MasukMenceritakan cerita cinta Gendhis Astari Wijaya mantan calon madu Assyifa Furqon di Season 1 Selir Kesayangan Suamiku, justru sedang melakukan perjodohan dengan Mulki Furqon Syawiyan adik kandungnya. Padahal Mulki tahu jika Gendhis adalah 'Sugar Baby' kakak iparnya, Rio Gunawan. Dia ingin melindungi rumah tangga kakak perempuannya dengan menikahi CALON MADU- nya. Apakah ide gila Mulki ini di terima oleh keluarganya? Bagaimana dua orang dengan latar belakang hidup saling bertolak belakang di satukan takdir dalam ikatan pernikahan. Bukan tentang seberapa Bajingann di masa lalu, namun seberapa banyak usaha untuk memperbaiki diri dan Allah memantaskan jodohmu. SEASON 2 DARI NOVEL SELIR KESAYANGAN SUAMIKU
Lihat lebih banyakPOV: Olivia
They said he would return by moonrise. The hall swelled with noise and heat. Warriors crowded the long tables, ale spilling, voices rising. The Betas’ family sat nearest the dais, laughing too loudly, pretending not to wait like the rest. I kept my head down and carried trays. “Latent, faster,” the kitchen matron snapped. “Yes,” I murmured. Plates. Cups. Bread baskets. In and out. Don’t spill. Don’t be seen. Still, whispers chased me. “He trained with the northern war camps.” “Came back stronger. Meaner.” “Maybe he’ll finally choose a Luna.” My arms ached, but I didn’t let them shake. Latents didn’t get to tremble. We served. The air reeked of roasted meat, sweat, and smoke. Pack scent. Home, but never mine. I’d grown up in these walls and always felt like furniture. Two girls my age leaned close, their voices pitched just loud enough. “If he’s smart, he’ll pick from a strong line. No broken Luna. The pack needs a queen who won’t fail.” Their eyes slid over me—then away. I kept walking. At the end of the hall, the doors stood open, curtains tied back with rope. Moonlight poured pale across the stone floor. “Olivia,” Mae hissed, shoving a tray into my hands. “Top table. Don’t trip.” “I won’t,” I said, though my arms already trembled. “Then stop looking like you’re apologising for existing.” “I’m not afraid,” I lied. She smirked and vanished back into the kitchen. The tray grew heavier with every step toward the dais—elders, Beta, Gamma, and the empty chair waiting like a throne. One. Two. Three— The doors opened. At first, I didn’t see him. Warriors filled the frame, shoulders blocking the hall. Laughter faltered. Chairs scraped. Then he stepped through. Tall. Broad shoulders under a black coat cut to command. Dark hair, shorn close. A face carved from stone, a mouth unused to smiling. Eyes like a storm that never softened. And everything stopped when those eyes found me—just a latent girl with a tray. The bond struck like fire. Not thought. No choice. Lightning in my blood, a thread pulled tight inside me. One word echoing through the silence. Mate. The tray slipped, cups rattling. I caught it, elbows locked. No wolf’s voice answered—because I had none. Only silence, aching where she should be. If I’d had one, she would have howled that word. Mate. His chest rose sharply, like a man breaking water. A sound rumbled low in his throat, brushing my skin though he hadn’t spoken. Luna. The hall leaned forward, breathless. The Beta’s daughter—Rhea, polished and perfect—smiled widely. He didn’t look at her. He looked at me. “The air thickened. His scent cut through smoke—pine, sandalwood, and myrrh. It wrapped around me, binding tight.” He stepped forward. A hand clamped on my arm. “Back,” the matron hissed. I stumbled, broth sloshing hot over my wrist. I didn’t feel it. “Move, Olivia. Now.” My feet obeyed. I shoved through the service door and pressed against the wall, breath hammering. Mate. The stories said the Moon Goddess ties two souls with a thread no one can cut. When