LOGIN
"Ma, uang kuliah Indah harus segera dibayarkan," kata Indah.
Ia kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, semester dua, sebagai mahasiswa jurusan hukum. Hari ini ia harus membayar uang semesternya. Sebenarnya, Indah sudah bekerja diam-diam di sebuah klub malam untuk membiayai sekolahnya. Hanya saja, seminggu belakangan ini ia harus dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan lambung. Uangnya pun habis untuk membayar biaya rumah sakit. Itu pun orang tuanya tidak tahu apa yang ia alami. Bahkan, mereka tidak pernah bertanya. Ia pulang atau tidak pun sebenarnya tidak ada yang peduli. Bahkan untuk meminta uang, Indah harus mempertimbangkannya seratus kali. Sebab, ia tahu tidak akan mudah mendapatkannya. Namun kali ini, tidak ada cara lain. "Uang? Kamu minta uang sama aku?!" seru ibunya tepat di depan wajahnya. Indah menarik napas sambil menundukkan kepala. Awalnya, ia berpikir bahwa dirinya adalah anak angkat karena ibu dan ayahnya seperti tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Akan tetapi, ternyata tidak. Ia benar-benar anak kandung ayah dan ibunya. Tapi sayang, ayah dan ibunya benar-benar lebih buruk daripada ibu tiri. "Minta sama Papamu yang kurang ajar itu!" seru ibunya lagi. "Kamu ngomong apa barusan?" tanya seorang pria paruh baya yang baru tiba di rumah. Ani langsung menoleh. Ia menatap suaminya dengan penuh amarah. "Heh, anakmu ini minta uang kuliah. Kamu bayar!" katanya sambil menunjuk wajah Indah. Tangan Indah terkepal. Air matanya tumpah begitu saja. Rasanya sangat sakit, dan ini bukan untuk pertama kalinya. "Kenapa aku yang bayar? Kenapa bukan kamu?!" balas ayahnya tak mau kalah. "Kamu yang bayar, dia kan anak kamu!" balas Ani dengan amarah yang semakin menggebu-gebu. "Hei, jangan bilang dia anakku! Dulu kamu yang selalu ingin punya anak. Lagi pula, perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Aku juga butuh uang sekarang!" balas Beno. "Apa? Perusahaanmu sedang bermasalah?" Ani tertawa mendengarnya. "Jelas itu karena kamu membiayai simpananmu itu!" ucapnya penuh tuduhan. "Memangnya kamu nggak punya simpanan? Kamu nggak punya brondong? Kamu pikir aku nggak tahu?!" tanya Beno semakin sengit. Indah seperti patung yang mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Hal ini sudah berlangsung sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hari-harinya dipenuhi dengan pertengkaran yang tak ada habisnya. Bahkan hari ini, hanya karena meminta uang kuliah, ia harus mendengar pertengkaran yang sangat menyakitkan ini. "Iya, aku punya simpanan. Memangnya kenapa? Impas, kan? Kamu punya, aku juga punya!" balas Ani tak mau kalah. Indah pun meraih vas bunga lalu melemparkannya ke dinding. Krang! Suara pecahan menggema. Ani dan Beno pun menatapnya. Punggung Indah bergetar menahan rasa sakit. "Apa yang kamu lakukan?! Itu vas bunga kesayangan Mama!" teriak Ani, bahkan tak merasa bersalah sama sekali. "Ya, itu vas bunga yang diberikan oleh brondong Mama... makanya jadi kesayangan!" balas Indah. Ia tahu semuanya. Padahal ibunya berpikir ia tidak tahu apa-apa. Bertahun-tahun Indah berusaha menutup mata, tetapi kenyataannya tidak ada yang berubah. Keluarganya tetap saja hancur, tetap berantakan seperti benang kusut yang tak mungkin bisa dirapikan lagi. "Apa?" tanya Beno terkejut. "Memangnya kenapa? Ini jas dari siapa? Dari perempuanmu, kan? Dasi? Apa lagi?" tantang Ani. Indah pun mengambil foto pernikahan ibu dan ayahnya yang dipajang di atas meja. Kemudian, ia kembali melemparkannya ke televisi berukuran besar. Krang! Foto itu pecah bersamaan dengan televisi. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang selama ini ditelannya mentah-mentah. Ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, lalu memutar tubuhnya dan pergi. Foto itu hanya pajangan, tidak berguna sama sekali. Di hadapan orang lain, seakan-akan keluarga mereka adalah keluarga yang paling harmonis. Namun kenyataannya, semua itu sangat jauh berbeda. Dan Indah yang menyaksikan semuanya hanya bisa merasakan sesak di dada. "Indah, tunggu! Kenapa kamu jadi melunjak?!" panggil ayahnya. Namun Indah tetap melangkah, tidak peduli sama sekali. Matanya memerah menahan air mata. Hatinya terluka dan rasanya ia ingin mati saja. "Ini anak hasil didikanmu!" Kini Beno menatap istrinya dengan amarah. "Aku? Kamu nyalahin aku? Kamu pikir cuma aku yang bertanggung jawab atas anak itu?!" balas Ani. "Harusnya kamu menghentikan kariermu dan fokus pada anakmu! Lihat sekarang? Dia nggak terdidik!" kata Beno. "Jangan salahkan aku! Kamu bicara seperti ini supaya kamu bebas bermain di luar, sedangkan aku terus terpenjara di rumah, kan? Nggak, aku nggak mau!" teriak Ani di depan wajah suaminya. "Istri itu tugasnya di rumah!" kata Beno lagi. "Enggak! Aku nggak mau di rumah saja menunggu uang dari kamu seperti pengemis. Aku nggak mau kamu menuduhku menghabiskan uangmu terus, kamu tuduh aku boros, dan ibumu bilang aku beban. Aku nggak mau!" teriak Ani di depan wajah suaminya.Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita
Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta
Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang
Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.
Seseorang yang sebelumnya begitu sibuk bermesraan dengan seorang wanita tiba-tiba menoleh. Deg! Indah terkejut. Beno. Dia adalah ayahnya. Jari-jari Indah mencengkeram satu sama lain. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang. 'Indah, orang tuamu saja seperti ini. Lalu kenapa kamu harus berbeda?' batinnya sambil tersenyum miris. "Ya?" tanya Indah, seolah tak ada rasa takut sama sekali. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang. Semua mata tertuju kepada Indah seakan menanti kejadian berikutnya. "Pak Beno, apa Anda pernah ditemani oleh Indah?" tanya Fera. Jelas terlihat Fera merasa khawatir. Ia takut Indah pernah menjadi pelanggan Beno dan sengaja menyembunyikannya. Tanpa mereka ketahui, keduanya adalah ayah dan anak. Hubungan yang seharusnya tidak mungkin terjadi seperti ini. Beno menatap Indah beberapa saat. Wajahnya terlihat tegang. Ia tidak mungkin mengakui bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Terlebih lagi, Adrian ada d
Indah melangkah ke luar, ia berdiri di depan pintu gerbang sesaat. Ia menarik nafas dan menghapus air matanya. Indah berjalan ke rumah yang bersebelahan dengan rumahnya, ia masuk dan melihat bibiknya sedang membersihkan halaman. "Indah?" panggilnya. "Tante," Indah langsung memeluk wanita paruh baya itu, dia adalah Kakak kandung ibunya. Ia menangis keras karena tak mampu menahan rasa sakitnya dan Tantenya tau keponakannya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. "Kamu masuk dulu," kata wanita itu. "Ma, ngapain sih bawa dia kesini?" tanya wanita seusia Indah dia Dela, sepupu Indah sendiri dan tatapannya terlihat sinis. "Dela," tegur Arini. "Ma, dia itu cuma nyusahin, jangankan kita, Tante Ani aja nggak suka sana dia. Dia itu cuma beban tau, Ma. Pembawa sial!" cibirnya. Plak. Arini menampar mulut putrinya, ia sangat geram dengan ulah anaknya itu. "Kenapa kamu tidak punya sopan santu?!" geram Arini. "Pa," adu Dela pada Papanya. Papanya pun bangkit dan menatap tajam







