Share

Hasrat Terlarang Suami Orang
Hasrat Terlarang Suami Orang
Penulis: Ipak Munthe

Bab 1

Penulis: Ipak Munthe
last update Tanggal publikasi: 2026-08-23 14:27:08

"Ma, uang kuliah Indah harus segera dibayarkan," kata Indah.

Ia kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, semester dua, sebagai mahasiswa jurusan hukum.

Hari ini ia harus membayar uang semesternya. Sebenarnya, Indah sudah bekerja diam-diam di sebuah klub malam untuk membiayai sekolahnya.

Hanya saja, seminggu belakangan ini ia harus dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan lambung. Uangnya pun habis untuk membayar biaya rumah sakit.

Itu pun orang tuanya tidak tahu apa yang ia alami. Bahkan, mereka tidak pernah bertanya. Ia pulang atau tidak pun sebenarnya tidak ada yang peduli.

Bahkan untuk meminta uang, Indah harus mempertimbangkannya seratus kali. Sebab, ia tahu tidak akan mudah mendapatkannya. Namun kali ini, tidak ada cara lain.

"Uang? Kamu minta uang sama aku?!" seru ibunya tepat di depan wajahnya.

Indah menarik napas sambil menundukkan kepala. Awalnya, ia berpikir bahwa dirinya adalah anak angkat karena ibu dan ayahnya seperti tidak pernah menganggapnya sebagai anak.

Akan tetapi, ternyata tidak. Ia benar-benar anak kandung ayah dan ibunya.

Tapi sayang, ayah dan ibunya benar-benar lebih buruk daripada ibu tiri.

"Minta sama Papamu yang kurang ajar itu!" seru ibunya lagi.

"Kamu ngomong apa barusan?" tanya seorang pria paruh baya yang baru tiba di rumah.

Ani langsung menoleh. Ia menatap suaminya dengan penuh amarah.

"Heh, anakmu ini minta uang kuliah. Kamu bayar!" katanya sambil menunjuk wajah Indah.

Tangan Indah terkepal. Air matanya tumpah begitu saja. Rasanya sangat sakit, dan ini bukan untuk pertama kalinya.

"Kenapa aku yang bayar? Kenapa bukan kamu?!" balas ayahnya tak mau kalah.

"Kamu yang bayar, dia kan anak kamu!" balas Ani dengan amarah yang semakin menggebu-gebu.

"Hei, jangan bilang dia anakku! Dulu kamu yang selalu ingin punya anak. Lagi pula, perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Aku juga butuh uang sekarang!" balas Beno.

"Apa? Perusahaanmu sedang bermasalah?" Ani tertawa mendengarnya. "Jelas itu karena kamu membiayai simpananmu itu!" ucapnya penuh tuduhan.

"Memangnya kamu nggak punya simpanan? Kamu nggak punya brondong? Kamu pikir aku nggak tahu?!" tanya Beno semakin sengit.

Indah seperti patung yang mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Hal ini sudah berlangsung sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Hari-harinya dipenuhi dengan pertengkaran yang tak ada habisnya. Bahkan hari ini, hanya karena meminta uang kuliah, ia harus mendengar pertengkaran yang sangat menyakitkan ini.

"Iya, aku punya simpanan. Memangnya kenapa? Impas, kan? Kamu punya, aku juga punya!" balas Ani tak mau kalah.

Indah pun meraih vas bunga lalu melemparkannya ke dinding.

Krang!

Suara pecahan menggema. Ani dan Beno pun menatapnya.

Punggung Indah bergetar menahan rasa sakit.

"Apa yang kamu lakukan?! Itu vas bunga kesayangan Mama!" teriak Ani, bahkan tak merasa bersalah sama sekali.

"Ya, itu vas bunga yang diberikan oleh brondong Mama... makanya jadi kesayangan!" balas Indah.

Ia tahu semuanya. Padahal ibunya berpikir ia tidak tahu apa-apa. Bertahun-tahun Indah berusaha menutup mata, tetapi kenyataannya tidak ada yang berubah.

Keluarganya tetap saja hancur, tetap berantakan seperti benang kusut yang tak mungkin bisa dirapikan lagi.

