登入Suasana mendadak panas di dalam kamar minimalis milik Isabella. Betapa tidak, Alex menarik tubuhnya begitu saja hingga terjatuh tepat di dadanya yang lebar. Isabella mengerjapkan matanya kemudian berusaha bangun dengan gerakan spontan. Namun, alih-alih melepaskan istrinya, Alex justru melingkarkan ke dua tangannya pada pinggang Isabella seolah wanita berambut madu itu adalah guling. Lebih tepatnya, guling hidup hem..Ketika Isabella berusaha memberontak, meski hanya melakukan gerakan kecil demi terbebas dari rangkulan suaminya, Alex justru semakin mengeratkan pelukannya. Seperti sebuah kebiasaan, ia menyurukkan kepalanya di leher Isabella. Seolah dia tengah menghidu aroma familiar yang selalu menenangkannya kala ia merasa letih. Ia sangat suka aroma mawar lembut yang menguar dari tubuh istri keduanya. Aromanya sangat berbeda dengan aroma mawar yang menyengat dari istri pertamanya. Helena senang sekali menggunakan parfum berbahan bebungaan yang menyengat bahkan bisa terendus dari ra
“Tidur? Di kamarku?” tanya Isabella, suaranya naik satu oktaf karena syok. “Pangeran, otakmu tidak sedang bergeser akibat angin perbatasan, 'kan? Kamar istanamu yang wangi cendana itu dan seluas lapangan pacuan kuda, jaraknya tidak setengah hari perjalanan dari sini! Kenapa malah mau menumpang tidur di kamar sekecil kotak korek api milikku?!”Alex tidak membalas protes panjang lebar istrinya. Dengan wajah super lempeng tanpa dosa, pria itu dengan santai mulai melonggarkan ikatan jubah hitam militernya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas lengan Isabella.BUKK!Isabella hampir terhuyung ke belakang menerima beban jubah zirah Alex yang sewangi aroma kayu pinus bercampur debu jalanan.“Aku ingin istirahat dan malas naik kereta lagi. Kamarmu. Sekarang,” potong Alex mutlak, mengabaikan delikan maut dari Isabella saat ia mulai melangkah egois mencari pintu kamar terkecil di lantai itu.Isabella hanya bisa menarik napas dalam-dalam sembari meremas jubah Alex di pelukannya. ‘Dasar pangera
Suasana mendadak hening. Hanya deru napas yang terdengar berat. Atau lebih tepatnya, semua orang menahan napas melihat bagaimana sang putra mahkota menatap istrinya. Wajahnya yang awalnya kecut karena rasa letih sepulang dari perbatasan Barat, sekarang bertambah pula makin kecut ketika mendapati istri pertamanya yang berusaha memprovokasinya dengan memfitnah istri keduanya. Tatapan Alex tajam tertumbuk pada wajah Helena yang terlihat menunduk dalam. Setelah ia berusaha keras membuat alasan untuk membenarkan tindakannya, akhirnya ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Tak berani bertemu pandang dengan suaminya. “Aku sudah memberimu kesempatan lebih dari dua kali. Ralat, berkali-kali! Tapi … kau terus mengabaikannya. Sebaliknya, kau terus mengulangi kesalahanmu lagi dan lagi. Ini sudah tidak bisa ditoleransi. Sebagai hukuman dariku, kau akan tinggal di paviliun Rosemary dan kucabut hakmu untuk mengelola istana Rose hingga musim semi mendatang.”Hening. Namun sedetik kemudian Helena menje
Alex Harrington tiba di istana utama dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Jubah militernya berdebu, rambutnya berantakan seperti tertiup angin puting beliung dan napasnya sedikit memburu setelah memacu kuda tercepatnya dari perbatasan utara seperti orang gila. Noah yang mengekor di belakangnya bahkan nyaris kehabisan napas demi mengimbangi langkah lebar sang panglima. Tujuan utama Alex hanya satu yaitu Paviliun Honeysuckle. Ia sudah menyiapkan sederet pertanyaan interogatif dingin untuk istri keduanya yang sudah berani mengabaikannya selama seminggu penuh. Tidak ada surat untuknya. Apakah ia tidak memperdulikan suaminya sama sekali? Ada banyak pikiran buruk berjejalan di kepalanya hingga terasa gaduh. Namun, begitu pintu paviliun dibuka. Zonk! Paviliun itu rapi, sunyi, dan kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari wanita berambut madu yang belakangan ini mengacaukan isi kepalanya.“Di mana Isabella?” tanya Alex, suaranya merendah berbahaya, membuat para pel
Mendengar kabar dari pelayan, perasaan Isabella berkecamuk. Ia berlari menuju pintu keluar disusul oleh pelayan tadi. Namun, apa yang ia lihat. Sebuah pasukan berkuda dengan zirah ksatria level bawah. Salah satunya turun dan berjalan ke arah mereka. Isabella menoleh perlahan ke arah pelayan yang tadi memanggilnya dengan wajah melotot jengkel. 'Tadi katamu pengawal Ratu Cecilia!' tuntut Isabella lewat tatapan matanya. Rasanya, ia ingin mencakar wajahnya. Pelayan itu hanya bisa menyengir kuda, menunduk ketakutan sembari merutuk dalam hati karena salah mengenali lambang zirah ksatria. Maklum, pelayan pinggiran jarang melihat orang penting istana. Karena takut dimarahi, pelayan itu buru-buru melarikan diri. “Isabella? Em, Duchess Isabella.”Suara bariton yang jernih memecah kecanggungan. Mata pemuda itu langsung berbinar, melebar sempurna begitu mendapati sosok Isabella berdiri di sana. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Dengan sigap, Liam langsung membungkuk horm
…Hampir seminggu lamanya, Isabella berada di kediaman Laurent, menghabiskan seluruh waktu dan energinya untuk merawat sang ayah. Di bawah penanganan tabib dari timur yang menggunakan jarum akupunktur dan ramuan herbal Timur, kondisi Roberto perlahan menunjukan kemajuan. Detoksifikasi dan sirkulasi darah pria itu berjalan lancar dan kembali normal tanpa melalui bloodletting yang membahayakan. Selama itu pula, ia tidak diganggu oleh Alice karena perubahan instan sikap Olivia, ibu tiri oportunis itu. Wanita paruh baya yang biasanya hobi berteriak itu kini menjelma menjadi sosok ibu tiri yang luar biasa pengertian, ramah, dan luar biasa rajin. Tentu saja, Isabella tahu persis tidak ada yang gratis dari kebaikan Olivia. Semua itu murni karena Olivia ogah merawat suami yang cacat atau menjadi beban finansial seumur hidupnya. Ditambah lagi, dompet tebal Isabella sebagai istri pangeran adalah jaminan masa depan yang tidak boleh ia sia-siakan.Hari itu, Isabella berencana akan pulang ke i
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman







