Share

Cobaan Makan

Author: CitraAurora
last update Last Updated: 2025-11-05 08:11:10

“Pak dia bisa mati.” Bisik Gio.

Setelah berpikir sejenak, pria itu melepaskan cekikannya.

“Sekali lagi kamu berkata buruk tentang Laura, siap-siap menemui malaikat maut!” Hardik Erik.

Anisa bergegas pergi sebelum dia benar-benar bertemu malaikat maut.

Di depan gerbang kantor Erik, Anisa mengumpat lagi. Dia mengutuk Erik dan Laura agar tidak selamat.

“Semoga kamu yang akan bertemu malaikat maut!” Teriaknya kesal.

Kini Anisa bingung sendiri, Rendra sudah tidak bisa diharapkan, apakah dia harus kembali ke kotanya dengan tangan kosong?

Apakah impian menjadi istri David harus pupus?

“Sudahlah yang penting cari aman dulu, nanti bisa kembali lagi di waktu yang pas.”

#####

Sore itu Setibanya di rumah Erik langsung masuk ke dalam kamarnya ketika dia membuka pintu terlihat pemandangan yang sangat indah.

Air liurnya mengucur deras, hasrat yang selama ini tak pernah bangun tiba-tiba merengek, meronta ingin dipenuhi.

“Wanita ini bisa-bisa tak memakai pakaian sama sekali.” Kakinya melang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
semi ati
siapa suruh jafi orang gengsian Erik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku sakit

    Malam itu rumah keluarga terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu menyala terang, menerangi wajah-wajah yang berkumpul di sana. Erik dan Citra duduk di sofa utama, sementara Rania dan Angga duduk di sofa seberang. David dan Laura berada di sampingnya.Dara dan Rara duduk berdampingan di sofa samping, meski ada jarak yang terasa lebih lebar dari biasanya di antara mereka."Jadi Raymond akan pulang lusa?" tanya Erik sambil menyeruput kopi hangatnya.Angga mengangguk. "Iya. Dia bilang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sini. Dan tentu saja, dia ingin bertemu Rara."Rara tersenyum tipis mendengar itu. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Dadanya masih sesak mengingat semua yang terjadi belakangan ini."Bagus kalau begitu," sambung Citra dengan nada riang. "Pasti dia kangen dengan kita semua.”"Dan kangen dengan tunangannya," tambah Rania sambil melirik Rara dengan senyum lebar. "Benar kan Rara?"Rara hanya mengangguk pelan. Tangannya terkepal di atas paha, b

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kita Harus Selesaikan Ini

    Rara menutup pintu kamarnya dengan pelan. Tubuhnya merosot di balik pintu, punggungnya bersandar pada kayu yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.Tangannya masih gemetar memegang ponsel. Layarnya menampilkan chat dengan Raymond yang tak kunjung dibalas. Padahal tadi, ketika menggunakan ponsel Dara, pria itu langsung membalas dalam hitungan detik."Kenapa?" bisik Rara dengan suara bergetar. "Kenapa dia begitu cepat membalas Dara tapi mengabaikanku?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin dia memikirkannya, semakin sakit dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.Rara menatap foto Raymond di wallpaper ponselnya. Foto yang diambil saat acara pertunangan mereka. Di foto itu, Raymond tersenyum. Tapi entah kenapa, senyum itu terlihat dipaksakan. Matanya tidak berbinar seperti mata orang yang bahagia."Apa dia tidak mencintaiku?" gumam Rara pelan. Air matanya semakin deras. "Apa selama ini

