เข้าสู่ระบบAir mata Alena jatuh. “Aku tidak ingin meninggalkanmu,”“Kalau begitu jangan pergi sendirian,” pinta Kieran. “Aku tidak bisa membiarkanmu untuk terus mempertaruhkan nyawamu untukku,” kata Alena. Kieran tersenyum tipis, tetapi kesedihan masih tertinggal di matanya. “Sayang, aku tidak mempertaruhkan nyawaku untukmu,” ia mengusap pipi Alena. “Aku mempertaruhkan semuanya untuk keluarga kita,”Alena memeluknya dan Kieran juga langsung membalas pelukan itu, menyandarkan dagunya di kepala istrinya.Mereka berdiam cukup lama, membiarkan keheningan meredakan luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.Kemudian Alena berbisik. “Aku akan pergi ke tempat itu,”Tubuh Kieran menegang.“Tapi aku tidak akan pergi sendiri,” Alena mengangkat wajahnya. “Aku ingin kamu bersamaku,”Kieran menatapnya. “Benarkah?”Alena mengangguk. “Aku tidak mau lagi menghadapi rahasia keluargaku dengan berbohong kepada suamiku sendiri,”Kieran memejamkan mata sejenak, lalu mencium keningnya. “Kalau begitu, kita
Asap mulai memenuhi gudang, sementara Kieran berdiri di hadapannya dengan rahang mengeras. Namun, untuk beberapa detik, Alena seolah tidak lagi mendengar apa pun.Adrian Sorell, nama yang beberapa kali disebut oleh Selena. Nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya, nama yang kini diklaim sebagai identitas dari ayah biologisnya.Tetapi bagaimana mungkin?Adrian Volkov adalah kakaknya, lelaki yang tumbuh bersamanya dan pernah menggenggam tangannya ketika mereka masih kecil, yang kini berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah penuh dengan kebingungan.Sementara Adrian Sorell adalah nama seorang pria yang konon mengetahui rahasia kelahirannya. Dua nama, dua orang yang berbeda dan satu kebenaran yang sengaja disembunyikan.“Alena!” Kieran menggenggam bahunya. “Kita harus keluar sekarang!”Alena mengangkat wajah..“Apa kamu mengenal nama itu?”Kieran terdiam sesaat. “Sepertinya aku pernah mendengarnya!”“Dari siapa?” tanya Alena. “Dari seseorang di masa laluku,” kata Kieran. “Siapa, Kie
“Bukan nama yang penting,” jawab Ethan. “Lalu apa?” tanya Alena. “Wajahnya!” Ethan menekan sesuatu.Layar besar di belakangnya pun menyala, ada sebuah rekaman lama yang muncul. Gambarnya tampak buram, seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah mobil.Di tangannya ada bayi dan bayi itu diserahkan kepada seorang pria, pria itu… adalah Richard.Alena menutup mulut. “T– ttidak…!”Kieran menggenggam tangannya. “Alena,”Perempuan dalam rekaman pun menoleh dan wajahnya terlihat sangat jelas.Alena membeku. “Selena…?”Selena muda menatap Richard. “Aku titipkan dia kepadamu,”Richard menjawab dalam rekaman. “Aku akan menjaganya,”“Jangan biarkan mereka menemukannya!” pinta Selena. “Aku janji,” jawab Richard. Rekaman pun nerhenti dan Alena langsung menatap Selena yang kini sedang berdiri beberapa meter di belakangnya.“J– jjadi…?” suaranya hampir tidak terdengar.“Akulah bayi itu?”Selena mengangguk, air mata mengalir di wajahnya. “Ya,”Alena mundur. “Kenapa?”“Karena saat itu mereka se
“Bukan ketika Soren berkhianat,” Ethan tersenyum pahit. “Dan bukan ketika Raven muncul!”Ia menatap Alena. “Semua itu hanya akibat,”“Lalu… apa penyebabnya?” tanya Alena. Ethan menunjuk Richard.“Dimulai dari ayahmu sendiri!”Richard memejamkan mata.Alena menatap ayahnya. “Ayah?”Richard tidak menjawab.Ethan kembali melanjutkan. “Richard membuat satu keputusan puluhan tahun yang lalu,”“Apa?” tanya Alena. “Dia menyelamatkan seorang anak,” jawab Ethan. Alena mengerutkan keningnya. “Anak siapa?”Ethan menatapnya. “Anak itu…. adalah kamu!”Hening! “Dan demi menyelamatkanmu…,” Ethan menatap Eleanor. “...dia menghancurkan hidup banyak orang!”Eleanor menangis. “Jangan!”Ethan tersenyum getir. “Sudah waktunya dia tahu!”Alena melangkah maju. “Apa yang Ayah lakukan?”Richard akhirnya membuka mata. “Alena... jangan dengarkan dia,”“Kenapa?” tanya Alena. “Karena kalau kamu mengetahui semuanya…,”Richard menatap putrinya dengan mata penuh kesedihan. “...kamu akan membenciku seperti dulu!”
Di luar gudang, puluhan mobil hitam mulai berdatangan dan untuk pertama kalinya. Seluruh kekuatan lama Volkov berkumpul di satu tempat.Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh, tinggal empat puluh menit.Hanya empat puluh menit sebelum tengah malam.Alena berdiri di depan cermin tua, mengenakan jaket hitam sederhana. Wajahnya terlihat pucat, tetapi sorot matanya telah berubah.Tidak ada lagi gadis yang hanya menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya. Karena malam ini, ia akan datang sendiri. Atau setidaknya, begitulah yang harus mereka pikirkan.Kieran berdiri di belakang Alena untuk memastikan tekad Alena. “Masih ada waktu untuk membatalkan ini!”Alena menatap pantulan mereka. “Tidak!”“Kita bisa mencari jalan yang lain,” sahut Kieran. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu,” jawab Alena. Kieran terdiam dan Alena berbalik menatapnya. “Aku kehilangan Ibu, Ayah, Adrian karena kesalahanku yang menyeret mereka!” ia menarik napas. “Sekarang mereka ada di dep
Suasana menjadi semakin berat, Alena berjalan menuju jendela. Di luar, mobil-mobil hitam masih terparkir.Namun para penyerang tadi sudah menghilang, seolah mereka hanya datang untuk memastikan sesuatu.“Mereka sengaja memperlihatkan foto ini kepadaku?” Alena bertanya-tanya. Kieran berdiri di sampingnya. “Ya,”“Berarti mereka ingin aku mencari Ethan?” tanya Alena kembali. “Dan mungkin mereka ingin kita pergi ke tempat tertentu,” jawab Kieran. Alena menatapnya. “Kamu pikir ini jebakan?”“Pasti!” jawab Kieran percaya diri. “Kalau begitu kenapa mereka menunjukkan orang yang selama ini dianggap mati?” tanya Alena. Kieran tidak menjawab. Selena yang menjawab. “Karena Ethan memiliki sesuatu,”“Apa?” tanya Alena. “Bukti terakhir!” jawab Selena dengan serius. Alena mengerutkan keningnya. “Bukti apa?”Selena mendekat. “Bukti yang bisa membebaskan Richard,”Alena terdiam dan jantungnya berdegup lebih cepat. “Dan menyelamatkan Ibu?”“Ya!” jawab Selena. “Juga Adrian?” tanya Alena. “Ya,”
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya







