Partager

131

Auteur: Senjaaaaa
last update Date de publication: 2026-11-02 07:14:17

Nares masih memeluk Anya erat.

Seolah pria itu tidak ingin melepaskannya lagi.

Wajahnya tenggelam di bahu wanita itu. Napasnya terdengar berat, sementara kedua tangannya melingkar kuat di pinggang Anya.

"Akhirnya..."

Suaranya terdengar serak.

"Setelah sekian lama..."

Anya tidak membalas pelukan itu.

Tubuhnya masih kaku.

Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan. Begitu banyak pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepalanya.

Namun sebelum satu pun kalimat keluar dari bibirnya...

"Mam
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   132

    Kiara langsung menyambung."Iya. Mama sudah sering menangis."Nares terdiam.Lalu perlahan mengangguk.Ia menatap kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca."Papa janji."Tangannya mengusap kepala Kyan dan Kiara bergantian."Papa tidak akan membiarkan Mama kalian menangis sendirian lagi."Kiara tampak puas.Kyan masih menatapnya beberapa detik.Lalu bocah itu tiba-tiba menatap Anya."Mama...?"SEPULUH TAHUN KEMUDIAN.Sore itu, sebuah mobil memasuki halaman rumah besar yang dikelilingi taman hijau.Di dalamnya terdapat dua remaja yang sejak tadi tidak berhenti berdebat."Aku sudah bilang, aku tidak menyukainya!"Kyan bersandar di kursi belakang dengan wajah kesal.Usianya kini empat belas tahun.Tubuhnya sudah jauh lebih tinggi dibandingkan sepuluh tahun lalu. Wajahnya tampan, dengan garis wajah yang semakin menyerupai Nares.Namun satu hal tidak berubah.Mulutnya masih sama-sama menyebalkan.Kiara yang duduk di sampingnya langsung menoleh."Terus kenapa kamu mengabaikannya?""Karena aku

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   131

    Nares masih memeluk Anya erat. Seolah pria itu tidak ingin melepaskannya lagi. Wajahnya tenggelam di bahu wanita itu. Napasnya terdengar berat, sementara kedua tangannya melingkar kuat di pinggang Anya. "Akhirnya..." Suaranya terdengar serak. "Setelah sekian lama..." Anya tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya masih kaku. Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan. Begitu banyak pertanyaan yang selama ini menumpuk di kepalanya. Namun sebelum satu pun kalimat keluar dari bibirnya... "Mama?" Suara kecil membuat keduanya tersentak. Nares perlahan mengangkat kepala. Anya langsung menoleh. Kyan dan Kiara berdiri tidak jauh dari mereka. Keduanya masih mengenakan kostum drama sekolah. Kyan dengan kostum pohonnya. Kiara dengan kostum kancilnya. Wajah mereka terlihat serius. Anya langsung melepaskan diri dari pelukan Nares. "Kalian?" Ia mengerutkan kening. "Sejak kapan di situ?" Kyan mengangkat wajah. "Tadi." Kiara ikut mengangguk. "Kami dengar semuanya." Anya langsung

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   130

    Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.Biasanya, Kiara akan terus berceloteh tanpa henti. Menceritakan kupu-kupu yang ia lihat di jalan, bentuk awan yang menurutnya menyerupai kelinci, atau sekadar bertanya hal-hal aneh yang membuat Anya tertawa.Sementara Kyan selalu punya sesuatu untuk dikeluhkan.Entah cuaca yang terlalu panas.Atau jalanan yang terlalu bergelombang.Namun hari ini tidak ada suara itu.Kyan dan Kiara duduk berdampingan di kursi belakang. Sesekali mereka saling melirik, lalu kembali menunduk.Mereka memang baru berusia empat tahun.Tetapi anak-anak sering kali mampu merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh orang dewasa.Mereka melihat wajah ibunya yang pucat.Melihat jemari wanita itu mencengkeram setir terlalu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Dan mereka tahu...Mama sedang tidak baik-baik saja.Perlahan, Kiara menggeser tangannya.Meraih jemari kecil Kyan.Kyan tidak berkata apa-apa.Ia hanya membalas genggaman itu.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   129

    Drama akhirnya mencapai bagian penutup.Kiara yang berperan sebagai kancil berdiri dengan kedua tangan di pinggang sambil berkata lantang,"Nah! Sekarang aku bisa menyeberang sungai!"Sementara para "buaya" kecil yang menjadi korban tipu dayanya langsung menjatuhkan diri ke lantai secara dramatis."Aduh!""Aku ditipu!""Jahat sekali kancil!"Salah satu anak bahkan lupa bahwa dirinya sudah kalah dan malah melambai ke arah ibunya di bangku penonton.Aula langsung pecah oleh tawa.Di sisi lain panggung, Kyan yang masih mengenakan kostum pohonnya akhirnya mengangkat tangan."Aku boleh duduk sekarang?"Seluruh aula meledak.Tepuk tangan dan gelak tawa menggema ke seluruh ruangan.Guru-guru sampai menahan wajah karena malu sekaligus gemas.Dan saat tirai ditutup...Tepuk tangan membahana.Sangat meriah.Semua orang berdiri.Bertepuk tangan untuk anak-anak yang tampil dengan begitu lucu.Bahkan tanpa sadar...Nares ikut bertepuk tangan.Beberapa kali.Tatapannya masih tertuju pada panggung y

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   128

    Anya melirik jam dinding yang tergantung di ruang kerjanya.09.30.Ia mengembuskan napas panjang.Hari ini ia memang tidak bisa terus bekerja.Sejak seminggu lalu yayasan tempat Kyan dan Kiara belajar sudah mengirim undangan resmi kepada seluruh wali murid.Pemilik yayasan yang baru akan datang.Akan ada acara penyambutan.Dan yang paling penting...Kyan dan Kiara akan tampil dalam drama.Meskipun pekerjaan masih menumpuk, Anya tidak mungkin melewatkan momen itu.Ia mematikan mesin jahit lalu berdiri."Bu Susan."Wanita paruh baya itu segera menoleh dari meja pemotongan kain."Iya, Nona?""Saya harus ke yayasan."Susan langsung mengangguk."Oh iya, hari ini penampilan Kyan dan Kiara, kan?"Wajahnya langsung berseri-seri."Keduanya pasti lucu sekali."Anya tersenyum tipis.Ia lalu menunjuk beberapa pesanan yang sudah dipisahkan."Kalau ada pelanggan datang, tolong catat ukurannya.""Baik.""Dan paket yang ini dikirim sore nanti."Susan mengangguk cepat."Serahkan saja pada saya."Anya

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   127

    Pagi itu, sebuah iring-iringan mobil hitam memasuki jalan utama sebuah kota kecil di pesisir.Di dalam mobil paling depan, Nares duduk sambil menatap layar tabletnya.Jhon yang duduk di sampingnya masih terlihat sedikit bingung.Sebenarnya sampai sekarang ia tidak mengerti keputusan atasannya."Tuan.""Hm."Jhon melirik dokumen di tangannya."Maaf jika lancang, tapi saya masih penasaran."Nares mengangkat sebelah alis."Penasaran apa?""Kenapa Tuan membeli yayasan ini?"Sunyi sesaat.Jhon memang sudah lama bekerja untuk Nares.Karena itulah ia tahu.Biasanya Nares tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas.Namun kali ini berbeda.Beberapa minggu lalu, Nares secara tidak sengaja melihat sebuah iklan sederhana di internet.Iklan penggalangan dana untuk sebuah yayasan pendidikan anak-anak di kota kecil yang hampir tidak dikenal siapa pun.Bangunannya tua.Fasilitasnya terbatas.Donaturnya sedikit.Tidak ada keuntungan bisnis sama sekali.Namun anehnya...Saat melihat foto

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Bangkitnya Raja Neraka Itu

    Suasana lorong masih membeku saat Jhon kembali. Langkahnya berhenti ketika melihat Nares. Tangan pria itu sudah diperban, tapi wajahnya lebih menyeramkan dari sebelumnya. Amarahnya tidak lagi meledak. Namun wajahnya ketara menahan sesuatu. “Tuan… Nyonya,” ucap Jhon pelan. Semua mata menoleh.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Fakta Mengerikan

    Langkah tergesa terdengar di lorong rumah sakit. Amanda datang hampir berlari, diikuti seorang pria tua dengan tongkat hitam di tangannya. Wajah Amanda pucat, napasnya tak teratur. Matanya langsung tertuju pada satu sosok di ujung lorong. Nares duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke dindin

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anya Kritis

    Gadis itu tergeletak tak bergerak. Rambutnya kusut menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya pucat, penuh luka dan kotoran. Bajunya putih. Baju balet. Dari pahanya mengalir darah segar, menodai kain putih itu. Dan wajah itu... “Kak?” suara itu keluar lirih. Hampir tak terdengar. Dunia Nares

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Malam Yang Menghancurkan

    Jangan! Jangan!” "Kalian gak bisa nyakitin aku.” Suara gadis itu pecah di tengah bangunan terbengkalai. Nafasnya memburu. Tubuhnya gemetar saat dua belas pria mengurungnya rapat. Wajah-wajah bengis itu tersenyum tanpa empati, menyeramkan. Salah satu dari mereka menirukan dengan suara cempreng

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status