LOGINHai, makasih ya masih stay baca kisah Bella dan Alex. Makasih juga masukannya. Mohon maaf, baru update. Author lagi kurang sehat.
“Rahasia? Ini? Tuan, ini bukan surat pengkhianatan!” tukang kebun itu menarik selembar kertas dari dalam amplop.Noah mengerutkan kening, merebut kertas itu dan membacanya dengan cepat. Matanya menyipit, lalu perlahan, raut wajahnya yang garang berubah menjadi datar.Resep pupuk organik untuk mawar langka di kebun belakang. Di bawahnya ada catatan kecil Lady Margaret.Matteo tertegun. Ia menatap pelayan itu, lalu menatap Noah. “Jadi... Lady Margaret benar-benar sedang hobi berkebun?”“Tuan,” pelayan itu menjelaskan dengan suara bergetar, “Nyonya Margaret dan Duchess Isabella berteman sekarang. Jadi, Lady Margaret ini memberinya tips merawat bunga mawar.”Noah melipat kertas resep itu dengan kaku. Rasa malu mulai merambat naik ke wajahnya yang biasanya sedingin es. Dua minggu di kandang kuda rupanya membuat insting mereka sedikit berlebihan dalam menilai situasi.“Jadi ini bukan rencana penggulingan takhta?” tanya Matteo, suaranya kini terdengar canggung.“Bukan, Tuan. Ini rencana aga
“Kau bertanya apa yang aku lakukan?” Felix mengulang pertanyaan yang Alex lontarkan kepadanya sembari mendecih pelan. Kemudian ia menatap kembali wajah pria dingin di depannya. “Seharusnya, itu adalah pertanyaan dariku. Kenapa istri sendiri pulang sampai tidak tahu? Istrimu sakit parah tapi kau biarkan dia pulang hanya dengan pengawalan. Suami macam apa kau?”Felix mengemukakan kekesalan yang sudah menumpuk hingga bertahun-tahun lamanya. Matanya berkilat penuh emosi. Tangannya sudah menggenggam gagang pedang di sisi tubuhnya. Alex menyalangkan tatapan tajam ke arahnya. Ia melangkah maju tanpa gentar. “Kau pikir kau siapa mencampuri urusan rumah tangga orang. Ingat, tanah ini masih dikuasai kerajaan,”Felix menarik salah satu sudut bibirnya. “Aku … aku adalah satu-satu orang yang sangat peduli pada Helena. Dan di dalam aula ini, hukum kerajaanmu tidak berlaku, Pangeran Alex. Di sini, yang berlaku adalah hukum keluarga Moreau.”Alex mendengus pelan, mencoba menutupi kegusarannya. “Begi
Suasana terasa menegangkan ketika suara bariton pengawal hinggap di telinga Helena. Dengan langkah tergesa Felix membuka pintu kamar yang sempat dikunci tersebut. Dia berjalan keluar dari kamar lalu keluar dari pintu belakang rumah untuk menghindari Alex.Bukan karena Felix merasa takut atau minder bertemu dengan Alex, melainkan api amarah masih tersimpan di dalam dada pria itu karena sampai detik ini ia masih merasa Alex telah mencuri wanita yang ia cintai sejak lama.Sementara itu, di kamar mewah kediaman Moreau, Alex menghampiri Helena yang masih berbaring lesu dengan wajah yang pucat pasi bagaikan kunarpa. Rambutnya kusut masai dengan bibir yang melengkung tipis tampak pucat. Penampilannya sangat jauh berbeda dari penampilan biasanya yang selalu modis dan anggun. “Aku tidak tahu sakitmu bisa separah ini.” Suara Alex terdengar jelas. Ada nada simpatik di balik bicaranya. Helena memilih menundukan wajahnya, memilin jari jemarinya di atas pahanya. Sebuah bentuk bahasa yang menunjuk
Ratu Cecilia tengah duduk ketika datang sebuah surat dari istana Rose. Matanya terbelalak ketika membaca isi surat tersebut. “Kenapa dia tidak melapor langsung? Seharusnya dia melapor bukan mengirim surat seperti ini. Suruh dayangnya untuk datang.” Suaranya naik beberapa oktaf. “Maafkan hamba Yang Mulia. Menurut Anne dayangnya, Helena sakit parah oleh karena itu beliau dirawat oleh tabib keluarga.”“Apa Alex sudah mengetahuinya?” tanya Cecilia penasaran. Pengawal di istana Rose pun mendongak dan menjawab singkat. “Sudah tahu, Yang Mulia.”Cecilia mengangguk. Wajahnya melunak. Jangan sampai tidak tahu istrinya sakit. Bisa-bisa Klan Moreau membuat ulah lagi. “Pergilah! Kabari terus kondisi Putri Helena.” Pungkas Cecilia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju jendela kamar. Ketika pengawal itu pergi, wanita berambut pirang itu mengangkat teropong kemudian mengarahkannya menuju paviliun Honeysuckle. Senyum terbit di wajahnya. Semenjak anggaran rumah tangga diatur oleh Is
Mei Lin mengatupkan bibirnya rapat. Ia dilanda bingung harus menjawab apa. Masalahnya, ia tidak suka menyanjung pria. Nanti, bisa-bisanya pria itu besar kepala. “Mei April, eh, Mei Lin. Cepat jawab Sayang! Siapakah pria tertampan di antara para pengawal ini.” Isabella masih menggoda pengawal lincahnya. Oliver berdehem pelan, merasa mungkin dirinya paling tampan. Sementara itu Matteo sesekali melirik ke arah Noah. dia mengakui kalau Noah termasuk pengawal paling tampan di istana. Mei Lin menatap Isabella lalu menatap Noah bergantian. “Noah,”Oliver yang tadinya sudah bersiap dengan pose andalannya bersandar di pintu sambil membetulkan letak sarung tangan, langsung menegakkan tubuh dengan ekspresi tidak percaya. “Noah? Oh, damn! Padahal ada lo yang lebih ganteng dari dia,” katanya mengusap dagunya.Matteo mendengus tertahan, bahunya berguncang menahan tawa. “Wah, selera Mei Lin memang... unik. Memang benar semua sepakat kok Noah pengawal paling tampan. Bahkan kadang tamu istana mengi
“Nyonya apa yang kau lakukan?” Anne menangkap pergelangan tangan sang majikan dengan gerakan cepat. Helena langsung menoleh dengan kilatan mata yang tajam. “Jangan ikut campur, Anne. Aku ingin segera menghabisinya. Aku sudah tak tahan lagi. Lihatlah, Alex selalu menempel padanya. Dia hampir tiap hari datang ke paviliun itu.” Suaranya serak akibat tangisan yang berlebihan. Semalaman Helena menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib buruk yang menimpanya.Anne merasa jantungnya mencelos melihat kondisi Helena yang makin rapuh. Ia memapahnya menuju kembali ke istana Rose. “Sebaiknya, Nyonya istirahat. Nyonya masih demam soalnya.”Tanpa menjawab sepatah katapun, Helena yang memang masih sakit kembali ke istana dipapah Anne. Ketika mereka tiba di kamar, Anne membantunya untuk berbaring lalu menyelimutinya. “Nyonya, sebaiknya Anda minum obat. Sebentar aku akan ambilkan,” ucap Anne berjalan menuju meja nakas dan mengambil ramuan yang sudah diberikan oleh Tabib Leo. beruntung yang menangani H
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman







