เข้าสู่ระบบAlex menatapnya lama, cukup lama hingga pembunuh kelas S itu kembali merasa tidak nyaman. Senyum tipis di wajah Alex bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang telah memutuskan sesuatu.“Syaratku sederhana,” ujar Alex pelan. “Mulai malam ini, kau tidak lagi bekerja untuk keluarga Jack. Tidak untuk Agra. Tidak untuk siapa pun yang berada di bawah bayang-bayang Olivia. Tapi kau harus bekerja disisiku.”Pembunuh itu terdiam. Napasnya masih berat, dadanya naik turun tak beraturan. Rasa sakit masih merayap di seluruh tubuhnya, membuat setiap detik terasa panjang.“A-aku… Jika aku melanggar?” tanyanya lirih.Alex mencondongkan tubuh sedikit. “Maka aku akan mencarimu, dan mengambil nyawamu, agar orang lain tidak tahu siapa Alex...”Pembunuh itu menelan ludah. Ia tahu, ini bukan ancaman kosong. Pria di depannya bukan sekadar kuat, ia mengerikan dengan caranya sendiri. Bukan kegilaan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan yang membuat semua keputusan terasa final.“Aku mengerti,” ka
Karena telapak tangan Alex sudah menempel di pergelangan tangan pembunuh tersebut.Tidak keras. Tidak cepat. Tapi memperlihatkan gerakan yang terlalu tenang.Namun di detik berikutnya...KRAK!Suara tulang bergeser terdengar jelas. Bukan patah. Tapi cukup untuk membuat tangan kanan pembunuh itu mati rasa seketika. Pisau harus terlepas dan, jatuh ke lantai dengan bunyi logam tipis.Pembunuh itu bereaksi refleks. Lututnya naik, mengarah ke ulu hati Alex.Akan tetapi.BUK!Alex menerima serangan itu bukan dengan menghindar, melainkan menahan menggunakan otot perut yang mengeras seperti baja. Dampaknya nyaris nihil. Alex tak bergeming sedikitpun dari pijakannya.“Gerakanmu rapi,” ujar Alex datar. “Tapi masih terlalu lemah.”Ia memutar pergelangan tangan lawan sedikit lagi.KRAKK!Kini tulang itu benar-benar retak.Jeritan tertahan lolos dari balik masker. Pembunuh kelas S itu melompat mundur, menggertakkan gigi, memaksa rasa sakit mengingatkannya, bahwa ia juga manusia biasa.Tapi tugas t
Namun Alex tidak bergerak. Tatapan di balik topeng emas itu justru tampak kosong, seolah keributan di hadapannya tak lebih dari debu yang tertiup angin.Clara langsung menarik lengan bajunya pelan.“Alex…” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh riuh napas para utusan keluarga besar di kota Draken.“Sudah cukup. Kita tidak perlu memperpanjang ini.”Alex menoleh sesaat. Untuk pertama kalinya sejak pelelangan dimulai, ia benar-benar menatap Clara. Di matanya tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya ketenangan yang tulus. Ia mengangguk.“Baik,” jawabnya singkat.Ia kembali menatap para tetua Han.“Aku tidak tertarik menindas orang yang sudah kalah.” Kata-katanya jatuh ringan, namun justru terasa seperti palu yang menghantam martabat keluarga Han.Beberapa tetua mengerutkan kening, sementara Han Yi menunduk, wajahnya pucat pasi. Alex tetap menyimpan kartu atm milik Han Yi.“Harta ini cukup sebagai pelajaran,” lanjutnya. “Jika aku ingin nyawanya, dia sudah lama tidak bisa berdiri di si
Han Yi tertawa dingin, suaranya menggema memantul di dinding aula.“Kesepakatan?” Ia berdiri perlahan, aura arogan yang sejak awal ia tekan kini tumpah tanpa sisa. “Jangan main kata-kata denganku, pria bertopeng. Batu itu belum dibuka. Selama belum dipotong, tidak ada hasil. Maka tidak ada kemenangan.”Beberapa orang di aula mengangguk setuju. Logika Han Yi memang masuk akal, setidaknya di permukaan. Bahkan beberapa tetua yang semula condong ke arah Alex kini kembali ragu.“Benar juga…”“Kalau batu terakhir itu ternyata sampah?”“Taruhan nyawa… Ini terlalu gila.”Alex berhenti melangkah. Ia tidak berbalik, hanya memiringkan kepalanya sedikit, cukup untuk menunjukkan garis rahang di balik topeng emas itu.“Kau ingin memutar balik keadaan?” tanyanya datar.Han Yi mendengus. “Aku hanya menuntut keadilan. Kau begitu yakin dengan batu itu? Maka potong. Buktikan.”Ia menatap Clara, senyumannya tipis tapi penuh niat buruk.“Kalau ternyata batu itu merupakan kualitas super terbaik, aku ingin
Han Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha
Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini







