ANMELDEN"Apa yang kau lakukan?" Dara menatap seseorang berdiri di belakang pria yang sudah berada di atas tubuhnya, berusaha untuk menyetubuhi Dara.
"Kau sudah puas menikmatinya semalam. Sekarang giliranku," jawabnya. Sepertinya dia sedang mabuk, dia bahkan tidak sungkan.Dia Yuda, awalnya dia ingin menghampiri Dara, namun dia melihat salah satu temannya menyeret Dara kebelakang rumah untuk mengajaknya bercinta."Jangan berani menyentuhnya." Yuda mengulurkan tangannya agar Dara bangun dan mengajaknya pergi."Tapi, Yud--""Tidak ada yang boleh menyentuhnya, jika tidak aku yang akan menghabisi kalian," tegas Yuda.Yuda kemudian berjalan menggandeng Dara kembali ke kamarnya. Dia mendudukan Dara yang tampak syok dengan sikap pria tadi. Hampir saja dia kembali digauli oleh pria bejat seperti Yuda."Minumlah." Yuda mnyodorkan segelas air kepada Dara, namun malah di tampik dan membuat gelas itu pecah beserta isinya."Ini semua karenamu! Kau menghancurkan hidupku. Kau tidak tau bagaimana aku hidup, tapi kau menghancurkanku dalam semalam. Kau bilang padaku tidak ingin melepaskanku, lalu haruskah aku menjadi budakmu selamanya? Apa begitu? Ha!!" Bentak Dara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.Yuda tidak menghiraukan ucapan Dara, dia malah mengambil pecahan gelas yang berserakan di lantai. Dia memang bersalah, tapi dia seperti ini karena satu alasan."Sebaiknya aku yang mati, daripada aku harus hidup dengan penyesalan seumur hidupku." Dara mengambil serpihan gelas kaca yang Yuda sisikan, dia menggoreskan begitu saja ke lengan kirinya."Apa kau sudah gila!" Teriak Yuda saat melihat darah mengalir karena goresan itu.Yuda langsung mengambil apapun yang ada di sampingnya untuk menutupi luka di lengan Dara. "Apa salahku padamu sampai kau tega merenggut kesucianku. Untuk apa aku hidup saat hidupku sudah hancur. Lebih baik aku mati." Dara ingin kembali menggoreskan serpihan gelas itu sampai Yuda menggenggam erat tangannya dan membiarkan mengenai telapak tangan kanan Yuda.Dia tidak ingin Dara melakukan hal bodoh lebih parah lagi. Itu hanya akan membuatnya semakin merasa bersalah. Kebodohan yang Yuda lakukan menghancurkan hidup Dara, tanpa berpikir tentang hal itu, dia mengambil sesuatu yang berharga."Tanganmu--" Suara Dara bergetar saat melihat tangan Yuda yang berdarah. Ingin Dara tidak peduli, tapi dia tidak bisa."Aku obati lukamu. Tolong jangan melakukan ini lagi. Kau bisa marah padaku, tapi jangan melukai dirimu. Aku mengaku salah, aku akan bertanggung jawab, seperti yang sudah aku katakan, aku tidak akan melepaskanmu," tegas Yuda. Untung luka gores di lengan Dara tidak terlalu dalam, hanya goresan saja, tapi tetap saja Yuda tidak ingin dia melakukan hal bodo seperti ini lagi."Kau ingin membunuhku? Lakukan di sini, goreskan serpihan itu di sini." Yuda meletakkan potongan gelas yang agak besar ke leher dengan tangan Dara."Lakukan!" Kembali Yuda meminta Dara untuk melukainya, dia ingin Dara melampiaskan kekecewaan padanya.Tangan Dara bergetar, ingin dia marah pada Yuda tapi apa dia bisa? Benar kata Yuda, apa yang sudah hilang tidak akan kembali lagi. Dia melepaskan serpihan gelas itu dan memukul Yuda dengan tenaga yang tersisa. Yuda membiarkan Dara memukul dirinya dengan menatapnya lekat."Kau itu berengs*k. Kau membuat hidupku hancur karenamu. Kau!!!" Teriak Dara sambil menangis. Dia benar-benar benci dengan dirinya yang kotor. Belum lagi hidupnya yang sulit ditambah semakin sulit saat Yuda merampas kesuciannya.Pukulan hingga tamparan Yuda dapat ketika Dara meluapkan emosinya. Tidak peduli jika Yuda membalasnya, Dara hanya ingin meluapkan kesedihannya.Setelah puas menangis. Dara terbaring di tempat kesuciannya dirampas oleh Yuda. Matanya masih berkaca saat Yuda meninggalkannya keluar kamar."Jangan ada yang berani menyentuhnya lagi. Atau kalian mau aku membunuh kalian!" Tegas Yuda pada beberapa temannya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, mereka suka melakukan pesta sex, tapi ini berbeda. Dia tidak ingin Dara mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari teman‐temannya yang lain."Maafkan aku, tadi aku begitu saja menariknya. Aku--""Sudahlah, aku hanya ingin kalian menjaganya. Jangan melukainya, karena dia kekasihku," jelas Yuda tanpa ingin mendengarkan penjelasan dari temannya tadi yang berusaha untuk melecehlan Dara.Setelah Yuda bicara dengan temannya, dia masuk membawa makanan yang dia beli untuk Dara yang hanya berdiam diri di kamar. Tak lupa dia juga membawa obat untuk luka gores di lengan gadis itu."Makanlah dulu. Kau akan sakit jika kau tidak makan sedikitpun," ucap Yuda sambil duduk di samping Dara yang hanya diam.BrakkDara menampik nampan yang Yuda bawa, membuat isi di atas nampan tumpah berantakan. Bukannya marah, Yuda dengan telaten merapikan makanan itu dan membawanya keluar. Tak lama dia keluar lagi dengan segelas susu hangat, namun tetap saja, Dara melemparkan gelas itu. Dia menolak pemberian Yuda. Sikapnya benar-benar kasar, tapi tidak membuat Yuda menyerah."Aku letakkan di sini. Jangan membuangnya lagi. Aku tau kau lapar, jadi jangan buang lagi. Aku akan meninggalkanmu. Nanti Anggun akan menemanimu, minta tolong padanya saat membutuhkan sesuatu," jelas Yuda sambil meletakkan makanan di samping tempat tidurnya."Aku ingin pulang," jawab Dara yang sejak tadi hanya diam."Pulanglah setelah makan. Anggun akan mengantarkanmu," sahut Yuda dengan lembut.Temannya yang lain tidak ada yang berani padanya karena dia ketua genk motor yang terkenal memiliki kuasa yang tinggi daripada genk lain. Bisa dikatakan, Yuda ditakuti, dan tidak ada yang berani melawannya."Saat kakakmu melukaimu. Datanglah ke sini, atau kau bisa menghubungiku, aku akan menjemputmu," ucap Yuda.Dara hanya diam. Tidak berkeinginan untuk meminta nomor telepon Yuda untuk menghubunginya. Setelahnya Yud pergi, dia memang sudah terlihat rapi. Tidak tau mau ke mana karena Dara juga tidak ingin peduli, yang dia inginkan pulang dan tidak bertemu dengan pria seperti Yuda lagi."Aku bisa pulang sendiri," jawab Dara pada Anggun yang ingin menemaninya."Aku hanya akan mengantarkanmu. Tidak melakukan apapun, setidaknya kau tidak memberiku masalah saat Yuda tau aku membiarkanmu pulang sendiri," jelas Anggun, dia salah satu pacar teman Yuda, dia biasa di basecamp saat tidak ada pekerjaan."Apa peduliku," sahut Dara sambil berjalan meninggalkan basecamp genk motor Yuda.Dara tidak mengenal siapa itu Yuda, yang dia tau hanya Yuda yang merusak hidupnya. Dia tidak mau peduli tentang sehebat apa Yuda, dan bagaimana Yuda berpengaruh. Dia membenci pria itu.Walau tidak mau diantar Anggun, dia tetap mengikuti Dara sampai sampai di rumah dengan selamat, seperti keinginan Yuda yang tidak bisa mengantarkannya sendiri karena dia harus bertemu dengan seseorang."Kau pulang juga. Apa malammu sungguh melelahkan sampai kau baru pulang?"PlakSatu tamparan keras mendarat ke pipi Juan yang ada di hadapan Dara yang baru pulang. Dia tidak banyak bicara, dia langsung saja menampar kakaknya, karena kakaknya juga dia harus merelakan kesuciannya pada pria seperti Yuda."Kurang ajar sekali kau!""Harusnya aku membunuhmu sejak lama," ucap Dara dengan tatapan yang penuh penekanan."Berani sekali kau bicara seperti itu padaku. Kau!" Juan mendorong tubuh adiknya sampai terjatuh, merasa jika Dara melawannya, padahal inu semua karenanya."Bunuh saja aku, Kak. Bunuh kalau itu membuatmu senang. Kau menjualku, menjadikanku taruhan untuk kepuasanmu sendiri. Sekarang kau ingin apa dariku? Kau ingin membunuhku?" Dara yang melihat botol bensin di balik pintu mengambilnya dan menuangkan bensin itu ke tubuhnya."Apa yang kau lakukan?" tanya Juan saat melihat adiknya itu ingin membakar dirinya di hadapannya."Kita mati bersama," jawab Dara dengan mata yang sudah berderai air mata."Kau gila!" Teriak Juan, dia melihat Dara mengambil korek api dan menyalakannya.Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja
"Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya. "Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.
Dara memilih pergi, dia mencoba hidup semestinya dia mau bersama Juan, kakaknya. Walau Juan masih ringan tangan padanya, dia tak ingin pergi darinya. Dia memiliki alasan untuk itu, karena hanya Juan keluarga satu-satunya. Dulu Juan kakak yang perhatian, sampai dia mengenal dunia hitam, dia menjadi kasar pada adiknya. Pyarrr Suara piring jatuh membuat Dara menutup telinganya, dia sangat takut dengan suara keras ataupun seseorang bersikap kasar padanya, luka hatinya menimpulkan trauma. Seseorang tak sengaja menjatuhkan piring, membuat Dara tampak ketakutan dengan suara itu. Dia sedang di tempat kerjanya, beberapa hari ini dia menyibukkan diri dengan bekerja. "Kau tidak apa-apa, Dar?" "Akhh!" Teriak Dara saat temannya itu coba untuk menanyakan kondisinya. Dia seperti ketakutan saat temannya hanya ingin bertanya. Dara menangis, dia menutup telinganya karena ketakutan. Bayangan di mana kakaknya ser
"Turunlah," bujuk Yuda pada Dara yang masih berdiri dengan air mata yang terus berlinang. Dia menatap ke arah Yuda tanpa berbicara apapun. Sudah berapa kali Dara coba mengakhiri hidupnya, dia tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya. Demi kepuasan kakaknya, dia dijadikan taruhan oleh Juan. Padahal, Yuda meminta maaf dan mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Seperti kali ini, dia tidak memperdulikan kondisinya untuk mencari wanita yang merubahnya beberapa hari ini. Yuda berjalan perlahan lebih dekat dengan Dara yang hanya diam. Tatapannya kosong, dia tidak tau lagi harus melakukan apa saat harapannya hilang begitu saja. "Kita pulang. Aku berjanji akan melakukan apa yang kau mau, tapi turun dari sana. Kau akan terjatuh nanti." Yuda terus membujuk Dara yang menggeleng pelan ke arah pria yang berjalan padanya. Yuda melepaskan sling untuk menggendong tangannya begitu saja, dia coba naik ke tempat yang sama d
Dara sedang menatap Yuda yang hanya diam bersandar merasakan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat lalu mereka berdebat, sampai Dara memaksanya untuk kembali ke mobil. Dan setelah di mobil, mereka malah hanya diam."Apa yang kau mau sekarang? Katakan kau ingin aku melakukan apa lagi?" tanya Yuda dengan posisi yang masih sama, bersandar dengan memejamkan mata."Ahhh!!" Teriak Dara meluapkan kekesalannya. Dia tidak bisa rela saat Yuda mengambil kesuciannya, dia begitu dendam pada Yuda yang berjanji untuk bertanggung jawab.Yuda hanya diam membiarkan Dara meluapkan emosinya. Dia sadar jika apa yang Dara rasakan begitu mengganggunya."Bisa kau jemput aku? Tubuhku tidak akan baik jika aku memaksanya. Aku sedang di kantor polisi," ujar Yuda dengan seseorang di sambungan teleponnya."Kenapa kau di sana?" tanyanya."Sudah, datanglah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kau harus segera datang," jawab Yuda.Yuda bersandar dengan mata terpejam, melupakan Dara yang terus menangis di sampingnya. Rasa sa
Kebohongan apa yang sedang Yuda buat, sampai dia mengganggap Dara tunangannya. Sebenarnya siapa Yuda, kenapa dia tampak seperti preman saat dia sebenarnya memiliki rumah mewah seperti ini. Di dalam kamar, Dara sesekali menatap ke arah pintu kamarnya. Ada keinginan ingin melihat kondisi Yuda, namun dia coba untuk tidak peduli. Luka yang dia lihat di bahunya tadi begitu dalam, tapi dia melihat Yuda seperti tidak merasakan apapun. Yudanta dengan selamat membawa Dara ke rumahnya. "Apa dia di dalam kamarnya?" tanya Dara saat seorang pelayan masuk ke kamar untuk memberikan camilan Dara. "Tuan muda kehilangan banyak darah, tapi beliau tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sekarang beliau ada di kamarnya, sedang terlelap setelah Dokter mengobati lukanya," jelasnya. Bahkan Yuda mendatangkan Dokter pribadi untuk mengobati tubuhnya. Dara begitu penasaran dengan kondisi Yuda, meski dia tidak ingin melihatnya, tapi hati kecilnya mau mengecek kondisinya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke kamar Yu







