Compartir

Bab 17

last update Fecha de publicación: 2025-08-02 20:58:25

Ruang tamu telah lengang, hanya suara denting halus porselen yang terdengar saat Alice meletakkan cangkir tehnya kembali ke meja. Sinar sore menembus tirai tipis, menyentuh wajahnya yang terlihat ragu namun tetap menjaga ketenangan.

Pangeran Adhelard masih duduk di hadapannya, mata tajamnya menatap lurus seolah menanti sebuah jawaban. Tidak tergesa - gesa, tidak memaksa, namun jelas ia ingin mendengar.

Akhirnya, Alice bicara.

“Pangeran Adhelard...”

Ia menundukkan kepala sedikit, menimbang kata-
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 77 Bertahanlah Adhelard

    Alice bersembunyi di balik sebuah batu besar di lereng bukit. Di sampingnya, Maxime berjongkok sambil mengamati keadaan di bawah.Salju turun cukup lebat. Putihnya menutupi sebagian besar lereng dan membuat jarak pandang mereka tidak terlalu jelas.Alice menatap ke bawah dengan hati-hati.Pasukan suku Belian sudah lebih dahulu tiba di tempat pertukaran. Mereka mengambil posisi di lereng bawah, sementara rombongan yang membawa Putra Mahkota Evrard berhenti tidak jauh dari sana.Alice mengangkat satu tangannya."Semua menunduk."Maxime langsung memahami perintah itu.Ia memberi isyarat kepada pasukan White Mist yang bersembunyi di sekitar mereka."Menyebar. Ambil posisi di sisi kanan dan kiri. Jangan bergerak sebelum ada perintah Lady Alice."Para prajurit segera berpencar.Beberapa saat kemudian, Maxime kembali ke sisi Alice. Kini hanya mereka berdua yang berada di balik batu besar itu.Alice kembali mengintip.Dahinya langsung berkerut."Ada yang aneh."Maxime mengikuti arah pandang A

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 76 Peperangan segera dimulai

    Alice berdiri di atas benteng, memandang jauh ke bukit yang berdiri tidak terlalu jauh dari sana.Tenda-tenda berwarna gelap memenuhi lereng bukit.Pasukan suku Belian.Jumlah mereka jauh lebih banyak dibandingkan pasukan yang berada di dalam benteng.Alice menghela napas pelan.“Jumlah mereka terlalu banyak.”Tiba-tiba sesuatu yang hangat menutupi bahunya.Alice tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Adhelard membalutkan jubahnya pada tubuh Alice, lalu berdiri di sampingnya.“Jangan terlalu lama di sini. Udara semakin dingin.”Alice tetap menatap bukit di kejauhan.“Pasukan mereka lebih banyak dari kita.”Adhelard hanya tersenyum.Kemudian sebelah tangannya melingkar di pinggang Alice dan menariknya sedikit mendekat.Alice akhirnya menoleh.Adhelard tersenyum seolah tidak sedang berdiri di tengah situasi perang yang semakin buruk.Alice mengerutkan dahinya.“Jangan bilang kau sedang memikirkan rencana untuk mengobrak-abrik tenda mereka lagi.”Adhelard tidak menjawab.

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 75 Rencana Licik

    Evrard duduk dengan tenang di sebuah meja kayu di dalam tenda tahanan suku Belian.Anehnya, ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang tawanan.Tidak ada rantai di tangannya. Tidak ada luka yang menunjukkan bahwa ia baru saja ditangkap. Bahkan pakaiannya masih rapi, seolah ia sedang duduk di salah satu ruangan istana.Di seberangnya, Ketua Suku Belian terus memperhatikannya dengan tatapan penuh curiga.Kesepakatan mereka telah dibuat sejak malam sebelumnya.Evrard akan menjadi tawanan.Suku Belian akan mengumumkan bahwa Putra Mahkota Kekaisaran Livy telah ditangkap dalam perjalanan menuju benteng.Dan ketika saatnya tiba, mereka akan menggunakan Evrard sebagai alat untuk pertukaran tawanan.Namun sejak pertama kali bertemu dengan Putra Mahkota itu, Ketua Suku Belian masih belum bisa memahami satu hal.Mengapa?Beberapa waktu lalu, Evrard datang secara diam-diam dengan menyamar. Ia tidak datang membawa pasukan. Tidak pula datang sebagai seorang putra mahkota.Ia datang membawa sebua