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Lebih Baik Jadi Sahabatnya

    Dua minggu berlalu sejak Raymond kembali ke Inggris. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Dara. Setiap hari dia menunggu pesan dari pria itu, meski tahu itu tidak seharusnya. Mereka sudah sepakat untuk saling menjaga jarak, untuk tidak membuat semuanya semakin rumit.Tapi bagaimana bisa menjaga jarak ketika Raymond terus menghubunginya? Setiap pagi ada pesan singkat dari pria itu. Setiap malam ada panggilan video yang berlangsung sampai larut. Raymond bercerita tentang pekerjaannya, tentang cuaca dingin di London, tentang apartemennya yang sepi.Dan Dara, bodohnya, selalu menjawab. Selalu mendengarkan. Selalu menunggu.Siang itu, Dara sedang duduk di sofa kamarnya sambil tersenyum menatap layar ponselnya. Raymond baru saja mengirim foto dirinya yang sedang makan sandwich di kantor. Wajah pria itu terlihat lelah tapi tetap tampan dengan rambut yang sedikit berantakan.[Makan yang banyak. Jangan sampai sakit.] Balas Dara dengan cepat.[Iya Nyonya. Nanti malam aku video call lag

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Jangan Begini

    Pagi buta, ketika langit masih berwarna kelabu dan matahari belum sepenuhnya muncul, ponsel Dara bergetar di atas meja nakas. Gadis itu sebenarnya belum tidur sama sekali. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar sejak tengah malam tadi.Terlalu banyak yang terjadi kemarin. Terlalu banyak emosi yang harus diproses. Tidur adalah kemewahan yang tidak bisa dicapai malam ini.Bunyi getar ponsel membuatnya menoleh. Dengan gerakan lambat, dia meraih ponsel dan melihat layarnya.Satu pesan dari Raymond.Jantung Dara langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.[Dara, bisa kita bicara? Sekarang. Aku tunggu di kamarku. Kamar 402. Ini penting.]Dara menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya ingin mengabaikan pesan itu. Tapi sebagian yang lain, sebagian yang lebih besar, ingin sekali bertemu Raymond.Dengan gerakan cepat, dia mengetik balasan.[Baik. Aku kesana sekarang.]Dara bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Dia membasuh wa

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku Raymond bukan Reyhan

    Dara menutup pintu kamarnya dengan keras. Tubuhnya merosot jatuh di lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang baru saja ditutupnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya."Kenapa harus seperti ini?" isak Dara sambil memeluk lututnya. Wajahnya terbenam di antara kedua lututnya yang ditekuk. "Kenapa semua jadi berantakan?"Tangannya gemetar, dadanya naik turun dengan cepat. Rasanya sesak sekali. Seolah ada beban berton-ton yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.Dia teringat wajah Raymond saat mengatakan mencintai Rara. Dia cukup tahu jika cinta itu miliknya tapi dia sakit… dan semua rasa sakitnya karena dirinya sendiri yang begitu pengecut mengakui semua. Semua itu salah. Sangat salah. Tapi semua itu karena kesalahannya sendiri."Bodoh," umpat Dara pada dirinya sendiri. "Kenapa aku harus menggunakan nama Rara waktu itu? Kenapa aku tidak jujur dari awal?"Dia menggeleng keras, air matanya semakin deras. Isakan keluar dari mulutnya yang

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Pilih Aku atau Dia

    Ballroom yang tadinya penuh sesak kini mulai sepi. Hanya tersisa beberapa orang yang masih mengobrol di sana-sini. Dan juga para pelayan hotel yang siap bersih-bersih. Rara yang sejak tadi terlihat sangat bersemangat tiba-tiba mengusulkan ide. "Eh, Raymond, Dara gimana kalau kita berempat main game? Kan sayang acara sudah selesai tapi masih sore. Rugi dong kalau kita langsung tidur."Reyhan langsung mengangguk antusias. "Setuju! Tapi kita ke kamar saja. Main game seperti ini enak di kamar, gimana?"“Iya, para pelayan hotel mulai beres-beres.” Sambung Rara. Dara yang mendengar usulan itu langsung menatap Reyhan, dia sebenarnya enggan. Raymond yang sejak tadi diam saja tiba-tiba angkat bicara. "Aku setuju, ayo kita ke kamar Rara saja."Dara menatap Raymond dengan tatapan terluka. Kenapa Raymond malah mendukung ide ini? Apa dia tidak lelah dengan situasi yang menyakitkan ini?Tapi melihat mata Raymond yang menatapnya dengan tatapan memohon, Dara akhirnya menghela nafas dan mengangguk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status