LOGINClarissa Lesmana, si pelayan bar, tiba-tiba diakui sebagai cucu perempuan Keluarga Lesmana. Tapi bukan kekayaan atau keluarga bahagia yang ia dapatkan, melainkan perjodohan. Perjodohannya dengan pria lumpuh, anak pertama Keluarga Adam, Bryan Adam, hanya sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang menuntunnya pada hubungan yang lebih kompleks serta pergolakan emosional yang belum pernah ia rasakan. Bagaimana kelanjutan kisah Clarissa dan Bryan? Apa mereka akan bertahan atau mencari kebahagiaan masing-masing?
View MoreCiara
I looked around the men’s boutique shop, my eyes scanning for the perfect gift for my husband; Ryan as it was our 1st anniversary.
Picking up the brown tie that caught my eye, a smile spread across my face. The shop attendant could see that I was pleased.
“I guess this is the one you are going with?” she questioned; pleased on her part that she’d finally satisfied me.
“Yes, please”
“Then, let me wrap it up for you?”
I handed the tie over to her, “Thank you”
Whilst the attendant wrapped my gift for Ryan, I couldn’t help but remember how we’d first met. It was in a hospital; the same day I’d lost my parents in a car accident.
Ryan happened to have also been involved in a car accident. One thing led to another, I began curious to know the cause of his accidents I’d started working in his house as his caregiver before I knew what was happening next, I was signing a form for a contract marriage with him.
It seemed like a good idea because Ryan seemed like a good guy to me at that time and truthfully, I have never regretted being married to him.
Ryan treats me with respect, way more than I deserved even though our marriage was by name only so this tie I was getting him for our first anniversary didn’t even come close for all he’s done for me.
“Here you go” The shop attendant said handing me a disposable bag.
Taking the bag from her hand; I say with a smile, “Thank you”
As I leave the boutique, I send a quick text to Ryan; “I’ll be at the coffee shop shortly” it read.
“Take your time” came his reply but I was giddy as I couldn’t contain my happiness.
Climbing into my car, I gently placed the disposable bag at the back of the car seat before taking off.
While humming to my favourite song over the radio, I wondered if today would be a good day to make my feelings known to Ryan.
“You can’t be married for over a year without any feelings involved” I muttered under my breath but was still highly conflicted, “But what if my confession drives him away? That’s the last thing I want to happen right now”
I shake my head, dissing the thought. “Let’s hold back for one more day. You are married to him, Ciara. You can always tell him about your feelings tomorrow”
As the coffee shop we were supposed to meet up in; CARLA’S M came to sight, I shook off the last surge of tension that coursed through my veins as I packed my car in the parking lot before lighting down with the disposable bag in my hands.
Pushing the front door of the coffee shop open, I walked in; my eyes searching frantically for Ryan when suddenly my gaze landed on him.
He was looking at his phone with a worried expression written all over his face. He was claded in a brown suit, his brown hair was neatly styled to the back.
I gawked so hard at this fantasy man in front of me and didn’t snap out of it until my phone rang.
Ryan’s eyes met mine and immediately, he rushed up to meet me, “Why didn’t you let me know you were here already? I was worried sick”
I smiled shyly, “I’m sorry”
“Follow me” Ryan led me to our table where he signaled for the waiter, “We’ll have it now”
“You already ordered?” I asked Ryan when the waiter was gone.
“You like taking hot coffee after a long drive”
This. This little gestures of Ryan, him remembering what I liked and what I didn’t like despite us being in a contract marriage, made me fall in love with him.
On his part it could just be that he was being ‘kind’ or being a ‘nice’ guy, maybe it was just me reading too much into his actions, I don’t know.
But these feelings of mine, I was ready to keep to myself until Ryan was ready to take the next step with me.
“That’s right, I got you something” We say in unison as I couldn’t help but blush at the fact that he remembered what today was.
“You go first” I say shyly as Ryan brought out a brown envelope from within his bag and handed it over to me.
