Share

Bagian 112

Penulis: Antariksa
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 12:57:00

Agus tidak sangka gadis desa itu memberanikan diri menawarinya mampir sebentar ke dalam kamarnya, untuk menikmati secangkir teh hangat sebagai tanda terima kasih.

Mendengar tawaran maut itu, jiwa petualang dan insting jantan Agus tentu bergejolak.

Mana mungkin menolak rezeki nomplok di depan mata seperti ini, jelas terasa sangat mubazir baginya.

Tidak pakai pikir panjang, Agus langsung menyetujui ajakan tersebut dengan senyuman penuh arti.

"Boleh banget, Mbak. Kalau ada, ekhem… ditambah susu ju
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 151

    "Saya Agus, Bu." Agus memperkenalkan diri lebih awal, memberikan tumpukan kertas tugas yang sudah rapi."Oh, makasih banyak ya, Mas Agus. Saya Ratna, dosen sini." Bu Ratna merapikan kacamata minusnya."Aduh, jangan panggil mas toh, Bu. Panggil Agus aja."Bu Ratna tersenyum manis, guratan tegas di wajah matangnya mendadak mencair. Agus juga membantu dosen itu berdiri dengan pelan. Dia lanut memunguti buku-buku mata kuliah yang super tebal dari atas aspal panas.Saat Bu Ratna sibuk bersihkan rok batiknya yang terkena debu, itu agak tersingkap ke atas. Memang dasar si Agus mata keranjang, dia melihat saja.Kini dia menangkap pemandangan paha montok Bu Ratna yang putih padat, namun ada bekas luka bakar di sana. Terlihat beda sekali dengan betis bagian bawahnya yang mulus tanpa cela.Bu Ratna juga tidak bisa membohongi matanya sendiri. Dari jarak sedekat ini, bisa melihat dengan jelas guratan otot-otot super kekar di dada dan lengan Agus yang menjiplak kaos oblong ketatnya.Bu Ratna diam-

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 150

    Tepat pukul 12.58 siang, Agus berhasil menyandarkan standar samping motor bebek bututnya di area parkir belakang Fakultas Hukum. Kelihaian pemuda itu dalam mengemudikan si Kukut membelah kemacetan jahanam Jakarta siang bolong memang patut diacungi jempol.Sepanjang jalan, Agus nekat menyelip kanan kiri memanfaatkan bodi motornya ramping. Bikin Siska yang dibonceng histeris sampai kuping Agus rasanya mau budeg sebelah."Buruan, Non! Dua menit lagi ini jam satu siang, keburu berkasnya dilempar ke tong sampah!" desak Agus sembari menepuk-nepuk jok motornya yang panas."Iya, ih! Cerewet banget sih kamu, Gus! Bentar, bentar... ini rok aku kok nyangkut di behel motor!"Siska panik, semakin sewot.Agus melirik ke bawah, menggelengkan kepalanya."Lagian ada-ada saja toh, Non. Mau buru-buru ngurus administrasi kampus kok ya masih sempat-sempatnya pakai rok mini ketat begitu. Mengundang syahwat namanya.""Biarin, suka-suka aku! Udah ah, aku lari dulu!"Siska langsung ngibrit sekencang mungkin m

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 149

    Agus tidak tahan dua gadis binal ini dia anggurkan. Siska yang tadi panik juga ikut bicara.“Halah, Gus. Modus aja kan mau mandi, taunya mau nyobain pake kamar mandi. Ciye ketagihan kan sama kita?”"Iya ihh. Aduh, Mas Agus… kok aku malah diseret ke kamar mandi gini sih?" protes Dina, tapi matanya curi pandang ke otot Agus yang besar."Ah, berisik, Din! Udahlah diem aja. Kita lihat si Agus mau pake gaya apaan di dalam!"Siska ini moodnya berubah drastis, tangannya sudah meremas payudaranya sendiri dari dalam baju.Agus tertawa sambil mengunci pintu kamar mandi."Nah, gitu dong. Jangan banyak drama, Non. Kita main kilat aja. Non Siska, nungging duluan!"Tanpa menunggu perintah dua kali, Siska membungkuk di depan wastafel yang dingin. Si gadis binal ini bertumpu pada kedua tangan, pantatnya yang bulat dan kenyal terangkat tinggi sambil menggoyang-goyang menggoda. Wajahnya sengaja menghadap cermin besar, siap menyaksikan live action.Agus membuka celana, mengeluarkan rudal gedenya yang te

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 148

    Agus menekan starter motor bebek bututnya. Suara mesin tua menggelegar memecah keheningan halaman rumah gedong. Namun, tepat saat Agus sudah bersiap menarik tuas gas Siska malah berdiri bengong di samping ban motor."Eh, tunggu, tunggu, Gus!" Siska mendadak panik, menahan jok motor.Agus menoleh dengan wajah ditekuk."Apaan lagi toh, Non? Katanya tadi udah telat akut. Ayo dah buruan naik, waktu kita mepet banget ini kayak dompet tanggal tua!""Siapa yang jagain Mas Hendro, Gus? Kalau ditinggal terus dia nekat merosot lalu jatuh lagi gimana? Bisa metong nanti dia!" cerocos Siska sembari menggigit bibir bawahnya.Agus menepuk jidatnya keras-keras sampai bunyi. "Oalah, iya toh! Saya khilaf, Non. Kebanyakan digiling di atas tadi. Anu... gimana kalau kita telepon Nyonya? Eh, jangan deng, bunuh diri itu namanya. Kalau si Maya aja yang suruh jaga?""Hah? Seriously? Tante girang itu? Idih, parah banget sih selera kamu! Mending juga si Sutrisno dech," ketus Siska, langsung pasang wajah masam.

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 147

    Siska masih diam menatap layar ponselnya yang terus-menerus bergetar heboh. Antara minta dibanting atau diangkat itu teleponnya.Belum sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu mati, lalu mendadak tersambung lagi. Begitu terus sampai lima kali berturut-turut layaknya rentenir yang menagih utang keliling."Siapa sih, Siska? Ganggu kesenangan orang saja," gerutu Dina sembari menyeka sisa cairan Agus di pahanya menggunakan ujung sprei.“Eeee, Non nanti kotor itu. Waduh!”“Biarin, kan bisa dicuci sama Mas Agus.” Dina mengedip genit.“Busyetr sue bener ini bibir anak pejabat,” pikir Agus. Terus melihat Siska. “Punya utang kali, Non. Sama siapa? Sini biar tak bayarin, toh.”"Bentar, bentar deh. Ini tuh, hah!" Siska melotot, matanya yang siap tidur mendadak segar benderang.Agus yang masih telentang sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau copot ikut menoleh. Masalahnya, suara Siska itu cemprengnya bukan main. "Kenapa toh, Non? Nyonya Besar pulang? Waduh, kalau Nyonya yang telepon, b

  • Gawat, Nyonya Minta Jatah!   Bagian 146

    Dina sudah lemas di atas kasur seperti dan tubuhnya masih kejang-kejang. Ada rembesan deras keluar dari guanya yang masih berkedut, bikin sprei basah.Sejak tadi Siska menahan berahi sampai miliknya panas dan menyiksa, tidak tahan lagi melihat pemandangan itu.Siska menarik lengan kekar Agus memaksanya mendekat."Sini dech, Gus! Jangan mentang-mentang si Dina masih sempit dan perawan, terus lupa sama aku! Sekarang gilira aku, buruan! Kamu harus tanggung jawab bikin aku puas!"Agus yang memang mesum menyengir dan membalik tubuh Siska. Mengungkungnya di bawah badan yang berotot.."Waduh, sabar dong Non Siska. Siaplah saya ngebor lagi," goda Agus tatap Lembah Siska yang sudah mengkilap."Enggak usah banyak bacot! Masukin sekarang juga, berengsek! Aku mau yang gede itu!" perintah Siska menarik paksa pinggul Agus paksa.Dina yang mulai pulih energinya ikut-ikutan nakal. Mengulurkan tangan, meraba dada bidang Agus yang licin karena keringat. "Iya, Mas Agus… cepetan aja kasih paham ke Siska

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status