FAZER LOGIN“Masa kamu nggak menyewa pembantu di rumahmu, membiarkan istrimu di sana sendirian?”“Ada kok Pa, 3 bulan menikah aku udah carikan pembantu untuk membantunya di rumah. Tapi kan sangat riskan jika dalam masa-masa hamil tua begitu aku ninggalin dia di sana.” ujar Deni berdusta, padahal yang mencari pembantu itu adalah Cindy dan dia sendiri tidak mengetahui hingga sekarang, jika pembantu yang dicari istrinya itu sekongkol untuk tidak bicara apa-apa pada Deni jika Aldo datang ke rumah itu.Deni baru 3 hari dirumah orang tuanya itu, karena lebaran kemarin ia diajak Cindy untuk berlebaran dirumah kedua orang tuanya, yang terletak didesa tidak jauh dari Kota M itu, disana mereka hampir 3 minggu lamanya sebelum akhirnya kembali ke Kota M.Kedua orang tua Deni memang mengetahui sejak perceraian Deni dengan Dola putranya itu telah menikah dengan wanita lain, dan mereka sangat setuju karena Cindy yang dinikahi itu dalam kondisi hamil, itu menguatkan pandangan mereka jika selama ini bukan Deni ya
“Selama libur lebaran, kamu ngapain aja di desa?” tanya Dola.“Aku membantu kedua orang tua ku, kebetulan mereka ditawarkan sahabat Ayah tanah persawahan untuk digarap. Maka aku membantu kedua orang tua ku itu, menggarap tanah persawahan itu. Ya moga saja dengan adanya sawah itu, kehidupan keluarga kami sedikit lebih baik dari sebelumnya,” tutur ku.“Jadi selama ini kedua orang tuamu nggak memiliki sawah di desa?”“Nggak Tante, paling Ibu menanam padi ladang di perkarangan belakang rumah yang hasilnya cukup untuk makan saja. Sementara jika sawah yang digarap sekarang ini panen nantinya, hasilnya bisa mereka jual dan cukup lumayan juga uang yang bakal mereka peroleh di samping kebutuhan untuk makan.” jawab ku.“jadi yang bertanam padi ladang itu Ibumu sendiri? Ayahmu nggak bisa membantunya?” tanya Dola lagi.“Bukan nggak bisa, Tante. Tapi tanggung jika dibantuin soalnya perkarangan belakang rumah ku itu nggak terlalu luas, Ibu sendiri saja bisa menyelesaikan itu tanpa harus dibantu. Se
Terkadang Pak Syamsul sendiri yang berinisiatif akan mengantar jemput putrinya itu saat libur atau masuk sekolah lagi, namun Intan tak mau merepotkan Ayahnya itu, karena Ayahnya cukup sibuk dalam mengurus perkebunan karet miliknya.Sebenarnya kehidupan ekonomi antara Pak Syamsul dan Pak Ardi bagaikan langit dan bumi, namun tak sedikitpun tampak sikap membeda-bedakan di diri Pak Syamsul pada Pak Ardi, baginya dari dulu hingga sekarang Pak Ardi tetap sahabat sejatinya, yang sangat ia segani dan sudah seperti keluarga sendiri.Pagi-pagi sekali aku dan keluarga sudah bangun, setelah sarapan kami pun pergi kelahan persawahan yang disebutkan Pak Syamsul kemarin siang, hanya butuh waktu berjalan sekitar 20 menit saja,kami pun tiba di lahan yang dimaksudkan itu.Hamparan tanah berair yang sangat luas yang terletak di sebelah utara perkebunan karert milik Pak Syamsul itu, memang sangat cocok untuk ditanami padi. Tanah itu dulunya digarap oleh beberapa orang warga desa disana, dengan cara menye
“Rencananya setelah bercerai rumah itu akan dijual dan uangnya akan dibagi dua, bagianku biar untuk Anto saja dan kamu yang simpan!” jawab Bi Lastri.“Oh begitu, kirain Mbak Yu kasih begitu saja pada Ayah Anto. Keenakan dia, mana selama ini Mbak Yu yang bersusah payah membangun rumah itu dengan hasil kerja Mbak Yu di luar Negeri dulu.” tutur Ani.“Ya biarkan sajalah, yang penting semuanya beres dan nggak ada silang sengketa lagi di antara kami. Yang terpenting bagiku saat ini, bagaimana Anto tetap bersekolah kalau perlu nanti sampai perguruan tinggi agar kehidupannya kelak lebih baik dari kita-kita,” ujar Bi Lastri.“Iya Mbak Yu,” ulas Ani.“Aku hanya punya waktu dua minggu lagi di desa ini, setelah itu aku musti kembali lagi ke kota tempat aku bekerja di rumah Nyonya Dola. Apapun nanti keperluan Anto, tolong kamu berikan! Dan jika ada keperluan atau masalah yang ingin kalian sampaikan padaku! Kirimkan saja surat ke alamat tempat Aku bekerja! Kamu masih ingatkan Nak, alamatnya?” ujar
