แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ranti
Begitu Amelia memasuki ruang tamu, Malik yang tengah duduk di sofa langsung memanggilnya.

Amelia membungkuk dan meminta maaf. "Pak Malik, maafkan aku. Hari ini, aku sudah membuat masalah untuk Anda. Aku pasti akan lebih berhati-hati ke depannya. Bisakah Anda nggak menyuruhku pergi?"

Malik melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada Amelia agar duduk di sofa. Nada bicaranya tidak sekeras Ambar, "Amelia, aku melihatmu tumbuh dewasa. Keluarga Amarta ini rumahmu. Semua yang terjadi hari ini bukanlah salahmu."

"Terima kasih, Pak Malik."

Mengetahui jika dirinya tidak akan diusir, Amelia pun akhirnya tersenyum tipis. Akan tetapi, kemudian dia mendengar Malik kembali bertanya, "Bagaimana kabar ibumu akhir-akhir ini?"

"Sudah jauh lebih baik. Dokter bilang kondisinya belakangan ini cukup bagus." Amelia merasa ragu untuk sejenak dan akhirnya memutuskan untuk tidak memberitahukan jika ibunya perlu menjalani transplantasi ginjal.

Malik sangat dekat dengan Heru, ayah Amelia. Setelah Heru meninggal, Malik terus menjaga Amelia dan ibunya. Amelia tidak ingin Malik mengetahui segala sesuatu yang sudah dilakukan Ambar dan putrinya kepada mereka berdua.

Mendengar hal tersebut, Malik pun mengangguk dan menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Amelia. "Syukurlah kalau begitu. Ambil dulu uang ini untuk kamu pakai. Beberapa hari lagi aku akan menjenguknya."

"Ayah!" Rissa yang berdiri di dekatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyela.

Awalnya, Rissa mengira ayahnya memanggil Amelia karena ingin menegurnya. Namun, tanpa diduga, ayahnya bukan hanya tidak menegur Amelia, tetapi juga memberikan uang pada Amelia?

Akan tetapi, Malik seakan tidak mendengar kata-kata Rissa dan menjejalkan kartu ATM itu ke tangan Amelia dengan paksa.

Amelia merasa ragu untuk sesaat, sebelum akhirnya menerima kartu ATM tersebut dan berkata, "Terima kasih, Pak Malik. Kalau nggak ada yang lain, aku ke rumah sakit dulu." Setelah berkata seperti itu, Amelia pun berbalik dan pergi.

Baru setelah Amelia pergi, Rissa pun berkata dengan kesal, "Ayah, Amelia sudah berkali-kali melakukan kesalahan."

Maksudnya adalah, mengapa Ayah masih membiarkannya tinggal di sini?

Ambar hendak ikut menyela, tetapi Malik langsung memotong ucapannya. "Ayah Amelia meninggal karena aku dan sekarang ibunya sakit parah. Apa kamu benar-benar ingin aku mengusirnya? Mulai sekarang, jangan lagi membicarakan masalah ini."

Sebelum menaiki tangga, Malik menatap Ambar dengan sorot mata penuh peringatan. "Rissa memang masih belum mengerti. Tapi kamu, apa kamu juga nggak paham? Bukankah kamu sendiri juga tahu bagaimana Heru meninggal?"

Tubuh Ambar langsung menjadi kaku dan menatap Malik yang tengah menaiki tangga.

Rissa yang tidak mendapatkan pembelaan dari ayahnya, diam-diam melampiaskan semua amarahnya pada Amelia. "Ibu!"

"Sudahlah, yang paling penting bagimu sekarang adalah melanjutkan pertunanganmu dengan Jody, dengan tenang. Bisakah kamu bersikap lebih anggun? Untuk apa repot-repot mempermasalahkan pembantu rendahan seperti itu?"

Semua rasa kesal yang terpendam dalam diri Rissa, langsung ditelan kembali oleh Rissa. Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dia sudah menyuruh Amelia untuk menggantikan dirinya. Jika Ambar sampai tahu dirinya sudah tidak lagi perawan, Ambar pasti akan memarahinya habis-habisan.

Setelah pertunangan selesai, apa pun yang terjadi, dia harus mengusir Amelia dari Keluarga Amarta!

Selama beberapa waktu berikutnya, Amelia bolak-balik antara kampus dan rumah sakit tanpa henti. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari Keluarga Amarta, hingga tiba malam pertunangan antara Jody dan Rissa.

Pesta pertunangan itu diadakan di hotel terbesar dan termewah di Kota Areta. Semua tamu yang hadir merupakan tokoh-tokoh terkemuka di Kota Areta.

Pesta pertunangan mewah yang setara dengan pernikahan resmi ini memberikan kehormatan besar bagi Keluarga Amarta.

Akan tetapi, pada saat ini, Malik dan Ambar justru sedang mondar-mandir dengan cemas di rumah sakit!

Semalam, Rissa terlalu banyak minum bersama teman-temannya yang tidak jelas, hingga mengalami alergi alkohol. Sampai sekarang, dia masih terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Namun, pesta pertunangan sebentar lagi akan dimulai.

Hari ini sangat penting bagi Keluarga Amarta. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.

Ambar menatap putrinya yang tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Pikirannya benar-benar buntu. "Apa yang harus kita lakukan…"

Malik merasa kesal. "Bukankah semua ini karena kamu sudah mendidik anakmu dengan sangat baik?"

Ambar sendiri juga merasa tertekan. "Apa gunanya memarahiku sekarang? Kita bicarakan nanti saja setelah Rissa sadar. Satu jam lagi pesta pertunangan akan dimulai!"

Keluarga Bramantya adalah keluarga yang sangat berpengaruh di Kota Areta. Pertunangan Rissa dan Jody ini merupakan kesempatan yang diimpikan semua wanita di Kota Areta.

Jika Keluarga Bramantya sampai tahu putri mereka dirawat di rumah sakit karena berfoya-foya, pernikahan pasti akan terancam batal!

Ambar cemas setengah mati. Dia mondar-mandir tanpa henti di dalam ruang perawatan rumah sakit.

Tiba-tiba, langkah Ambar terhenti dan matanya berbinar. "Itu benar! Amelia, mana Amelia? Suruh gadis itu menggantikan Rissa sebentar dan selesaikan dulu acara pertunangannya!"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 50

    "Apa yang perlu ditakutkan? Ambar juga nggak ada di sini. Lihat saja tingkahnya hari ini yang begitu sombong, merasa di atas angin cuma karena putrinya menikah dengan Keluarga Bramantya. Lihat, betapa angkuh dirinya."Ambar menarik Amelia ke sudut yang agak sepi. Belum sempat Ambar menginterogasinya, Amelia sudah bertanya dengan nada yang tajam, "Apa kamu yang membawa ibuku pergi? Bukankah kamu sudah janji padaku, selama aku menggugurkan kandungan ini, kamu akan mencarikan donor ginjal untuk ibuku?"Ambar memasang wajah tanpa dosa. "Donornya sudah ditemukan, operasinya bisa segera dilakukan. Memindahkannya ke rumah sakit lain juga demi pengobatan yang lebih baik untuknya ke depan. Apa yang kamu cemaskan?""Di mana ibuku sekarang?" Amelia sama sekali tidak memercayai omong kosong wanita ini.Ambar mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video.Di dalam video tersebut, Wulan tampak berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuhnya, tetapi kondisinya ter

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 49

    Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertanya, "Mana Ambar? Mana dia?"Pak Irsan mengerutkan kening dan membentak Amelia, "Lancang sekali kamu, beraninya menyebut nama Bu Ambar secara langsung!"Amelia berbalik. Sepasang matanya yang biasanya terlihat rendah hati dan polos, kini hanya menyisakan kemarahan yang dingin. "Cepat katakan!"Tatapan Amelia yang begitu dingin itu seketika membuat Pak Irsan tertegun dan gentar."Di, di Hotel Zaira," jawab Pak Irsan terbata-bata. Pak Irsan sendiri tidak tahu mengapa, tetapi saat menatap mata dingin Amelia, tiba-tiba muncul rasa takut di lubuk hatinya. "Hari ini Pak Jody menyiapkan pesta ulang tahun untuk Bu Rissa. Pak Malik, Bu Ambar dan Bu Rissa, semuanya ada di sana…"Belum sempat kata-kata

