Startseite / Romansa / Hasrat Wanita Kedua / Bab 1 - Tak terlihat

Teilen

Bab 1 - Tak terlihat

last update Veröffentlichungsdatum: 05.04.2022 19:33:28

“Jangan pernah menemuiku lagi.”

Pria itu mengatakan dengan raut datar. Tak ada sorot mata kehangatan yang wanita itu lihat. Semua terlihat asing baginya. Dia seolah tak mengenal pria itu. Pria yang begitu dia rindukan selama ini.

“Kenapa? Aku putrimu. Kenapa aku tidak boleh menemuimu lagi, Dad?”

Pria itu berbalik, tangannya masuk ke dalam saku celana kainnya. Lalu, helaan napas terdengar samar. “Aku sudah memiliki keluarga lain. Kau harus mengerti, Lula.”

Tangan wanita itu mengepal disisi tubuhnya. Entah mengapa, ucapannya bagai belati yang menghujam jantungnya. Dia tak menyukainya.

“Aku juga keluargamu. Aku juga putrimu. Apa aku salah menemuimu sebagai anak?”

Rahangnya mengeras, tatapannya mengintimidasi dari kejauhan, “Salah! Istriku tidak menyukaimu. Dia tidak ingin aku berhubungan dengan masa lalu.”

Dia hanya bisa berdecak mendengarnya. “Tapi aku masih anakmu, Dad. Sampai kapan pun, aku akan tetap anakmu. Bukan masa lalu!” teriaknya.

Butuh bertahun lamanya dia untuk bisa datang, meredam seluruh amarahnya, dan berharap sebuah tangan terulur kembali untuknya. Pelukan hangat menyambutnya. Mungkin, dengan rasa penyesalan yang menggerogoti hidupnya, Lula pada akhirnya akan luluh.

Namun, dia salah. Edhi Pramono, tidak pernah merasakannya. Dia bahkan membuangnya. Dia mengorbankan hidupnya, untuk kesenangannya, dan semakin membuat hati Lula, hancur berkeping.

“Ini pertemuan terakhir kalinya. Jangan pernah menemuiku lagi atau datang ke rumahku seperti kemarin.”

Setelah berkata demikian, pria tua itu pergi begitu saja. Wanita itu tetap memandang punggungnya yang menjauh, matanya memanas, rahangnya mengeras, dan buku jarinya mengepal. “Aku membencimu.”

“Lula!”

Wanita itu tersentak dari lamunannya. Dia memijat pangkal hidungnya, menghela napas. Ini bukan sekali dua kali, dia teringatnya. Dia sudah mencoba melupakannya, namun, mimpi buruk itu selalu datang menghampiri.

Seseorang mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Are you, oke? Aku sejak tadi melihatmu melamun."

Dia menoleh, mendapati sahabatnya- Emil, menatap dengan khawatir, "Ya. Hanya sedikit fokus dengan pekerjaan. Ada apa?"

"Sejak tadi Pak Rey memanggilmu. Apa kamu tidak mendengarnya?"

Lula mengerjap matanya, mengerutkan kening, "Pak Rey? Untuk apa dia memanggilku?" herannya.

Emil, mengangkat bahunya acuh, "Entah. Dia memintamu datang ke ruangannya setelah lunch. Apa kamu melakukan kesalahan? Tidak biasanya," gumamnya sedikit heran.

"Baiklah, nanti aku akan menemuinya."

"Sekarang, lebih baik kita isi perut. Aku sangat lapar!" rengek Emil, sambil mengapit lengan Lula manja.

Lula tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku juga lapar. Ayo kita cari makan.”

------

Mereka keluar dari kantor dan menuju restoran tak jauh dari sana. Saat jam makan siang seperti ini, suasana restoran cukup ramai. Wanita itu tak merasa nyaman berada dikeramaian. Mereka lalu mengambil duduk dibagian ujung.

"Kamu ingin makan apa, Mil?"

"Apapun. Aku harus mengisi perutku banyak, sebelum rapat nanti siang. Aku tidak ingin dikuliti Manajer Kim, karena aku tidak fokus saat rapat nanti," dengus Emil.

"Dua burger klasik, tanpa bawang, dan dua latte hangat—extra foam."

“Baik, pesanannya akan segera datang," ujar pelayan resto.

Sambil menunggu pesanan, Emil mulai bercerita tentang banyak hal. Mulai dari pekerjaan, hingga asmara, Emil tak ragu untuk mengatakannya. Bisa dibilang, wanita itu sangat senang berbicara. Tapi, wanita itu sama sekali tidak terganggu dengan sikapnya.

Disela pembicaraannya, matanya tanpa sengaja menatap sebuah benda kotak yang berada dibelakang tubuh Emil. Sebuah berita ditelevisi yang menayangkan sebuah headline news siang itu.

Edhi Pramono, pemilik bank swasta, begitu antusias mengumumkan pertunangan putri tunggalnya. Kabar pertunangan Margaret Gladys Pramono, dengan Jack Adderson akan dilaksanakan pertengahan tahun mendatang. Kabar bahagia ini sangat dinantikan oleh semua orang.

Tak hanya Lula saja yang merasa tertarik dengan berita tersebut, tapi Emil juga. Dia bahkan rela memutar tubuh, untuk melihatnya.

"Ya Tuhan, aku iri sekali dengannya. Dia terlalu sempurna sebagai wanita. Parasnya cantik, dia memiliki keluarga yang kaya raya. Dia tidak perlu menjadi budak korporat seperti kita, aku sangat iri padanya," puji Emil.

Entah mengapa, pujian yang Emil berikan membuatnya tak suka. Wanita sempurna? Bahkan, memandang wajah lugunya pun Lula tak sudi. Ingin rasanya dia mengulitinya, juga dengan Ibunya hidup - hidup. Tapi dia menahannya. Dia ingin merasakan mereka menderita, perlahan, dan mengoyak dari dalam.

Sepuluh tahun berlalu, tak ada yang berubah. Amarahnya tetap sama. Tak ada yang bisa menghentikannya meski mereka berlutut, bahkan menjilat punggung kakinya untuk meminta ampun. Dia tidak akan meloloskannya. Mata dibayar dengan mata. Nyawa dibayar dengan nyawa. Tidak ada pengecualian.

Emil berbalik menghadap Lula dengan terkekeh, "Aku ingin menjadi Gladys Pramono, mungkin aku akan belanja terus tanpa memikirkan cicilan," candanya.

"Dan kau akan jadi targetku," gumam Lula pelan.

"Hah? Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Emil memastikan.

Wanita itu menarik senyumnya, lalu menggeleng kepalanya pelan, "Tidak ada. Aku tidak mengatakan apapun."

----------

Setelah seharian bekerja, wanita itu akhirnya pulang menuju apartemennya. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Kepalanya mendongak, menatap langit - langit dengan tatapan sendu. Dia menghela napas, merasa lelah. Bukan merasakan lelah pada tubuhnya, tapi pada takdirnya. Tuhan seolah senang bermain pada hidupnya.

Dia memejamkan matanya pelan - pelan, mengenang rasa sakitnya. Setidaknya, itu alasan kuat dia untuk hidup, dan bertahan. Tak ada hal lain yang dia inginkan. Dunianya sudah berhenti berputar. Semuanya hampa.

Dret!

Ponsel wanita itu berdering. Tangannya dengan malas, lalu meraihnya. Dan kemudian dia mengangkat panggilannya.

"Ada apa?" tanyanya.

"Kamu sudah mendengar tentang bajingan itu?" suaranya terdengar dingin, namun mengintimidasinya.

"Aku tidak buta dan tuli. Berita mereka ada dimana - mana."

"Kau tidak lupa dengan tujuan awalmu, bukan?"

"Aku tidak akan pernah lupa. Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti menepati janjiku."

"Aku harap kelonggaranku selama ini tidak akan menjadikanmu besar kepala. Kamu tau sendiri, aku tidak suka menunggu."

Lula mengeraskan rahangnya. "Kamu tenang saja, aku juga sudah menunggu kesempatan, dimana aku mengoyak harga diri, dan menghancurkan mereka semua satu persatu."

Wanita itu tertawa pelan mendengarnya, tak ada nada keraguan seperti sebelumnya. "Aku sudah mengirim informasi apa yang kamu butuhkan. Kamu bisa menggunakannya sebaik mungkin. Aku harap, kamu tidak mengecewakanku, Kalula."

Setelah panggilan terputus, Lula mengecek surel-nya, lalu membuka satu persatu folder yang wanita itu kirimkan. Satu keningnya terangkat, dengan senyuman tipis diwajahnya.

---------

"Apartemen ini saya suka. Urus dokumen legalnya, saya ingin segera menempatinya."

"Baik Pak, saya akan mengurus segalanya."

Disela perbincangan, pria itu tak sengaja melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari sana. Dia terlihat mengenakan pakaian casual dengan celana jeans pendek diatas lutut. Sepertinya, dia mengenalnya.

Tanpa ragu, dia membuka suara, memanggilnya. “Lula!”

Wanita itu berhenti berjalan. Dia menoleh, mencari sumber suara. Hingga tak lama, manik matanya menanggap pria yang berdiri tak jauh darinya dibawah sinaran lampu temaram.

Matanya menyipit, memastikan pengelihatannya. “Pak Rey?” gumamnya, masih tak percaya.

Pria itu dengan santai mendekat, tanpa rasa canggung. Dia bahkan tak ragu tersenyum, sambil menghampirinya. "Saya tidak salah mengenali, dan benar, itu kamu."

“Pak Rey ngapain sampai disini? Ada urusan bisnis, atau, sedang mengunjungi seseorang?”

“Tidak ada urusan bisnis.” Rey menggeleng. “Saya memang sedang berada di daerah sini. Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Rey.

“Saya tinggal disini, Pak. Tuh, di Apartemen Dolus," sambil menunjuk belakangnya.

Rey tampak sedikit terkejut. “Apartemen Dolus? Kebetulan sekali. Saya akan menempatinya segera."

Lula, wanita itu mengerjap matanya, merasa aneh. Untuk apa atasannya membeli unit apartemen? Terlebih apartemen yang dia tinggali. Sepengetahuannya, bosnya itu sudah memiliki mansion mewah.

"Bapak tidak salah membeli unit apartemen disini? Ini bukan kawasan elit, Pak."

"Anggap saja sebagai tempat pelarian saya," kata Rey sambil terkekeh.

Lula semakin bingung mendengarnya, "Pelarian? Maksudnya?"

"Orang tua saya memaksa saya menikah. Saya sampai muak dan memilih kabur. Setidaknya, bernapas sejenak, kabur dari masalahsampai waktunya tiba."

Lula hanya menggaruk tengkuknya, yang tak gatal. Dia bingung. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Situasinya berada diluar nalarnya.

"Kenapa diam? Kamu sudah makan?" tanya Rey ramah.

"Belom, Pak. Saya tadinya turun mau cari makan."

"Yasudah, sekalian. Saya juga lapar. Saya tidak tau daerah sini, mungkin kamu bisa carikan refrensi tempat makan yang enak untuk saya. Ayo!"

Tanpa menunggu, pria itu pergi begitu saja berjalan mendahului Lula yang masih terdiam menatap punggungnya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Haniubay
apa Rey itu ada hati dengan Lula yaaa...
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 43 - Aku milikmu, Kamu milikku

    Jack berdiri diam beberapa saat, menatap balkon tempat sosok itu baru saja melambaikan tangan. Debur ombak di belakangnya seolah sirna, tergantikan oleh detak jantung yang menegang.Ia tidak menunggu lama.Langkah-langkahnya tegas, menyusuri jalur batu yang memisahkan villa mereka dengan unit lainnya.Begitu sampai di depan pintu kaca yang terbuka sebagian, Lula sudah berdiri di sana. Dia berdiri dengan santai. Dengan menggunakan gaun linen putih melekat pada tubuh rampingnya. Angin pantai meniup rambut panjangnya ke belakang, menjadikannya sosok yang terlalu mencolok untuk disebut sebagai ‘kebetulan’.“Bagaimana bisa kau di sini?” suara Jack rendah dan mengeras, mencoba menahan amarah yang mulai mendidih.Lula tersenyum, tenang dan seperti biasa, sedikit menggoda. Ia melangkah pelan ke arah Jack, jarinya menyentuh dada pria itu dengan ringan.“Memangnya kenapa?” katanya lembut. “Aku hanya sedang menghabiskan uangku unt

