Masuk“Felix!”Suara seseorang menghentikan langkah Felix, yang wsudah bersiap untuk membawa Lena pulang. Perlahan pria dingin itu menoleh ke arah pintu, dan terlihat seorang wanita cantik sedang berdiri di sana dengan senyum manis dan tatapan penuh kerinduan. Seketika tatapan Felix menajam, membuat aura di ruangan tersbut mnjadi semakin dingin dan mencekam.Semua orang terdiam, tatapan mata tertuju ke wanita yang baru datang tersebut, seolah sedang menantikan apa yang akan terjadi setelahnya. Sementara Fellix, hanya sekilas saja menatap wanita itu, dan langsung memalingkan wajahnya tanpa mau melepaskan genggaman tangannya pada sang sekretaris.“Mau apa, Kau, ke sini?” tanyanya dingin, mmbuat wanita itu membeku di tempat.“Sa...Sayang, A…ku---,”“Jangan pernah panggil aku , Sayang, jijik dengarnya!” potong Felix, dengan tatapan membunuh. “Katakan! Jangan buang-buang waktuku!” lanjutnya lagi.“Aku…mau ngajak, Kau, ke rumah. Papa, ingin bicara denganmu,” jawab wanita itu, setelah berusaha men
“Apa, Kau, sudah sudah menikah?” tanya Marck dingin.Lena terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan tanpa berani menatap kedua pria dingin di depannya itu. Bryan tersenyum tipis, kemudian menggeleng pelan merasa konyol dengan pertanyaan, Marck. Tapi dengan cepat Dokter tampan itu menetralkan kembali raut wajahnya.Tatapannya kembali pada wanita di depannya, “Kau, sedang hamil tetapi masih memaksakan diri untuk bekerja, itu tidak baik untuk kesehatan dirimu dan juga bayi dalam kandunganmu yang cukup lemah itu,” ucap Bryan, yang terdengar lebih kepada sebuah peringatan.Wajah Lena, semakin tertunduk. Jari jemarinya saling meremas, hal yang selalu tanpa sadar dia lakukan saat merasa cemas. “Saya, butuh uang untuk membiayai hidupku, dan calon anakku,” ucapnya pelan, nyaris berbisik karena gugup dan takut.Bryan mengernyitkan alis, lalu menoleh ke arah Marck. Sejenak pandangan mereka beradu, seolah saling berbicara melalui tatapan mata mereka. Hal tersebut hanya terjadi bebe
Felix mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya campur aduk. Ingin cepat sampai ke kantor, untuk memastikan kondisi sang sekretaris barunya, yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan pingsan. “Huh!” napas berat dia hembuskan dengan kasar, “Ternyata, Kau, sangat pintar bersembunyi,” ucap Felix. Bibirnya tersungging senyum yang selama ini hampir tidak pernah dia perlihatkan di hadapan orang lain, kepalanya menggeleng pelan. Ada rasa percaya dan tidak, karena dia tak menyangka jika ternyata wanita itu selalu ada di sekitarnya.Felix memutar arah laju mobilnya. dia berubah pikiran, ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor dan bertemu dengan sekretarisnya. Beberapa menit kemudian, Felix sampai di tepi danau buatan yang memiliki air sangat jernih, serta di kelilingi oleh bunga yang berwarna warni, serta pohon-pohon rindang yang sangat nyaman untuk sekedar merilekskan pikiran sementara waktu.Felix duduk di salah satu kursi yang terletak di bawah pohon ri
Felix terbangun dari tidurnya dengan napas yang memburu, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Untuk sesaat, dia hanya diam sambil memperhatikan sekitarnya. Felix dalam kebingungannya, “Ah, sial!” geramnya.Perlahan, Felix bangkit dan berjalan kearah jendela yang masih tertutup hordeng. Seketika cahaya dari luar rumah menembus jendela, saat tangan Felix bergerak membuka hordeng. Pria itu berdiri diam, sambil memandang keluar jendela yang mengarah ke samping rumah. Tampak di luar sana, ada beberapa anak buah yang sedang berlatih beladiri, ada juga yang sedang berlari keliling halaman samping. Tapi fokus Felix tidak ke mereka, pikirannya masih melayang mengingat mimpinya barusan. “Elle ---,” gumam Felix,napas berat dia hembuskan. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba, Kau datang ke dalam mimpiku?” berbagai pertanyaan muncul dalam otaknya.Felix memejamkan matanya, ingatannya kembali pada sosok Hellena dengan tubuh kurus dan perut buncitnya. Seketika rasa sesak menyeruak dalam d
“Sial! Kenapa aku sampai melupakan keberadaan istri dan calon anakku?” gumam Felix, sangat pelan sehingga hanya dirinya sendiri yang mendengar. Seketika matanya terpejam dengan tangan terkepal erat. Ada rasa nyeri yang menyerang hati, terbayang kembali perlakuannya terhadap Hellena, sang istri kontrak. Perlahan pria itu berbalik badan, tanpa sepatah kata berjalan keluar meninggalkan ruangan. Langkahnya lebar, dengan tatapan dingin yang menebarkan aura mencekam terhadap orang di sekitarnya. Tanpa menoleh lagi, Felix terus berjalan cepat meninggalkan kantor beserta orang-orang terdekatnya dalam kebingungan. Masuk ke dalam lift, pria itu menyandarkan tubuh di dinding lift dengan mata terpejam dan tangan terlipat di dada. Bayang-bayang kejadian lalu, saat dia dengan tega menyiksa dan menganiaya Hellena, kini hadir kembali mengusik hati dan pikirannya. “Kau benar, Elle, aku memang manusia iblis yang tidak punya hati! Bahkan aku hampir membunuh calon anak kita!” ucap lirih Felix, penuh p
Sepulang dari pertemuannya dengan, Tuan Clark, wajah Felix, semakin datar dan dingin. Membuat aura di sekitarnya terasa mencekam. Begitu turun dari mobil, Felix pergi begitu saja menuju ruangannya. Meninggalkan Mark, dan Lena, yang dibuat pusing dengan sikap bosnya yang terlihat marah.Lena melihat ke arah, Mark, dan kebetulan pria itu juga sedang melihat ke arahnya. "Kenapa, Tuan Felix seperti orang sedang marah ya? Bukannya kita tidak membuat kesalahan?" ucap Lena, pelan. Seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri."Jangan terlalu ingin tau urusan orang lain!" tegas Mark, dengan wajah yang tak kalah datarnya dengan sang bos. Setelahnya, dia langsung pergi begitu saja, meninggalkan Lena yang masih terbengong, merasa heran dengan sikap dua pria tersebut."Uh! Mau heran, tapi ini manusia kulkas, jadi ya sudahlah. Biar aku saja yang menjadi api untuk membakar dua manusia es berjalan itu," gumam Lena, sambil terkekeh geli, menertawakan ucapannya sendiri.Tanpa menunda waktu, wanita
Pria tua tersebut masih tertawa sambil terus mengejek Felix, dengan sombongnya dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon polisi, “Maaf mengganggu, saya hanya ingin Anda membantu untuk menangani seorang yang ada di kota yang Anda jaga ini!” Setelah menelpon, pria tua itu menatap nyalang Felix. Dengan
“Aku tidak mengizinkanmu pergi sebelum memastikan benihku membuahi rahimmu atau tidak!” Felix yang mengenakan kemeja formal putih berhasil mengejar Hellena dan menghampiri wanita itu. Alasan terdengar konyol hingga membuat Hellena terkekeh dalam keadaan menangis. Tenggorokan rasanya tercekat untuk
Wanita yang bernama Queen tersebut melerai pelukannya pada lengan Felix, lalu menatap wajah dingin pria itu dengan senyum manis di bibirnya, "Bukankah kita mau pergi keluar kota bersama, untuk bulan madu?"'Deg!' Jantung Hellena bagai disambar petir hingga hancur berkeping-keping, saat mendengar su
‘Membatalkan pernikahan dengan orang yang sudah mengambil kesucianku? Haruskah?’ Gamang hati Hellena memikirkannya. Gadis yang telah menjadi seorang wanita seutuhnya itu berpikir keras, dan akhirnya …. “Ini sudah terjadi atas persetujuanmu. Kau tidak bisa menyalahkanku di kemudian hari jika menyes







