MasukSementara itu Sonya dalam hatinya merasa ini anak muda ganteng di depannya sungguh berbeda dengan sopir-sopir sebelumnya yang cenderung takut-takut kala meghadap dirinya. Arya ini nampak tak ada takutnya melihat perangai dirinya. Sonya dalam hati mulai kagum dengan Arya dan ia merasa telah menemukan sosok sopir yang mungkin saja cukup bisa ia andalkan dalam beberapa tahun ke depan. Karena sopir-sopir sebelumnya tak ada yang bertahan lama bekerja dengan Sonya. Rata-rata mereka lari dan pergi atau mengajukan undur diri setelah merasakan bekerja sebagai sopir pribadi Sonya. Tak tahan dengan kegalakan perangai Sonya.
“Jadi, tugasmu setiap pagi jam 8 sudah harus standby mengantarkanku kemana saja ya!”
“Sampe jam berapa bu selesainya?” tanya Arya
“Saya kan belum selesai bicara! Mangapa kamu berani memotong kalimatku?’ Sonya kembali melotot tajam ke wajah Arya, namun yang membuat Sonya cukup kagum adalah Arya malah tetap datar memandang wajahnya saat ia terlihat jutek saat itu.
“Owh baik bu...saya akan diam saja sampe ibu selesai ngomong!”
“Nah, gitu! Jadi begini, kamu ini kan sopir pribadi saya, jadi kamu harus standby kapan pun selama 5 hari kerja kecuali sabtu minggu kamu saya bebaskan dari tugas sopir,” ucap Sonya memberikan penjelasan.
“Baik bu, saya paham bu!”
“Kamu harus mau mengantar kemana pun saya pergi dan menuju dan tidak boleh membantah perintahku!”
“Baik bu Sonya!”
“Jika nanti hasil pekerjaan kamu bisa memuaskan saya, maka saya akan berikan bonus!” ucap Sonya lagi menambahkan penjelasannya namun kali Sonya lah yang menunduk sambil mengetik sesuatu di layar laptopnya. Karena perlahan Sonya mulai menyadari kalo bakal sopir barunya ini terlihat ganteng dan dalam hatinya ia berkata bahwa Arya lebih cocok jadi artis dibanding seorang sopir.
“Bonusnya apa bu?” Arya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dimaksud bonus oleh sang calon majikan cantiknya itu.
“Kamu ini, bekerja saja belum malah sudah menanyakan bonus! Buktikan saja dulu pekerjaanmu dan barulah ngomongin bonus!” Sonya kembali melotot dengan bentakan suara kerasnya.
“Owh baiklah bu Sonya!” Arya dalam hati ngakak karena yang ngajak ngobrol bonus kan si majikan sendiri yang memulai.
“Sekarang kamu boleh istirahat di kamarmu. Besok jam 8 pagi sudah harus siap mengantarku pergi!”
“ok baik bu!”
Arya pun ijin turun ke lantai bawah untuk menuju kamarnya dan dilihatnya ruangan bawah yang cukup luas itu lampu-lampu sudah redup. Arya pun bermaksud menuju kamarnya
Sesampainya di lorong menuju kamarnya sesaat langkahnya sudah sampe depan pintu kamar sayup-sayup Arya mendengar suara aneh. Seperti suara desahan orang. Arya baru ingat kalo kamarnya bersebelahan dengan kamar pak Dirman yang tadi ia ketemu di depan pagar saat pertama kali tiba di rumah mewah itu.
Arya bertanya-tanya dalam hati, “Itu suara desahan siapa. Masak suara pak Dirman? Koq seperti suara desahan perempuan ya?”
Arya pun makin penasaran dengan asal suara itu. Ia pun perlahan melangkah ke arah pintu kamar sebelah dan ternyata pintu kamar pak Dirman tak dikunci dari dalam serta terbuka sedikit sehingga dari luar Arya bisa mengintip aktivitas orang yang berada di dalam kamar pak dirman itu.
Saat menggintip dari balik pintu kamar itu, Arya tekejut bukan kepalang karena ia melihat tubuh telanjang laki-laki dan perempuan. Posisi si perempuan sedang menungging di pinggir kasur sementara si laki-laki yang diyakini itu adalah pak Dirman sedang berdiri di pinggir kasur. Lampu yang dinyalakan di kamar itu adalah lampu redup remang-remang sehingga Arya perlu melihat lebih jeli siapa orang yang sedang berada di kamar tersebut.
Tak berapa lama kemudian Arya mendengar suara sang perempuan, “Ayo pak genjot lagi!”
Deggg......
“Hah! Itu kan kayak suara mbak Tini?” Arya kaget bukan kepalang mendengar suara mbak Tini di kamar pak Dirman itu.
“Ok, tahan ya de Tini....aku dorong lagi ya!” ucap suara pak Dirman terdengar jelas di telinga Arya yang makin deg-degan jantungnya karena tak mengira malam itu di hari pertamanya ia akan bekerja sebagai sopir malah mendapatkan pertunjukkan gratis di hadapannya.
Maka terdengarlah suara keplak-keplok dari kamar pak Dirman itu yang menandakan bertemunya sepasang tubuh telanjang dua insan di kamar itu.
Tak berapa lama kemudian pak Dirman nampak menggeser posisi dirinya yang sekarang ia naik berlutut di atas kasur sementara mbak Tini dengan tubuh montoknya makin terihat oleh Arya masih berposisi menungging di kasur kamar pak Dirman itu.
Arya melogo melihat tubuh telanjang mbak Tini itu. Telihat kedua gunung kembarnya menggantung bergoyang-goyang karena gerakan tekanan selangkangan pak Dirman dari arah bokong mbak Tini. Terlihat di remang-remang lampu kamar itu ada tampak rudal panjang dan besar sedang keluar masuk ke bagian belakang pantat indah mlik mbak Tini. Sehingga terdegarlah suara lenguhan dan desahan mba Tini yang nampaknya membuat nafsu pak Dirman makin berkobar untuk terus menggenjotnya.
“Heughhh....heugghhh....plokkkk...plokkk...argh..arghhh!” suara beradunya selangkangan pak Dirman dan bokong mbak Tini serta lenguhan dan desahan menggema malam itu di kamar pak Dirman. Arya pun makin lama makin terbawa suasana penampakan yang ia lihat saat itu. Tangan kirinya secara tak sadar mengelus sleting celana panjangnya. Lalu makin lama Arya membuka seleting itu dan meraba CD nya yang ternyata mulai basah yang sangat mungkin karena terangsang hebat melihat persetubuhan antara mbak Tini dan pak Dirman di kamar sebelh itu.
“Pak, kita rebahan yuk!” Ajak Tini untuk nampaknya mereka berdua ingin melanjutkan pertempuran mereka dengan gaya tradisional.
Hari-hari berlalu, dan pertemuan antara Arya dan Sita semakin sering terjadi. Mereka berdua mulai membangun kembali kedekatan mereka. Arya mendengarkan cerita-cerita Sita tentang perjuangannya mencari pekerjaan dan mengatasi masalah rumah tangganya yang kacau. Sita juga berbagi tentang betapa ia menyesal meninggalkan Arya di masa lalu.Suatu hari, saat mereka duduk di taman dekat penginapan tempat Sita menginap, Sita tiba-tiba berbicara dengan nada penuh penyesalan, "Arya, aku ingin kau tahu bahwa selama ini, aku sangat menyesal telah meninggalkanmu. Aku tahu sekarang bahwa aku seharusnya lebih memilihmu daripada memenuhi harapan orangtuaku."Arya mendengarkan dengan hati terbuka, merasakan bahwa Sita benar-benar sedang mengungkapkan perasaannya. "Sita, aku juga punya penyesalan sendiri. Mungkin dulu aku tak cukup tegas dalam menjaga hubungan kita."Sita mengangguk, "Aku tidak pernah bisa melupakanmu, Arya. Setiap kali aku merasa terjepit, aku selalu mengingatmu
Malam itu, setelah mengantarkan Bu Sonya ke rumah dan menyelesaikan tugasnya sebagai sopir pribadi, Arya merasa cukup lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya, melepaskan segala penat dari seharian bekerja. Namun, ketika ia baru saja merasa nyaman dan hampir terlelap, ponselnya bergetar dan menyala. Arya mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Sita, mantan kekasihnya.Tersentak, Arya merasa bingung dan ragu untuk menjawab panggilan tersebut. Meski begitu, ia akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon. "Halo, Sita. Ada apa?" tanya Arya dengan nada hati-hati.Sesaat terdengar suara tangisan lemah dari seberang telepon. "Arya... maaf mengganggu. Aku... aku tak tahu harus kemana lagi," gumam Sita sambil terisak.Khawatir, Arya berbicara lebih serius, "Sita, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"Sita berusaha meredakan tangisnya, lalu bercerita dengan suara bergetar, "Arya, kehidupan rumah tanggaku... tak seperti yang kupikirkan. S
Keesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut."Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias."Halo, Sonya. Aku tadi ngobrol dengan Dave, tunanganku. Dia mendengar cerita darimu tentang kemampuan memijat Arya, dan sepertinya dia tertarik untuk mencobanya," cerita Jessy.Bu Sonya pun menjawab, "Benar, Jessy. Arya memang memiliki kemampuan memijat yang luar biasa. Aku merasakannya sendiri kemarin."Jessy melanjutkan, "Dave ini beberapa hari ini lelah sekali dengan pekerjaannya. Jadi, dia tertarik untuk mencoba dipijat oleh Arya. Aku mau nanya, bagaimana caranya?"Bu Sonya pun merespon, "Tidak masalah, Jessy. Aku bisa menghubungi Arya dan memberitahunya. Jadi, nanti Arya akan datang ke rumahmu untuk memijat Dave. Dan tahu apa, Jess? Aku akan minta Arya membawakan kue y
Setelah Arya selesai memberikan pijatan yang melegakan bagi Bu Sonya, suasana di dalam kamar mewah tersebut menjadi lebih tenang. Bu Sonya merasakan kelegaan yang luar biasa dari pijatan tadi, meredakan ketegangan dan pegal-pegal yang selama ini mengganggu. Ia menghela napas panjang, merasa segar kembali setelah mendapatkan perawatan dari Arya.Namun, ketenangan tersebut tiba-tiba terpecah oleh nada dering telepon dari ponsel Bu Sonya yang diletakkan di meja dekat tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy, adiknya."Halo, Jessy," sapanya sambil masi dalam posisi tengkurap."Halo, Sonya. Aku tadi mendengar dari Cindy bahwa kalian semua berada di Ancol. Kenapa tidak mengajakku?" suara Jessy terdengar agak cempreng.Bu Sonya tertawa, "Maafkan aku, Jess. Ini memang rencana dadakan. Aku tidak berniat untuk merahasiakannya darimu."Jessy melontarkan sedikit sindiran, "Hah, jadi kalian berencana seru-seruan tanpa mengajak
Esok harinya, suasana di kantor Sonya Fast kembali menjadi sibuk seperti biasa. Meskipun mereka telah menghabiskan waktu refreshing di resort, namun kembali ke pekerjaan adalah suatu keharusan. Bu Sonya sudah berada di mejanya sejak pagi, sibuk merencanakan agenda dan memeriksa laporan-laporan yang perlu segera diselesaikan.Cindy juga sudah duduk di dekatnya, membantu menyusun jadwal dan mengorganisir tugas-tugas yang harus dilakukan hari ini. Meskipun suasana di luar kantor sangat berbeda, mereka harus kembali fokus pada pekerjaan yang menunggu.Jodi dan Arya juga telah tiba di kantor. Mereka saling bertegur sapa dan mengecek daftar tugas yang harus mereka kerjakan. Jodi dengan serius melihat laporan keuangan yang harus dia kaji, sementara Arya memeriksa mobil dan memastikan semuanya dalam kondisi baik untuk perjalanan hari ini.Walaupun kembali ke rutinitas pekerjaan, tetapi semua anggota tim merasa semangat yang lebih segar. Mereka memiliki kenangan indah da
Jodi pun melumat bibir seksi milik Cindy yang sebenarnya sedari tadi juga sudah ingin bermesraan dengan Jodi. Ini karena besok mereka sudah harus kerja kembali sehingga mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Cuppp...cuppp..mphhh...mmmuachh!” bunyi kecupan dua bibir yang bertemu di kamar resort itu menjadi pembuka jalnnya bercinta mereka. Dan keduanya pun tau kalo mereka tak punya waktu banyak karena khawatir Cindy akan dicar-cari bu Sonya di kamar yang letakya beberap meter dari kamar Jodi itu.“Ayo buka seluruh pakaianmu sayang!” ajak Jodi buru-buru dengan nafas memburu karena nafsunya mulai menaik meilhat tubuh seksi Cindy yang sangat putih mulus dan montok itu dengan rambut pirangnya dan hidung mancung dengan wajah eropa pertanda keturunan Belanda dari sang ayah.Jod seketika sudah dalam kedaan telanjang dengan rudalnya yang sudah ngaceng berat berkedut-kedut. Cindy tersenyum nakal melihatnya dan tak tahan juga unt







