แชร์

339.Dewa Panah Petir Api

ผู้เขียน: Gibran
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-02-10 20:37:34

Kedua mata Iblis wanita itu melotot melihat seringai yang keluar dari bibir Ki Marga.

"Berani menyeringai didepan mataku!?" teriaknya lalu dia pun membuat gerakan cepat yang berputar di udara sebelum akhirnya menebas ke depan. Serangan kali ini lebih kuat dibanding sebelumnya. Ki Marga pun tak mau menyembunyikan kekuatan miliknya.

"Hiiaaaat!" teriaknya sambil mengerahkan Roda emas miliknya.

Wuungg!

Gelombang emas yang diselimuti aura gelap keluar dari dalam roda emas tersebut kemudian menahan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Geger Kahyangan   955.Dewa Emas Tiga Penjuru

    Kedua pukulan dahsyat itu saling bertemu di udara. Karena dua kekuatan yang luar biasa dahsyat, udara di sekelilingnya pun berubah menjadi pecahan ruang. Barulah kemudian disusul ledakan yang sangat besar hingga membentuk bola api raksasa.Sukma Geni tak bergeming di tempatnya. Sementara Tarak yang berada di bawah sana mulai merasakan tekanan dahsyat dari ledakan tersebut."Tubuh Brahmastra adalah tubuh terkuat di jaman Kuno...Bagaimana bisa darah langka itu diwariskan kepada gadis kecil ini?" batin Tarak yang bertahan sekuat tenaga dari tekanan tersebut.Sukma Geni mengangkat tangan kanannya ke atas. Kedua matanya menyala merah. Saat itu juga, dari dalam tanah muncul raksasa dengan seribu tangan yang mekar bagaikan ekor merak. Itu adalah wujud dari Tubuh Dewa milik Sukma Geni. Yakni Dewi Seribu Tangan.Setelah ledakan berlalu, Takar segera terbang ke udara dan melayang di atas asap hitam tebal. Di beberapa bagian tubuhnya nampak luka akibat ledakan tersebut. Matanya menatap tajam kea

  • Geger Kahyangan   954.Dewa Emas Sejati

    Singkat cerita, Bara Sena berhasil mengumpulkan banyak senjata untuk para pengikutnya. Setelah dirasa tak ada lagi senjata yang lebih kuat dari yang mereka miliki, akhirnya Dewa Cahaya tersebut memutuskan untuk keluar dari dunia harta. Namun ternyata, dia sendirian di luar sana dan hanya disambut oleh seorang utusan dari Kahyangan Barat yang sebelumnya mengantarkan Bara dan teman-temannya. Sosok itu bernama Saros, wanita bertopeng dengan pakaian serba merah yang merupakan Dewi Api. Dia ditugaskan menjadi pemandu kelompok Bara yang mendapatkan plat emas."Kau sudah kembali?" tanya Saros. Bara tak menyahut. Dia menatap wanita itu dengan sorot mata tajam menusuk. Dewi Api berambut pirang tersebut menundukkan kepala. Bara tersenyum tipis."Sepertinya usaha kalian sia-sia. Aku tak akan mempemasalahkan hal ini. Hanya saja, tidak untuk Mahadewa Jaka Geni. Jika kau menyentuh anaknya, kau bisa merasakan akibatnya," kata Bara kemudian duduk bersila di bawah pilar besar untuk menunggu rekan-reka

  • Geger Kahyangan   953.Kebahagian Para Pengikut

    Setelah pertarungan yang panjang melawan Nara Soka, Akhirnya Bara Sena berhasil menjadi pemenangnya. Roh penjaga yang sudah berada di Ranah Alam Nirwana itu pada akhirnya harus mengakui kekuatan sang Dewa Cahaya. Bahkan roh senjata itu dipaksa untuk melakukan sumpah darah dengannya.Dari Nara Soka, Bara mendapatkan beberapa informasi mengenai harta-harta yang berada dalam pengawasan menara Batu. Ternyata menara batu itu didirikan bukan hanya untuk menyimpan Panah Matahari, melainkan sebagai menara pengawas untuk menjaga harta yang tersebar di sekitar menara tersebut."Jadi semua harta Surgawi yang ada di sekitar tempat ini adalah harta rampasan perang dari Alam Lima Warna?" tanya Bara setelah Nara Soka menjelaskan panjang lebar harta apa saja yang ada di sekitar menara Batu.Pemuda berambut merah itu menganggukkan kepala."Selain dari Alam Lima Warna, ada satu harta yang berasal dari Alam Bintang Ungu. Alam itu masih memiliki Pencipta nya. Karmapala mendapatkan harta dari sana karena

  • Geger Kahyangan   952.Sumpah Darah

    Keadaan menjadi sunyi setelah Tubuh Dewa Bertangan Delapan itu menghantam Nara Soka. Tapi Bara tahu, roh senjata itu masih bertahan di bawah sana, berusaha mati-matian menahan serangannya. "Mustahil! Mustahil! Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan Ranah Alam Nirwana!? Aku yakin ini ilusi! Tapi kenapa bisa sekuat ini!?" teriak Nara Soka sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Serangan satu tangan Tubuh Dewa berukuran raksasa itu sangat kuat untuknya. Meski Nara Soka juga berada di Ranah yang sama, tetap saja, Tubuh Dewa milik Bara jauh lebih unggul darinya. "Kau terkejut bukan, melihat tubuh roh milikku yang berbeda dengan tubuh luarku?" tanya Bara di atas kepala raksasa sambil duduk dengan santai. "Kenapa bisa begitu...? Siapa kau sebenarnya...?" sahut Nara Soka sambil mengerahkan kekuatan miliknya untuk mendorong telapak tangan yang berukuran lebih besar dari Istana Kerajaan. Kedua mata Bara menyala kuning terang, lalu dia mengangkat tangan kanannya. Saat itu juga, tangan T

  • Geger Kahyangan   951.Jebakan

    Nara Soka melepaskan lima anak panah sekaligus kearah bawah sana. Serangan sedahsyat itu bisa menghancurkan tempat tersebut karena satu anak panah saja bisa menciptakan kerusakan yang besar.Namun sepertinya Bara Sena memiliki satu rencana untuk membalikkan keadaan. Itu terlihat dari senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Tangannya bergerak membentuk rapalan jurus. Saat itu juga, tepat di depan matanya muncul lingkaran merah yang merupakan sebuah portal gaib. Kelima panah itu masuk ke dalam portal Gaib yang Bara ciptakan membuat Nara Soka terkejut setengah mati."Dia menciptakan portal!?" serunya tak percaya.Portal lain muncul tepat di atas tubuh Nara Soka yang masih melayang di langit. Lima panah itu pun menderu keluar dari dalam portal yang tiba-tiba muncul itu. Kemunculan portal itu membuat Nara Soka semakin terkejut. Bara tersenyum sinis. "Aku kembalikan serangan dirimu cacing berbulu merah!" seru Bara disusul tawanya yang menggema.Nara Soka berteriak keras. Dia langsung me

  • Geger Kahyangan   950.Rencana

    Bara Sena berteriak keras. Pedang Dewa Matahari dia ayunkan kearah Nara Soka yang menatap tak berkedip di puncak menara. "Hiaaaaahhh!"Semburat cahaya merah membelah langit saat pedang tersebut mengayun ke depan. Cahaya terang kemerahan itu melesat dari dalam Pedang menuju kearah Nara Soka yang menanti dengan perasaan berdebar. "Tidak salah lagi, itu adalah Pedang Dewa Matahari! Tapi Bagaimana bisa dia memiliki Pedang yang seharusnya ada ditangan Karmapala?" batin Nara Soka.Cahaya terang berbentuk sabit raksasa itu menderu ganas kearah puncak menara. Udara di sekitar menara batu itu terbakar oleh kekuatan merah yang terpancar dari serangan tersebut.Nara Soka tersenyum kecil."Serangan ini kuat, tapi sayangnya kau masih berada di Ranah Alam Dewa. Jadi, serangan yang kau ciptakan pun tak sekuat mereka yang sudah berada di atas Ranah Alam Semesta atau Alam Nirwana. Kau tetap tak akan bisa mengalahkan diriku karena perbedaan ranah," ucap Nara Soka lalu dia mengangkat tangan kirinya.D

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status