LOGINMentari berlari kencang menyusuri koridor lantai dua yang dingin. Langkah kakinya bergetar hebat saat menuruni tiap anak tangga, tergesa-gesa seolah ada sosok menakutkan yang sedang mengejarnya dari belakang. Begitu mencapai lantai bawah, gadis itu langsung melesat masuk ke dalam kamar kecilnya di area belakang rumah. Brak! Mentari menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu segera memutar kunci selot hingga terdengar bunyi klik. Tak berhenti di situ, tangannya yang gemetar hebat meraih kait pengunci tambahan di bagian atas daun pintu. Tubuhnya melemas seketika. Ia menyandarkan punggungnya pada permukaan kayu pintu yang keras, sebelum akhirnya merosot jatuh dan terduduk lesu di atas lantai dingin. Kedua lututnya ditarik mendekati dada. Mentari melingkarkan lengan pada kakinya, lalu menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi di sana. Tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya naik turun tidak beraturan saat napasnya terasa kian sesak dan memburu. Kejadian di ruang kerja tadi berputar kembali
Mentari hanya bisa terdiam membisu. Di dalam hatinya, ia tahu pasti siapa sosok wanita yang sedang dimaksud oleh Kenzo saat ini. Wanita bernama Sasa, seseorang yang sangat dicintai oleh pria ini hingga membuatnya hancur dan berantakan seperti ini. "Waktu kamu menangis..." Kenzo menghentikan usapan jarinya, menatap mata Mentari makin dalam. "Kamu sangat mirip dengannya. Dan itu membuat hatiku sakit." Rasa iba sempat melintas di dada Mentari melihat guratan luka di wajah tegap itu. Namun, menyadari situasi di antara mereka makin tidak wajar, Mentari mencoba memegang pergelangan tangan Kenzo untuk melepaskan cengkeramannya dari tubuhnya. "Pak, tolong lepaskan saya," pinta Mentari pelan. Bukannya melepaskan, Kenzo justru bertindak lebih jauh. Dengan cepat dan tanpa diduga, Kenzo mengangkat tubuh mungil Mentari ke atas meja kerja kayunya yang megah, menyingkirkan beberapa map berkas ke samping hingga menimbulkan suara gaduh pendek. Mentari tersentak dan reflek memegang tepi meja.
Dan pada jarak yang teramat dekat itulah, aroma lain tercium sangat jelas oleh Mentari. Selain aroma parfum kayu khas Kenzo, ada aroma tajam alkohol yang menyeruak dari napas dan tubuh pria itu. Mentari langsung paham seketika. Pria di depannya ini ternyata sedang dalam kondisi agak mabuk. Itulah alasannya kenapa Kenzo minta dibuatkan air madu hangat sejak tadi—untuk meredakan rasa pusing akibat sisa-sisa alkohol yang diminumnya sebelum pulang ke rumah. "P-Pak Kenzo..." picit Mentari panik, dadanya berdebar liar bagaikan ditabuh genderang perang. Kedua tangannya tertahan kaku di atas dada tegap Kenzo. "Bapak... Bapak mabuk?" Kenzo tidak menjawab tuduhan itu. Mata sayunya menatap lurus ke dalam iris mata jernih Mentari yang dipenuhi ketakutan. Ibu jari tangan Kenzo yang bebas perlahan terangkat, mengusap lembut bibir bawah Mentari yang bergetar. Sentuhan ibu jari yang hangat dan kasar itu membuat Mentari merinding hebat. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegap. "Mentari..." guma
"Iya," Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi eksekutifnya. "Aku butuh sedikit penilaian dari orang lain. Dari kamu." Mentari garuk-garuk kepala yang tidak gatal, meraut wajah heran. "Penilaian dari saya, Pak? Tapi... saya bisa melakukan apa? Saya tidak tahu apa-apa soal urusan perusahaan Bapak." "Coba saja dulu. Duduk di sana," tunjuk Kenzo pada kursi kayu berbusa tepat di seberang mejanya. Mentari ragu-ragu sejenak, namun akhirnya ia menyanggupi. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi kursi dengan posisi tubuh tegap dan agak kaku. Kenzo kembali meraih cangkir madunya, menyesapnya lagi beberapa kali sampai setengahnya berkurang. Pria itu lalu memajukan tubuhnya, menopang kedua dagunya di atas jemari yang saling bertaut di atas meja. "Reno pernah cerita padaku," ujar Kenzo membuka pembicaraan. "Dia bilang sebelum kamu kerja di tempat... tempat lama kamu itu, kamu dulunya sempat kuliah jurusan akuntansi. Betul begitu?" Mentari tersentak pelan mendengar nama mantan tempat k
Mentari tersentak kaget, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan. Suara berat dan dingin yang tiba-tiba berembus tepat di belakang tengkuknya itu tidak salah lagi adalah suara Kenzo. Gadis itu perlahan memutar tubuhnya, mendapati Kenzo sudah berdiri tegap di sana dengan kemeja kerja yang dua kancing teratasnya terbuka dan jas hitam terlipat rapi di atas satu tangannya. "P-Pak Kenzo?" cicit Mentari, matanya membulat sempurna. "Bapak sejak kapan ada di situ?" Kenzo menatap Mentari datar, tidak menjawab pertanyaan itu. Sorot matanya yang dalam hanya memperhatikan ekspresi panik yang tercetak jelas di wajah Mentari. "Saya... saya baru saja mengantar Pak Aldebaran masuk ke kamar, Pak," lanjut Mentari buru-buru, berusaha menutupi rasa canggungnya yang mendadak meluap. Kenzo mengangguk pelan satu kali. "Baiklah. Lalu, kamu mau apa sekarang?" Mentari meneguk ludahnya, mengusap telapak tangannya yang mendadak dingin ke samping celananya. "Saya mau kembali ke belakang, Pak. Mau me
"Bagaimana sebenarnya... pertemuan pertamamu dengan Kenzo sampai akhirnya kamu bekerja di rumah ini?" tanya Aldebaran jujur. Mentari agak tersentak. Ia tidak menyangka Aldebaran akan melontarkan pertanyaan sedalam itu. Mentari terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawaban agar tidak menceritakan hal-hal buruk yang bisa membuat Aldebaran cemas. "Kenapa bapak penasaran? Hayo?" Aldebaran tersenyum. "Hanya ingin tahu, Mentari. Apa tidak boleh?" Mentari mengukir senyum tipis, lalu menjawab dengan suara halus. "Pertemuan pertama kami itu beberapa bulan yang lalu, Pak." "Beberapa bulan?" "Iya, sekitar enam bulanan kalau tidak salah." Aldebaran terdiam mendengarkan. "Waktu itu saya sedang berada dalam kesulitan di tempat kerja... ada orang jahat yang mau berbuat buruk pada saya. Pak Kenzo kebetulan ada di sana dan menolong saya." "Di tempat kerja? untuk apa Kenzo ada di tempat kerja kamu, Tari? kamu kerja dimana memangnya?" "Eh eh, Pak Aldebaran kok keponya maksimal sih." Ment







