Mag-log in“Olivia.”Olivia yang mendengar suara itu langsung membeku. Dia cukup kenal dengan suara yang sangat familiar baginya. Tanpa melihat pun, dia tahu siapa sang pelaku, membuat jemari yang sejak tadi memegang sendok mulai mengepal.“Olivia, kam—““Kita pergi dari sini, Hera,” sela Olivia dengan cepat. Tanpa menunggu lama, dia langsung mengambil tas dan bangkit. Olivia bersiap untuk pergi.Namun, di waktu yang sama, Sean berdiri di depannya. Melihat pria itu, Olivia semakin kesal. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu, membuatnya memilih membalikkan tubuh dan mencari jalan lain. Sayangnya di waktu yang sama, Sean meraih pergelangan tangannya.“Olivia, kita perlu bicara,” kata Sean serius.Bicara? Olivia tertawa kecil mendengarnya. Dengan kasar dia menarik tangannya, membuat genggaman Sean terlepas. Manik matanya berganti, menatap ke arah Sean yang terlihat lemah. Hal itu bukan membuat Olivia simpati, tetapi dia malah meremehkan pria di depannya.‘Senjatamu itu tidak akan mempan
Sean menatap ruang operasi di depannya dengan sorot mata datar. Tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Dia bahkan terlihat tenang, tidak terlalu memikirkan bagaimana kondisi Elsa yang masih berada di dalam. Sesekali, Sean memainkan ponsel. Hingga benda pipih itu berbunyi, membuat Sean langsung mengangkat panggilan.“Ada apa?” tanya Sean tanpa basa-basi.“Saya melihat keberadaan Nona Olivia, Tuan,” jawab Kevin dari seberang panggilan.Mendengar nama wanita itu, Sean langsung bangkit. Dengan antusias dia kembali bertanya, “Dimana dia?” “Di restoran Damai, Tuan.”Sean tersenyum sinis mendengarnya. Dengan tenang dia berkata, “Ikuti dia terus. Jangan sampai dia melihatmu dan kabari terus keberadaannya. Aku akan segera datang.”Sean langsung mematikan panggilan. Dia melangkah lebar, bersiap meninggalkan ruang operasi. Hingga dia teringat sesuatu, membuatnya berhenti. Sejenak, Sean menatap pintu operasi yang masih tertutup, menimang keputusannya. Sampai dia yang sudah yakin pun kembali mela
Sean yang mendengar hal itu pun langsung melibatkan kedua mata. Dia terkejut karena Keisha yang mengetahui rencananya. Wajahnya pun tampak gusar Dan panik. Buru-buru dia mendorong tubuh Keisha, menjauhkannya dari Elsa. “Jaga bicaramu, Keisha. Jangan membuat Elsa berfikir macam-macam,” tegur Sean mengingatkan. Keisha yang mendengar hal itu pun tertawa kecil dengan sebelah bibir terangkat. Tatapannya benar-benar meremehkan Sean. Hingga dia bertanya, “Apa aku salah bicara?”Memang tidak salah bicara, tapi tidak mungkin Sean mengatakan yang sebenarnya. Dia pun buru-buru menjawab, “Aku sudah berjanji untuk menikahi Elsa. Tidak mungkin kalau aku mengingkarinya.”“Kamu pikir aku percaya?” Keisha masih menatap dengan raut wajah meremehkan, “semua yang kamu katakan itu hanya akal-akalanmu saja, Sean. Aku tahu betul seperti apa kamu dan keluargamu. Kamu cuma ingin membodohi Elsa saja. Kamu tidak mau kalau anak dalam kandungannya itu diketahui publik dan keluargamu akan malu. Aku ingin menghil
Suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Elsa dan Sean yang berada di dalamnya hanya diam, tidak membuka percakapan sama sekali. Bahkan sejak tadi Elsa hanya berani melirik ke arah Sean. Jemarinya saling meremas dan menggigit bibir bagian bawah. Dia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Hingga dia membuang nafas sendiri dan menatap ke arah Sean sepenuhnya. “Sean, ada hal yang ingin aku tanyakan denganmu,” putus Elsa setelah banyak pertimbangan. Sean yang saat itu sedang sibuk dengan kemudi pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke arah Elsa dan bertanya, “Apa yang mau kamu tanyakan?”“Kamu benar-benar akan menikahiku setelah bayi ini tidak ada, kan?” Elsa tampak ragu mengatakannya. Dia bakal terlihat sedikit berhati-hati. Namun, Sean yang mendengar malah tersenyum. Dia menatap ke arah Elsa dan menganggukkan kepala. Sebelah tangannya meraih jemari Elsa dan menjawab, “Tentu saja. Aku sudah menjanjikan sesuatu denganmu. Tentu saja aku akan menempatinya. Kalau bukan karena kem
Diam. Olivia hanya bungkam, duduk ditempat yang sama dengan ekspresi datar. Tangannya sibuk mengaduk gelas berisi kopi yang sudah dingin. Meski begitu, pikirannya tidak berada ditempat yang sama. Terlihat dari ekspresi wajah yang tidak fokus sama sekali. Bahkan saat pintu cafe terbuka yang membuat lonceng di atasnya berbunyi, Olivia tidak mengubah ekspresi sama sekali.“Olivia.”Saat ada yang mendengar namanya, Olivia baru tersadar. Buru-buru, dia mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Olivia terkejut. Kedua matanya melebar dan bangkit segera.“Simon. Kenapa kamu di sini?” Namun, Simon yang ditanya tidak memperdulikan hal itu. Dia yang melihat Olivia langsung menarik tangan wanita itu dan mendekap erat. Wajahnya dipenuhi kecemasan.Sedangkan Olivia yang melihat reaksi Simon semakin bingung. Dia tidak memberitahu Simon mengenai keberadaannya, tetapi kenapa tiba-tiba pria itu datang? Apalagi Simon terlihat penuh ketakutan, membuat Olivia mengelus pungg
Hening. Olivia hanya diam, duduk berhadapan dengan Gauri. Sudah hampir sepuluh menit mereka berada di sana, tetapi tidak sepatah kata pun terucap. Olivia tahu apa yang akan dikatakan wanita di depannya. Semua pasti berhubungan dengan Simon.“Aku dengar kamu pergi dari rumah keluarga Charles, Olivia.” Gauri mulai membuka suara. Meski terdengar santai dan tenang, tetapi jelas terlihat aura dingin di sekitar wanita itu. Gauri juga tidak menunjukkan keramahan sama sekali.Sedangkan Olivia yang ditanya hanya menganggukkan kepala. Dia tidak mau banyak berpikir dan menyangka. Dia yakun, Gauri tahu karena berita itu sudah menyebar luas.“Apa yang kamu pikir saat itu? Kenapa kamu keluar dari sana?” tanya Gauri.Kenapa? Olivia membuang napas kasar. Dengan tenang dia menjawab, “Aku hanya ingin bebas saja, tidak mau terkekang di rumah keluarga yang tidak benar-benar mencintaiku.”Mendengar itu, Gauri terdiam, menatap Olivia yang terlihat mantap saat menjawab. Dia memperhatikan Olivia yang tampak
“Kenapa kamu tidak mengangkatnya?”Olivia yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap ke asal suara. Sebelah bibirnya terangkat, diikuti tawa kecil dan menggelengkan kepala. Dia memilih menyadarkan kepala di dada bidang Simon dan mengelus pelan. “Biarkan saja. Biar dia terus mencari di sana sam
“Aish, dia ini ke mana? Kenapa dari tadi ditelepon tidak diangkat?”Sean yang sudah berulang kali menghubungi Olivia mulai merasa kesal. Pasalnya, wanita itu tidak mengangkatnya sama sekali. Sean juga sudah mencari ke semua tempat, tetapi tidak menemukannya sama sekali. Sean mendesah kasar dan ber
“Bagaimana kabar Olivia dan Sean, Gina?” Gina yang baru saja menyendok makanan langsung berhenti. Dia menatap ke arah sang suami dan menjawab, “Baik-baik saja. Kemarin Sean juga mengatakan kalau hubungannya dan Olivia sudah mulai membaik.” Charles tersenyum mendengar hal itu. Kepalanya menganggu
Simon langsung menghindar ketika pria di depannya mulai menyerang. Dia yang hanya seorang diri langsung melangkah menjauh. Sayangnya serangan demi serangan terus saja mengerangnya. Simon juga sudah berusaha untuk melawan. Hingga salah satu anak buah Sean mengeluarkan pisau dan mengarahkan ke arah S