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 42 - Sebuah Kejutan

    Uap hangat menyembur dari balik pintu kamar mandi yang terbuka perlahan. Jack keluar hanya dengan celana panjang hitam, tubuh bagian atasnya telanjang. Air masih menetes dari ujung rambutnya. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang memikul sesuatu yang tak kasat mata. Dia berjalan mendekat, menaiki ranjang. Gladys berdiri membelakangi jendela, tubuhnya dibawah siluet cahaya temaram lampu gantung. Dia menatap Jack dengan tersenyum, malam ini adalah puncaknya. Gaun tidur yang tadi dia pakai, kini sudah dia lepas, dan tergantung rapi di kursi. Sekarang, hanya selembar renda putih tipis yang membalut tubuhnya, halus, nyaris menyatu dengan kulitnya.Saat Jack mendongak, pandangannya sempat berhenti sejenak. Hanya menatapnya sekejap, tapi cukup membuatnya gugup.“Jangan menatapku seolah aku akan menculikmu, Jack.”“Tidak ada yang mengatakan hal tersebut.”Gladys semakin mendekat. Bahkan bisa Jack rasakan hembusan n

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 41 - Kau bisa mengakhirinya

    Hotel Brington, Kamar 2905 Langit malam menggantung kelabu, mengintip lewat tirai tipis kamar hotel yang mewah dan remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu gantung kristal di sudut ruangan, memantulkan bayangan emas pucat ke lantai marmer. Jack Adderson berdiri di dekat minibar, menuang dua gelas wine merah ke dalam kristal bening. Tangannya gemetar halus, nyaris tak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Wajahnya lelah, bukan karena hari yang panjang, tapi karena keputusan yang menggantung di kerongkongan. Pintu kamar diketuk satu kali. Lalu dua kali. Ia menoleh, menarik napas dalam, dan berjalan membuka pintu. Di sana berdiri Lula. Angin dari lorong luar mengibarkan sedikit ujung mantel panjangnya, memperlihatkan siluet dress hitam dengan belahan samar di sisi pahanya. Rambutnya tergerai sempurna, dan bibir merahnya terlihat mencolok di antara pencahayaan yang lembut. Ia tak berkata apa pun, hanya menatap Jack seolah seluruh dunia tidak ada di antara mereka,

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 40 - Pernikahan

    Lula duduk di ruang tamu apartemennya, televisi menyala tanpa suara. Pancaran cahaya dari layar memantul di permukaan meja kaca, menari di dinding putih yang tenang. Di layar itu, terpampang wajah-wajah bahagia, Gladys Pramono dan Jack Adderson, berdiri berdampingan di altar yang megah, dikelilingi taman bunga yang dibuat seperti negeri dongeng.Serangkaian gambar bergerak cepat. Senyum Jack yang khas, tangan Gladys yang digenggam erat, sorakan para tamu penting, dan kalimat penutup dari pembawa berita. "Hari ini, pernikahan antara pewaris Pramono Corporation, Gladys Pramono, dan miliarder muda Jack Adderson resmi digelar. Selamat kepada Tuan dan Nyonya Adderson atas pernikahan mereka."Lula menyandarkan tubuhnya ke sofa. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangan menopang dagunya, sementara jemarinya yang lain mengetuk perlahan lengan kursi. Tak ada air mata. Tak ada teriakan. Yang ada hanya satu senyum kecil—halus, menghina, seperti duri manis di pinggir bibir.“Akhirnya mereka meni

