로그인“Selamat malam, saya sudah tunggu dari tadi, khawatir sekali kalian tak datang,” sambut Mr. Ferdinand. Felicia meremas kedua tangannya yang berkeringat. Dia tercekat tak menyangka Mr. Ferdinand akan mengatakan hal itu di balik tatapan tajamnya.Sue melangkah ragu, dia tertegun dengan rumah besar yang tak pernah dia bayangkan. “Huah! Besar sekali rumah Kakek,” katanya pelan dengan mata berbinar. “Sini! Masuk sini anak cantik,” panggil Kakek sambil merentangkan tangannya. Sue berjalan pelan. Dia ingat pesan Mamanya untuk bersikap sopan di rumah Kakek. Begitu dekat, Sue mengangguk hormat dan Mr. Ferdinand langsung memeluknya.“Selamat datang di rumah Kakek,” sapanya.Pria berumur itu memangku Sue sementara Felicia dan Barney duduk di sofa. “Felicia, terima kasih kamu sudah memenuhi undangan saya. Saya sangat khawatir dengan kesehatan dia,” katanya sambil membelai lembut rambut Sue. Sue benar-benar bersikap manis. Bahkan ketika dia tergoda untuk mencicipi kue coklat, dia hanya mema
Waktu memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan luka. Satu bulan telah berlalu sejak badai yang hampir merenggut nyawa Sue di ruang operasi. “Hahaha! Mama lihat, itu kucingnya suka makan ikan,” tawa Sue ketika melihat serial anak-anak di televisi.Kini, tawa renyah gadis kecil itu kembali menggema di sudut-sudut rumah. Sue sudah benar-benar sehat. Pipinya yang sempat tirus kini kembali montok, bahkan bantal donat pemberian Ariella selalu setia berada di dekapannya.“Gimana, Louis, pesanan banner toko De Lestroy apa sudah dikirim” tanya Felicia.“Sudah, Ms. Feli. Dia bahkan memberikan bonus apel karena terlalu bagus katanya,” jawab Louisa. Felicia yang belum aktif sepenuhnya tetap memantau pekerjaan di kantor.Seiring berjalannya waktu, kehidupan Felicia pun perlahan kembali ke relnya. Entah karena berkah setelah ujian berat atau memang kualitas kerja timnya yang semakin solid, pesanan di kantor bertambah banyak dari waktu ke waktu. Kesibukan menuntut fokusnya, namun hatinya jau
Dokter keluar sambil mengusap dahinya yang berkeringat.“Bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?” tanya Felicia panik. Suaranya bergetar hebat, tangannya saling meremas satu sama lain.Baru kali ini dirinya merasa sepanik ini.Dokter melepas maskernya dengan perlahan. Wajah muramnya terlihat begitu letih, menyiratkan betapa kerasnya perjuangan di dalam ruang operasi tadi. Dia menghela napas panjang sebelum menatap Felicia.“Syukurlah Anda cepat membawa kemari. Terlambat sedikit saja, kami tidak akan bisa menolongnya,” jawabnya dengan senyum tipis yang tulus.“Oh, syukurlah,” isak Felicia. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang pelan oleh rasa lega yang luar biasa.Barney yang berdiri di sampingnya segera menepuk pelan bahu Felicia.“Sue anak yang kuat, Fel. Dia berhasil melaluinya,” bisik Barney, berusaha memberikan ketenangan.Mr. Ferdinand melangkah maju, memecah kecemasan yang tersisa. “Tolong berikan perawatan dan kamar terbaik buat dia, Dok. Jangan
‘Dasar brengsek! Datang-datang langsung nyerang!’ umpat Barney dalam hati.Dia melangkah maju, siap membalas jika Ariella kembali menyerang. "Ada masalah apa kamu sama aku, hah?”Ariella tidak mundur selangkah pun. Dia justru maju, mencengkeram kerah kemeja mahal Barney dengan kedua tangannya, memaksa pria itu menatapnya dari jarak dekat di bawah temaram lampu jalanan."Aku kecewa sama kamu, Barn! Benar-benar kecewa!" desis Ariella dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. “Aku nggak punya masalah sama kamu! Lepaskan!” bentak Barney, dia menyentakkan tangan Ariella dengan kasar. “Apa kamu tahu? Felicia nggak terima aku gara-gara dia cinta sama kamu!” bentak Ariella. Dia mengungkapkan unek-unek dan semu kekecewaannya. Degup jantung Barney berdetak lebih kencang mendengar penuturan Ariella. “Terus apa masalahmu?” tanya Barney.“Aku kecewa, kenapa harus kamu yang dipilih? Kenapa harus kamu yang dipanggil Papa oleh Sue?” teriak Ariella. Barney diam dengan s
“Aargk! Sakit! Sakit sekali!” teriaknya di sela raung tangisan yang menyayat.Bruk!Gadis kecil itu membungkuk lalu terduduk di bawah.Felicia yang baru saja melepas sepatunya sangat terkejut. “Sue! Kenapa Sue?”Dia berlari mendekati anaknya dengan wajah pucat.“Sakit! Perut Sue sakit sekali!” teriaknya sambil mulai bergulung. “Sue! Kenapa Sue?” panik Ariella dan Felicia bersamaan. Ibunya berlari dari belakang dan membelalak melihat kondisi cucunya.Tanpa banyak bicara Ariella langsung menggendong Sue.“Kita harus cepat ke rumah sakit sebelum terlambat!” kata Ariella. Sementara Felicia berlari ke dalam mengambil tasnya lagi.“Aku ke rumah sakit, Bu. Ibu jaga rumah dulu, ya,” pamitnya cepat lalu berlari menyusul Ariella. Ibu terdiam sepersekian detik. Kejadian mendadak ini membuatnya keluh. Lututnya gemetar.Pikirannya kembali saat kabar suaminya kecelakaan kerja di kapal. Semuanya terjadi sangat cepat. Bahkan seakan belum satu helaan napas, semuanya sudah berakhir.“Semoga nggak t
“Ms. Felicia semua sudah dibersihkan, bagaimana dengan para preman ini?” tanya Louisa ketika melihat Felicia baru saja masuk ruangannya. Tatapan tajam Felicia mengunci mereka satu persatu membuat preman-preman kelas teri ini menundukkan kepala.“Urusanku sudah beres. Sekarang kalian aku izinkan pergi, tapi ingat … jangan sekali-sekali ganggu aku dan dia lagi!” Tangan Felicia menunjuk pada Louisa yang duduk di sudut ruang lainnya. “I–iya, kami mengerti,” jawab pimpinan preman. Felicia menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Tanpa dikode dua kali, para preman itu segera melarikan diri. Setelah tinggal mereka berdua, Felicia mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sudah terlihat lebih manusiawi.“Ada jadwal apa kita hari ini?” tanyanya.Asistennya yang cantik itu segera membuka laptop. Untung saja laptop kerjanya tak jadi sasaran para preman tadi. “Hari ini kita kosong, Ms. Feli. Tapi besok, kita ada presentasi di Collari Group,” jawab Louisa. Felicia tampak berpikir sejenak. “Oke.







