Masuk“Aku tidak sendirian,” jawab Alena. “Tidak!” Kieran menggenggam tangannya. “Kamu bersamaku,”Pintu gudang perlahan terbuka dan Alena melangkah keluar, lampu mobil menerangi wajahnya. Di kejauhan, beberapa pria sedang berdiri dan di tengah mereka.Ada Leonard. Namun Leonard tidak tersenyum, ia justru terlihat ketakutan. “Alena,” katanya.“Di mana Gabriel?” tanya Alena. Leonard diam.Alena melangkah maju. “Di mana keluargaku?”“Masih hidup,” jawab Leonard. “Bawa aku kepada mereka!” pinta Alena. Leonard segera menggeleng. “Aku tidak bisa!”“Kenapa?” tanya Alena. Leonard menatap ke belakang Alena, tatapannya jatuh pada Kieran. Kemudian kembali kepada Alena. “Karena orang yang mengendalikan semua ini sudah tidak mempercayai siapa pun,”Alena mengerutkan keningnya. “Termasuk kamu?”Leonard tersenyum pahit. “Terutama aku!”Tiba-tiba ponsel Alena berdering ada satu pesan masuk, ia membukanya dan hanya ada satu kalimat: Jika ingin Richard, Eleanor, dan Adrian tetap hidup, datang sendiri.
Kieran berjalan mendekat. “Karena mereka memang sengaja membuat semuanya menjadi seperti itu,”Alena menatapnya. “Mereka ingin kita saling curiga?”“Ya!” jawab Kieran. “Kalau begitu…,” Alena menggenggam lengan Kieran. “Jangan pernah percaya apa pun tentang aku tanpa mendengarnya langsung dariku,”Kieran tersenyum tipis. “Aku juga akan meminta hal yang sama,”Mereka saling memandang dan untuk sesaat, tidak ada mafia. Tidak ada masa lalu dan tidak ada ancaman.Hanya dua orang yang berusaha mempertahankan satu-satunya hal yang masih mereka miliki, yaitu keluarga.Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik, hingga ponsel milik Kieran berdering.Kieran langsung melihat layar dan wajahnya langsung berubah.“Ada apa?” tanya Alena.“Nomor tidak dikenal,” Kieran mengangkat panggilan.Tidak ada suara yang terdengar hanya rekaman, suara Alena sendiri terdengar dari seberang..“Aku tidak pernah mencintai Kieran,”Alena langsung membeku.Kieran perlahan menatapnya. “Alena?”“Bukan aku,” ja
Gabriel langsung menatap Kieran dengan wajah yang tak mengenakkan. “Tidak!” Gabriel langsung tersenyum dingin.“Aku menganggap diriku orang yang menyelesaikan pekerjaan yang tidak sanggup dilakukan oleh Richard!”Kieran maju selangkah, seketika aura lelaki yang selama ini berusaha ia kubur kembali muncul. “Kalau kamu berani menyentuh Alena atau pun William…,”“Jangan mengancamku, Kieran!” Gabriel memotong. “Aku tahu persis siapa dirimu!”Hening! “Dan aku juga tahu kelemahanmu!” tatapan Gabriel berpindah kepada Alena. “Namanya Alena!”Kieran berdiri semakin dekat dengan istrinya, Alena merasakan tangan Kieran sedang mencari tangannya.Jari-jari mereka bertaut, tidak ada kata-kata.Tetapi genggaman itu cukup untuk di tengah ruangan yang penuh ancaman, Alena menemukan sedikit keberanian dari tangan lelaki yang berdiri di sampingnya.Gabriel memperhatikan mereka. “Menarik sekali,”“Apa?” tanya Alena. “Kalian masih saling menggenggam meskipun tahu bahwa mungkin salah satu dari kalian ti
Di tangannya ada cincin, cincin dengan lambang Volkov. Lalu pria itu berbalik.Alena terkejut. "A– aaku mengenalnya…!"Kieran segera menatapnya. "Siapa?"Alena perlahan mengangkat wajahnya, tapi sebelum ia menyebutkan namanya tiba-tiba terdengar suara dari ruang bawah tanah."Alena…,” suara perempuan, suara yang sangat dikenalnya.Alena membeku. "Ibu?"Suara itu terdengar lagi. "Alena…,"Air mata Alena langsung mengalir.Kieran memandang Leonard dengan tajam."Kalau itu benar-benar Eleanor…?”Leonard tersenyum. "Turunlah!”Alena langsung bergerak.Namun Kieran menahannya. "Jangan sendirian!”Alena mengangguk dan mereka pun akhirnya turun bersama, tangga menuju ruang bawah tanah terasa panjang. Semakin dalam mereka berjalan, maka semakin jelas suara itu."Ibu…?" Alena mempercepat langkah.Sebuah pintu besi terlihat di ujung lorong dan Kieran mencoba untuk membukanya, tapi sayangnya terkunci.Alena melihat panel kecil di samping pintu ternyata ada sebuah kode, yaitu R-09. Lalu ia memasu
Rumah yang menurut catatan resmi telah terbakar dua belas tahun yang lalu, rumah yang seharusnya hanya menyisakan abu.Namun malam ini, seseorang kembali mengirimkan alamat itu kepada Alena dan mengatakan sebuah rahasia tentang keluarganya. Alena menatap jalan yang gelap. "Kieran…,""Ya?" jawab Kieran. "Kalau mereka benar-benar ada di sana…?” tanya Alena. Kieran menggenggam tangannya. "Kita bawa mereka pulang,”"Aku takut untuk berharap,” tanya Alena. Kieran meliriknya. "Kalau harapan itu membuatmu kuat, maka jangan takut untuk memilikinya,”Alena tersenyum tipis. "Bagaimana kalau ternyata itu hanya sebuah jebakan?""Kita hadapi,” ucap Kieran. "Kalau mereka menyentuh William bagaimana?" tanya Alena kembali. "Mereka tidak akan sempat, percayalah,” nada Kieran begitu tenang.Namun Alena tahu apa yang tersembunyi di balik ketenangan itu, karena Kieran sedang menahan sisi dari dirinya yang dulu. Sisi yang pernah membuat banyak orang takut.Alena mengusap punggung tangannya. "Jangan
Richard duduk di sebuah kursi, di hadapannya berdiri seorang pria yang wajahnya tidak terlihat.Suara Richard terdengar jelas. "Aku tidak akan menyerahkan anakku!”Pria itu menjawab. "Suatu hari nanti anak itu akan menjadi kuncinya,”Richard berdiri. "Jangan pernah menyentuh Alena!”Rekaman berhenti.Alena menahan napas. "Berikutnya!”Kieran membuka file kedua, kali ini Eleanor yang terlihat. Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon."Kalau sesuatu terjadi padaku, pastikan Alena tidak tahu tentang R-09,” rekaman berhenti.Alena menutup mulutnya. "Ibu tahu?”Kieran menggenggam tangannya. "Ya!”"Kenapa mereka menyembunyikannya?" tanya Alena. "Kita akan segera tahu,” ucap Kieran. File ketiga dibuka, kimi ruangan yang berbeda.Adrian terlihat sedang berbicara dengan Gabriel.Gabriel berkata. "Kalau kalian terus melawan, keluarga ini akan habis!”Adrian menjawab. "Kamu mengancam kami?"Gabriel menggeleng. "Aku hanya memperingatkan kalian!”Kemudian layar tiba-tiba berubah, se
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R







