Se connecterMalam itu Paviliun Honeysuckle terasa sepi dan horor. Isabella merasa kali ini ia berada masuk ke dalam novel bergenre horor yang dibacanya saat malam hari di malam jumat, sendirian. Jantungnya berdetak lebih liar. Biasanya ia tidak pernah merasa setakut itu dalam menghadapi sesuatu. Namun, ketika ia menyadari ada kehidupan lain di dalam rahimnya, ketakutan itu mulai mengambil alih dirinya. Ia merasa khawatir terjadi apa-apa pada janin miliknya. Kehamilan tanpa direncanakan ini tetap saja harus ia terima dan ia jaga. Apalagi ketika mengingat cara Alex menatapnya lalu menatap perut itu … matanya berbinar seperti nyala kembang api di tahun baru. Indah dan semangat. “Hei, kenapa kau tiba-tiba datang saja? Padahal aku cuman sekali apa dua kali telat minum obat itu,” gumamnya sembari mengusap perutnya dengan lembut. “Karena kau sudah tumbuh tanpa seijinku, kau harus bertahan sampai akhir. Kau harus kuat sampai kau tumbuh dan lahir ke dunia ini.” Isabella bersenandika dengan harapan ag
Clang!Suara baja dengan baja terdengar saling berdentang. Alex mengayunkan pedangnya dengan kekuatan brutal meski luka di tangannya masih belum sembuh total. Noah yang menjadi lawan tandingnya harus mengeluarkan seluruh kemampuan untuk menangkis setiap serangan Alex yang terasa membabi buta. Bahkan dalam kondisi kurang sehat sekalipun, pria itu mampu mengendalikan pedang di tangannya. Karena Noah kewalahan. Akhirnya pria berambut pirang itu berteriak. “Yang Mulia, Anda terburu-buru.” Napasnya memburu.Alex langsung menarik pedangnya kembali. “Cukup untuk hari ini.”Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu menatap Noah dengan mata yang menyipit tajam. “Sudah lama, tidak ada surat.”Noah yang sedang memperbaiki posisi zirah di bahunya terdiam. Ia tahu arah pembicaraan ini.“Apakah ada surat dari Ibu Kota?” tanya Alex, suaranya datar tetapi tajam seperti silet. Noah menelan salivanya sebelum menjawab. “Belum ada, Yang Mulia,”Alex terdiam cukup lama. Ia menatap bekas
Otot-otot di wajah Mei Lin menegang. Ia tengah berpikir keras mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. Sederhananya, sihir pengikat jiwa hanya bisa dihancurkan oleh penyihir yang setara atau pelaku itu sendiri. Masalahnya, Helena sudah menumbalkan jiwanya sendiri. Dia tidak akan pernah mau membatalkannya.“Nyonya, ini sangat sulit,” suara Mei Lin bergetar. “Saya rasa mencari penyihir hingga ke pegunungan utara adalah jalan terakhir. Tak mudah menemukannya.”Isabella mendengus pelan mendengar fakta pelik itu. Ia terdiam tetapi pikirannya berdesak-desakan. “Nyonya, ritual perlindungan yang saya pasang hanya bersifat sementara. Lama-kelamaan, sihir itu akan menembus pertahanan ini saat pelaku menyempurnakan ritualnya.” Lanjut Mei Lin, suaranya mendadak semakin berat.Isabella menghela napas sesak. Otaknya bekerja cepat, mengabaikan rasa takut yang mulai merayap di dadanya. “Kalau begitu, kau tidak perlu membuang waktu mencari penyihir lain yang belum tentu ada. Sekarang, pergilah ke Ist
