MasukMalamnya kondisi ruko sudah ditutup lebih cepat dari biasanya, karena Alena terlalu lelah dan ingin menghabiskan waktu bersama William. Di dalam rumah mereka bertiga, berada di kasur yang sama. "14 hari... baru hari pertama, tapi kita sudah menang 1 babak!" ucap Kieran. Alena bersandar. "Aku lelah, Kieran," "Tidurlah! Aku akan jaga,” kata Kieran lembut. William berada di tengah, sembari menggenggam tangan Mama dan Papanya yang kini sudah lengkap. Tak ada hinaan yang akan William dengar lagi tentang Papanya. Di laci, cincin itu masih ada. Di luar, mobil polisi masih terparkir untuk berjaga. Sedangkan Wilhelm sedang duduk sendiri, dengan menatap berkas banding yang belum tentu menang itu. Berita yang kini sedang trending adalah. "Pengusaha kota Novara City telah dilaporkan polisi, saham Voss Group anjlok!” Banyak pula netizen yang berkomentar untuk mendukung William. "Akhirnya keadilan!""Salut sama Bu Alena! Kuat sekali!”“ Dasar Wilhelm tua bangka!"Di gudang kosong, kini ha
Hakim Ratna menatap tajam. "Duduk! Kami yang putuskan untuk sah atau tidaknya!"Beliau lalu membuka map tebal, isinya sekitar 40 halaman. "Yang Mulia, izinkan saya membacakan kronologi," kata Pak Hendra dari kursi pengawas. Lalu Pak Hendra membacanya pelan dan tegas satu-persatu. "...jam 21.47, korban William Voss telah diculik dari kediamannya sendiri…,""...pelaku mengaku disuruh oleh Tuan Viktor, komplotan Mafia yang baru saja keluar dari penjara…,""...Tuan Viktor mengaku telah menerima perintah dan dana dari Tuan Wilhelm Voss…,”"...tujuan penculikannya adalah untuk memaksa Tergugat supaya segera menandatangani surat pelepasan hak asuh…,”Setiap kalimat yang keluar dari mulut Pak Hendra, membuat ruang sidang semakin hening. Di barisan warga, Bu Ketua Desa menutup mulutnya dan menangis. "Ya Ampun tega sekali,"Jam 09.30. Saksi pertama ditugaskan Hakim untuk maju, yaitu Bu Yein. Tangannya gemetar sembari memegang jimat sebagai tanda perlindungannya. "Yang Mulia... saya yang ja
Jam 04.00. Wilhelm sudah sampai ke rumah sakit besar di daerah sana, William langsung dilarikan ke ruang UGD dengan selang infus dan selang oksigen. Wilhelm sedang duduk di luar dengan cemas, jasnya kotor dengan lumpur. Disusul Kieran yang datang 10 menit kemudian, tapi ia malah dihalau satpam. "Pak, itu cucunya Bapak," kata perawat. "Tapi ibunya mana?" Wilhelm diam. "Ibunya... sedang dalam perjalanan!”Kieran tidak lagi memperdulikan siapapun, ia memilih untuk menerobos para satpam yang menghadang. "Alena di mana!?” Wilhelm berdiri. "Dia aman! Di tempatku,"Kieran ingin maju untuk sedikit lebih dekat, tapi 2 orang bodyguard menahannya. Wilhelm mendekat dan berbisik ke telinga Kieran, hanya mereka berdua yang mendengar. "Kamu menang di pengadilan besok! Aku tahu karena pengawas sudah tahu bahwa aku yang menyusun rencana untuk menculik!”Kieran membeku. "Tapi," lanjut Wilhelm. "Kalau kamu mau anak itu hidup, kamu yang antar Alena padaku! 14 hari dengan tanda tangan maka setelah
Jam 01.00 tengah malam. Kentongan Desa dipukul dengan sangat keras, hingga membangunkan seluruh warga desa. "Warga! William di culik!" teriak warga. 147 orang keluar rumah dengan memakai sandal dan membawa senter, bahkan ada juga yang membawa benda tajam untuk berjaga-jaga. Bu Ketua desa hanya menangis. "Ini salah kita! Kita kemarin yang ikut menyebarkan fitnah, sekarang Tuhan sedang hukum kita!”Pak Ketua desa memerintah. "Cari! Sampai ketemu! Itu adalah anak kita semua!"Kieran memilih untuk menyetir sendiri dengan darah yang mengalir di pelipis matanya, ia tidak melapor ke kantor polisi lebih dulu. Ia akan mencarinya ke kebun tebu, dimana arah video yang ia lihat tadi. "Tuan, Kakek Wilhelm ada di sana dengan dua orang bodyguardnya!” telpon Jaxon. "Biarkan! Aku cuma butuh waktu 10 menit untuk menemukan mereka!” jawab Kieran. Jam 02.30. Di gudang sedang hujan deras, bahkan atapnya bocor menetes ke kepala William.Ada serpihan gelas kaca yang berada di dekat Alena, dalam diam i
Seorang pria terlihat sedang mengutak-atik pipa gas di area pabrik milik Kieran, dengan pakaian tertutup dan berjalan mengendap-endap. Kieran mendapatkan telepon dari Jaxon. “Tuan, ada pipa gas yang bocor di halaman belakang pabrik!” “Baiklah, aku kesana sekarang!” jawab Kieran. Jam 21.20. Malam, hari pertama dari 14 Hari masa pengawasan pengadilan. Di ruko Rajut Asri terlihat sepi. Kieran pamit pada Alena. "Aku ke kantor proyek selama 30 menit ya! Karena ada pipa yang bocor, satpam aku tarik untuk membantu,”Alena mengangguk. "Hati-hati, ya," Kieran mengangguk dan memakai jasnya. Di teras hanya ada Bu Yein yang sedang menutup toko, 2 orang karyawan sudah pulang. Tidak ada bodyguard, tidak ada mobil berwarna hitam. Kieran lengah, karena 7 hari terakhir terlalu tenang.Hujan belum turun, tapi anginnya sudah bergemuruh seakan bertengkar kesana kemari. Sebuah mobil berwarna hitam sedan berjalan pelan dan mematikan lampunya, mobil itu berhenti 50 meter dari ruko. Ada yang turu
Hening! Kali ini Kieran yang berdiri. "Yang Mulia, uang tidak bisa mengganti sosok Ibu!”Wilhelm menoleh dan menghentakkan tongkatnya ke lantai. "Kamu! Pengkhianat! Demi perempuan ini kamu lawan kakekmu sendiri?!""Kek," kata Kieran pelan. "Saya tidak lawan Kakek! Saya hanya lawan rasa takut karena kehilangan saya lagi! Sama seperti Kakek kehilangan Ibu dulu!"Wilhelm terdiam. "Apakah anak bisa dihadirkan?" kata Hakim. William digendong Kieran untuk maju ke depan hakim, walaupun ia masih sangat mengantuk. Hakim berjongkok. "Nak, kamu mau tinggal sama siapa?"William mengucek matanya lalu melihat ke kiri ke arah Kakek Wilhelm, dengan wajah yang asing, mahal dan dingin yang tak ia kenal. Lalu William melihat ke arah kanan, yaitu melihat Ibunya Alena. Dengan mata yang bengkak karena akhir-akhir ini selalu menangis, melihat Alena sedang menggigit bibirnya. Lalu William menoleh ke arah Kieran yang sudah tidak tidur malam, selama 7 hari demi dia.Sosok Papa yang selama ini William har
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax







