Share

Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun
Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun
Author: Binja

Bab 1

Author: Binja
Saat berjalan pulang sendirian, tubuhku sudah nyaris basah kuyup. Begitu sampai di rumah, ponselku bergetar.

Ibu menandai namaku di grup keluarga, menanyakan bagaimana aku akan mengurus makan selama tinggal sendirian di rumah selama beberapa hari ke depan. Rasa getir membuncah di hatiku, sedangkan mataku juga terasa perih.

Namun, sebelum aku sempat membalas, Ibu mengirim pesan lagi.

[ Jangan sentuh barang di kulkas. Semuanya barang Rey dan Rhea. Kami sudah bagi dua dengan adil. Kalau kamu sentuh, keseimbangannya akan rusak. ]

Sedikit rasa hangat dan haru yang baru saja muncul di hatiku seketika lenyap tak bersisa. Aku secara refleks ingin bertanya, "Bagaimana denganku?"

Namun pada akhirnya, aku hanya mengetik sepatah kata balasan.

[ Oke. ]

Bagaimanapun juga, aku sudah menanyakan hal itu berkali-kali sebelumnya. Tak ada seorang pun yang peduli. Rasanya seperti sudah wajar meskipun tak ada satu pun hal di rumah ini yang benar-benar menjadi milikku.

Aku menyimpan ponselku, lalu mencari makanan di rumah. Yang kutemukan hanyalah sekotak roti di sudut ruangan, yang sudah kedaluwarsa dan mulai berjamur.

Akhirnya, aku berhasil tertidur dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Namun, di tengah malam, aku terbangun karena ada orang yang melemparkan pakaian basah ke kepalaku.

Aku membuka mata dengan terkejut, lalu menyadari lampu di luar menyala dan ruang tamu terlihat riuh. Orang tuaku sedang mengeluh soal hujan deras yang membuat akses jalan ditutup saat mereka hendak keluar kota.

Rhea berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Dia mendesakku dengan tidak sabar, "Kenapa masih bengong? Kok males banget sih? Nggak lihat aku butuh kamu bantu aku cuci baju?"

Mantelnya terkena cipratan lumpur. Tadi, dia langsung melempar mantel itu ke kepalaku, sehingga rambutku terasa lengket.

Aku terlalu mengantuk untuk membuka mata. Jadi, aku menyahut dengan lemah, "Kak, biarkan aku tidur dulu. Aku akan cuci besok pagi. Oke?"

Suara Rhea langsung meninggi. "Kalau nggak mau cuci, bilang saja. Jangan cari-cari alasan!"

Pada saat ini, Rey juga datang. Dengan raut wajah dingin, dia melemparkan sepasang sepatu yang penuh lumpur ke lantai. "Kalau mau cuci punya dia, kamu harus cuci punyaku juga. Jangan lama-lama."

Ibu berjalan melewati kami sambil membawa tumpukan cucian. Melirik penampilanku yang berantakan, dia mengernyitkan dahi dan langsung membentakku.

"Kalian bertiga harus menjunjung tinggi keadilan. Kakak-kakakmu sudah sibuk beraktivitas seharian, sementara kamu enak-enakan di rumah. Memangnya kenapa meski mereka suruh kamu cuci sedikit barang?"

Menghadapi tatapan menuduh semua orang, aku tiba-tiba ingin tertawa. Ternyata, keadilan di keluarga ini bergantung pada situasinya. Dalam hal berbagi hak, Rey dan Rhea selalu diperlakukan secara adil. Namun, saat tiba giliran memikul tanggung jawab, semua beban hanya akan jatuh ke pundakku.

Aku tidak lagi membuang-buang napas, hanya berjongkok dalam diam, lalu mengumpulkan barang-barang berlumpur itu dan pergi ke ruang cuci baju. Butuh waktu tiga atau empat jam bagiku untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Kemudian, pandanganku mulai menggelap. Itu adalah tanda-tanda gula darah turun akibat kelaparan. Aku berusaha bertahan dan berjalan ke ruang tamu, berharap bisa meneguk sedikit air hangat.

Tak disangka, aku berpapasan dengan ayahku yang sedang membawa kantong berisi sate masuk ke rumah. Saat melihatku, dia secara refleks menyembunyikan kantong itu di balik punggungnya dan tersenyum canggung.

