ログインGadis memasuki sebuah lorong yang sepi diikuti Gavriel di belakangnya. Kala Gadis melihat sosok Pradipta, ada sedikit rasa canggung yang ia rasakan. Entah apa yang pantas untuk ia ucapkan saat berhadapan dengan mantan suaminya ini. Terlebih ia datang bersama Gavriel. Kala Pradipta sudah menyadari kedatangannya dan berdiri, mau tidak mau Gadis harus menghadapi situasi ini dengan tenang dan jangan sampai terlihat canggung. Ia berusaha menyingkirka
Saya mau tamasyaBerkeliling keliling kotaHendak melihat lihat keramaian yang adaSaya panggilkan becakKereta tak berkudaBecak becak coba bawa sayaSuara Elang yang bernyanyi di kursi penumpang belakang mobil membuat empat orang yang ada di mobil ini harus sabar. Lagu anak-anak ini sudah berkali-kali Elang nyanyikan sejak mobil yang mereka tumpangi keluar dari parkiran rumah sakit."Coba lirik becaknya diganti pakai mobil. Biar lebih realistis," kata Wilson yang duduk di samping Elang."Susah bego'. Masa jadi gini liriknya 'saya panggilkan mobil, gerobak tak bermesin', mobil-mobil tolong bawa saya'. Asli enggak realistis."Adi
Gadis mengangkat pandangannya lalu menolehkan kepalanya saat merasa ada orang yang duduk di sampingnya. Ternyata itu adalah sosok Gavriel. Cepat-cepat Gadis kembali menundukkan kepalanya dan menghapus air mata yang berlinangan di wajahnya."Lanjutin aja, Dis. Aku temani di sini."Gadis menghentikan aktivitas menghapus air matanya karena tertegun saat mendengar perkataan Gavriel."Aku malu, Gav.""Why?""Aku yang sudah sakit hati level akut sama kelakuan Mas Dipta sampai memilih bercerai, tapi melihat kondisi orangtuanya ini, aku enggak tega. Rasanya hatiku sakit banget. Seperti lihat orangtua sendiri sakit tapi kita enggak bisa bantu apa-apa u
Gadis memasuki sebuah lorong yang sepi diikuti Gavriel di belakangnya. Kala Gadis melihat sosok Pradipta, ada sedikit rasa canggung yang ia rasakan. Entah apa yang pantas untuk ia ucapkan saat berhadapan dengan mantan suaminya ini. Terlebih ia datang bersama Gavriel. Kala Pradipta sudah menyadari kedatangannya dan berdiri, mau tidak mau Gadis harus menghadapi situasi ini dengan tenang dan jangan sampai terlihat canggung. Ia berusaha menyingkirkan semua rasa yang pernah ia rasakan kepada Pradipta mulai dari cinta, sayang sampai benci. Meskipun berat, dirinya pasti bisa melakukannya.Kala ia sampai di hadapan pradipta, Gadis menyalami laki-laki itu. Tidak lupa juga ia memperkenalkan Gavriel secara resmi kepada mantan suaminya ini. Meskipun ada kemungkinan jika Gavriel dan Pradipta sudah saling mengenal, namun Gadis merasa bodo amat. Toh kalopun mereka saling mengenal juga pasti kare
"Satu jam lagi kita akan jemput kamu di lobby hotel ya, Dis. Kamu bisa siap-siap dari sekarang. Nanti kita sarapan dulu sebelum ke rumah sakit."Perkataan Gavriel kala menelepon Gadis ini membuat Gadis yang sebenarnya masih mengantuk pagi ini segera menuju ke kamar mandi. Kenapa sih Gavriel begitu mendadak memberikan informasi kapan mereka akan menjemputnya di lobby. Dengan seperti ini, mau tidak mau Gadis hanya mandi secepat yang ia bisa. Tidak sampai lima belas menit di dalam kamar mandi, Gadis segera keluar dari sana untuk menuju ke arah cermin serta hairdryer berada. Ia mengeringkan rambutnya yang basah. Selesai melakukan itu, Gadis segera memakai pakaiannya.Menyadari jika ia akan pergi bersama banyak laki-laki, Gadis memilih menggunakan pakaian yang sopan dan jauh dari kata seksi. Semua yang i
Pukul dua belas malam Gadis sudah sampai di stasiun Balapan untuk menunggu kereta Turangga yang akan membawanya menuju ke Surabaya. Jam keberangkatan masih satu jam lagi. Sengaja Gadis mengambil kereta malam agar pagi hari pukul empat dirinya telah sampai di Stasiun Gubeng. Tentu saja pilihan Gadis kali ini adalah menginap di hotel yang ada di sekitaran stasiun Gubeng saja. Toh pagi hari ia juga harus menjemput Gavriel dan teman-temannya di Bandara. Ada rasa syukur di dalam diri Gadis karena selama tinggal di Surabaya, ia juga memiliki teman meskipun tidak banyak dan terlalu dekat.Sambil menunggu kereta datang, Gadis mencoba membuka gadget miliknya untuk mengecek data-data yang sudah diemail Papanya untuk dirinya. Meskipun ia akan melakukan travelling bulan depan, orangtuanya tetap memintanya ikut membantu pekerjaan mereka. Karena dirinya juga membutuhkan penghasilan, Ga
Elang menatap kostum serta atribut yang akan digunakan Gavriel besok pagi ini dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Setelah dua hari mencari, akhirnya ia menemukan persewaan costum ini di salah satu tempat persewaan yang ada di daerah Jakarta Utara. Tentu saja tanpa bantuan Aditya dan Wilson, ia tak akan menemukannya."Lo beneran laknat jadi manusia, Lang. Tega-teganya lo lakuin hal ini ke teman lo sendiri."Elang yang sudah pernah merasakan punishment gila di hidupnya tidak terima dikatakan seperti itu oleh Wilson."Lo enak banget ngomong begitu karena lo yang paling beruntung belum pernah kalah dalam taruhan kita selama ini. Coba lo jadi gue, beneran bukan lagi cuma tukar nasib tapi kaya ngerasain neraka dunia yang sebenarnya."
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur j
Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak
Gadis membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang sejak semalam. Ingin rasanya ia marah namun tidak bisa setiap kali mengingat permintaan suaminya padanya. Benar dugaannya, Pradipta memintanya untuk merawat kedua orangtuanya di Surabaya. Meksipun awalnya Gadis menolak, namun kala Pradipta mengungkit-