Share

Bagian 111

Author: Antariksa
last update publish date: 2026-05-24 12:45:33

Melihat Maya yang mendadak kegatalan, Agus sengaja menahan tawa dalam hati. Wanita semok di depannya ini benar-benar sedang berada dalam alam mimpi.

"Enggak salah, toh?" tanya Agus dengan meremehkan.

"Biasa aja kali, Gus, mukamu itu. Enggak usah lebay gitu deh," cibir Maya yang memajukan bibir tebalnya.

Agus tidak menjawab. Malah dia sengaja semakin mendekatkan wajahnya ke arah Maya, memicu napas hangat mereka saling beradu.

Melihat tindakan seberani itu, Maya semakin percaya diri.

"Duh, seengg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 147

    Siska masih diam menatap layar ponselnya yang terus-menerus bergetar heboh. Antara minta dibanting atau diangkat itu teleponnya.Belum sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu mati, lalu mendadak tersambung lagi. Begitu terus sampai lima kali berturut-turut layaknya rentenir yang menagih utang keliling."Siapa sih, Siska? Ganggu kesenangan orang saja," gerutu Dina sembari menyeka sisa cairan Agus di pahanya menggunakan ujung sprei.“Eeee, Non nanti kotor itu. Waduh!”“Biarin, kan bisa dicuci sama Mas Agus.” Dina mengedip genit.“Busyetr sue bener ini bibir anak pejabat,” pikir Agus. Terus melihat Siska. “Punya utang kali, Non. Sama siapa? Sini biar tak bayarin, toh.”"Bentar, bentar deh. Ini tuh, hah!" Siska melotot, matanya yang siap tidur mendadak segar benderang.Agus yang masih telentang sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau copot ikut menoleh. Masalahnya, suara Siska itu cemprengnya bukan main. "Kenapa toh, Non? Nyonya Besar pulang? Waduh, kalau Nyonya yang telepon, b

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 146

    Dina sudah lemas di atas kasur seperti dan tubuhnya masih kejang-kejang. Ada rembesan deras keluar dari guanya yang masih berkedut, bikin sprei basah.Sejak tadi Siska menahan berahi sampai miliknya panas dan menyiksa, tidak tahan lagi melihat pemandangan itu.Siska menarik lengan kekar Agus memaksanya mendekat."Sini dech, Gus! Jangan mentang-mentang si Dina masih sempit dan perawan, terus lupa sama aku! Sekarang gilira aku, buruan! Kamu harus tanggung jawab bikin aku puas!"Agus yang memang mesum menyengir dan membalik tubuh Siska. Mengungkungnya di bawah badan yang berotot.."Waduh, sabar dong Non Siska. Siaplah saya ngebor lagi," goda Agus tatap Lembah Siska yang sudah mengkilap."Enggak usah banyak bacot! Masukin sekarang juga, berengsek! Aku mau yang gede itu!" perintah Siska menarik paksa pinggul Agus paksa.Dina yang mulai pulih energinya ikut-ikutan nakal. Mengulurkan tangan, meraba dada bidang Agus yang licin karena keringat. "Iya, Mas Agus… cepetan aja kasih paham ke Siska

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 145

    Melihat pusaka Agus petantang-petenteng, urat-uratnya berdenyut-denyut liar seperti mau meledak, Siska sengaja tetap menahannya.Padahal napas Agus sudah berisik mirip mesin diesel rombeng yang kehabisan oli. Menahan lahar panas yang tinggal menunggu waktu untuk menyembur."Tunggu apa lagi, Non? Punya Non aja udah becek gitu. Penyiksaan perabotan ini namanya!"Pinggulnya Agus menyentak ke atas menusuk-nusuk udara kosong.Dina melihat ketegangan itu malah tertawa centil. Tangannya yang sudah belepotan ludah dan cairan bening Agus, tetap mengelus-ngelus ujung botol kecap jumbo. Tangan satunya lagi tanpa malu meremas payudara Siska yang bergoyang di depan wajah Agus."Siska, kasihan itu Mas Agus, mukanya udah melas banget kayak liat daging steak premium aja. Kasih izin aja kenapa sih? Daripada itunya meledak sendiri sebelum masuk ke kita."Siska merasa penuh kuasa, menarik kepala Dina."Oke deh, Gus. Aku kasih izin kamu masuk sekarang. Tapi ingat ya, kamu harus puasin kita berdua bergan

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 144

    Biar kata anak pejabat ternyata tenaga Dina juga besar. Berhasil melorotkan celana jiput beserta sempak Agus sampai ke ujung kaki.Begitu sepasang kain itu teronggok mengenaskan di lantai, si rudal balistik yang sudah menahan beban berahi sejak di kamar bawah langsung menyembul tegap, berdiri tegak menantang langit-langit kamar layaknya menara paling tinggi.“Oh my my nambah gede aja sih, Mas.”Dina yang biasanya tampil jaim dan anggun sebagai mahasiswi berwajah polos, menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melotot sempurna. Takjub setengah mati menyaksikan pusaka fungsional milik Agus yang ukurannya benar-benar di luar nalar.Urat-urat menonjol di sepanjang batang kokoh itu berdenyut kencang. Ikut girang karena akhirnya dibebaskan dari kurungan kain.“Emberan, Din. Pake tisu ajaib kali si Agus.” Siska ikut bicara, sempat juga dia lirik ke belakang.“Waduh, Non. Mana ada tisu-tisuan gitu. Paten punya dari orok ini mah,” protes Agus.“Sst, berisik ah!” Siska mode galak."Siska kamu

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 143

    Melihat pemandangan premium di depan mata, Agus ikutan panas. Nyali sang pejantan tangguh jadi ciut karena ada Tuan Hendro di kamar bawah.“Enaknya diserbu ini, tapi ngerilah. Si Tuan bikin ulah lagi nanti.”Agus mau mundur dan menarik kembali gagang pintu. Sebelum menutupnya rapat-rapat, Dina dan Siska melihat Agus.“Naik juga dia, Din. Ayoklah!” Komando Siska.“Eh, iya. Akhirnya datang juga. Kita kurung sekarang, supaya enggak kabur lagi, Siska.” Dina turun dari ranjang."Waduh, Non... saya salah kamar toh. Permisi dulu." Agus membalikkan badan.Dina dan Siska sudah gerak cepat. Menarik kuat bagian belakang kaos Agus sampai si pemuda nyaris hilang keseimbangan dan masuk ke dalam kamar.Memang dasar gadis-gadis nakal, Siska menyelinap ke pintu. Mencabut anak kunci yang masih menggantung di selot. Dia juga menggerendel pintu.Klek!“Duh, Gusti. Beneran dikunci sama macan tutul ini.” Agus melihat Dina dan Siska sudah siap tempur.Seringai binal Siska menuar ke Dina. Kemudian dia lempar

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 142

    Tuan Hendro kelihatan masih mau memprotes dan bibirnya komat-kamit, Siska langsung memotong cepat dengan nada membujuk."Udah ya, Mas Hendro. Tungguin aja Mbak Rosa, nanti juga pasti pulang kok. Sekarang Mas Hendro mendingan tidur aja deh, katanya mau cepat sembuh," ucap Siska sembari mengelus-elus lengan besar Hendro supaya iparnya itu bisa tenang.Pada akhirnya, Hendro terpaksa menurut ucapan adik iparnya."I-iya... R-rosa... n-nanti... t-telepon," Hendro terbata-bata dan akhirnya tidur laggi."Nah, begitulah, Mas. Kan kalau nurut gini enggak bikin kepala orang pusing," gumam Siska lega.Saat Agus melangkah keluar dari kamar bawah, ia mendapati Dina sudah berpakaian rapi kembali. Mahasiswi itu masih kaget setengah mati tadi, mengira Tuan Hendro bakalan lewat."Non Dina mau balik apa gimana toh?" tanya Agus sembari membetulkan kaosnya."Enggak dong, Mas Agus. Masa aku langsung pulang? Masih mau di sini kok, nemenin Siska," sahut Dina dengan senyuman manis macam biang gula.Situasi se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status