“What is this?” I questioned nervously.
Ryan flashed me an encouraging smile, “Don’t be nervous. Go ahead and open it”
I took that as a sign; A good sign that whatever was inside this brown envelope was something I’d like.
It made me more certain about my feeling for Ryan. Today, I thought. I was going to tell him about my feelings for him today.
This envelope, this gift of his to me had only proven that Ryan felt the same way as me and that conclusion made my hands tremble as I opened the envelope.
My eyes met Ryan’s once more as I saw a paper inside the brown envelope.
“Continue” Ryan encouraged and I did. I brought out the paper that was buried inside the envelope and read it’s content.
No sooner had I been able to digest the information from the piece of paper, did it fall from my hands.
My whole body began to quiver as I looked up at Ryan who wore a smug or was it? I couldn’t tell as my vision was blurred with tears.
“What is the meaning of this?” I questioned still in disbelief. Where had it all gone wrong? We were happy, he respected me and so did I…I even fell in love with him so how could he do this to me?!.
“It’s exactly what it says in the paper, Ciara”
“And what is that?” I stubbornly inquired. It was as if I didn’t want to believe what the paper read until Ryan says it with his own mouth.
A part of me still wanted to fight for whatever we still have left; still wanted to protect our marriage.
But then he’d said it. Ryan had uttered those words I so desperately dreaded,”I want a divorce, Ciara”
Interior vila tampak sederhana tapi elegan. Mereka masuk melewati lantai marmer putih. Tampak tirai linen melambai diterpa angin dari luar jendela besar di sisi kanan.Ruang tengah berisi sofa berwarna nude dengan kesan modern. Tapi di salah satu sudut, ada meja kopi bundar dari kayu jati dengan cat yang mengkilat. Di sampingnya ada buku-buku usang di rak perpustakaan kecil.Clarissa mendorong kursi roda Bryan ke pintu di sisi kiri. Memasuki pintu itu, ada tempat tidur besar dengan dipan dari kayu jati yang vintage, kontras dengan spring bed warna putih yang simpel dan modern.Bryan merasa vila ini mengikuti selera seseorang, tidak mengikuti template vila pada umumnya.Clarissa menyimpan barang mereka di kamar. Hanya satu tas jinjing ringan yang berisi dua set piyama dan dua set baju untuk pulang. Mereka sudah akan pulang besok.“Kalau kamu mau lihat situasi pantai, kita bisa ke kedai Mba Lina. Tapi kalau mau lihat kebun di belakang vila juga bisa,” tawar Clarissa.Bryan berpikir sebe
“Pak Andre sudah mengurus wanita tadi,” ungkap Bryan saat mereka ada di kapal menuju ke pulau.Kapal kecil ini disewa khusus oleh Clarissa. Hanya ada mereka berdua dan si pemilik di atas kapal.“Apa tujuannya?” tanya Clarissa dengan ekspresi tenang. Dia sudah tahu, tapi dia yakin alasan sebenarnya tidak akan terungkap.“Dia disuruh salah satu anak buah Rudi, preman yang kemarin kita temui di pantai. Balas dendam,” jawab Bryan.Clarissa mengangguk singkat. Sudah dia duga polisi tidak akan sampai ke dalang sebenarnya. Tapi dia tidak begitu peduli, toh dia bisa mengurusnya sendiri.Clarissa lebih penasaran dengan hal lain. “Apa Keluarga Adam tahu kamu sudah diserang?”Bryan menggeleng. “Lebih baik kita gak beri tahu. Supaya mereka gak perlu cemas. Aku gak kenapa-napa.”Sekilas Clarissa tampak mengerutkan dahi tapi dia langsung bersikap biasa, mengangguk kecil. “Baiklah.”Clarissa berpikir bodyguard yang melindungi mereka adalah orang-orang dari Keluarga Adam yang ditugaskan bekerja di ba
