LOGINSelamat membaca.“Lunae!”Suara Aelmon menembus cahaya seperti kilat membelah langit. Retakan di dunia emas itu melebar, dan dari celahnya muncul bayangan besar, mata Hijau menyala, tubuh setengah serigala, setengah manusia, dipenuhi luka yang belum sembuh sepenuhnya.Ia memaksakan diri masuk ke alam para dewa.“Berani sekali kau,” Helior berujar dingin. “Makhluk bulan menginjakkan kaki di istana matahari.”Aelmon mendarat di hadapan Elara, napasnya berat. Kulitnya berasap halus akibat tekanan cahaya ilahi. Namun ia tetap berdiri tegak di depanku, melindungiku.“Aku tidak peduli siapa kau,” geramnya. “Dia milikku.”Helior tertawa kecil, bukan geli, melainkan menghina. “Kepemilikan? Cinta bukan naluri kawin, Alpha.”Elara menatap keduanya, jantungnya berdebar tak karuan. Cahaya di tubuhnya berdenyut mengikuti emosi mereka. Jika amarah meningkat, dunia ini ikut bergetar.“Aku bukan benda!” serunya pada akhirnya. “Berhenti memperebutkanku seperti wilayah perang!”Sunyi sejenak.Aelmon me
Selamat berimajinasi.Elara jatuh. Bukan jatuh secara fisik, melainkan jatuh ke dalam lautan cahaya.Tubuhku terasa ringan, namun jiwaku seperti ditarik ke atas, menembus langit malam, melewati bulan yang memudar, hingga mencapai hamparan emas tak berujung. Di sana, tidak ada tanah. Tidak ada bayangan. Hanya cahaya.Dan di tengah cahaya itu, berdiri sebuah istana yang terbuat dari pilar-pilar api yang tidak membakar.Sebuah nama terukir di gerbangnya,Aurelia Solis.Kerajaan Matahari yang sebenarnya.“Akhirnya kau kembali.”Suara itu bergema lembut, namun penuh kuasa. Elara menoleh.Helior berdiri tidak jauh darinya, bukan dalam wujud fana yang tadi kulihat, melainkan dalam bentuk yang lebih megah. Jubahnya terbuat dari sinar pagi, rambutnya seperti malam sebelum fajar, dan mahkota cahaya melayang tipis di atas kepalanya.“Aku tidak pernah pergi,” katanya, mendekat. “Kaulah yang memilih turun. Kaulah yang memilih melupakan.”Potongan memori menyeruak.Tawa di antara langit tak bertepi
Selamat membaca. Cahaya itu meledak. Bukan sekadar sinar, melainkan dentuman hangat yang menyapu ruang pertemuan pack seperti matahari yang terbit terlalu dekat dengan bumi. Serigala-serigala melolong kesakitan. Beberapa jatuh berlutut, bukan karena terbakar, melainkan karena naluri purba mereka tunduk pada sesuatu yang lebih tua dari bulan. Elara. "Tanganku masih menggenggam dada Aelmon. Di bawah telapak tanganku, detak jantungnya yang sempat melemah kembali stabil. Namun cahaya emas yang keluar dari tubuhku tidak mereda. Ia justru semakin terang, membentuk lingkaran di bawah kakiku, simbol aneh yang belum pernah kulihat, namun entah bagaimana terasa begitu akrab." pikirku membatin. “Lunae…” Kael berbisik, suaranya serak antara kagum dan takut. Elara mundur setengah langkah. “Apa yang terjadi padaku?” Beta pack, Rowan Virel Stormclaw, menatapku dengan wajah pucat. “Itu… bukan sekadar cahaya manusia.” Omega penyembuh, Lyria Vale, menutupi wajahnya, air mata mengalir.
Selamat membaca.Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba.Di aula, suhu turun drastis. Embun beku menjalar di lantai batu, menyentuh simbol yang tadi menyala emas dan perak… lalu memadamkannya menjadi abu pucat.Tangan hitam itu keluar lebih jauh dari retakan emas.Ia tidak bercahaya. Ia menyerap.Satu yang Elara pikirkan, "Menakutkan."Cahaya matahari yang terpancar dari tubuh Elara meredup setiap kali bayangan pekat itu bergerak.Aelmon berdiri sepenuhnya di depannya, tubuhnya menegang. Bayangan lunar miliknya membentuk perisai tebal di sekeliling mereka.“Eryndor,” geramnya, “apa yang kau bawa ke duniaku?”“Aku tidak membawanya.” Suara dewa itu kini kehilangan ketenangan surgawinya. “Ia tertarik oleh kebangkitannya.” Di tetaplah Elara kasihan.“Ia?” Rowan mengulang
Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa langkah sebelum berhasil menancapkan cakarnya ke lantai batu, menahan diri.“Alpha!” teriaknya.Aelmon tidak menjawab. Ia berdiri di tengah pusaran cahaya dan kegelapan, tubuhnya menjadi perisai hidup. Bayangan dari kakinya menjalar ke seluruh ruangan, membentuk dinding gelap yang menahan sinar emas agar tidak menyentuh Elara lebih dalam.Namun cahaya itu bukan musuh biasa.Ia menembus. Sedikit demi sedikit.Elara merasakan panas di dadanya berubah menjadi nyeri. Bukan sakit fisik, lebih seperti sesuatu yang dipanggil pulang.Suara Eryndor bergema dari retakan emas di kubah.“Kau tidak bisa melindunginya dari dirinya sendiri, Alpha.”Aelmon mengangkat wajahnya, mata Hijaunya kini menyala pe
Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening Rowan menyatu sedikit saat melihatnya. Sepertinya dia marah padanya.“Alpha. Mereka menuntut kehadiranmu. Sekarang.”Aelmon melepaskan tangan Elara perlahan, meski jelas ia enggan. Sisa kehangatan dari sentuhan mereka masih tertinggal di kulit Elara, denyut halus yang membuatnya semakin gelisah.“Aku akan kembali,” kata Aelmon padanya. Itu bukan janji lembut. Itu pernyataan kepemilikan.“Aku tidak akan ke mana-mana,” Elara membalas dingin. “Karena aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari tempat ini.” jelasnya putus asa.Mata perak Aelmon berkilat sebentar, antara tersinggung dan terluka. Lalu ia berbalik dan berjalan keluar bersama Rowan.Pintu batu menutup, menyisakan Elara sendirian.Au