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 39 - Kabar Burung

    Lula duduk sendirian di tepi ranjang, selimut tipis melingkari tubuhnya. Punggungnya tegak, tetapi matanya kosong menatap lampu gantung yang berayun perlahan di langit-langit kamar. Bayangan tubuh Jack masih terasa di kulitnya—sentuhannya, erangannya, bisikannya yang meresap sampai ke relung yang terdalam.Namun sekarang, hening. Dan hampa.Jack sudah pergi sejak satu jam lalu. Katanya ada rapat mendadak, tapi Lula tahu, itu hanya alasan yang mudah diucapkan oleh seorang pria yang terlalu pandai bersembunyi. Tidak ada ciuman perpisahan. Tidak ada pelukan. Hanya pintu yang tertutup pelan dan langkah yang menjauh.Pikirannya tidak berkutat di sana. Ia mengingat kembali bagaimana semuanya bermula—bukan dari tawaran pekerjaan sebagai sekretaris Jack, tapi jauh sebelum itu. Dari saat dunia seolah berhenti mengakuinya sebagai seorang anak.Ia anak dari Edhi Pramono. Anak kandungnya.Tapi setelah ibunya meninggal, pria itu menikah lagi, dan melupakannya. Dan sejak saat itu, Lula tak punya te

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 38 - Persiapan Pernikahan

    Pagi itu, Gladys sudah sibuk dengan berbagai persiapan. Ia tidak ingin membuang waktu. Jika ini harus terjadi, maka semuanya harus sempurna. Di sebuah butik eksklusif, ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin putih dengan desain klasik yang elegan. Sofia duduk di sofa, mengamati putrinya dengan kritis. “Gaun ini bagus, tapi aku rasa kita bisa mencari yang lebih istimewa,” katanya akhirnya. “Sesuatu yang lebih… berkelas.” Gladys hanya tersenyum kecil. Ia tidak terlalu peduli gaun seperti apa yang akan ia kenakan, karena pikirannya jauh dari sini. Jack. Ia memikirkan pria itu—reaksinya saat ia setuju untuk menikah lebih cepat. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tidak bisa ia artikan. Keraguan? Atau rasa bersalah? Gladys mengalihkan pandangannya ke cermin. Tidak, ia tidak bisa membiarkan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak perlu. Ia percaya bahwa Jack mencintainya. Salah satu pegawai butik mendekat, membawa beberapa pilihan gaun lain. “Nona Gladys, kami

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 8 - Pulang bersama

    Malam itu, udara dingin merayap pelan di sepanjang jalan yang sepi. Mobil yang dikendarai Jack melaju tanpa suara, hanya deru mesin yang terdengar samar di antara heningnya malam. Lula duduk di kursi penumpang, memeluk tubuhnya sendiri, merasa suhu di dalam mobil hampir sama dinginnya dengan atmos

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 7 - Lingkar kesempatan

    Lula merutuk pelan dalam hati, merasa malu ketika baru menyadari bahwa kaus yang ia kenakan terlalu tipis, memperlihatkan bayangan bra-nya dengan jelas. Apa Eve tidak salah meminjamkan pakaian? Rasa tidak nyaman menggelayuti dirinya saat ia melangkah keluar dari kamar mandi, menundukkan pandangan ke

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 6 - Mencoba Menggoda?

    Mata Lula terpaku pada pria yang baru saja datang. Ada sesuatu yang terasa familiar darinya, meskipun bayangan itu masih samar di ingatannya. “Jack, mengapa kamu terlambat? Tadi, Mommy pikir kamu tidak akan datang karena sibuk dengan pekerjaanmu,” ujar Eve, suaranya terdengar lega.Pria yang dipang

  • Hasrat Wanita Kedua   Bab 5 - Bertemu dengannya

    Lula memeriksa ponselnya, tapi tak ada balasan dari Rey. Sudah hampir setengah jam sejak pria itu memintanya menunggu di kantor. Dia melirik jam di layar laptopnya. Hampir pukul tujuh malam, dan hari mulai gelap. “Kenapa Pak Rey suruh nunggu kalau akhirnya tidak datang juga?” gumam Lula, mulai me

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status