LOGINBerbeda dengan Diandra,ada kepuasan tersendiri melihat mamanya terpuruk di sofa sambil menepuk -nepuk dadanya penuh penyesalan. Rupanya penyakit dendam belum hilang sepenuhnya, masih terselip di ujung hatinya. Dendam menyimpan luka kecil masa kecil, sabetan sapu lidi di paha sampai ke tungkai kakinya menyisakan barut -barut meskipun berusaha disembunyikan Diandra dengan menaburkan bedak masih terlihat dan menjadi ejekan teman-temannya, berakhir dengan perkelahian. Sebutan "anak kowar", anak haram, yang tidak diketahui siapa ayah kandungnya , lahir dari hubungan gelap melekat pada dirinya, tidak saja di lingkungan sekolah juga di lingkungan tempat tinggalnya. "Anak kowar disabet maneh karo ibu e," terdengar di telinga Diandra . Sebutan anak haram, masih terngiang di telinga Diandra yang berusaha dihilangkan kembali terlontar oleh keluarga toxic kepada Feliks dan dirinya. Diandra tersenyum kecil, "Aku puas melihat mama menyesali telah berbuat jahat kepada ku. Penyesalan yang ter
Diandra mengajak mamanya masuk kedalam, dengan ragu -ragu Fiona masuk ke kamar apartemen mewah. Matanya membulat sempurna ketika melihat kemewahan yang tersaji di depan mata nya. "K. a. u...mmm... tinggal disini?" Diandra tidak menjawab hanya mengangguk kepalanya. "Sendiri?" Diandra kembali mengangguk kemudian tersenyum kecut,"Beberapa bulan terakhir aku tinggal sendiri." Fiona menatap Diandra lekat -lekat, ada keinginannya untuk bertanya tapi kemudian ditahannya,'jangan sekarang,aku akan tunggu saat yang tepat,' batinnya. "Mama dengan siapa kemari?" tanya Diandra. "Sendiri," "Apakah tante Deasy menyuruh mama menemuiku?" tanya Diandra penasaran dengan kedatangan mamanya apakah ada maksud tertentu. "Mama berinisiatif sendiri. Mama kangen," ucap Fiona dengan wajah menahan malu. Diandra tidak merespons," Mama mau minum apa? Mama sudah makan?" tanya Diandra dengan nada datar. "Tadi mama kepengen makan nasi Padang,mama singgah di restoran Padang," Diandra kaget mende
Diandra menatap wajah Jayden,"Kakak kenal mamaku? " Jayden bergeming , tidak tahu apa yang harus dikatakannya, akhirnya dengan perlahan mengambil air botol mineral yang disediakan Diandra, menyesapnya kemudian menatap wajah Diandra. "Bukankah Fiona teman Feliks?" jawabnya ragu -ragu. "Feliks tidak pernah cerita bahwa ia berteman dengan mama, yang saya ketahui dia bersahabat dengan tante Deasy dan satu teman lagi yang ia tidak sebut namanya." "Mungkin bukan mamamu," ucap Jayden. Jayden berusaha agar Diandra tidak mencecarnya ,mengalihkan pembicaraan mengenai Feliks. "Feliks tidak pernah terlihat bahagia, bahkan perkawinannya dengan Karina yang tidak harmonis. Wajahnya selalu datar, dingin , arogan tak bersahabat, jarang tersenyum bahkan terkesan meremehkan membuat orang takut menatap wajahnya bahkan menyapanya." Jayden tersenyum kecil lalu menatap Diandra. "Beberapa tahun terakhir kami lihat ada perubahan di wajahnya , sering tersenyum kami kira ia mungkin sedang jatuh cinta. Ak
Kemarahan yang ditahannya selama di mobil meledak kembali ketika sampai di apartemen. Diandra menangis sambil mengeluarkan segala isi hatinya yang dipendam sejak dari rumah besar "Brengsek kamu Feliks!" "Bertahun-tahun aku dikungkung di apartemen mewah sebagai simpananmu,aku rela,aku pikir kami saling membutuhkan. Aku butuh cintamu,kau butuh pelampiasan nafsu mu! Akhirnya aku disingkirkan!" "Kamu lebih memilih ular betina licik daripada diriku!" "Aku kira kamu belahan jiwaku , ternyata kamu berani menghianati cinta kami." "Aku mencintaimu sampai ke lubuk hatiku yang terdalam,kau..... cinta mu hanya numpang lewat, kembali ke pelukan perempuan licik !" maki Diandra sambil tangannya memukul-mukul dadanya. "Aku tidak terima perlakuan mu !" Remuk hati Diandra tak tertahankan, sepanjang hari kerjanya hanya meratap, mengasihani dirinya sendiri karena telah dikhianati oleh orang yang dicintainya. Dua hari Diandra mengurung dirinya di kamar, tidak menyentuh makanan hanya minum air putih
Luka-luka lama kembali bermunculan,caci maki mama yang merupakan makanan sehari -hari,perkataan dan perlakuan Tante Deasy yang menjualnya beberapa tahun lalu dibiarkan menumpuk , Diandra terlihat tenang dan nyaman dalam genggaman cinta Feliks. Luka lama yang belum mengering sempurna, ditambah luka baru yang ditoreh berupa penghinaan, pelecehan verbal serta drama picisan di rumah besar menimbulkan bisul yang tunggu waktu untuk meledak. Di kamar sepi dan dingin terbayang wajah mereka bagaikan zombie yang tidak punya pikiran dan hati hanya bernafsu memangsa mereka yang menghalang-halangi keinginan mereka. Diandra teringat akan amplop coklat , segera bangun mencari amplop coklat yang seingatnya dilempar ke atas meja di kamar tidur. Tidak ada, di bungkukkan badannya melihat ke bawah meja, amplop coklat tergeletak cantik di bawah sofa. Diambilnya, dibukanya,kaki yang menopang tubuhnya bergetar hebat diikuti tangan yang mengeluarkan selembar kertas, dibacanya berkali-kali , tidak percaya
Dua sosok yang berdiri di depan lift pun terkejut tidak menyangka akan bertemu Diandra di depan lift. "Diandra....." suara menahan tangis keluar dari mulut perempuan yang memegang erat-erat amplop coklat ukuran besar di tangannya yang penuh dengan keriput. "Maaf Bu, ibu Deasy menyuruh saya membawa..eh...ibu ini kemari, untuk bertemu dengan ibu." Setelah kekagetannya menghilang Diandra mendengus,"Saya tidak ingin bertemu dengannya! " Pak Tikno terlihat ragu -ragu ,"Ibu Deasy...." "Bawa PEREMPUAN ini keluar dari apartemen."kata Diandra menekan pada kata perempuan. Wanita paruh baya itu menatap Diandra, lalu menyerahkan amplop ke tangan Diandra yang berusaha menolaknya. "Ini dari Feliks untuk diberikan kepada kamu," ucapnya memaksa Diandra menerima amplop coklat lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh pak Tikno. Diandra tersengat ketika jemari dingin perempuan itu menyentuh tangannya, cepat -cepat dilepaskan tangannya, amplop coklat hampir jatuh dari tangannya. Tercium aroma minyak
Pikiran Oom Feliks yang sedang melayang ketika sedang mencari cinta pertamanya dikejutkan dengan suara pak Tikno. "Tuan, saya akan membersihkan ruang kerja," "Silahkan. Kalau sudah selesai. Tutup pintunya,"kata Oom Feliks, membuka laci meja kerjanya mengambil segompok uang memberikan ke pak Tikno
Saat memasuki ruang kerjanya,mata Oom Feliks langsung tertuju ke kursi kerjanya, tempat ia dan Diandra memuaskan keinginan liar mereka. Diandra duduk di atas pangkuan Oom Feliks, posisi yang sangat disukai Oom Feliks benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan, miliknya bisa masuk ke pusat terdalam
Oom Feliks yang merebahkan dirinya di sofa langsung berdiri, Diandra menghambur , mereka saling memeluk. “Aku merindukan daddy.” “Daddy juga sangat merindukanmu.” “Mengapa daddy tidak ke apartemen?” “Katanya ingin melihat kantor daddy,” “Humm.. kantornya indah dan elegan, seperti pemiliknya.”
Oom Feliks meninggalkan ruangan makan, naik tangga, kamarnya terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar opa dan omanya. Masuk ke dalam kamar yang sudah lama ditinggalkan, aroma wangi pengharum ruangan khas keluarga Kartamihardo menyergap hidung Oom Feliks. Menatap ranjang besar, seprei biru