"Apa?" tanya Beno terkejut.

"Memangnya kenapa? Ini jas dari siapa? Dari perempuanmu, kan? Dasi? Apa lagi?" tantang Ani.

Indah pun mengambil foto pernikahan ibu dan ayahnya yang dipajang di atas meja. Kemudian, ia kembali melemparkannya ke televisi berukuran besar.

Krang!

Foto itu pecah bersamaan dengan televisi. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang selama ini ditelannya mentah-mentah.

Ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, lalu memutar tubuhnya dan pergi. Foto itu hanya pajangan, tidak berguna sama sekali.

Di hadapan orang lain, seakan-akan keluarga mereka adalah keluarga yang paling harmonis. Namun kenyataannya, semua itu sangat jauh berbeda.

Dan Indah yang menyaksikan semuanya hanya bisa merasakan sesak di dada.

"Indah, tunggu! Kenapa kamu jadi melunjak?!" panggil ayahnya.

Namun Indah tetap melangkah, tidak peduli sama sekali. Matanya memerah menahan air mata. Hatinya terluka dan rasanya ia ingin mati saja.

"Ini anak hasil didikanmu!" Kini Beno menatap istrinya dengan amarah.

"Aku? Kamu nyalahin aku? Kamu pikir cuma aku yang bertanggung jawab atas anak itu?!" balas Ani.

"Harusnya kamu menghentikan kariermu dan fokus pada anakmu! Lihat sekarang? Dia nggak terdidik!" kata Beno.

"Jangan salahkan aku! Kamu bicara seperti ini supaya kamu bebas bermain di luar, sedangkan aku terus terpenjara di rumah, kan? Nggak, aku nggak mau!" teriak Ani di depan wajah suaminya.

"Istri itu tugasnya di rumah!" kata Beno lagi.

"Enggak! Aku nggak mau di rumah saja menunggu uang dari kamu seperti pengemis. Aku nggak mau kamu menuduhku menghabiskan uangmu terus, kamu tuduh aku boros, dan ibumu bilang aku beban. Aku nggak mau!" teriak Ani di depan wajah suaminya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 94

    "Bos, jangan hancurkan hubungan anda dan Ibu Indah yang sudah ada kemajuan ini," bisik Robby. Adrian pun menatap Robby sesaat, lalu berjalan masuk ke dalam vila. Robby merasa lebih tenang sekarang, sebenarnya siapa yang memiliki masalah? Kenapa ia harus sepanik ini? Ah kacau.Sang Bos yang cemburu ia ikut pusing, pusing menyelamatkan bonus bulannya. *** Indah merasa sangat lega karena untuk hari ini syuting berjalan dengan sangat lancar, dan syuting akan segera selesai. Ia berharap film ini akan meledak di pasaran. Film pertama ini tentu banyak sekali mengajarkan perjuangan awal penuh kesan. "Indah," Brian pun duduk di kursi sebelahnya. "Ya?" Indah menoleh. "Nih, cobain," Brian kembali memberikan makanan masakan yang dikirimkan sang Mama seperti yang ia katakan sebelumnya. "Wah, terimakasih," kata Indah. Brian pun mengangguk, "Indah, sebenarnya aku punya maksud sama kamu," kata Brian. "Aku?" Indah menatap bingung. Brian menggangguk lalu melihat sekitarnya, suas

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 93

    "Kenapa mukanya?" tanya Maya. Ara yang duduk bersebelahan dengan Maya pun menatapnya sinis, tapi kemudian merebahkan kepalanya pada meja tanpa ingin menjawab. Sedangkan Indah yang duduk bersebelahan dengan mereka mulai merasa malu, ia memilih mengunyah makanannya. "Kalian kenapa sih?" tanya Maya makin penasaran. "Aku nggak bisa tidur gara-gara dia," Ara menunjuk Indah. "Kenapa?" Indah tetap diam, tapi di kursi lainnya tanpa sengaja ia melihat Adrian tengah meliriknya diiringi sedikit senyuman. Ia juga membalasnya tapi kemudian ia juga kembali fokus pada makannya berpura-pura tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian Mita pun muncul dan mengedarkan pandangan, tapi kursi kosong hanya tersisa disamping Indah saja. Terpaksa ia pun duduk di sana. "Kamu kenapa?" Tanya Maya karena keduanya teman sekamar. Tapi Mita malah terlihat tidak senang dan justru melirik Indah dengan tajam, sebab karena gagal mengerjai Indah hingga ia seperti ini. Bahkan semalaman Mita tidak bisa tid

