ログイン"Kamu... kamu wanita gila, Bella!" suara Reyhan melengking, bergetar hebat di antara kepanikan dan keangkuhannya yang porak-poranda. Matanya mendelik liar, menatap wanita di hadapannya seolah-olah Bella adalah iblis yang siap mencabut seluruh nyawanya.
Mendengar tuduhan itu, Bella justru meledakkan tawa. Tawa melengking yang menggema dingin di sepanjang koridor temaram yang sunyi. Wanita itu menggelengkan kepala, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap Reyhan dengan sorot mata biadKata-kata Zayn tentang berlian dan barang rongsokan menggantung pekat di udara, menyisakan kesunyian yang mencekam. Tawa cemooh Zayn seolah memutus urat malu yang tersisa di dalam diri Reyhan. Seluruh kenyataan pahit itu menghantam kepalanya tanpa ampun. Ia telah diperdaya secara mentah-mentah oleh Bella, wanita yang ia dewa-dewakan namun ternyata tak lebih dari seorang sosiopat pemeras harta. Ia hancur di tangan Zayn, adik kandungnya sendiri yang selama ini ia pandang sebelah mata. Dan yang paling menyiksa, egonya sebagai laki-laki kini telah lumat menjadi abu. Di tengah kehancuran mental yang begitu hebat, insting bertahan hidup Reyhan berontak. Otaknya yang kalut secara otomatis mencari pegangan. Ia butuh seseorang yang bisa memulihkan egonya yang terkoyak. Seseorang yang selalu ada, yang selalu menyambutnya meski ditindas, yang bisa menjadi tempatnya bersembunyi dari rasa hina ini. Mata Reyhan yang merah dan berair perlahan teralih pada sosok wanita yang
Tangisan histeris Reyhan bergema menyusut di sudut ruang tamu, namun tak seorang pun di ruangan itu yang tergerak untuk mengulurkan tangan. Penyesalan yang datang di ujung kehancuran hanyalah sampah yang tak lagi bernilai.Nyonya Sofia memutar tubuhnya, membelakangi putra sulungnya yang kini bersimpuh tak berdaya. Dengan langkah pelan dan napas yang terengah menahan sisa rasa sakit di dadanya, wanita paruh baya itu berjalan mendekati Kirana. Matanya yang sembap menatap lekat wajah menantunya. Wajah yang selama ini harus menanggung badai akibat ulah anaknya sendiri.Nyonya Sofia meraih kedua tangan Kirana, menggenggamnya erat dengan jemari yang gemetar."Kirana... Mama minta maaf," bisik Nyonya Sofia dengan suara serak yang penuh rasa bersalah. "Maafkan Mama karena tidak tahu kamu berada neraka ini. Maafkan perbuatan Reyhan yang begitu biadab padamu selama ini... Mama benar-benar gagal mendidik anak itu."Kirana menatap ibu mertuanya dengan binar m
Kata yang keluar dari mulut Reyhan menggantung ringkih di udara. Wajahnya yang pucat kini tampak menggelikan. Pria itu memiringkan kepala, mengedipkan matanya berulang kali, mencoba mencerna rangkaian kalimat yang baru saja menghantam gendang telinganya."Ma... Mama bercanda, kan?" suara Reyhan tertahan di kerongkongan, membentuk kekehan hambar yang menyuarakan penolakan. "Mama pasti sengaja karang cerita ini supaya aku makin benci sama Bella, kan?! Papa sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, Ma! Jangan bawa-bawa nama almarhum Papa untuk fitnah gila ini!"Nyonya Sofia tidak bergeming. Ia tidak berteriak, tidak pula mengamuk. Namun dari kelopak matanya yang memerah, setetes air mata dingin meluncur lambat, menyusuri garis pipinya yang menyimpan luka menahun."Fitnah?" bisik Nyonya Sofia. Suaranya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena pintu trauma yang dipaksa terbuka kembali.Nyonya Sofia melangkah perlahan menuju jendela besar ruang tamu
Kemudahan dan kemewahan yang dirasakan Reyhan sepanjang hidupnya ternyata tidak lantas membuatnya bijak. Sebaliknya, hal itu merusak cara berpikirnya hingga ke dasar. Bahkan ketika seluruh gelombang kehancuran sudah merubuhkan posisi dan kehormatannya di perusahaan, pria itu masih berdiri dengan kepala tegak dalam kebodohan yang membutakan.Sore itu, suasana di dalam rumah Reyhan terasa pekat oleh hawa dingin yang mencekat. Kaca-kaca pecah sisa amarah Reyhan sebelumnya masih dibiarkan berserakan di tepi lorong, menjadi saksi bisu betapa bobroknya tatanan di rumah tersebut.Langkah kaki yang berdentum keras terdengar dari arah pintu depan. Nyonya Sofia melangkah masuk dengan gaun hitam elegannya yang anggun, melintasi ambang pintu dengan wajah pucat dan mata yang menyipit menahan amarah yang begitu dahsyat.Di belakangnya, Zayn berdiri menatap lekat seraya merangkul pelan bahu Kirana, memberikan perlindungan tenang bagi wanita dengan mata sembap itu.
Efek dari satu ketukan jari Bella meledak bagai bom atom di dunia maya. Dalam hitungan jam, rekaman berdurasi penuh itu bergulir liar, merambat dari satu platform media sosial ke platform lainnya, hingga menjadi perbincangan paling panas di seluruh penjuru negeri.Pagi itu, layar televisi di ruang tengah rumah Reyhan menayangkan berita utama yang sama secara berulang. Potongan video yang disamarkan, foto wajah Reyhan yang terpampang jelas, serta tajuk berita tebal bertuliskan: "Skandal Asusila Direktur Utama Perusahaan Raksasa Bersama Staf Pribadinya."Kirana duduk membeku di tepi sofa, matanya menatap kosong ke arah layar televisi. Di jarinya, ponsel pintar miliknya menampilkan beranda media sosial yang dipenuhi oleh ribuan komentar pedas publik. Rasa sakit itu kembali datang, menyengat ulu hatinya hingga menyisakan mual yang teramat sangat. Betapa pria yang pernah ia layani dengan penuh pengabdian ternyata sebusuk dan sehina ini.Tetapi, di balik kepedih
"Kamu... kamu wanita gila, Bella!" suara Reyhan melengking, bergetar hebat di antara kepanikan dan keangkuhannya yang porak-poranda. Matanya mendelik liar, menatap wanita di hadapannya seolah-olah Bella adalah iblis yang siap mencabut seluruh nyawanya.Mendengar tuduhan itu, Bella justru meledakkan tawa. Tawa melengking yang menggema dingin di sepanjang koridor temaram yang sunyi. Wanita itu menggelengkan kepala, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap Reyhan dengan sorot mata biadab dan meremehkan."Aku gila?" sembur Bella, melangkah maju hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. "Kalau aku gila, lalu kamu apa, Reyhan? Pria tolol yang selama bertahun-tahun berlutut di hadapanku? Pria sombong yang merasa paling berkuasa, padahal selama ini kepalamu cuma ada di selangkanganku!"CRAK!Sesuatu dalam diri Reyhan pecah seketika. Ego, martabat, dan rasa bangganya sebagai seorang pria hancur menjadi debu yang tak berharga. Penghinaan itu