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 74 Perang segera pecah

    Alice berlari menyusuri tangga batu menuju puncak benteng tanpa sempat mengatur nafasnya. Begitu tiba, ia langsung melihat sosok yang paling ia khawatirkan.Pangeran Adhelard.Dengan zirah perang berwarna hitam keperakan, lelaki itu berdiri di bibir benteng memandang hamparan bukit di kejauhan. Angin utara menerbangkan jubah panjangnya. Wajahnya masih pucat, tetapi sorot matanya tetap setajam biasanya.Alice segera menghampirinya."Adhelard!"Tanpa memperdulikan para prajurit yang berjaga, Alice langsung menarik lengan lelaki itu. "Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu tetap beristirahat? Kakakku akan segera datang membawa pasukan bantuan. Biarkan mereka yang menghadapi pertempuran ini."Adhelard menoleh. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik.""Itu bohong. Ada Pangern Teon disini, aku mohon.." Alice dapat merasakan tubuh Adhelard masih dingin. Bahkan berdiri lama saja seharusnya sudah melelahkan baginya.Namun Adhelard perlahan melepaskan gen

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 73 Suku Belian Kembali

    Sore itu, gerbang Benteng Eterdal akhirnya terbuka lebar.Deretan kereta yang membawa gandum, tepung, daging kering, serta berbagai bahan pangan memasuki benteng satu per satu. Para prajurit yang sejak beberapa hari terakhir bertahan dengan jatah makan yang semakin sedikit, memandang iring-iringan itu dengan wajah lega.Alice yang sedari tadi menunggu di depan gerbang tersenyum tipis.Akhirnya... bantuan itu datang.Ia melangkah menghampiri Louis yang baru saja menghentikan kudanya."Perjalanan kalian lancar?"Louis mengangguk sambil turun dari kudanya."Syukurlah, tidak ada penyergapan."Alice mengangguk pelan, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti.Pandangannya tertuju pada kereta paling belakang.Pintu kereta perlahan terbuka.Seseorang turun dengan jubah putih khas pendeta kerajaan.Teon.Alice sedikit terdiam.Baru saat itu ia teringat.Sebelum dirinya menghilang karena sihir liontin Adhelard, Teon memang sedang berusaha menghentikannya pergi ke perbatasan.Teon menatap Alice bebe

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 72 Alice mengetahui semua

    Jari-jari Alice mulai gemetar. Cahaya putih yang keluar dari telapak tangannya terus mengalir memasuki tubuh Adhelard, namun luka di dada lelaki itu masih mengeluarkan darah hangat yang membasahi pahanya. “Bangun Adhelard…” bisiknya lirih. “Jangan bercanda sekarang…” Angin dingin hutan utara berhembus pelan. Bau darah bercampur tanah basah memenuhi udara. Rambut Alice berantakan tertiup angin, gaun putihnya ikut ternoda merah karena darah Adhelard yang terus mengalir tanpa henti. Maxime berdiri beberapa langkah dari mereka. Lelaki itu terlihat benar-benar kehilangan ketenangan. “Lady Alice…” suaranya berat. “Kereta medis sudah hampir sampai.” Alice tidak menjawab. Tangannya masih menempel di luka dada Adhelard. Cahaya suci yang ia curi dari Teon terus dipaksakan keluar. Sedikit demi sedikit warna pucat di wajah Adhelard mulai berubah, namun napas lelaki itu tetap lemah. Lalu… Batuk kecil keluar dari bibir Adhelard. Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirnya. M

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 6

    Tangan Adhelard menuntun Alice dengan tegas, meski langkah mereka pelan menyusuri koridor panjang menuju aula pesta. Jemarinya dingin namun mantap, dan cengkeramannya menyiratkan kuasa, seolah berkata: kau aman bersamaku, tapi jangan bertanya terlalu banyak.Alice tak bisa berkata-kata. Ucapan Adhe

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 5

    Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya dari jendela aula dansa memantul di lantai marmer lorong istana yang sunyi. Langkah Adhelard terdengar berat namun pasti saat ia meninggalkan ruangan tempat Alice berdiri canggung sendirian. Namun belum jauh dari ambang pintu, seseorang menghada

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 4

    Kilau permata dan gaun sutra membanjiri aula istana utama. Pesta ulang tahun Pangeran Kedua, Evrard, telah menarik seluruh bangsawan dari empat penjuru kerajaan. Lampu gantung kristal bersinar seperti langit berbintang di atas kepala, dan aroma mawar serta anggur tua memenuhi ruangan.Di ambang pin

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 3

    Angin pagi belum berhenti menggoyangkan tiang-tiang tenda saat Alice menyiapkan senjatanya. Rambut merahnya tergerai, tak lagi terikat dalam simpul prajurit. Matanya memandangi bayangan samar di cermin kecil, bayangan yang bukan milik seorang tentara, melainkan seorang wanita yang baru saja mencium

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status