Share

Ruangan

Author: Weena Young
last update publish date: 2026-09-11 12:41:54

"Mppthh… Casey hentikan…" Melody masih berusaha mendorong dengan sekuat tenaga.

"Ayolah Melody, jangan buat aku makin murka dan makin nekat. Layani aku seperti biasa…"

"Shhh… he-hentikan, Casey… ahh!" desis Melody pasrah saat jemari tangan Casey kembali bermain di atas tubuhnya.

Pencahayaan remang di ruang tengah apartemen Helena jadi saksi betapa berantakannya pertahanan Melody malam ini.

Napas memburu yang tertahan menyelimuti keheningan, menyatukan emosi yang meledak-ledak dengan rasa pasra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Liss02
Dia sesuka hati dekat dengan wanita lain giliran Melody hanya dijadikan pemuas nafs* bae
goodnovel comment avatar
Liss02
Bagusss Melody emang harus digampar orang kayak Casey ini
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
casey.... melody itu butuh dukungan kamu. jangan tiap ketemu urusannya kasur melulu...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Bohong

    "Aku nggak bohong, Casey..." rengek Melody pelan, suaranya terdengar begitu tipis dan merajuk.Di balik selimut, jemari Melody meremas kain sprei erat-erat. Perutnya mendadak terasa melilit hebat, gejolak mual yang amat pekat mendesak naik hingga ke kerongkongan. Namun, membayangkan seorang dokter pribadi akan datang memeriksa dan membongkar kehamilan empat minggunya seketika memicu insting bertahan hidup Melody. Ia harus menahan gejolak rasa ingin muntah itu sekuat tenaga di balik wajah manjanya.Melody memajukan tubuhnya perlahan, mengabaikan denyut nyeri di dadanya. Ia menyusupkan kedua lengannya ke pinggang tegap Casey, melingkarkan jemarinya rapat-rapt seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu."Aku beneran nggak sakit, Casey..." bisik Melody makin mendayu, menengadahkan wajahnya untuk menatap langsung ke dalam manik mata pekat milik sepupunya itu. Matanya dibuat sengaja berkaca-kaca. "Aku cuma kangen kamu... Bukan benar-benar mual. Aku kangen..."Casey yang baru saja

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Aman

    "Kamu lagi chat an ama siapa, Sayang? Serius amat..." Suara Casey mengalun dingin, memecah keheningan kamar dengan penuh penekanan. Pria itu melangkah masuk, menyilangkan lengan di dada seraya menyandarkan tubuh tegapnya pada bingkai pintu. Tatapannya menancap tajam pada ponsel pintar yang masih tergenggam ketat di jemari Melody yang bergetar. Melody refleks menyembunyikan layar ponsel ke balik paha gaunnya. Jantungnya berdegup kencang, bak genderang mau perang. Wajahnya yang semula memucat kini kian hilang ronanya. "Nggak... bukan siapa-siapa, Casey. Ini cuma pesan dari Helena," sahut Melody, mencoba menetralkan nada suaranya seraya menatap langsung ke dalam manik mata pekat milik sepupunya itu. "Kamu yakin itu dari temanmu?" Tatap Casey dengan sorot mata penuh selidik. "Tentu. Darimana lagi? Gak mungkin dari kamu..." jawab Melody dengan suara bergetar dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Maksudku bukan dari pria lain, bukan?" Tatapnya lekat pada Melody yang tampak salah tin

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Keluar

    "Sayang, kita makan malam di luar, yuk? Mungkin kamu butuh udara segar setelah seharian di dalam kamar," ajak Casey dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Melody, mengusap punggung tangan wanita itu menggunakan ibu jarinya seraya memberikan tatapan hangat yang amat menenangkan.Melody menatap Casey sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan dengan raut wajah lesu. "Nggak usah deh, Casey... Aku lagi malas turun, males gerak juga. Makan di atas sini aja ya?"Casey mengamati paras pucat Melody dengan tatapan menelisik yang dipenuhi rasa khawatir. Namun, alih-alih memaksa seperti biasanya, pria itu hanya menghela napas lembut lalu tersenyum tipis. "Ya sudah, kalau itu mau kamu. Nanti aku suruh Mbok Nah bawakan makanan kita ke kamar. Kau tidak boleh melewatkan makan malam lagi."Melody mengangguk pelan, merasa lega karena tidak perlu berpura-pura tampak segar di restoran ramai. Ia beringsut duduk di tepi ranjang, semen

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Jangan, Casey!