Paviliun Honeysuckle,Sore itu paviliun tampak hening tak biasanya. Padahal sebelumnya, paviliun itu ramai oleh berbagai kegiatan yang di inisiatif oleh Isabella dengan berkebun dan bermain game yang diikuti oleh para pelayan dan dayangnya.Semenjak Isabella hamil muda, paviliun tidak seramai dulu. Sang empunya ide lebih banyak menghabiskan waktu di dalam paviliun karena mengalami morning sickness yang parah. Beruntungnya, ada beberapa pelayan yang merawat dan menjaganya. Oleh karena itu, ia hanya menghabiskan waktu istirahat dan makan makanan yang bernutrisi. Makanan sehat yang sudah disiapkan oleh koki terbaik istana.“Nyonya, sekarang waktunya makan buah,” ucap Sarah mengingatkan Isabella seperti sebuah alarm hidup. Tangannya sibuk menaruh mangkuk berisi potongan buah-buahan segar di atas meja. Isabella menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan ketika melihat sajian itu. Semenjak hamil, dia memiliki jadwal makan yang disiplin dan diawasi oleh pelayan senior. Tidak hanya
“Aku baik-baik saja,” jawab Helena pelan, tetapi suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Yolanda, yang sejak tadi memerhatikan sahabat sefrekuensinya itu, menyipitkan mata. Semakin lama diamati, semakin jelas Helena tampak berbeda hari itu. Ada gurat kelelahan yang tak mampu disembunyikan di wajahnya.Wajah cantiknya yang biasanya begitu segar dan bercahaya kini terlihat pucat, seolah seluruh energinya telah terkuras. Bahkan polesan riasan tipis pun gagal menutupi kesan itu. Rasanya seperti... darahnya baru saja diisap vampir semalaman.“Kau begadang melukis?” tanya Yolanda, menebak-nebak penyebab perubahan itu.Seolah mendapat alasan yang tepat, Helena spontan mengangguk. Ia tersenyum kaku. “Benar, ya, aku menghabiskan malam dengan melukis,”Padahal dalam batin ia tengah bermonolog jahat. ‘Aku sedang melukis takdir seseorang. Takdir kelam Isabella Laurent.’“Hei, kau itu cerdas dan pandai melukis tidak diragukan lagi.” Timpal salah seorang bangsawan wanita yang ikut menger
Isabella duduk dengan napas yang lebih teratur. Kejadian kemarin yang ia alami sepulang dari istana utama seperti mimpi buruk.Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi kepingan-kepingan ingatannya perlahan kembali utuh. Semula, Isabella mengira dirinya hanya mengalami demam tinggi, lalu tertidur dan kembali dihantui mimpi buruk seperti biasanya. Namun, setelah mendengar penjelasan Mei Lin tentang apa yang sebenarnya terjadi, ia sempat terkejut.Meski begitu, jauh di dalam hati, ia sudah menduga hal seperti itu memang mungkin terjadi pada zaman ini. Seseorang telah mengirimkan sihir hitam semacam santet untuk mencelakakannya.Ketika keinginan tidak dapat diwujudkan dengan cara yang wajar, sebagian orang memilih menempuh jalan gelap. Mereka rela bersekutu dengan iblis demi mencapai tujuan yang diinginkan.“Mei,” panggil Isabella pada Mei Lin yang tengah duduk dengan kepala yang terantuk-antuk. Semalaman gadis bermata sipit itu kurang tidur karena merawatnya. Isabella memang langsung mengal
Kalimat yang disampaikan oleh Madam Chloe terputus saat sosok pria muncul di ambang pintu masuk. Isabella terkesiap tatkala melihat siapa yang datang. Dia bukan suaminya. Dia adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dalam balutan ksatria. Dia mengenakan pakaian zirah perak yang berkilau di bawah cahay
Cahaya matahari sudah mengintip di balik tirai, membuat Isabella membuka matanya perlahan dari tidurnya. Ia merentangkan ke dua tangannya dengan gaya bebas lalu menguap. Badannya terasa seperti habis diinjak kuda, pegal sekali. Ketika matanya benar-benar terbuka, ia tersentak saat melihat sesosok w
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A