it pulls, you follow. Even without a wolf, I knew. Mae’s eyes went wide when she saw me. “Moon above. Did it—?” I shook my head too fast. Saying it aloud would make it real. “Latent!” the matron barked. “Wine, side room.” “I’ll do it,” I said, though the voice didn’t feel like mine. The side room was little more than a narrow closet with a cracked door overlooking the hall. I filled a goblet with shaking hands. Through the slit, I saw him take his chair. Elders rose. Rhea tilted her chin. He wasn’t looking at her. He was searching. And then his eyes found mine through the gap. My breath vanished. He stood. The room hushed. Each step he took was thunder rolling closer. “Alpha?” the Beta called. He didn’t answer. His eyes never left me. The door creaked. I froze. Wine spilt red across my hand. “Olivia?” Mae’s whisper. The door opened. He filled the corridor, shoulders and presence too much for the narrow space. His scent crushed the air from my lungs. Storm-dark eyes swept over me, memorising, branding. “Olivia,” he said. My name was rough in his mouth. I lifted my chin. “Alpha.” The bond pulled taut, singing inside me. Silence where a wolf should be. Silence that hurt. His gaze dropped to the wine dripping from my skin. His jaw clenched. “You’re hurt.” “It’s nothing.” Not compared to the fire inside me. Behind him, voices rose—the elders calling, Rhea’s laugh brittle as sugar. “Come with me,” he said, lower. “I can’t.” “Olivia.” He held out his hand. My fingers twitched, but I pressed them to my chest. “Not here.” Something flickered in his eyes—fear and relief tangled. He gave a sharp nod. “Not here,” he echoed. Duty dragged him back, but his eyes never left me. Not when the Beta tugged at his sleeve. Not when the elders spoke. Not when Rhea leaned forward, waiting. The door stayed open a crack. A thread. A promise. Mae appeared at my side, pale. “Tell me I didn’t see that.” “I can’t,” I whispered. “Because it’s real.” Her mouth fell open. “The Alpha?” I nodded. “Moon save you,” she breathed. The hall roared again. The elders spoke of tomorrow. But all I felt was that thread—tight, burning. And in that moment, with wine drying on my skin and my name on an Alpha’s lips, I knew one thing with terrifying certainty: My life would never be the same.ANAK PEREMPUANKU DAN SEJUTA MASA LALUNYA!"Kenapa? Kenapa aku yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan Kakak kandungku? Bukankah selama ini kau yang mengecewakan Kakak kandungku, Mas?" ledek Mulki."Mas Rio, Mas Rio. Kau ini aneh dan lucu sekali, kau itu jangan mencari kambing hitam atas rasa cemburumu. Kenapa? Kau masih tak terima kalah dariku? Dari tadi semua ucapan dan pembicaraanmu itu selalu berputar-putar arah! Pembicara kamu sungguh tak jelas seperti itu, kau di sini yang salah tapi kau tak mau mengakui kesalahan," ujar Mulki lirih. Dia tak enak juga jika mama Gendhis mendengarnya.Rio terdiam, dia hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Tak lama kemudian Bu Ririn datang dari belakang, sudah tak mengenakan mukena lagi. Hanya mengenakan gamis panjang dan jilbabnya. Tak lama Gendhis menyusul di belakang sang Ibu sambil membawa nampan minuman dan meletakkannya di hadapan Rio."Maaf ya lama," kata Mama Gendis."Oh tidak apa apa, Tante. Kebetulan saya juga baru datang," sahut Mu
KENAPA HARUS AKU YANG BERTANGGUNG JAWAB?Mendengar ucapan Rio itu Gendis terdiam, dia tak mengira Rio akan menilainya seperti itu. Dia cukup kaget meskipun apa yang dikatakan Rio adalah kebenaran. Dia tak mengira serendah itu harga dirinya di hadapan Rio."Apakah sebegitu hina aku di hadapanmu, Mas?" Tanya Gendis dengan mata berkaca-kaca.Rio terdiam diam memandang ke arah wanita yang begitu dia cintai itu, kemudian dia menyadari kesalahannya. Mata cantik itu dulu pasti akan nyalang ketika dia melakukan kesalhan, langsung mendebat tanpa ampun namun sekarang semua sudah berbeda."Dia berubah," batin Rio dalam hati, justru berubahnya Gendhis membuat lelaki itu sedikit ketakutan.Rio meneguk ludahnya dengan kasar dan merutuki kebodohannya sendiri. Ya, karena emosinya tadi dan tak bisa menahannya, sampai dia mengucapkan sesuatu yang mungkin menyakiti hati Gendis. Rio pun melirik Gendhis lagi, wanita itu masih diam. Alih-alih marah justru Gendhis terlihat menyeka air matanya yang mulai
SEHINA ITUKAH AKU DI HADAPANMU, MAS?"Lalu kenapa kau menikah dengan Mulki?" cerca Rio."Aku tidak menikah dengan Mulki!" tegas Gendhis."Gendhis," panggil Mulki lirih, semua menoleh ke arah Mulki. Dengan cepat Gendhis memberikan kode pada lelaki itu, Mulki paham dan diam. Memang kalau di pikir lagi ucapan Gendhis benar, mereka belum menikah tak ada yang salah. "Halah omong kosong!" bentak Mulki."Demi Allah aku tidak menikah dengannya sekarang," sahut Gendhis dengan cepat"Tapi Mulki kan melamarmu," sanggah Rio. Gendhis menghela nafas panjang, sepersekian detik otaknya harus di paksa berpikir secepat mungkin agar dia bisa berkilah namun tak berbohong hanya dengan penyusunan kosakata."Tadinya memang begitu, tetapi aku telah membatalkannya," jawab Gendhis."Membatalkannya? Benarkah? Kau tak berbohong kan? Mengapa kau membatalkannya?" tanya Rio menatap ke arah Mulki dan Gendhis bergantian."Benar Mulki?" selidik Rio. Mulki diam tak menjawab namun dia menganggukkan kepalanya perl
AKU TIDAK MENIKAH DENGAN MULKI!"Allah itu maha pengampun, mungkin doa istrimu, doa mertuamu, atau doa orang tuamu yang dikabulkan Gusti Allah. Bersyukurlah atas itu, jangan sampai kau memiliki pemikiran POLIGAMI lagi!" bentaknya."Lantas kenapa kau berulah lagi? Kenapa kau datang ke sini marah-marah tak jelas seperti ini?" tanya Gendhis."Tak jelas katamu? Hah? Tak jelas? Hahaha!" teriak Rio dengan menatap nyala ke arah Gendis.Entah setan mana yang sedang menyambetnya, dia tiba-tiba maju dan mencengkram dagu Gendis dengan keras, sampai kuku itu sedikit menusuk ke pipi Gendhis. Wanita itu pun meringis kesakitan."Lepaskan!" perintah Mulki. "Tak usah ikut campur!" bentak Rio tanpa menoleh Gendis.Gendhis memberikan kode kedipan mata, membuat Mulki diam. Meski sangat ketakutan, Gendhis berusaha kuat. Jujur saja sekarang dadanya berdetak sangat kencang sekali, dia tak mengira Rio berani sekasar ini. Rio yang pendiam tiba-tiba berubah menjadi arogant bahkan kasar dan cenderung frontal
UGD"Bukan begitu, Rio. Justru aku menghubungimu karena aku yakin dan aku hanya bisa percaya padamu. Aku sudah berjanji tak akan berhubungan lagi dengan Gendhis, maka tolong bantu aku menepati janjiku. Hanya kau lah sekarang yang bisa aku andalkan. Tolong Mulki, tolong kau hubungi Gendis tanyakan bag
AKU HANYA INGIN NAMAMU TERCANTUM DI AKTA BUKAN HARTA!Sekarang mereka semua mengikuti semua strategi yang di perintahkan oleh RIo. Mereka semua bersembunyi di salah satu ruangan seperti gudangnya namun bukan berbatasan dengan tembok tapi terbuat dari triplek sehingga mereka bisa mendengar dengan je
KONSEP KELUARGA!Sifa menangis mendengar jawaban Abahnya yang memang terasa menyakitkan baginya. Sebagai istri, Sifa yang tersakiti, Sifa juga yang harus legowo."APAKAH SURGA HARUS SESAKIT INI, BAH? MAS?" tanya Sifa tegas dan penuh penekanan."Nah itu Mulki yang lebih tahu. Bagaimana Le?" tanya Ab
APAKAH SURGA HARUS SESAKIT ITU, BAH?"Tapi Sifa bukankah kau terlalu...""Kenapa? Kau keberatan dengan permintaanku, Mas? Kau tak lupakan tentang perjanjian khulu' itu atau perlu aku bacakan perjanjian itu di depanmu?" tantang Sifa.Rio hanya terdiam sekarang, percuma saja dia berkata apapun rasany






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.