"Makanannya sudah pas untuk dibagi jadi empat porsi, jadi kami nggak panggil kamu. Kalau pembagiannya nggak rata, kakak-kakakmu pasti akan ribut lagi. Tapi, penjualnya kasih kacang rebus bumbu kecap. Mereka nggak suka."

Aku tersenyum dan menghindari uluran tangan ayahku. "Ayah, aku alergi kacang."

Ayahku terdiam sesaat, tetapi hanya sesaat. Begitu Rhea memanggilnya dengan nada manja, dia menjawab sambil melangkah melewatiku.

Saat dia pergi, aku tak kuasa menahan gejolak dalam hatiku. Tangan di sisi tubuhku terkepal erat. Hatiku terasa nyeri, seolah ditusuk-tusuk jarum. Namun, aku bahkan tak punya tenaga untuk sekadar meneteskan air mata.

Setelah akhirnya merasa lebih baik usai minum air, aku kembali ke gudang untuk beristirahat. Namun, aku justru mendapati ruangan itu penuh dengan koper-koper milik Rey dan Rhea yang belum dibereskan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 9

    Setelah berpikir dengan cermat, aku masih merasa agak khawatir. Oleh karena itu, aku menghabiskan satu malam untuk menghitung semua biaya makanan dan pakaian yang kuhabiskan di rumah selama bertahun-tahun. Tak disangka, jumlah terakhirnya begitu sedikit, sampai aku ingin tertawa. Hanya 100 juta.Aku membuka blokir WhatsApp mereka, lalu mengirim dokumen itu ke grup keluarga. Segera, aku menerima balasan.[ Ibu: Ayla, kenapa kamu tiba-tiba hitung ini? ][ Ayah: Mana mungkin cuma 100 juta. ]Aku membalas dengan tenang.[ Aku belajar dari kalian. Gimanapun, sejak kecil, kalian berdua selalu hitung segala sesuatu yang kalian berikan padaku. Semua yang ada di rumah kalian bagi jadi dua bagian, tapi nggak pernah ada bagianku. ][ Aku sama sekali nggak kurang hitung. Aku yakin kalian tahu persis berapa jumlah uang yang kalian habiskan untukku. Jadi, soal penyakit Kak Rey, aku nggak akan donorkan ginjalku. Paling-paling, aku akan nabung secepat mungkin untuk kembalikan 100 juta itu. ]Pesan su

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 8

    Wajah Ibu memucat sedikit demi sedikit. Dia merasa telinganya berdengung, sedangkan tangan dan kakinya terasa dingin. "Apa katamu?"Dosen pembimbingku makin bingung. "Kamu seharusnya tahu. Bukannya waktu itu kamu sudah tandatangani formulir persetujuan orang tua Ayla?"Ibu secara refleks ingin membantah. Namun, sebuah kenangan tiba-tiba terlintas di benaknya. Pada hari itu, dia memaksaku untuk menyerahkan penghargaanku kepada Rhea. Aku memang memberinya sebuah formulir persetujuan orang tua. Namun, dia bahkan tidak membacanya dengan serius.Memikirkan hal ini, Ibu menjadi makin putus asa. Dia bertanya dengan gemetar, "Bu, kalau boleh tahu, kapan Ayla daftarkan diri dalam program itu?"Dosen pembimbingku segera memberitahukan tanggalnya. Setelah mendengarnya, Ibu menyadari sesuatu dan memejamkan matanya dengan putus asa. Kemudian, di depan semua orang di asrama, dia yang telah berbangga diri selama separuh hidupnya tiba-tiba berlutut di depan dosen pembimbingku."Bu, aku mohon. Tolong

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 7

    Rey tiba-tiba pingsan. Mereka sekeluarga segera membawanya ke rumah sakit. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter berbicara kepada orang tuaku dengan ekspresi serius."Dia mengidap gagal ginjal akut. Kalian sekeluarga perlu jalani pemeriksaan kecocokan donor ginjal secepat mungkin. Operasinya harus segera dijadwalkan."Begitu mendengar Rey perlu menjalani operasi transplantasi ginjal, wajah Rhea langsung menjadi pucat. Dia menggeleng tanpa sadar dan berjalan mundur. "Nggak, aku nggak mau."Dokter melirik Rhea. "Kamu dan pasien itu saudara kembar, 'kan? Kemungkinan ginjalmu cocok lebih tinggi. Saat ini, pasien sedang dalam kondisi kritis. Hal ini nggak bisa ditunda lagi."Ibu sangat panik. Dia segera meraih tangan Rhea. "Sayang, cuma sebuah ginjal kok. Dia itu kakak kandungmu."Namun, Rhea menepis tangan Ibu dengan kuat. Tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di koridor, dia berseru, "Kenapa? Kenapa aku harus kasih dia ginjalku? Ini sama sekali nggak adil!"Mendengar

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 6

    Gudang itu kosong melompong. Karton bobrok yang biasa kugunakan untuk menyimpan pakaian dan bukuku sudah kosong. Bahkan aromaku juga sudah nyaris hilang sepenuhnya.Saat ini, orang tuaku baru sadar. Ternyata, aku tidak pernah kembali dari pesta hari itu. Selama beberapa hari terakhir, aku tidak berada di rumah.Ketakutan dan rasa tidak aman mulai menyelimuti hati Ibu. Dia mengeluarkan ponselnya dengan gemetar dan mengirimiku pesan dengan nada marah sekaligus khawatir.[ Ayla, ke mana kamu? Cuma karena masalah sepele, kamu ngambek sampai kabur dari rumah? ]Ayah berdiri di sebelahnya dengan wajah muram, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus merokok.Saat menyadari pesan yang dikirimnya tidak dibalas, Ibu akhirnya panik. Dia meraih ujung pakaian Ayah dengan panik. "Johan, cepat pikirkan solusinya. Selama ini, Ayla nggak pernah buat ulah. Ini pertama kalinya dia kabur dari rumah. Dia nggak punya kerabat atau teman di luar. Dia bisa pergi ke mana?"Ayah menggertakkan gigi dan me

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 5

    Berhubung aku menyebabkan keributan seperti itu di pesta perayaan, banyak kerabat yang diam-diam menasihati orang tuaku agar tidak pilih kasih.Ibu yang merasa malu pun melampiaskan amarahnya padaku. Dia melihat ke arah gudang dan sengaja meninggikan suaranya."Mulai hari ini, jangan ada yang pedulikan dia, sampai dia ngaku salah dan bersedia minta maaf pada kita."Selama beberapa hari berikutnya, seluruh keluarga menganggap gudang sebagai tempat terlarang. Tidak ada yang mendekat ataupun menanyakan keadaanku. Setelah sekian lama, masih tidak terdengar suara atau pergerakan apa pun dari dalam gudang.Ibu akhirnya tidak tahan lagi dan diam-diam berbicara dengan Ayah. "Kenapa dia begitu keras kepala? Aku cuma mau dia akui kesalahannya kepada keluarga. Kita semua sekeluarga. Apa mungkin kita nggak maafkan dia?"Ayah yang sedang merokok juga merasa tidak berdaya. "Kenapa anak itu begitu mudah ngambek?"Ibu juga tidak mengerti. Dia merasa sebagai orang tua, dia boleh berpihak pada anak man

  • Hidup dalam Ketidakadilan Selama 20 Tahun   Bab 4

    Aku bergegas maju tanpa berpikir panjang. Di tengah tatapan heran semua orang yang hadir, aku mengulurkan tangan ke arah Rhea dengan ekspresi dingin. "Kembalikan."Kilasan rasa bersalah melintas di mata Rhea. Dia segera berlindung di belakang Ibu.Ayah memelototiku. "Apa-apaan kamu?"Aku mengabaikannya dan tetap menatap Rhea lekat-lekat. Tanpa terkendali, air mataku mulai menggenang lagi. "Kubilang, kembalikan!"Seruanku yang histeris membuat Rhea marah. Dia menyembunyikan tangannya di balik punggung."Kenapa Nenek cuma kasih kamu gelangnya, sedangkan aku nggak dapat? Itu nggak adil. Aku cuma mau keadilan."Saking marahnya, suaraku pun bergetar. Aku tersenyum sinis dan berseru, "Adil? Sejak kecil, Ayah dan Ibu cuma terima dua bagian uang pemberian kerabat. Satu untuk kamu, satu lagi untuk Kak Rey. Selama ini, aku cuma pernah terima satu gelang ini. Ini yang kamu sebut nggak adil?"Rhea tidak bisa membantah. Wajahnya merah padam karena marah. Air mata dengan cepat menggenang di pelupuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status