Hei, Angel

Hei, Angel

last updateLast Updated : 2023-01-15
By:  mami GENCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
130Chapters
4.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Terpisahnya Clark dan Hani akibat penculikan yang di dalangi oleh Tirta sang mantan kekasih Hani, mengakibatkan terpisahnya keluarga kecil Hani dan Clark. Clark yang setelah bangun dari komanya mengalami hilang ingatan karena cedera di kepalanya saat terjatuh, ia melupakan semua kisah cinta tentang dia dan Hani. Ia membesarkan anak nya sendirian dengan pemikiran bahwa istrinya telah dengan sengaja meninggalkan dia dan anak sulung mereka dan ia pun mulai membuka hatinya dan menerima cinta seorang wanita untuk mendampingi hidupnya dan anaknya. Apakah keluarga kecil clark dan hani dapat bersatu kembali menjadi keluarga yang berbahagia ?? simak terus kisah Hei, Angel...

View More

Chapter 1

BAB 1

"Cerai saja," suara Mahesa Pradana mengiris udara pagi seperti pisau dingin yang menggores tanpa ampun.

Kalimat itu jatuh begitu saja dari bibir tipisnya, tanpa jeda, tanpa perasaan. Lelaki tinggi tegap itu berdiri tegak membelakangi Nadira, menatap keluar jendela besar apartemen mereka di bilangan Sudirman.

Di balik kaca, Jakarta bergerak tanpa peduli, seperti denyut nadi yang tak pernah lelah, sementara dunia kecil mereka perlahan runtuh.

Di balik punggung Mahesa yang kokoh seperti dinding beton, Nadira Wulandaru berdiri kaku. Nafasnya pendek, seperti tersangkut di tenggorokan.

Matanya menatap bayangan Mahesa yang dipantulkan kaca, siluet yang dingin, nyaris beku. Jantungnya berdebar tak karuan, seakan tangan-tangan tak kasat mata meremasnya dengan paksa.

Jemarinya mengepal, bergetar menahan guncangan yang mulai menjalar ke sekujur tubuh.

Suara detik jam di dinding bergema, memecah keheningan di ruangan luas berlantai marmer putih, dihiasi lukisan-lukisan modern yang nyaris terlalu mahal untuk disentuh.

Udara pagi menyusup dari celah tirai krem yang setengah tertutup, membawa aroma samar kopi hangat yang tersisa dari sarapan mereka yang tak terselesaikan.

Mahesa perlahan berbalik. Sorot matanya tetap dingin, namun ketampanan klasik di wajahnya seperti tetap bersinar tanpa usaha.

Rahangnya yang tegas, hidung mancung sempurna, dan bibir tipis itu masih mampu membuat siapa pun terpukau, termasuk Nadira, bahkan dalam kehancuran hatinya sendiri.

“Tidak bisakah... tidak sekarang?” suara Nadira pecah, lirih, nyaris seperti bisikan doa yang sudah lama kehilangan keyakinan.

Matanya, bening dan besar, berkilat menahan genangan air yang mulai mengaburkan pandangannya. Ada harap yang bertahan, sekaligus putus asa yang merayap di sudut-sudut matanya.

Mahesa hanya mengerutkan kening. Sorot matanya menukik tajam, menusuk pupil Nadira. Sekilas, Nadira melihat kerutan halus di antara alis suaminya bertambah dalam.

Namun, bukan karena ragu. Lebih kepada... kesal.

Nadira memang cantik, dengan cara yang lembut dan tak mencolok. Wajahnya bersih tanpa cela, dihiasi tahi lalat mungil di sudut mata kiri yang selalu tampak manis ketika ia tersenyum.

Rambut hitam lurusnya mengalir sampai ke punggung, seperti sungai tenang di bawah rembulan. Sejak awal, itulah yang membuat Mahesa memilihnya.

Tenang, patuh, tidak menuntut. Bukan cinta, hanya kenyamanan.

Tiga tahun lalu, hidup Mahesa berubah. Kecelakaan mobil menghancurkan kakinya, membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah.

Kekasihnya, Naura, pergi meninggalkannya di tengah luka itu. Ibunya yang keras memaksanya menikahi perempuan yang bisa merawat sekaligus menenangkan pikirannya.

Nadira, seorang perawat muda tanpa banyak beban keluarga, masuk ke dalam hidup Mahesa seperti obat penenang yang manjur.

“Aku akan berikan dua miliar rupiah untuk semua yang telah kau lakukan selama ini,” ucap Mahesa datar, seolah sedang membicarakan jual beli properti.

“Atau kalau kau mau kompensasi lain...”

Nadira mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, suaranya memotong dinginnya kalimat Mahesa.

“Kenapa?” bibirnya bergetar, tapi di matanya muncul semburat perlawanan yang baru lahir. “Kenapa harus sekarang?”

Lusa adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Nadira sudah menyiapkan makan malam, memesan bunga favorit Mahesa, bahkan membeli dasi sutra baru yang sudah ia bungkus rapi.

Ia menggantungkan harapan di tiap persiapan itu, berharap mungkin kali ini Mahesa melihat dirinya.

Jawaban Mahesa menamparnya seperti embusan angin dingin yang kejam. “Kau tahu aku tak pernah mencintaimu. Naura sudah kembali. Aku akan menikahinya.”

Kata-kata itu meluruhkan sisa kekuatan di kaki Nadira. Ia hampir roboh. Dunia di sekelilingnya terasa menyusut, seakan ruangan megah itu kini hanya kotak sempit yang mencekiknya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang pelayan muda berdiri di ambang pintu, sedikit membungkuk dengan wajah cemas.

“Tuan Pradana, Nona Levana muntah lagi... bahkan batuk berdarah.”

Untuk pertama kalinya, ada gerakan emosi di wajah Mahesa. Ia langsung melangkah cepat melewati Nadira, tak sempat menoleh.

Suara sepatunya beradu dengan lantai marmer, menggema seperti irama langkah yang hendak menjauhkan diri.

“Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit.”

Beberapa menit kemudian, Mahesa muncul dari kamar tamu sambil menggendong Naura Levana.

Perempuan itu tampak rapuh dalam balutan selimut rajut buatan tangan Nadira sendiri. Wajah Naura pucat, bibirnya bergetar ketika berbisik lirih, “Mahesa... Nona Arum...”

Mahesa menoleh sebentar ke arah Nadira, seperti mengingat sesuatu yang baru saja ia tinggalkan.

“Pengacara akan mengurus perceraian kita. Kau punya tiga hari untuk pergi dari sini.”

Langkah mereka berdua menghilang melewati lorong panjang apartemen, meninggalkan Nadira berdiri sendirian di tangga marmer putih, seperti patung yang kehilangan makna.

Sebelum pintu lift menutup, Naura sempat menoleh. Di wajah pucatnya, terselip senyum tipis, angkuh, dan penuh kemenangan.

Seakan bisikan satu jam sebelumnya masih bergaung di telinga Nadira, “Aku sudah pindah ke sini. Ada baiknya kau serahkan dia kembali padaku.”

Di ruang hening itu, jam dinding berdetik pelan. Jakarta di luar sana tetap sibuk, seolah tak ada yang terjadi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
130 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status