LOGINAyudia prasasti, gadis yatim piatu yang diasuh oleh Kakek dan Neneknya. Ayudia begitu bahagia ketika kedatangan pengasuh pondok pesantren besar di kampung sandur. Abah Ahmad dan Umi Aida datang kerumah sang Kakek untuk melamar Ayudia. siapa yang tak bahagia ketika dilamar untuk dijadikan seorang istri Muammar. pria muda yang Soleh, pria yang menjadi idaman semua gadis. pasti banyak santri yang akan patah hati. sedangkan Muammar menolak keras perjodohan tersebut, namun apa mau di kata.. keputusan Abah tak bisa ditentang. Ammar terpaksa menjalani pernikahan itu. "aku tetap memilih Nur, Bah. meski saat ini statusku adalah suami Ayudia." hati Ayudia hancur lebur mendengar suaminya memuji perempuan lain. Sampai takdir berhasil memisahkan mereka karena suatu diagnosis dokter. Ammar merasakan penyesalan, Ammar menangis karena disaat itulah ia menyadari cinta tumbuh untuk Ayudia, bukan Nur. bagaimanakah akhir cinta Ayudia?? akankah Ayudia hidup bahagia dengan Adam? atau, kembali pada Ammar? selamat membaca.
View MoreTiga hari sudah Ammar menjabat sebagai suami dari Ayudia Prasasti. Ia sangat menikmati perannya tersebut. Ia ingin menjadi suami yang terbaik untuk Ayudia, tidak akan mengulang kesalahan dahulu, atau bisa fatal akibatnya. Selama tiga hari, Ammar senantiasa membantu Ayudia dalam hal apapun. Ia cekatan merawat Fa dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring dan mencuci pakaian. Ammar juga memutuskan untuk tidak pergi ke luar kota, dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Sementara hanya menerima pekerjaan dari rumah, agar bisa menghabiskan banyak waktu bersama.Hari ini, Ammar mengajak Ayudia untuk pindah ke rumah baru mereka. Tempat yang akan menaungi hari-hari keluarga kecil Ammar ke depan. Rumah yang berhasil Ammar wujudkan dalam kurun waktu satu bulan. Ia mendesain sendiri rumah itu. Berkonsep minimalis dan estetik. Sengaja Ammar hanya memberi dua kamar pada rumah tersebut, dengan alasan agar Ayudia tidak kelelahan membereskan pekerjaan rumah saat ia sedang ke luar k
Ayudia mematut dirinya di depan cermin, memandang dan menatap detail tubuhnya yang terbalut gamis berwarna navy dengan kerudung senada, menutup sampai di bawah perut. Pakaian sederhana berbahan brukat tanpa pernak-pernik apapun. Namun, aura kecantikan tetap memancar dari wajah ayu itu. Ia memoles bedak dan lipstik. Tidak perlu foundation, tidak perlu eyeliner, blashon dan lain sebagainya. Ayudia pikir, hanya lamaran, tak perlu tampak berlebihan juga.Fa juga terlihat tampan dengan kemeja abu, pakaian yang Ammar belikan. Bocah kecil itu anteng sekali sejak tadi, seakan ia paham benar suasana hati sang ibu. Bahagia. Sudah pukul delapan malam, Ammar juga sudah mengabarkan jika ia sudah berjalan dengan rombongan menuju rumah Ayudia. Akan tetapi, sudah lebih dari sepuluh menit belum juga sampai."Mbak, ayo keluar. Mas Ammar sudah datang. Biar Fa, aku yang gendong.""Sudah sampai? Kok ndak kedengeran suara mobil?"Najma tersenyum, "Ya ndak, orang jalan kaki."Ayudia membelalak, kurang yakin
Dua hari kemudian Ammar baru menanyakan lagi perihal jawaban Ayudia. Sebab ... semakin ditunggu, Ayudia justru semakin kelihatan menjauh, membuat Ammar dilanda kegalauan. Dengan amat sangat terpaksa, Ammar membuang urat malu dan melapisi wajahnya dengan tembok, Ammar menagih jawaban Ayudia. Dengan santai dan hanya dalam sebuah pesan singkat. Ayudia menjawab dengan Jawaban yang masih sama. Tetap iya, membuat Ammar merasa bingung akibat tak mau terlalu percaya diri dulu dan akhirnya kecewa. Lalu ia desak lagi agar menuliskan jawaban yang jelas menggunakan kalimat, bukan sekedar satu kata. [Iya, Dia mau kembali dengan Kakak.] Pesan yang Ayudia kirim barusan, Ammar pandangi sampai lama, sampai seluruh kepingan jiwa dan kewarasannya kembali. Lalu ... "Yey! Yes! Alhamdulillah ya Allah ...! Alhamdulillah! Hore ... Umi ... Dia mau, Dia mau, Mi ....!" Umi tidak heran, sebab beliau begitu paham dengan tabiat anaknya yang memuja Ayudia. Janggal jikalau Ammar tidak jingkrak-jingkrak. Jika sud
Ayudia memanggil-manggil Umi dan Abah. Sayangnya tidak ada sahutan. Albi lalu meninggalkan Ammar di kursi saja, dan pergi keluar. Fatma malah meringkuk dengan Fa, tidak mungkin Ayudia membangunkan, yang ada Fa akan kaget. Akhirnya ia sendiri yang menangani Ammar."Kak, Dia siapkan air hangat untuk mandi ya? Tapi di kamar mandi belakang, Kakak ambil bajunya dulu di kamar.""Ndak kuat, Dia ... tolong sekalian."Meski ragu-ragu, Ayudia tetap membuka pintu kamar Ammar, lalu menghidupkan lampu kamar."Dia ..." Panggil Ammar,Ayudia terlonjak, "Ya.""Ehm, itu ... itunya ... ndak usah."Ayudia berbalik dan mendekati Ammar. Ia tidak mengerti apa yang sedang Ammar bicarakan. "Itu itunya itu apa sih, Kak?""Ya itu, ndak usah. Di belakang ada."Ayudia menggeleng, masih tidak paham ia melengos dan masuk ke kamar lalu membuka lemari. Barulah saat pupilnya menangkap segitiga berkerut, bulu kuduknya meremang. Ia baru memahami ucapan Ammar tadi. Mengalihkan pandangan lalu menarik satu kaos dan celana
Ayudia masih berduka, berturut-turut ditinggal orang-orang tercinta bukan perkara mudah. Apalagi usai semua pergi, Ayudia dengan terpaksa akan meninggalkan pulau terpencil itu demi jalani hidup. Seperti sepeninggal Atuk kemarin, rombongan Abah mendahului undur diri. Adam menemani hingga Ayudia siap
Sepuluh hari berlalu sejak kunjungan Adam, komunikasi terjalin baik. Jarang ada kelonggaran dalam tujuh hari, Minggu juga sudah terjadwal di kebun. Ayudia nikmati semua, tujuan majukan pendidikan generasi Kipyuh akhirnya terbayar. Proposal yang ribuan kali dikirim, kini sudah dibalas pembesar dengan
Ayudia tak hapus senyum dari datang tadi sampai sudah menjelang pulang. Gurat sedih lenyap, wajah mulus itu terlihat amat manis, lain dengan kala tinggal di pesantren. Entah sudah bangkit, atau ia memang perempuan pandai menelan kepahitan tanpa mau makhluk lain mendengar kecuali diri sendiri. Tentu
Minggu pagi ...Redup dengan sayup-sayup alunan daun, membelai sejuk wajah pria hitam manis. Dari petang, ia sudah berkemas. Siapkan seluruh perbekalan untuk sambang ke kampung nan jauh di ujung barat. Ada beberapa lempeng obat-obatan, ada gula khusus yang rendah akan kandungan kalori. Juga dua lemba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore