Share

Bab 3 : Perlawanan

Perkataan Jessy yang terdengar berani membuat Terry marah. Pria itu mengepalkan tangannya seraya menatap gadis berwajah boneka itu dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.

"Kau berani melawanku, boneka kecil?" Tanya Terry setengah menggeram marah dengan nada rendah, merasa terusik dengan perkataan Jessy yang terlalu berani.

"Ya, saya berani melawan anda. Anda tak memiliki hak untuk menahan saya disini!"

Jessy berteriak sekuat yang ia bisa, berusaha memberanikan diri untuk melawan pria itu, mengabaikan kakinya yang tampak gemetar. Raut wajahnya ia buat segarang mungkin agar tak diremehkan oleh Terry.

Terry tertawa kencang untuk kedua kalinya mendengar perlawanan Jessy. Ia melempar rokok yang tersisa setengah ke lantai lalu menginjaknya dengan kasar, membuat para pria yang merupakan bawahannya meneguk ludah paksa melihat bosnya yang kini sedang dalam kondisi tak baik.

"Oh, kau berani menyahutiku rupanya. Bukankah barusan kau terlihat ketakutan? Kenapa sekarang mendadak menjadi berani, huh? Kau mau menjadi pahlawan?" Tanya Terry dengan nada sarkastik seraya menyilangkan tangan didepan dadanya, menatap Jessy tajam layaknya predator yang mengintai mangsa. Sejujurnya, Jessy gugup dan takut. Akan tetapi, ia memaksakan diri untuk menyembunyikan perasaan itu karena sudah terlanjur melawan Terry. 

"Saya berani melawan anda karena saya mempertahankan hak saya untuk hidup dengan bebas. Jadi lebih baik lepaskan saya!" 

Nada suara Jessy kian meninggi seiring dengan pembicaraan mereka yang kian memanas. Kedua belah pihak tetap mempertahankan pendapat masing masing dan tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah.

"Oh, boneka kecilku marah karena aku tak membiarkannya pulang. Ini sungguh menarik," 

"Berhenti memanggilku boneka kecil. Aku muak mendengarnya!" Bentak Jessy yang untuk pertama kalinya marah pada orang lain, membuat teman temannya kaget bukan main. 

Mereka tak menyangka jika gadis selembut Jessy bisa menjadi mengerikan saat dirinya merasa marah dan terancam. Padahal sebelumnya, Jessy tampak seperti anak kucing yang terperangkap di sarang predator, terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Apa yang Jessy pikirkan hingga berani menentang sang ketua Mafia yang terkenal kejam dan sadis, kira kira itulah pikiran mereka.

"Kau berani membentakku?!" Tanya Terry dengan amarahnya yang kembali naik ke permukaan. Ia ingin sekali meninju kepala Jessy saat ini, mengingat nada bicara gadis itu membuat harga dirinya terusik. 

Selama hidupnya, belum pernah satupun gadis yang berani menaikkan nada suaranya pada Terry, bahkan ibunya sendiri. Kebanyakan dari mereka akan menuruti perintahnya tanpa berbicara dua kali. Tapi gadis ini, ia berhasil membuatnya naik pitam dan itu sangat tidak bagus untuk rencananya.

"Ya! Saya berani membentak anda karena anda keterlaluan. Lepaskan saya sekarang juga sebelum saya melapor polisi!"

Terry tertawa kecil saat mendengar ancaman Jessy. Ia mengelus rambut Jessy dengan perlahan seraya berbisik ditelinga gadis itu dengan mata menggelap penuh amarah.

"Silahkan laporkan perbuatanku ke polisi, itupun jika kau bisa melepaskan dirimu sendiri dari ikatan tali itu, boneka kecil," tantang Terry dengan nada sarkastik. Ia memutari tubuh Jessy yang terikat satu kali lalu tersenyum miring penuh kemenangan.

Setelah itu, Terry memegang bahu sempit Jessy dan menekannya kebawah untuk memaksa sang gadis dalam posisi berlutut. Jessy merasa kesakitan saat bahunya ditekan sekuat itu oleh Terry. Tak kuat dengan rasa sakitnya membuat kaki yang sudah merasa lemas sejak tadi pun jatuh hingga membuat posisi berlutut layaknya tersangka kejahatan.

"Aku tak pernah bertemu dengan gadis yang pernah melawanku sebelumnya. Kau adalah gadis pertama yang berhasil memancing emosiku," 

Terry berucap dengan nada sedingin es dan tatapan matanya yang kian menajam layaknya pedang. Rahang pemuda itu mengerat hingga membuat suasana tampak mencekam.

Jessy merasa kesulitan bernapas saat suasananya berubah menjadi menakutkan ketika ia berani menentang pria itu. 

Jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya dengan keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Pupil mata hijau milik gadis itu mengecil seraya melirik ke arah lain, tak berani bertatapan dengan Terry yang tampak menakutkan saat ini.

"Kau memiliki keberanian yang patut ku apresiasi, boneka kecil. Hanya saja, keberanianmu justru membuatku marah," Terry mencengkeram kembali dagu Jessy dengan cukup kuat seolah hendak menghancurkan bagian itu. Jessy meringis kesakitan seraya memejamkan matanya saat rasa sakit kembali menghampiri tubuhnya.

"Aku tak suka gadis yang keras kepala dan pembangkang sepertimu. Jadi, lebih baik tutup mulutmu sebelum aku merobeknya,"

Aura dominan menguar begitu kuat dari tubuh Terry, membuat siapapun merasa sesak napas saat berada didekat pria itu. 

"T-tuan, tolong lepaskan cekalan tanganmu. Ini sangat menyakitkan," pinta Jessy dengan nada memohon. Nadanya turun dan sedikit melembut, sama seperti saat Jessy berbicara pada Terry untuk pertama kalinya, ketika pria itu menghampirinya. 

Ringisan kecil terus keluar dari bibir cherry miliknya karena tekanan yang ia dapat di dagunya semakin kuat dari menit ke menit. Terry suka melihat Jessy yang begitu lemah dan tak berdaya dibawah kuasanya, layaknya seorang gadis submissive yang bisa ia kendalikan sesuka hati.

Terry melepaskan cekalan kuat di dagu Jessy lalu tersenyum sinis saat melihat memar keunguan yang tercetak jelas di kulit susu milik Jessy, yang begitu kontras dengan warna kulitnya.

"Bersyukurlah aku masih berbaik hati melepaskan cekalanku, boneka kecil. Jika tidak, aku bisa saja melemparmu kandang singa peliharaanku untuk dijadikan pengganti daging yang sudah habis,"

Kata kata Terry berhasil membuat Jessy ketakutan. Pupil matanya melebar dengan tubuh yang bergetar hebat dalam posisi berlututnya. Tubuhnya terasa lemas dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. 

"T-tuan, anda tak serius kan?"

Jessy bertanya dengan nada pelan. Suaranya terdengar bergetar ketakutan. Keberaniannya yang barusan muncul menghilang entah kemana. Yang ada hanyalah wajah horor penuh tekanan. Terry berhasil menekan Jessy agar gadis itu berhenti melawannya.

"Tentu saja aku serius , boneka kecil. Jika kau masih berusaha melawanku, maka aku akan mempersingkat hidupmu dengan caraku. Kau bisa memilih, mau dilempar ke kandang singa atau ditembak tepat didepan teman temanmu?" Terry tersenyum miring saat berhasil membalik keadaan, memanipulasi pikiran gadis lugu dihadapannya. Oh, ini semakin menarik.

"T-tuan.." raut wajah Jessy tampak kosong mendengar ancaman itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya, bersiap untuk jatuh. Bibir mungil miliknya tampak bergetar saat akan berkata. 

"Saya tak mau keduanya," sambung Jessy lagi seraya menundukkan kepalanya. 

"Maka dari itu menurutlah padaku, boneka kecil. Jangan pernah memancing emosiku jika kau tak mau berakhir mati mengenaskan ditanganku," 

Terry mengangkat wajah Jessy dan menangkupnya dengan sebelah tangan. Tangan lainnya mengelus pipi lembut dan chubby milik Jessy dengan perlahan. Mata coklat pria itu menelisik wajah Jessy, memindainya dari atas sampai bawah dengan teliti.

"Kau harus ingat ini dalam kepalamu. Terry Walter tak akan pernah melepaskan buruannya sekalipun mangsanya melawan. Ingat itu,"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status