    "Tidak perlu untuk saat ini," sahut suara bariton Casey dari balik pintu yang agak terbuka, mengalun tenang namun penuh ketegasan. "Dia hanya kelelahan dan stres berat karena masalah plagiat di butik itu. Tapi tetap siagakan dokter umum dari klinik terdekat. Jika besok pagi dia masih muntah-muntah dan lemas, aku sendiri yang akan membawanya langsung ke rumah sakit.""Baik, Tuan. Saya akan pastikan tim medis siap siaga," jawab Dominic patuh.Di balik pilar besar marmer, Melody menyandarkan punggungnya yang gemetaran. Napasnya memburu pelan, telapak tangannya terkepal erat di atas dada yang berdegup kencang seolah hendak melompat keluar. Keputusan Casey memang menunda ancaman sore ini, tetapi justru melemparkan bom waktu yang jauh lebih mengerikan untuk esok pagi.Besok pagi? Ke rumah sakit? batin Melody menjerit histeris dalam hening.Jika Casey membawanya ke rumah sakit, prosedur pemeriksaan menyeluruh seperti tes darah dan USG dipastikan akan dilakukan. Dokter akan dengan mudah menem

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Sentuhan

    Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan di kamar utama. Mbok Nah masuk dengan perlahan, membawa nampan berisi segelas teh hangat aromatik dan botol kecil minyak kayu putih. Raut wajah wanita paruh baya itu memancarkan kekhawatiran yang tulus saat melihat Melody terbaring pucat di dada Casey."Tuan, ini teh hangat dan minyak anginnya," ucap Mbok Nah santun seraya meletakkan nampan di atas meja nakas samping tempat tidur."Taruh di situ. Terima kasih, Mbok," balas Casey singkat, pandangannya sama sekali tak teralih dari paras pucat Melody.Setelah Mbok Nah pamit dan menutup pintu rapat-rapt, Casey meraih botol minyak kayu putih. Dengan telaten, pria tegap itu menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya lembut ke leher dan pelipis Melody. Bau terapi yang menenangkan seketika menguar, perlahan mengikis rasa mual yang sempat melilit perut Melody."Bagaimana? Masih mual, Sayang?" tanya Casey rendah, suaranya terdengar begitu hang

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Mual Lagi

    "Ayo," bisik Casey lagi, suaranya makin serak dan sarat akan dominasi saat jemari kekatnya mengusap perlahan garis pinggang Melody. Hawa hangat yang terpancar dari tubuh tegap Casey mengungkung Melody, membuat dada wanita itu mendadak sesak. Ajakan yang terkesan santai itu terdengar bagaikan vonis manis yang mematikan. Melody tahu betul apa arti 'merindukanmu' bagi pria seperti Casey. Itu bukan sekadar rindu biasa, melainkan klaim mutlak atas seluruh tubuh dan jiwa wanita yang dikurungnya. "Aku... aku masih kenyang, Casey," sahut Melody pelan, berusaha mencari alasan demi mengulur waktu. Suaranya bergetar tipis, sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan yang mendera batinnya. "Tadi aku baru aja selesai makan siang di atas." Casey terkekeh rendah. Tawa beratnya mengalun hangat tepat di leher Melody, memancing ketegangan tersendiri bagi bulu kuduk wanita itu. Tanpa memberi celah untuk membangkang, Casey merengkuh tubuh Melody lalu menyusupkan tangannya ke bawah lipatan lutut wanita itu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status