Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Ingatan yang terbakar

Share

Ingatan yang terbakar

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-06 15:30:46

Selamat berimajinasi.

Elara jatuh. Bukan jatuh secara fisik, melainkan jatuh ke dalam lautan cahaya.

Tubuhku terasa ringan, namun jiwaku seperti ditarik ke atas, menembus langit malam, melewati bulan yang memudar, hingga mencapai hamparan emas tak berujung. Di sana, tidak ada tanah. Tidak ada bayangan. Hanya cahaya.

Dan di tengah cahaya itu, berdiri sebuah istana yang terbuat dari pilar-pilar api yang tidak membakar.

Sebuah nama terukir di gerbangnya,

Aurelia Solis.

Kerajaan Matahari yang seben
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Raja Dunia Bawah

    "hah!" Dingin. Adalah rasa pertama yang Elara rasakan setelah ia membuka matanya—jantungnya kembali berdetak."Ini..."Jelas bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang merambat perlahan ke dalam ingatan.Elara membuka mata. Tidak ada lagi langit Lunaris, tidak ada kastel, tidak ada aroma kayu pinus yang biasa dibawa angin.Yang menyambutnya hanyalah hamparan tanah hitam sejauh mata memandang.Retakan-retakan besar membelah bumi seperti luka yang belum pernah sembuh. Dari celah itu muncul cahaya kebiruan yang redup, diiringi bisikan ribuan roh.Ssshh...Haa...Suara mereka saling bertumpuk, seperti doa yang kehilangan tujuannya.Akar-akar hitam menjalar di atas tanah.Sebagian menggantung dari langit yang gelap, sebagian lagi melilit tulang-tulang raksasa yang telah menjadi bagian dari negeri itu.Elara mengembuskan napas pelan.Ia mengenal tempat ini. "Dunia bawah..." gumamnya lirih.Tidak jauh di hadapannya berdiri sebuah istana berwarna hitam keperakan. Tidak megah,

  • Hati liar sang Alpha   Ketukan dari Langit.

    Tok... tok...Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.Suara itu datang dari langit.Seluruh ruangan terdiam.Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langsung berdiri di depannya, "Apa itu?"Elara tidak menjawab.Jari-jarinya justru mulai gemetar. Tetua Darian mengerutkan dahi. "Aku belum pernah mendengar suara seperti itu."Tetua Maereth menggeleng pelan. "Bukan.""Aku pernah membacanya."Semua menoleh. Wanita tua itu menarik napas panjang. "Di naskah kuno, suara itu disebut Ketukan Gerbang."Rowan mengernyit."Gerbang?""Gerbang yang memisahkan dunia." Tatapan Maereth berubah muram. "Ketika seseorang mengetuknya, berarti ada sesuatu di balik lan

  • Hati liar sang Alpha   Permainan Sang Matahari

    Tak seorang pun berbicara.Api di perapian hanya mengeluarkan bunyi kecil.Krek... krek...Cahayanya menari di wajah setiap orang yang berada di aula.Tetua Darian masih memegang gulungan tua itu sedangkan, Tetua Maereth memejamkan mata.Rowan berada di belakang Aelmon dengan satu lengan yang tersisa, sementara Aelmon tidak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Elara.Kalimat terakhir itu masih menggantung."Dia... memilih mati."Keheningan itu terasa begitu berat hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.Aelmon akhirnya melangkah mendekati gulungan tua itu.Tatapannya tidak lagi membaca gambar. Ia justru melihat kembali semua kenangan yang selama ini terasa janggal, pertemuan pertama mereka.Tatapan Elara yang selalu seolah mengetahui sesuatu.Cara gadis itu menerima kebencian tanpa pernah benar-benar membalas.Cara ia berkali-kali berkata bahwa setiap orang bebas memilih. Dan...Cara ia selalu menangis ketika seseorang mati.Bukan karena terkejut.Melainkan seperti sese

  • Hati liar sang Alpha   Hukum Timpal Balik

    Sore belum benar-benar pergi. Bersama bunga yang mulai tumbuh. Awan kelabu masih menggantung di atas atap kastel Lunaris. Udara yang biasanya dingin terasa sedikit lebih hangat karena tungku di ruang keluarga mulai dinyalakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Tidak ada teriakan. Tidak ada suara pedang, hanya keheningan yang perlahan belajar menjadi damai. Elara duduk di dekat perapian. Tatapannya masih sering kosong, tetapi kini sesekali ia menjawab pertanyaan orang lain. Itu sudah merupakan kemajuan. Tetua Maereth menghela napas lega. "Nah." Wanita tua itu duduk di belakang Elara. Tanpa meminta izin, ia menepuk pelan pahanya. "Kemarilah." Elara menoleh bingung. "Jangan menatapku seperti itu." "Kau terlalu kurus." "Duduk." Sejenak Elara ragu. Namun entah mengapa...

  • Hati liar sang Alpha   Tunas di Tanah yang Mati

    Hari itu masih terasa panjang.Kesedihan belum sempat menemukan tempat untuk beristirahat.Langit Lunaris tetap kelabu, sementara angin yang melewati halaman kastel membawa aroma hujan yang belum benar-benar turun. Burung-burung tidak lagi bernyanyi. Bahkan hutan Silvaris di kejauhan tampak kehilangan warna.Elara masih berada di beranda.Pandangannya kosong.Entah sudah berapa lama ia hanya menatap pepohonan tanpa benar-benar melihatnya.Aelmon berdiri di sampingnya. Tidak banyak bicara,namun kini ia memiliki satu kebiasaan baru.Setiap kali hendak meninggalkan Elara...Ia akan berhenti sejenak.Perlahan mengusap helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.Lalu mengecup pelan dahinya. Begitu pula ketika Elara tertidur, dan ketika ia terbangun.Seolah Alpha itu sedang berusaha mengingatkan dirinya sendiri..."Dia masih di sini."Hari ini pun sama.Aelmo

  • Hati liar sang Alpha   Salahkah Aku mengharapkanmu?

    Langit Lunaris tetap kelabu, seolah matahari pun kehilangan keberanian untuk muncul. Angin berembus pelan melewati beranda kastel, mengangkat beberapa helai rambut Elara yang terjatuh menutupi wajahnya.Ia belum berpindah dari tempatnya.Keheningan menjadi satu-satunya teman yang masih bertahan.Aelmon masih duduk di sampingnya. Tidak lagi memaksa, tidak lagi mengucapkan banyak kata. Ia hanya menemani, membuatkan Elara merasa nyaman dengan kehadirannya.Karena, kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi."Aku boleh tetap di sini?" tanya Aelmon pelan.Elara tidak menoleh. "Kau selalu bertanya." Tapi Aelmon tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya."Aku sedang belajar."Belajar. Satu kata yang membuat Elara tersenyum getir. "Alpha ternyata bisa belajar.""Kalau gurunya adalah istriku..." Aelmon menghela napas pelan. "...aku rela mengulang pelajaran yang sama seumur hidup."Deg! Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lag

  • Hati liar sang Alpha   Tangan di balik cahaya.

    Selamat membaca.Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba.Di aula, suhu turun d

  • Hati liar sang Alpha   Bulan dan matahari

    Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa

  • Hati liar sang Alpha   Hukum tiga dunia

    Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R

  • Hati liar sang Alpha   Dua energi berbeda

    Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status