn't know that you have a connection to this lady, Mr. Galveria," saad ni Rowan habang nakatututok pa rin ang kaniyang baril sa ul
"D*mn him!" galit na saad ni Greg habang nakayukom ang kaniyang kamao. Gustong-gusto na niyang sugurin ang mag-ama ngunit pinipigilan niya lamang ang kaniyang sarili dahil alam niyang mapapahamak lamang silang dalawa ni Jade kapag nagpadalos-dalos siya sa kaniyang gagawin.Ngayon ay naka
"What do you want?!" sigaw ni Jade habang inaaninag ang mukha ng dalawang lalaki na nasa kaniyang harapan. Mayroong nakaupo sa upuan at ang isa ay nakatayo.Ngayon ay nakaupo si Jade sa isang upuan ngunit nakatali pa rin ang kaniyang mga kamay at paa. Madilim pa rin ang kaniyang paligid












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews