Share

Bab 4

Author: Peach
Suara Dzaki terhenti mendadak.

Dia menatapku dengan linglung, di dalam hatinya muncul rasa panik yang tak bisa dijelaskan. Seolah-olah, diriku saat ini bisa menghilang dari pandangannya kapan saja.

Aku perlahan bangkit dan bersandar pada dinding sambil menyeka darah di wajahku, lalu menatap ibuku dan berkata, "Aku dan Dzaki nggak pernah mendaftarkan pernikahan. Jadi, dia bisa langsung mendaftarkan pernikahannya dengan Inara."

Ibuku, Qila, tampak terkejut dan bertanya, "Kalian belum mendaftarkan pernikahan?"

Wajah Dzaki tampak sangat muram. Dia mengerutkan kening dan menjelaskan, "Dulu selalu sibuk. Lama-lama ya ... lupa saja."

Namun, ibuku malah bertepuk tangan dan berkata, "Belum terdaftar itu malah bagus."

Anakku menatapku dengan ragu lalu bertanya, "Kalau begitu, ke depannya Bibi akan jadi mamaku?"

Aku mengangguk ke arahnya dan tersenyum, "Kamu senang?"

Mirda melompat kegirangan sambil berseru, "Hebat! Mulai sekarang Bibi adalah mamaku!"

Seolah takut aku tersinggung, dia buru-buru menambahkan, "Mama ... eh, maksudku Bi Prycil, asal kamu berjanji nggak akan mengganggu Bi Inara lagi, aku tetap akan menyukaimu."

Aku menunduk dan berkata pelan, "Aku mengerti."

Inara menangis bahagia dan bertanya, "Jadi Kakak benar-benar rela membiarkan Kak Dzaki menikah denganku?"

Aku menjawab dengan tenang, "Iya. Mulai sekarang, jangan panggil dia kakak ipar lagi."

Inara melirik Dzaki dengan wajah malu-malu. Dia semula mengira Dzaki akan merasa senang, tetapi ternyata Dzaki hanya menatapku tanpa berkedip. Seketika itu juga, Inara mengepalkan lengan bajunya dan menunduk, menyembunyikan rasa cemburu di matanya.

Saat kembali mengangkat kepala, yang tersisa di matanya hanyalah kepolosan. Dengan tulus dia berkata, "Terima kasih, Kak."

Aku menggeleng pelan dan berkata datar, "Kita ini keluarga. Nggak perlu bersikap sungkan. Lagi pula, ke depannya aku juga harus banyak bergantung padamu."

Inara tidak tahu bahwa aku sudah menyumbangkan jasadku kepada studio riset tempatnya bekerja. Dia mengira itu hanya basa-basi, lalu segera tersenyum dan berkata, "Kita ini saudari. Aku pasti akan menjaga Kakak dengan baik."

Melihat kami "berdamai kembali", ibuku akhirnya mengangguk puas dan berkata, "Begitulah seharusnya. Kalau dari awal kamu tahu diri begini, mana mungkin aku dan ayahmu marah padamu?"

Aku menatapnya dan ingin sekali bertanya, "Apa aku benar-benar tidak tahu diri?"

Padahal, akulah putri kandung Keluarga Mahardian. Namun, semua orang malah mengira aku hanyalah anak angkat keluarga ini.

Padahal, dulu Dzaki yang bersikeras ingin menikah denganku. Namun, semua orang malah menganggap akulah pihak ketiga yang menjijikkan.

Padahal, aku yang tidak memiliki status apa pun, tetapi tetap merawat Dzaki dan anak kami tanpa pernah mengeluh. Namun, semua orang menganggapku keras kepala, kejam, dan berhati dingin ....

Aku perlahan memejamkan mata, memaksa air mata yang bergelora naik itu surut kembali.

Aku tidak ingin menangis lagi di hadapan mereka. Karena aku tahu, jika aku menangis, Inara akan menangis lebih hebat. Pada akhirnya, bahkan air mataku pun akan dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Saat aku membuka mata kembali, aku merasakan hati yang terus-menerus diliputi rasa sakit itu seakan benar-benar mati rasa. Seperti jam tua yang sudah usang, akhirnya berhenti berdetak sepenuhnya.

Aku menatap Dzaki dan mendapati dia masih menatapku. Di matanya bahkan terselip sedikit rasa iba.

Perasaan itu terasa begitu ironis. Aku menunduk dan bertanya dengan suara pelan, "Apa sekarang aku boleh kembali untuk beristirahat?"

Dzaki mengangguk. "Ya. Pergilah beristirahat."

Aku menghela napas lega dan perlahan melangkah menuju gudang.

Namun, ibuku berkata, "Beres-beres barangmu, lalu pulang ke rumah kita. Sekarang di luar banyak wartawan. Kalau sampai orang-orang tahu kamu terus tinggal di rumah adik iparmu, entah gosip apa lagi yang akan muncul."

Aku menurut dan mengangguk. "Baik."

Ibuku menyuruh Dzaki mengantarku pulang. Begitu kami keluar, dia tiba-tiba menarik tanganku dan berkata, "Seminggu lagi aku akan menemanimu masuk ruang operasi. Setelah operasimu selesai, kita bicara baik-baik."

"Aku dan Inara ... sama sekali nggak seperti yang kamu bayangkan."

Aku melihat perubahan wajah Inara yang tiba-tiba menegang. Aku tersenyum pada Dzaki dan berkata, "Baik."

Dzaki menatapku dengan aneh. Dia merasa orang yang berdiri di hadapannya sekarang seperti boneka tanpa perasaan. Dengan nada kesal, dia berkata, "Ayo pergi."

Setelah masuk ke mobil, kami tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Beberapa kali Dzaki ingin membuka mulut, tetapi setiap kali melihat wajahku yang pucat dan dipenuhi noda darah, keinginan itu pun lenyap.

Mobil baru berjalan setengah jalan ketika ponselnya berdering. Itu telepon dari ibuku.

Detik berikutnya, dia langsung menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu berkata dengan cemas, "Inara tiba-tiba pingsan. Mungkin reaksi penolakannya cukup parah. Aku harus segera kembali. Kamu naik taksi sendiri saja."

Aku melirik panel mobil. Sekarang sudah pukul tiga dini hari. Tempat ini adalah jalan layang yang sepi. Naik taksi? Dari mana aku harus mendapatkan taksi?

Namun, aku tidak berkata apa-apa. Aku menurut dan turun dari mobil. Belum sempat aku berdiri dengan mantap, Dzaki sudah menginjak pedal gas dan pergi begitu saja.

Deru mobil sport itu meraung keras, seakan-akan menarik jantungku hingga terasa perih. Aku menekan dadaku, butuh waktu lama sebelum akhirnya bisa keluar dari rasa sakit yang seperti terkoyak itu.

Namun baru saja rasa nyeri sedikit mereda, langit menggelegar dengan suara guntur. Seolah-olah langit pun tidak tahan melihat kelemahanku, sampai murka dan mengaum.

Tak lama kemudian, hujan mulai turun. Sebagiannya mengenai kepalaku, dan ternyata ... sangat sakit.

Mendengar suara hujan yang keras, aku baru sadar bahwa ternyata saat ini sedang hujan es. Aku buru-buru menutupi kepala dan berjalan ke depan. Butiran es terus menghantam tangan dan wajahku.

Sakit sekali.

Aku tak sanggup lagi menahan diri dan menangis keras.

Aku sebenarnya tidak ingin menangis. Hanya saja ... hujan es yang menghantam tubuh benar-benar terlalu menyakitkan.

Entah berapa lama aku berjalan, sampai akhirnya pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. Tubuhku pun terjatuh ke tanah.

Lama sekali setelah itu, aku seperti mendengar suara ambulans. Lalu, terdengar suara dokter penanggung jawab yang sangat kukenal.

Sepertinya dia sedang menangis, sambil terus bertanya dengan suara bergetar, "Apa sebenarnya yang terjadi? Jelas-jelas dia masih bisa bertahan satu minggu lagi. Kenapa tiba-tiba ... tiba-tiba jadi seperti ini?"

'Tulang rusukku sangat sakit. Dokter, sepertinya kamu menekan tubuhku dengan sangat kuat. Apa kamu sedang melakukan resusitasi jantung-paru? Tapi ... aku benar-benar sangat kesakitan. Hidup itu sakit sekali .... Biarkan aku pergi saja.'

Tit ....

Pasien Perdita dinyatakan meninggal dunia pada tanggal satu Juni pukul lima dini hari setelah upaya penyelamatan gagal. Usia 28 tahun.

Pada saat yang sama, Laboratorium Riset Medis menerima jasadnya dan langsung menerapkan teknologi pembekuan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 10

    Qila bertanya dengan mata memerah, "Di mana putriku? Aku ingin melihat putriku."Staf menyahut dengan dingin, "Putri Anda sudah tertidur. Sesuai peraturan, nggak seorang pun boleh menemuinya.""Kalau nggak, eksperimen pembekuan akan terhenti. Kalau sampai begitu, dia benar-benar nggak akan punya kemungkinan untuk hidup kembali."Qila ketakutan dan segera melambaikan tangan. "Nggak ... jangan hentikan eksperimennya. Aku ... aku nggak akan menemuinya, nggak akan ...."Dzaki sudah mendengar penjelasan rinci tentang eksperimen ini dari asistennya di perjalanan. Meskipun dia juga merasa terdengar seperti dongeng belaka, selama masih ada satu dari miliaran kemungkinan, dia tidak ingin melewatkannya.Dengan mata memerah, dia bertanya, "Apa ... yang ditinggalkan istriku untukku?"Barulah staf menyerahkan sebuah amplop kepadanya dan berkata dengan nada datar, "Sesuai aturan, setiap pendonor akan meninggalkan sedikit barang peninggalan untuk keluarganya. Bu Qila hanya meninggalkan satu surat. Si

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 9

    Inara tersentak sadar. Dia buru-buru menarik kembali senyumnya dan berkata dengan panik, "Mana mungkin. Aku ... aku nggak percaya Kak Perdita sudah meninggal. Pasti Kak Perdita Cuma berpura-pura untuk menakut-nakuti kita."Namun di dalam hatinya, dia tahu jelas bahwa Perdita memang sudah meninggal. Karena dua malam lalu, dia sudah menerima informasi donor di grup kerja rumah sakit.Nama pendonornya adalah Perdita.Hanya saja, karena tidak disertai foto, awalnya dia masih belum sepenuhnya yakin.Memikirkan hal itu, Inara kembali menangis. Dia mengulurkan tangan kepada Dzaki, memperlihatkan pergelangan tangannya yang terkelupas kulitnya.Dengan nada memelas dia berkata, "Kak Dzaki, sakit sekali ...."Dzaki belum sempat berkata apa-apa ketika Yanto sudah lebih dulu bertanya dengan suara dingin, "Ibumu sudah pingsan, tapi kamu sama sekali nggak bereaksi. Kamu malah hanya peduli sama luka sekecil itu. Apa kamu masih punya hati?"Saat itu, asisten Dzaki sudah memberi Qila obat jantung yang b

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 8

    Pada saat bersamaan, di rumah Keluarga Wiranata.Tangan Dzaki yang memegang ponsel terus gemetar. Dia memutar ulang video itu berkali-kali.Di dalam video, wajah Inara yang selama ini selalu tampak lemah lembut dan polos berubah menjadi begitu mengerikan. Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita yang tampak polos itu, ternyata adalah wanita iblis yang begitu menakutkan.Sama halnya dengan Qila dan Yanto.Mata kedua orang itu langsung memerah. Dengan suara bergetar, Qila berkata, "Sayang, kita benar-benar salah paham sama Perdita. Cepat ... cepat pergi dan bawa Perdita pulang.""Aku harus bilang padanya, ini salah Mama ... semua ini salah Mama ...."Yanto terisak dan berkata, "Aku akan langsung menelepon dokter penanggung jawabnya. Perdita pasti ada di sana. Dia pasti marah sama kita, jadi sengaja berbohong dan bilang dia sudah meninggal. Iya ... pasti begitu."Dzaki mengangguk dan berkata, "Benar. Kemarin dia masih mengirim pesan padaku, bilang kalau dia baik-baik saja dan menyuruhku un

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 7

    Ayahku, Yanto, bertanya dengan sedikit terkejut, "Jadi kamu sudah memaafkannya?"Qila menghela napas dan bertanya, "Sayang, apa kita selama ini terlalu keras sama Perdita?""Sekarang dia juga sudah belajar patuh. Ke depannya, mari kita sayangi dia dengan baik dan perlahan mengajarinya mana yang benar."Yanto mengangguk dan berkata, "Aku ikut keputusanmu."Sebenarnya, dia tidak sebenci itu pada Perdita. Lagi pula, wajah Perdita hampir mirip dengannya. Setiap kali melihat Perdita, Yanto seperti melihat dirinya sendiri di masa muda.Kalau saja Perdita tidak begitu mengecewakan, dia juga tidak akan sengaja bersikap dingin padanya dan membiarkan orang lain memberi pelajaran pada Perdita demi mendisiplinkannya. Pasangan suami istri itu pun berdiskusi tentang bagaimana cara menebus Perdita. Namun, mereka tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Perdita sudah dimasukkan ke dalam kapsul tidur.Di sisi lain, setelah Dzaki memasuki Keluarga Mahardian, dia langsung mencari Perdita dengan panik. Hanya

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 6

    Demi menghukum Perdita, Qila sudah lebih dulu meliburkan seluruh karyawan sebelum mengusirnya ke tempat itu. Dzaki kembali mengetuk pintu. Kali ini nada bicaranya dibuat lebih lembut, "Perdita, aku tahu selama ini kamu sudah banyak menderita.""Aku juga sudah banyak mikir akhir-akhir ini. Aku tahu, alasan kamu sampai melakukan hal yang menyakiti Inara adalah karena kami semua kurang memperhatikanmu.""Aku akan bicara sama Paman dan Bibi, meminta mereka agar lebih sabar terhadapmu. Mirda juga. Kemarin dia diam-diam bilang sama aku kalau sebenarnya dia sangat menyukaimu. Dia masih ingin kamu menjadi ibunya, ingin kamu membacakannya dongeng sebelum tidur."Dzaki berbicara panjang lebar hingga tenggorokannya kering dan kesabarannya habis, tetapi pintu besar di depannya tetap tidak bergerak sedikit pun. Dia pun mulai kesal. Namun, saat mendengar ucapan asistennya di samping, keringat dingin langsung membasahi punggungnya.Asisten itu bertanya dengan cemas, "Pak Dzaki, Anda yakin Bu Perdita

  • Hadiah Jenazah Untuk Perebut Posisiku   Bab 5

    Saat Dzaki kembali ke vila, Inara masih tertidur pulas. Dia menunggui Inara semalaman dengan cemas, hingga fajar menyingsing dan hujan deras pun berhenti.Setelah tidur dengan cukup, Inara baru membuka mata. Dia terkejut lalu bertanya, "Kak Dzaki, sejak kapan kamu kembali?"Dzaki tersenyum dan berkata, "Aku sudah pulang sejak tadi malam. Dokter keluarga sudah memeriksamu. Katanya emosimu terlalu bergejolak, jantungmu jadi bermasalah. Aku diminta untuk jangan mengganggumu dan membiarkanmu istirahat.""Karena itulah, aku nggak membangunkanmu. Sekarang gimana rasanya?"Inara tersenyum manis. "Setelah tidur, rasanya jauh lebih enakan."Dia menoleh sekeliling, lalu berpura-pura khawatir dan bertanya, "Di mana Kakak? Dia nggak ikut kamu datang menjengukku?"Baru saat itulah Dzaki teringat kejadian semalam, ketika dia meninggalkan Perdita di tengah jalan. Begitu teringat angin kencang, hujan deras, bahkan hujan es semalam, hatinya sempat diliputi penyesalan.Namun, kemudian dia berpikir lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status