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 92

    Di luar kamar Mita sudah memegang gagang pintu, tetapi ada tangan yang menghentikannya. Lalu ia pun menoleh. "Kak Ria?" Mita mungkin masih belum percaya bahwa sahabat Kakaknya ada di depan matanya. Kemudian ia pun menghempas tangan Rio, lalu menoleh ke samping, meminta seseorang yang ikut bersamanya segera pergi. "Tunggu!" Rio menghentikan langkah pria itu. Mita meneguk saliva susah payah, "pergi!" perintahnya cepat. Tapi saat pria itu akan melangkah lagi Rio mengambil sesuatu yang dibawa pria itu dan melihatnya. Ular. Meski tidak terlalu besar tapi tetap saja itu adalah hewan yang membahayakan. Ketika itu pria asing itu langsung melahirkan diri. Mita bingung harus bagaimana. Pergi. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Tapi Rio sudah meraih tangannya kemudian menariknya. "Kak Rio, kamu mau apa? Jangan kurang ajar!" Tapi Rio tidak peduli, ia pun membawa Mita masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. "Kak Rio, jangan macam-macam! Kalau ak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 91

    "Aku, permisi," Maya segera berlari menuju pintu keluar lalu pergi secepatnya. Sedangkan Ara masih berdiri ditempatnya dengan leher terasa dicekik, ia ingin ikut pergi tapi kemana? Semua kamar di vila sudah penuh, kecuali tidur di ruang tamu. Itu tidak mungkin, tali ingin menahan Maya di kamar lebih tidak mungkin. "Santai saja, lakukan yang mau kamu lakukan," kata Adrian. Hah? Bagaimana mungkin Adrian bisa bicara demikian? Ini sungguh sangat tidak mungkinkan? "I-iya," Ara mengangguk cepat lalu ia masuk ke dalam toilet, ia bisa duduk disana sambil bermain ponsel menunggu Adrian pergi. *** "Mas, kamu kok disini?" tanya Indah. Duar. Suara petir kembali menggelegar, membuatnya membeku. Adrian kembali memeluknya erat, seolah menenangkan Indah. 'Indah, kamu nggak usah lebay. Ini cuma petir, memangnya kenapa?' batinnya. "Mas, kamu pergi sana. Kenapa kesini," protes Indah. "Kenapa? Aku kangen sama kamu, aku ini suamimu. Aku sekarang mikir jika pernikahan ini nggak

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 90

    "Bos, Anda mau pergi sekarang?" tanya Robby ketika melihat Adrian sudah mengambil ponselnya. Adrian pun menatap Robby dengan sinis, "Besok!" Robby pun menundukkan wajahnya karena takut pada Adrian, 'Cuaca tidak bisa ditentukan oleh cerahnya matahari,' batinnya. Adrian melirik jam tangannya. "Masih ada waktu." "Kalau begitu, kenapa sudah siap-siap?" "Aku mau memastikan tempatnya aman." Robby mengerutkan kening. "Tempat apa, Bos?" Adrian menatapnya datar. "Bawah pohon jeruk." Oh." Robby mengangguk pelan. Ternyata bosnya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. "Jangan sampai ada yang melihat," pesan Adrian. "Siap, Bos." Adrian pun keluar dari kamar dengan langkah penuh percaya diri. Sementara itu, Robby hanya bisa menggelengkan kepala. "Benar-benar puber terlambat." *** Adrian sudah berada di belakang vila. Sesuai pesannya, ia menunggu di bawah pohon jeruk yang tumbuh tidak jauh dari bangunan utama. Sesekali ia melirik jam tangannya. Sudah hampir s

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status