Saat kewaspadaan Clarissa menurun, gunting tajam mengarah ke wajahnya. Bryan secara refleks memajukan badan, mengulurkan tangan, merebut gunting itu.Bryan berhasil meraih gunting dari wanita pengepang. Sementara Clarissa memukul tangan si wanita sampai wanita itu terjatuh di pasir kesakitan.Tiga orang pria berpakaian santai bak pengunjung biasa tiba-tiba muncul menahan wanita itu. Satu orang pria berhasil menahan si wanita, dua pria lainnya mundur tanpa kata, kembali melakukan rutinitas mereka seolah tidak terjadi apa-apa.Clarissa mengenal salah satu pria yang baru saja pergi. Dia adalah anggota kakaknya. Walau tak tahu namanya, dia mengenal wajah tidak asing si pria. Dia di sini pasti untuk melindunginya. Sementara dua pria lain termasuk pria yang berhasil menahan si wanita tampak asing.Tapi melihat kemunculan mereka yang cepat dan tiba-tiba, dia yakin mereka bukan orang lewat biasa. ‘Apa mungkin selain karena Pak Andre, mereka alasan Bryan bersikap tenang kemarin? Dia sudah meny
“Oh iya, ini!” Clarissa membuka telapak tangannya di depan Bryan, menunjukkan batu bermacam motif yang mengkilat.“Cantik, kan?” tanya Clarissa dengan nada pamer.Bryan tertawa kecil. “Cantik seperti orangnya.”Clarissa tak menyangka Bryan akan tiba-tiba berucap seperti itu. Dia ingin menyentuh pipinya karena salah tingkah tapi baru sadar kalau tangan kanannya masih digenggam oleh Bryan, alhasil jari Bryan menyentuh pipi lembut Clarissa. Membuat si gadis makin salah tingkah.Bryan menahan senyum. Apalagi saat Clarissa hendak melepas genggaman tangan mereka. Bryan justru makin mengeratkan pegangannya.“Ayo kita lanjut lihat-lihat lagi,” ajak Bryan santai. Clarissa hanya bisa mengangguk.Mereka kembali berjalan di pinggir patai tapi kali ini pikiran Clarissa tidak bisa fokus menatap keindahan pasir dan laut. Pikirannya terlalu fokus pada genggaman mereka.Bryan tersenyum lebar selama mereka berjalan-jalan. Dia mengomentari banyak hal yang dibalas Clarissa dengan deheman. Bryan tidak mar
Tiga wanita menatap kemunculan Bryan dengan tatapan terkejut. Fitri mengamati sosok Bryan yang tetap terlihat berwibawa walau duduk di kursi roda.Dia ingat, saat masih kecil Bryan selalu menjadi panutan untuk anak-anak seumurannya. Veronica, nenek Bryan, yang juga sahabat Fitri, sangat menyayangi
Mata Fitri berbinar menatap Clarissa. “Maaf nenek meragukan kemampuanmu tadi.”“Aku juga minta maaf sudah kasih komentar sembarangan ke hasil sulaman nenek.” Clarissa menatap mata Fitri.Fitri benar-benar melihat sosok Hendi pada Clarissa. Dia menggeleng. “Tidak, kamu benar. Hasil sulaman nenek mem
“Kalian sudah makan?” tanya Fitri, basa-basi.Cucu dan cucu menantunya itu mengangguk serempak. Mereka berdua sangat serasi. Yang satu cantik dan elegan, sementara yang satunya tampan dan berwibawa. Aura mereka berdua terlalu kuat untuk kedudukan yang mereka miliki sekarang.“Sepupu, ini rumah kake
Clarissa dan Bryan kompak menoleh pada tiga orang pria yang berjalan ke arah mereka. Pria yang berjalan paling depan berbadan pendek dengan mulut yang berbentuk kerucut. Dia yang bicara tadi.Di samping pria itu ada lelaki berbadan kurus dan tidak terlalu tinggi dengan bekas luka di wajahnya. Dia m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.