Andai saja Pak Rehan tahu jika Dola putrinya itu telah bercerai dengan suaminya, bisa saja ia akan marah besar, terlebih Dola sengaja menyembunyikan itu darinya, bagi Dola tak ada cara lain terkecuali berbohong dan mengarang cerita agar Papanya itu yakin jika tidak ikutnya Deni mudik tahun ini karena harus menjaga Ibunya di rumah sakit.Sosok Deni di mata Pak Rehan sangat dikagumi, karena Deni pintar mengambil hati sosok pemegang jabatan penting di perusahaan terbesar di Kota R itu. Hingga Pak Rehan tidak tahu perilaku buruknya mantan suami Dola itu selama ini yang bukan saja tega menyelingkuhi putrinya, tapi juga nikah secara diam-diam tanpa memberi tahu apalagi meminta ijin pada putrinya itu.“Bagaimana dengan pekerjaanmu mengajar di sekolah tempat kamu bertugas itu?” tanya Pak Rehan.“Lancar-lancar saja, Pa.” Jawab Dola diiringi senyumnya.“Menurut kabar yang aku dengar, Deni suamimu itu mendapat tugas oleh perusahaannya di luar kota. Apa benar begitu, Dola?”“Benar Pa, Mas Deni se
“Bedanya kalau Ryan di SMEA, sementara Intan di SMA.” tambah Bu Karmila.“Iya, kota tempat mereka sekolah juga beda. Yang satu di Kota P yang satu lagi di Kota R, ya kan?” timpa Pak Syamsul.“Iya Syam, kita sama-sama jarang bertemu dengan mereka. Hanya saat lebaran atau pula ketika libur kenaikan kelas saja,” ujar Ayah.“Mas Ardi enak bisa ketemu Ryan saat libur kenaikan kelas yang lalu, lah kalau aku libur kenaikan kelas yang lalu Intan nggak pulang karena diajak Bibinya liburan ke Singapura.” tutur Pak Syamsul.“He.. He.. He...! Iya juga ya, Syam.” Ayah tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu, seolah-olah dia tahu betapa kangennya sahabatnya itu saat putri semata wayangnya tidak pulang libur ketika kenaikan kelas yang lalu.“Mari Mbak, Mas dan juga Ryan dicicipi kue-kuenya!” tawar Bu Karmila, kami sekeluarga pun mencicipi kue-kue serta minuman yang telah disuguhkan di meja.Alku dan Intan baru pertama kali itu bertemu, karena sejak SMP dulu kami sekolah di SMP yang berbeda, meski
Aku sempat tersenyum getir, saat aku menyantap hidangan lezat di meja bersama Om Ramlan dan sekeluarga, karena aku ingat dulu Tante Dewi pernah memperlakukan ku begitu rendah dan hina saat tinggal di rumah megah itu, dengan hanya menyediakan nasi perasan kerak serta secuil sambal sewaktu pulang dar
Ataukah Tante Dewi hanya cari muka saja, pura-pura ramah padanya di depan Om Ramlan? Atau ia sekarang benar-benar telah berubah dari sikapnya yang dulu terkesan arogan? aku tak mau memikirkan itu terlalu mendalam, yang penting bagi ku saat itu telah memenuhi undangan Om Ramlan di acara ulang tahunn
“Saking sibuknya aku kerja akhir-akhir ini, hingga membuatku harus tetap kerja di hari minggu. Kadang sampai jam 9 malam baru pulang, ya mau gimana lagi memang begitu kerja di perusahaan real estate,” tutur Cindy lagi-lagi ia berdusta.“Oke, aku akan coba untuk ngertiin kamu. Tapi please, malam min
“Memangnya Om mu kerja di mana?” tanya Dola.“Dia memiliki perusahaan karet di kota ini, Tante.”“Oh, ternyata mereka golongan orang yang berduit juga ya? Pantas aja Tantemu itu bersikap sombong begitu,” ujar Dola dengan raut wajah geram.“Nggak semua orang kaya di kota ini sombong, contohnya Tante







