เข้าสู่ระบบKeesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias.
"Halo, Sonya. Aku tadi ngobrol dengan Dave, tunanganku. Dia mendengar cerita darimu tentang kemampuan memijat Arya, dan sepertinya dia tertarik untuk mencobanya," cerita Jessy.
Bu Sonya pun menjawab, "Benar, Jessy. Arya memang memiliki kemampuan memijat yang luar biasa. Aku merasakannya sendiri kemarin."
Jessy melanjutkan, "Dave ini beberapa hari ini lelah sekali dengan pekerjaannya. Jadi, dia tertarik untuk mencoba dipijat oleh Arya. Aku mau nanya, bagaimana caranya?"
Bu Sonya pun merespon, "Tidak masalah, Jessy. Aku bisa menghubungi Arya dan memberitahunya. Jadi, nanti Arya akan datang ke rumahmu untuk memijat Dave. Dan tahu apa, Jess? Aku akan minta Arya membawakan kue y
Arya dan Sita masih terengah-engah nafasnya sambil tiduran terlentang bersebelahan di ranjang kamar penginapan Sita.“Terima kasih mas Arya, hari ini aku kembali merasakan nikmat tak terkira!” ucap Sita sambil membelai wajah Arya yang masih berpeluh keringat di keningnya.“Kamu sudah lama gak ditiduri suamimu ya?’ tanya Arya dengan wajah prihatin“Hemm...iya mas...setelah perangai asli suamiku keluar, aku jadi ilfill mas kalo ingin dijamah dia!” timpal Sita dengan wajah sedih.“Sudah berapa lama kamu tidak bercumbu dengan suamimu?” tanya Arya lagi yang nampaknya masih penasaran.“Hampir 3 bulan ini mas!” kini Sita mulai nampak sedih lagi wajahnya.“Hemmm...pantesan...tadi kamu maen bernafsu sekali!” timpal Arya kini juga sambil membelai rambut dan kepala Sita.“Emangnya tadi kerasa gituh? Hihihi!” tanya Sita yang sekarang berbalik penasaran dan wajahny
Ditengah kekalutan Sita dalam menghadapi masalah rumah tangganya dengan bertemu Arya, ia seolah merasa menemukan kembali kehangatan dan kepedulian seorang laki-laki. Sita pun nampak sepenuh hati mencium dan memeluk tubuh Arya yang kini ada di bawahnya di kasur itu. Jantung Arya pun mulai berdegup kencang karena mulai terbakar birahi cinta lamanya.Setelah beberapa saat lamanya mereka berpelukan dan berciuman, dengan tubuh yang bergetar dan degup jantung makin terasa cepat Sita pun melepaskan tindihannya lalu ia berdiri di pinggir kasur. Arya yang masih rebahan di kasur hanya bisa menatap Sita yang teryata sedang membuka kancing-kancing bajunya serta rok dan kini dilihatnya Sita hanya memakai CD dan BH yang menutupi buah dadanya yang cukup besar menggantung meski sedikit terlihat kendur karena sudah sering dipake untuk menyusui anaknya ataupun sangat mungkin juga sudah sering dilahap oleh sang suami. Namun, tetap saja itu membuat Arya tertegun dan menelan salivanya menatap tub
Hari-hari berlalu, dan pertemuan antara Arya dan Sita semakin sering terjadi. Mereka berdua mulai membangun kembali kedekatan mereka. Arya mendengarkan cerita-cerita Sita tentang perjuangannya mencari pekerjaan dan mengatasi masalah rumah tangganya yang kacau. Sita juga berbagi tentang betapa ia menyesal meninggalkan Arya di masa lalu.Suatu hari, saat mereka duduk di taman dekat penginapan tempat Sita menginap, Sita tiba-tiba berbicara dengan nada penuh penyesalan, "Arya, aku ingin kau tahu bahwa selama ini, aku sangat menyesal telah meninggalkanmu. Aku tahu sekarang bahwa aku seharusnya lebih memilihmu daripada memenuhi harapan orangtuaku."Arya mendengarkan dengan hati terbuka, merasakan bahwa Sita benar-benar sedang mengungkapkan perasaannya. "Sita, aku juga punya penyesalan sendiri. Mungkin dulu aku tak cukup tegas dalam menjaga hubungan kita."Sita mengangguk, "Aku tidak pernah bisa melupakanmu, Arya. Setiap kali aku merasa terjepit, aku selalu mengingatmu
Malam itu, setelah mengantarkan Bu Sonya ke rumah dan menyelesaikan tugasnya sebagai sopir pribadi, Arya merasa cukup lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya, melepaskan segala penat dari seharian bekerja. Namun, ketika ia baru saja merasa nyaman dan hampir terlelap, ponselnya bergetar dan menyala. Arya mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Sita, mantan kekasihnya.Tersentak, Arya merasa bingung dan ragu untuk menjawab panggilan tersebut. Meski begitu, ia akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon. "Halo, Sita. Ada apa?" tanya Arya dengan nada hati-hati.Sesaat terdengar suara tangisan lemah dari seberang telepon. "Arya... maaf mengganggu. Aku... aku tak tahu harus kemana lagi," gumam Sita sambil terisak.Khawatir, Arya berbicara lebih serius, "Sita, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"Sita berusaha meredakan tangisnya, lalu bercerita dengan suara bergetar, "Arya, kehidupan rumah tanggaku... tak seperti yang kupikirkan. S
Keesokan harinya, saat istirahat siang di ruang kerjanya, Bu Sonya sedang menikmati makan siangnya ketika ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy ia pun menjawab panggilan tersebut."Halo, Jessy. Ada kabar apa?" tanyanya penuh antusias."Halo, Sonya. Aku tadi ngobrol dengan Dave, tunanganku. Dia mendengar cerita darimu tentang kemampuan memijat Arya, dan sepertinya dia tertarik untuk mencobanya," cerita Jessy.Bu Sonya pun menjawab, "Benar, Jessy. Arya memang memiliki kemampuan memijat yang luar biasa. Aku merasakannya sendiri kemarin."Jessy melanjutkan, "Dave ini beberapa hari ini lelah sekali dengan pekerjaannya. Jadi, dia tertarik untuk mencoba dipijat oleh Arya. Aku mau nanya, bagaimana caranya?"Bu Sonya pun merespon, "Tidak masalah, Jessy. Aku bisa menghubungi Arya dan memberitahunya. Jadi, nanti Arya akan datang ke rumahmu untuk memijat Dave. Dan tahu apa, Jess? Aku akan minta Arya membawakan kue y
Setelah Arya selesai memberikan pijatan yang melegakan bagi Bu Sonya, suasana di dalam kamar mewah tersebut menjadi lebih tenang. Bu Sonya merasakan kelegaan yang luar biasa dari pijatan tadi, meredakan ketegangan dan pegal-pegal yang selama ini mengganggu. Ia menghela napas panjang, merasa segar kembali setelah mendapatkan perawatan dari Arya.Namun, ketenangan tersebut tiba-tiba terpecah oleh nada dering telepon dari ponsel Bu Sonya yang diletakkan di meja dekat tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk dari Jessy, adiknya."Halo, Jessy," sapanya sambil masi dalam posisi tengkurap."Halo, Sonya. Aku tadi mendengar dari Cindy bahwa kalian semua berada di Ancol. Kenapa tidak mengajakku?" suara Jessy terdengar agak cempreng.Bu Sonya tertawa, "Maafkan aku, Jess. Ini memang rencana dadakan. Aku tidak berniat untuk merahasiakannya darimu."Jessy melontarkan sedikit sindiran, "Hah, jadi kalian berencana seru-seruan tanpa mengajak