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 48

    "Aaah…"Peralatan medis yang dingin mulai masuk merobek. Rasa sakit yang luar biasa datang menghujam.Wajah Amelia pucat pasi bagaikan kertas. Pupil matanya bergetar hebat.Anak…Anaknya…Amelia baru saja mengetahui kehadiran anak itu, tetapi sekarang dia harus kehilangan anak itu.Rasa sakit yang menusuk tulang berpadu dengan kepedihan di dalam hati Amelia.Amelia pun memejamkan mata, lalu jatuh pingsan…Amelia bermimpi. Dalam mimpinya, dia mendekap seorang bayi yang berlumuran darah. Suara tangis bayi itu seolah menembus langsung ke ulu hatinya.Dalam sekejap mata, bayi itu menghilang. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Jody dengan wajah sedingin es. Amelia berlari terhuyung-huyung ke arahnya. Suaranya parau terisak, "Aku mohon... aku mohon, selamatkan anak kita."Namun, pria itu tidak bergeming. Pada akhirnya, Jody bahkan mendorong Amelia dengan kasar dan mencengkeram lehernya. "Memangnya kamu itu siapa sampai merasa layak melahirkan anakku?"Amelia tertegun. Dia diliputi kepani

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 47

    Mobil Ambar melaju kencang, membuntuti sebuah taksi di depannya. Pengawalnya berkata, "Bu Ambar, dia menuju ke arah Vila Adara."Hati Ambar langsung mencelos, gawat!Jika Jody sampai mengetahui tentang skandal Keluarga Amarta yang menukar pengantin saat pernikahan…Serta fakta jika Amelia sedang hamil…Tamatlah riwayat Keluarga Amarta.Lalu, putri kandungnya yang sudah bersusah payah menjadi istri Jody, akan direbut posisinya oleh wanita murahan itu.Di kalangan elite, latar belakang keluarga yang bersih adalah satu hal. Namun, begitu ada anak yang terlibat, itu urusan lain lagi.Bola mata Ambar berputar dengan cepat. Tiba-tiba, Ambar tersenyum tipis. Dia segera menelepon Amelia, tetapi tidak diangkat. Ambar tidak marah. Dia langsung mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Amelia.[Aku tahu, kamu selama ini mencari donor ginjal yang cocok untuk ibumu. Aku bisa membantumu, asalkan kamu setuju untuk menggugurkan kandungan itu dan menjaga rahasia ini. Ibumu bisa menjalani operasi transpla

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 46

    Menyadari adanya kemungkinan lain, Ambar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rissa. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Ibu?""Nggak ada, Ibu.""Masih berani membohongiku? Amelia hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu. Rissa, apa yang sebenarnya terjadi?""Apa?" Rissa terkejut di dalam hati.Langsung hamil hanya dalam satu malam? Keberuntungan macam apa yang dimiliki Amelia ini?"Rissa, apa kamu berniat menyembunyikannya dari Ibu?" Ambar menyadari ada yang tidak beres dari nada suara putrinya. Dia pun melunakkan bicaranya.Rissa tidak berani memberi tahu Ambar jika dialah yang memberikan obat dan fakta jika dirinya sudah tidak perawan lagi. Rissa pun berkata dengan mencampurkan antara fakta dan kebohongan, "Orang yang bersama Jody di hotel malam itu adalah Amelia. Kebetulan aku memergokinya. Jadi, aku menyuruh Amelia merahasiakannya agar aku bisa berpura-pura menjadi dirinya.""Kamu… Kenapa masalah ini nggak kamu beritahukan pada Ibu sejak dulu?""Ibu, aku, aku

  • Identitas Asli Wanita Kesayangan CEO   Bab 45

    Rissa akhirnya keluar dari rumah sakit tepat sebelum Jody kembali ke tanah air.Alergi Rissa sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuh maupun wajahnya.Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Keluarga Amarta. Begitu Rissa turun dari mobil, Ambar langsung memeluk putrinya itu. "Biarkan Ibu melihatmu. Syukurlah kalau kamu sudah nggak apa-apa. Kamu benar-benar membuat Ibu khawatir.""Ibu, aku janji nggak akan bertindak sembarangan lagi ke depannya."Di samping mereka, Malik dengan wajah serius memanggil Rissa ke ruang kerja dan berkata dengan nada yang tegas, "Masalah ini cukup sampai di sini. Nanti, setelah kamu masuk ke Keluarga Bramantya, sebaiknya kamu simpan baik-baik sifat manjamu itu. Juga… kali ini Amelia sudah membantumu. Pergilah dan ucapkan terima kasih padanya dengan baik.""Aku mengerti, Ayah," jawab Rissa. Namun, dia sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.Menyuruhnya berterima kasih pada Amelia?Jangan mimpi.Malik menggelengka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status