LOGINWilhelm duduk di kursi roda, dii sampingnya ada Dr. Eliza Braun. Menggunakan jas berwarna putih dan membawa map tebal bertuliskan PSYCHOLOGICAL ASSESSMENT CONFIDENTIAL. Di bangku termohon sudah ada Kieran dan Alena yang sedang menggendong William, di belakang mereka sudah ada Pak Arman dan 3 orang pengacara yang sudah pro Di barisan kursi yang paling belakang, ada sekitar 20 warga desa. Salah satu dari mereka ada yang membawa flashdisk, isinya adalah 500 video bukti. Jam 09.00 pagi para hakim telah memasuki area sidang dan persidangan akan segera dimulai. Hakim Ketua mengetok palu. "Saksi ahli, silakan,”Dr. Eliza maju terlebih dahulu dan melakukan sumpah sesuai alur hukum yang seharusnya, dalam bahasa luar negeri yang diterjemahkan."Yang Mulia! Saya telah mengobservasi William Voss selama 6 jam di kediamannya!” terang Dr. Eliza. "Temuan saya menyatakan bahwa anak tersebut secara kognitif normal, dan mempunyai IQ di atas rata-rata emosionalnya juga stabil,”Leonard langsung berdi
Mereka membiarkan Dr. Eliza masuk untuk melihat dengan jelas, bagaimana cara mereka untuk mengajarkan William dengan sangat baik. Dr. Eliza duduk selama 2 jam di dekat William. "Nak, kamu suka di sini?" "Suka! Ada Papa dan Mama! Ada Bu Yein yang selalu membawakan bubur,""William suka main di mana?" tanya Dr. Eliza guna meledak"Di teras! Sama temen-temen dan Papa membuatkan ayunan untukku,” jawab akanDr. Eliza mencatat setiap kata yang diucapkan William dengan wajah datar, dan keringat bercucuranSebelum pulang, Dr. Eliza berbisik pada Alena. "Bu, anak Ibu sehat! Secara psikis dia lebih aman disini,”Alena kaget. "Lalu kenapa Ibu disewa?" Dr. Eliza hanya tersenyum tipis. "Karena saya dibayar untuk jujur! Tapi laporan saya... bisa diedit,”Alena hanya diam, kemudian Dr. Eliza pergi. Malam harinya HP Kieran berdering, ada nomor yang memanggil dari kota Novara City. Kemudian Kieran mengangkatnya. "Kieran,” Panggil Wilhelm dengan suara yang lelah. "Apa lagi, Kek?" jawab Kieran k
Ada 147 warga yang ikut, bahkan mereka berjalan kaki ke balai nikah dengan jarak 1 kilometer. Sebagian dari mereka ada yang membawa bunga. Di depan balai nikah, beberapa wartawan sudah menunggu. Kieran menggandeng tangan Alena. "Kita tidak lari! Kita menikah!”Alena mengangguk dengan senyuman bahagia, karena ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu sedari dulu. Penghulu memulai acara dengan kode menatap mata Kieran dan Alena. "Bapak Kieran Voss, terima nikahnya Alena Voss dengan mas kawin cincin perak dibayar tu… nai?""Saya terima…,” jawab Kieran lantang.“Sah!” sorak para warga yang hadir. Kemudian ruangan penuh dengan tepuk tangan, bahkan tangis para warga yang ikut terharu menyaksikan perjalanan kisah cinta mereka. William lari memeluk kaki mereka berdua. "Yeyy! Sekarang kita keluarga beneran!"Dari kejauhan, ada sebuah mobil berwarna hitam. Di dalam mobil itu ada Leonard Strauss yang sedang memotret, ia diam-diam mengintai gerak-gerik Alena. Lalu ia mengirimnya ke Wilh
Jam 11.00. Di kantor Pengadilan, Pak Arman sang pengacara masih berada di sana untuk mengecek berkas, AC dinyalakan sangat dingin tapi mampu membuat dahinya basah.Pak Arman segera menghubungi Kieran untuk membicarakan hal ini, tak berselang lama Kieran mengangkat telpon dan Pak Arman mulai berdiskusi. Pak Arman sedang membuka halaman pertama berkas dari masalah William dan membacanya dengan pelan. "1. Majelis tingkat pertama rupanya telah salah menerapkan hukum, ternyata tergugat tidak memiliki akta nikah dengan Penggugat, sehingga status anak sangat diragukan,”"2. Dilampirkan sebuah bukti baru yaitu, Akta Kelahiran William Voss di kolom Nama Ayah ternyata kosong,” “3. Pemohon yang mengajukan banding adalah kakek kandung dari garis keturunan Ayah, tentu memiliki kapasitas finansial dan moral yang lebih tinggi,”Alena menutup matanya. "I– iitu... itu adalah akta yang aku buat dari 5 tahun yang lalu, sewaktu aku kabur dan aku takut kalau nama Kieran dicantumkan, mereka bisa melacak
"Saya yang membuat Alena kabur karena tidak bisa melindunginya dengan baik, hingga kalian mengira Alena yang rusak karena membesarkan anak seorang diri tanpa Ayah!" Mendengar ucapan Kieran tersebut, Alena menunduk dan air matanya jatuh."Tapi 7 hari ini saya lihat sendiri, saya lihat dia berjualan dari jam 5 pagi dan melihat cara dia menyuap anak saya walaupun dia sedang lelah! Saya juga melihat dia menolak 10 Miliar demi anaknya!” ucap Kieran panjang lebar. Kieran berhenti lalu menatap Alena. "Dan saya lihat kalian yang kemarin melempar batu, hari ini malah bersama-sama untuk menjaga pagar,"Bu Yein menangis karena terharu sekaligus iba kepada Alena. Kieran merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, bukan sebuah berlian. Tetapi cincin perak polos yang ia beli di pasar desa. "Alena Voss," kata Kieran suaranya pecah. "Aku hanya punya nama yang sudah jelek sejak kamu meninggalkan ku,”Warga menahan napas."Tapi aku punya waktu selama 24 jam, 7 hari dan seumu
Malamnya kondisi ruko sudah ditutup lebih cepat dari biasanya, karena Alena terlalu lelah dan ingin menghabiskan waktu bersama William. Di dalam rumah mereka bertiga, berada di kasur yang sama. "14 hari... baru hari pertama, tapi kita sudah menang 1 babak!" ucap Kieran. Alena bersandar. "Aku lelah, Kieran," "Tidurlah! Aku akan jaga,” kata Kieran lembut. William berada di tengah, sembari menggenggam tangan Mama dan Papanya yang kini sudah lengkap. Tak ada hinaan yang akan William dengar lagi tentang Papanya. Di laci, cincin itu masih ada. Di luar, mobil polisi masih terparkir untuk berjaga. Sedangkan Wilhelm sedang duduk sendiri, dengan menatap berkas banding yang belum tentu menang itu. Berita yang kini sedang trending adalah. "Pengusaha kota Novara City telah dilaporkan polisi, saham Voss Group anjlok!” Banyak pula netizen yang berkomentar untuk mendukung William. "Akhirnya keadilan!""Salut sama Bu Alena! Kuat sekali!”“ Dasar Wilhelm tua bangka!"Di gudang kosong, kini ha
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya







