登入Agus sama sekali tidak gubris dan terpancing karena melihat belahan dada Clara yang diumbar sengaja. Cengkeraman jemarinya malah mendarat telak di leher Clara, mengunci pergerakannya ke dinding."Jangan banyak gaya!" gertak Agus, matanya melotot penuh amarah sampai Bu RT kaget bukan main. "Di mana si Ben nyembunyiin Rosa? Jawab atau lehermu aku patahkan sekarang!"“Mas Agus, nyebut, awas mati anak orang.” Bu RT serba bingung.“Mas Agus, jangan dong,” Clara meringis, nyalinya menciut karena melihat tatapan iblis milik Agus. Belum sempat Clara merekayasa kebohongan, pintu depan terbuka lebar. Siska masuk membawa bungkusan nasi uduk, langsung melotot melihat pemandangan di depannya."Eh, cewek gatal ngapain pagi-pagi pakai baju dinas di sini?" semprot Siska, melemparkan bungkus sarapan ke meja.“Clara kerja sama Ben, nyulik Mbakmu! Bantu aku ikat dia!” Agus memberi perintah kepada Siska.“What the fuck? Mbak Rosa? Gila cewek ulet berani banget!”Tanpa perlu komando dua kali, Siska menya
Udara pagi di komplek mewah masih lumayan segar, belum tercemar asap knalpot. Maya berjalan centil mendampingi Rosa yang berjalan santai dengan perut yang membusung. Langkah mereka diiringi riuh pedagang yang baru menggelar lapak."Hajar aja semuanya aja sich Rosa! Bumil mah bebas, makan apa aja jadi gizi." Maya sambil melirik gemas ke arah lapak kue basah.Rosa tertawa kecil sambil menepis cepat tangan Maya dari gerobak jajanan. "Ngawur kamu. Yang ada badan aku melebar kayak kasur, lagian ini micin semua."Maya cuma cengengesan, langsung sibuk merogoh dompet buat bayar dua bungkus lupis. Tapi baru saja senang, ada raungan mesin kencang mendadak memecah ketenangan pagi.Brakkk!Sebuah Jeep hitam melesat tanpa pengereman, menghantam gerobak beberapa penjual hingga hancur. Maya terpental keras ke aspal, tubuhnya terkapar tak berdaya dengan darah segar mengucur dari kepala di antara ceceran kue."Maya!" Rosa histeris, panik luar biasa melihat asistennya tergeletak.Belum sempat Rosa
Clara marah-marah di dalam mobil. Kabar Agus mau nikah sama Nyonya Rosa sudah bikin otaknya meledak. Dikhianati, digeser, diperlakukan kayak barang bekas. Amarahnya menutup semua akal. Dia tidak sanggup lawan Agus sendirian. Satu nama langsung muncul, yaitu Ben. Mantan yang masih menyimpan dendam ke Agus.Mobil berhenti di depan kontrakan sempit di pinggir kota. Clara turun, napasnya kacau. Pintu terbuka sebelum dia sempat ketuk.“Clara? Malam-malam begini ngapain?” Ben menyilangkan tangan, wajahnya datar.“Agus mau nikah sama Rosa,” kata Clara tanpa basa-basi. “Aku butuh bantuanmu.”Ben tertawa pendek. “Akhirnya datang juga. Aku kira kamu lupa aku masih hidup.”“Aku tidak lupa. Kamu juga enggak lupa Agus hancurin kita dulu, kan?” Clara masuk tanpa diundang. “Aku mau dia merasakan apa yang kita rasakan.”Ben menutup pintu. Senyumnya berubah. “Kamu serius? Atau cuma cemburu biasa?”“Serius. Rencana sudah di kepala. Kamu ikut atau aku cari orang lain.”Ben duduk di sofa usang, menatap C
Agus nikmati hari-hari tenang di rumah gedong. Dia luangkan waktu supaya bisa temani Rosa mempersiapkan pernikahan.Ruang tengah rumah gedong mendadak heboh mirip pasar kaget. Rosa yang perut mulusnya membuncit karena hamil tujuh bulan dipasangi gaun pengantin putih yang amat anggun. Di sampingnya, desainer pria bergaya centil sibuk mengukur jas elegan punya Agus sambil melirik-lirik nakal.Pyarrr!"Aduh, maafkan Eike, Mister Agus!" Panik si desainer sengaja menumpahkan segelas air es tepat ke dada kemeja Agus.Malas ambil pusing, Agus langsung melepas kemeja basahnya. Dada bidang berotot dan perut sixpack milik sang pawang terlihat polos begitu saja."Kyaaa! Dada perkasanya... Eike enggak kuat, booook!" jerit si desainer yang heboh sendiri sambil menutup muka, tapi mata centilnya tetap mengintip lewat celah jari."Heh, bencong gatel! Tutup matamu!" sembur Rosa yang kesal setengah mati.Calon Nyonya ini langsung memukulkan gulungan meteran kain ke kepala si desainer.“Sakit, cynn. Amp
Bagian 281 Tanah kuburan Tuan Hendro yang masih merah perlahan sepi dari rombongan pelayat. Paman Broto bersama kerabat serakah beriringan pergi dengan raut muka cemberut, pulang tanpa membawa sepeser pun harta warisan. Rosa berdiri disangga Maya, sementara Agus mengawasi perimeter pemakaman bersama benteng hidupnya. "Gus, awasi terus itu cecurut-cecurut!" geram Cak Kumis sambil memelintir ujung kumis tebalnya. "Kulihat lirikan mata mereka masih gatal mau menggerogoti aset Nyonya Rosa. Kalau kau kasih celah sedikit saja, langsung diterkam mereka itu!" Agus terkekeh rendah, jemarinya membenahi kerah kemeja hitam yang membalut dada bidangnya. Sorot matanya yang tenang menebar pesona percaya diri khas penguasa baru rumah gedong. "Enggak usah repot-repot kotorin tangan, Cak. Mereka itu udah kalah duluan sebelum bertanding," ujar Agus santai, senyum miring tersimpul di bibirnya. "Semua surat saham
Paman Broto dan rombongan kerabat serakah langsung kicep, mukanya pias mirip kertas kena air. Gertakan mutlak saham 51% plus pengakuan janin di perut Rosa sukses bikin mereka mundur teratur, jangankan membantah, bersuara juga mereka ogah."Masuk saja sekarang, Bu Rosa, Pak Agus. Kondisi Tuan Hendro makin menurun," kata si dokter yang membuka pintu ruang ICU.Suasana ruangan terasa begitu dingin dan mencekam. Bau obat-obatan menyengat hidung, diiringi irama heart monitor yang makin lambat dan lemah.Bip... bip... bip...Tuan Hendro terbaring pasrah di atas kasur, penuh selang dan alat medis menempel di tubuhnya."Mas Hendro..." Bicara Rosa pelan, kakinya gemetaran saat melangkah dekati suami sahnya.Agus tetap pasang badan di samping Rosa, merangkul pinggul mulus cewek bening itu kencang-kencang demi memberi ketenangan. Sorot mata Agus tertuju tajam ke arah majikannya yang dulu begitu congkak, tapi kini lemah d
“Percuma punya suami banyak duit, tapi cepet loyo,” gerutu seorang wanita dari dalam kamar. Tak lama, suara desahan terdengar. “Ahh, terus lebih dalam. Ini lebih enak dari punyanya si tua bangka.” Agus sengaja berjalan mengendap-endap sepulang kuliah malam ini karena tidak mau mengganggu penghuni
“Waduh, mampus,” batin Agus. Ia langsung refleks menepis tangan Maya dengan kuat. Dia juga menjauh beberapa langkah dari si wanita semok ini. Tangannya bahaya benar, karena remasan Maya tadi menyetrum sampai ke semua saraf tubuh Agus, membuatnya merinding ngeri sekaligus nikmat.Maya tertawa sambil
“Uh, panas,” keluh Siska, dan tiba-tiba dia melepas jaket kulitnya, melemparnya ke bawah kaki Rosa.Tapi Rosa diam saja, memperhatikan gerak-gerik adiknya. Dia tidak tertarik untuk mengomeli Siska karena masih ada Agus di lemari; bahaya kalau sampai ketahuan.“Biasa aja kali ngelihatnya, Mbak. Engg
“Cepat masuk. Jangan banyak protes!” perintah Rosa dengan cara pandang tak biasa. Agus mendadak lupa cara bernapas. “Masuk? Apanya yang masuk?” pikirnya. Sebelum sempat Agus bertanya apa maksud istri majikannya ini, tiba-tiba sang Nyonya malah menarik kerah kemejanya yang lusuh. Menyeretnya masu







