Masuk“Sialan betul ini markas jauh bener dari mana-mana.” Agus melihat sekelilingnya yang hutan.Bukan merinding karena ada di tempat asing, tapi masalahnya tidak ada transportasi.Agus memeriksa ponselnya, dia mau hubungi seseorang untuk bantu Cak Kumis. Lokasinya sekarang terlalu jauh dari gudang.“Busyet, batrenya lobet!” Agus kesal bukan main.Dia terus jalan sekitar tiga kilometer. Sampai tibalah di warung kopi remang-remang. Agus mampir sambil ngos-ngosan.“Beh boleh minjem casan? Emmm anu teh panasnya sekalian plus mie rebus telor.” Agus duduk di bangku panjang setelah di pemilik warung meminjamkan kabel.Langsung dia hubungi kawan sesama rantaunya. Yang lokasinya dekat dengan gudang Cak Kumis."Halo, Dul? Sob di mana sekarang?" tanya Agus tanpa basa-basi begitu telepon tersambung."Masih di bengkel, Gus. Kenapa? Suara lu tegang bener," sahut Adul dari seberang telepon."Begini, Dul. Bawa anak-anak bengkel sekaranh. Jemput Cak Kumis di gudang besi tuanya, tahu kan? Dia kena temba
Agus sedang tiduran santai di kasur empuk kamar tamu. Melipat kedua tangannya di bawah kepala sambil menatap langit-langit plafon yang mewah. Rasa pening di kepalanya akibat sengatan listrik tadi mulai mereda. “Siapa tuh?” tanya Agus karena lagi santai dan memikirkan strategi malah diusik. Sekonyong-konyong pintu kamar terbuka tanpa ketukan yang ramah. Dua orang anak buah Karta berpakaian setelan hitam rapi masuk. Mereka berdiri tegap di sisi ranjang. Sesuai perintah bos besar mereka, kedua pengawal itu sama sekali tidak melukai atau menyentuh Agus dengan kasar. "Bos Karta nunggu lu di ruang kerjanya sekarang. Ikut gua," ucap salah satu pengawal yang badannya tegap dan penuh tato. Agus menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku efek kejutan listrik. Dia bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk celana jins yang kotor karena debu gudang Cak Kumis. Dia harus bebas dari tempat ini untuk menolong Cak Kumis yang sekarang nasibnya tidak tahu bagaimana. “Belagu dia. Mentang-men
“Bisnis apaan?” tanya Agus keheranan. Yakin bahwa ini bisnis yang sama gelapnya dengan kerjaann Hendro.Don Karta ambil sebuah koper hitam dari bawah meja kerjanya. Dia memutar kunci kombinasi dan membuka penutupnya.Tumpukan uang mengisi seluruh volume koper besar itu."Ini duit yang gua hasilin setia detik. Kita bisa cari uang sebanyak ini dengan mudah dan menguasai segala lini bisnis."“Jadi mau ajak kerja sama? Lucu bener Om tua ini.” Agus tertawa melihat Bos Karta. "Iya betul. Mau, Agus?" Bos Karta menggeser koper itu mendekati Agus.Agus melirik tumpukan uang kertas di depannya tanpa berkedip. Dia tidak takjub, dia maju dan menutup kopernya, bikin Karta melihat bingung."Waduh. Tapi sori, Bos. Gua, Agus emang butuh duit, tapi enggak bakalan mau kalau harus jadi kacung lu."Senyum di wajah Karta jadi hilang total. Tatapannya berubah menjadi sedingin es. Ia tidak bersuara, cukup memberikan satu kode lewat lirikan matanya kepada anak buah berwajah luka sayatan yang berdiri di samp
Seluruh sistem saraf tubuh perkasa Agus terkunci total. Tubuhnya kejang-kejang sampai otot-ototnya kaku, dan matanya keleyengan. Berputar-putar dan akhirnya Agus jatuh menghantam tanah dengan keras."Akh... bang... sat..." rintih Agus.Bos Mafia berjas abu-abu itu kini berdiri tepat di atas tubuh Agus yang sudah tidak berdaya. Dia lalu menurunkan pandang.Kaki di pria berbadan tinggi gede ini santai betu menginjak kepala Agus menggunakan sepatu bot kulitnya yang kinclong."Si Hermawan bodoh mungkin bisa lu kibulin dan lu peras pakai video bokep murahan itu," kata si Bos Karta. "Tapi gua bukan si Hermawan. Gua Karta, Bos Mafia. Bawa dia ke mobil, orang dengan bakat seberbahaya ini terlalu berharga kalau dibunuh."Pandangan Agus gelap gulita. Dia pingsan.Dua orang pasukan berompi antipeluru langsung menyeret tubuh kekar Agus yang tak berdaya. Menuju pintu belakang gudang tempat mobil van hitam besar sudah menunggu.Melihat pemuda yang berniat menolongnya itu diseret seperti sekarung ga
Bagian 176Agus cepat melompat turun dari motor bebek legend-nya yang dia kendarai ugal-ugalan.Kini tepat di depan gerbang seng gudang besi tua Cak Kumis, ada lima orang preman berbadan sengkel sudah berdiri mengadang lengkap dengan pisau dan pistol di tangan.Dari balik celah pagar seng yang agak renggang, kedengaran suara serak Cak Kumis yang panik, berteriak di antara todongan senjata para preman di dalam."Agus! Jangan masuk! Kabur rek, kaburrr!" jerit Cak Kumis dengan suara bergetar yang ketakutan setengah mati. "Mereka bukan preman biasa! Kabur sekarang, Gusss!"Mendengar teriakan itu, salah satu preman bermata juling di depan gerbang langsung melotot dan membentak ke arah dalam. "Diam lu sampah!”"Oalah, Bos. Pagi-pagi udah marah-marah, bae-bae darah tinggi!" seru Agus, rahangnya mengencang tapi matanya meremehkan."Hajar! Ganggu orang aja dia!" teriak salah satu preman bermata juling.Bugh! Plak!Mengandalkan ilmu silat warisannya, Agus bergerak sangat cepat. Dia berkelit ke
Baru tidur beberapa jam setelah gempuran tiga ronde semalam, Agus sudah bangun pagi sekali. Badan segar bugar sama sekali tidak aja jejak lelah usai duel.Pemuda itu melangkah santai ke dapur cuma pakai celana pendek dan kaus singlet, bersiul pelan sambil menyeduh kopi hitam dan menggoreng pisang jumbo.Dia melihat ke jajaran kamar belakang, Maya dipastikan masih tidur lelap kekenyangan dengan posisi acak-acakan akibat serangan rudal Agus yang tanpa ampun."Kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sanaaaa. Sayup terdengar desahan Maya yang semalam digoyang tiga rondeee. Ahai... ngeri-ngeri sedap, joss!" Agus menggeol pantatnya.Plok … Plok…Rosa melangkah ke dapur mengunakan daster tipisnya yang longgarnya. Agus sadar macannya mendekat, mulutnya jadi mingkem karena bisa perang kalau ketahuan Rosa. Malas juga dia ribut pagi-pagi begini. Tetap saja dia asyik menggoreng sampai Rosa tiba-tiba tepok bokongnya yang tanpa sempak.“Kok berhenti sih, Gus? Aku mau denger tahu.” Rosa nemplok t
Agus segera memarkirkan motor bebek tuanya begitu sampai di depan rumah petak sederhana di ujung gang buntu area perkampungan. Tangannya gesit merapikan jaket sebelum masuk ke tempat persinggahan siang hari ini.Sambil bercermin di spion, otak liarnya membayangkan Mbak Sari menggunakan daster super
“Gusti jadi deg-degan gini. Lihatnya adem bener itu cewek,” Agus bergumam dan menatap lurus ke depan. Seorang gadis berwajah ayu, polos dan anggun berdiri di balik lapak sederhana berjualan tempe. Mata keranjang Agus seakan memiliki kemampuan untuk menerawang sepasang paha yang ramping dan jenja
"Wuuush... santai, Bang. Masih pagi ini jangan marah-marah, hipertensi nanti," sahut Agus tetap tenang, sama sekali tidak gentar melihat tampang garang pria itu."Santai, santai... kepala lu peyang! Asal lu tahu ya, si Sari ini calon bini gue! Berani-beraninya lu pegang-pegang cewek gue, hah?! Mau
Pagi harinya, suara kicauan burung pipit bersahut-sahutan menemani aktivitas Agus di samping rumah. Sembari memanaskan mesin motor bebek tua andalannya yang berasap tipis, pemuda itu sibuk mengecek kondisi rantai dan ban. Bukannya bosan, Agus asyik bersenandung ria dan bergoyang pinggul menikmat







