LOGINDemi biaya perawatan putra tunggalnya, Sandra Araya harus rela jadi istri muda seorang CEO yang jelalatan. Bukan hal yang mudah baginya menjadi istri kedua karena istri tua pria paruh baya itu juga termasuk orang yang kejam dan selalu mengatainya begitu rendah seakan Sandra adalah wanita murahan. Mampukan Sandra mempertahankan pernikahannya yang hanya demi harta CEO tua bangka itu?
View MoreValerie
"Tell me this is a sick joke, Dante."
"Lower your voice," he snapped, not even bothering to look at me as he shoved my clothes down the rack.
I stood in the doorway of the Master Suite, my nails digging so hard into my palms that the skin nearly broke. My mate—the Alpha of the Silver Crest Pack—was casually clearing out my side of the walk-in closet.
"You are not moving her in here."
"I'm the Alpha, Valeria. I do what I want." He tossed a stack of my sweaters onto the bed. "Elara needs the space. She’s fragile right now."
"She’s your brother’s widow!" I yelled, stepping into the room. "Not your mate!"
Dante finally turned around. His jaw was clenched, his dark eyes freezing over with that familiar, heartless indifference he reserved only for me. "Leo is dead. His mate and his pup are my responsibility now."
"Responsibility is putting them in the guest wing! Not moving her into our bedroom and treating her pup like your own!" I shot back, my chest heaving. "I am your Luna. This is my room."
"You haven't acted like a Luna in months."
The words hit me like a physical blow. "Because you shut me out! I bled for you, Dante. I held the northern borders while you were in London for business, and this is how you repay me? By discarding me for a fragile girl who can't even tie her own shoes without crying?"
He closed the distance between us in a second, his towering frame casting a dark shadow over me.
"Watch how you speak about her," he growled. "She has been through hell."
"And what am I going through right now?" I demanded, refusing to back down even as my wolf whimpered at the harshness of his tone. "You're tearing our bond apart for her."
"You're being dramatic. Pack your things, Valeria. You're moving to the east wing."
"No."
Dante’s eyes flashed with pure Alpha command. "It wasn't a request."
"Dante?"
A soft, trembling voice echoed from the hallway. We both turned to see Elara standing there. She wore one of Dante's oversized shirts, her blonde hair messy, clutching her four-year-old son to her hip. She looked small. Pathetic.
"Is everything okay?" she whispered, shrinking back against the doorframe as if my mere presence terrified her.
Dante's entire demeanor instantly shifted. The cold, ruthless tyrant vanished, replaced by a gentle protector. It made me sick.
"Everything is fine, Elara," Dante said smoothly, walking past me to place a comforting hand on her shoulder. "Valeria was just leaving to get the rest of her things out of your way."
"I don't want to cause trouble," Elara murmured, looking down at the floor. "If Valeria hates me being here, I can just leave..."
"You aren't going anywhere," Dante interrupted, shooting me a glare. "This is your home now."
"I’m not leaving my room, Dante.”
"Yes, you are," he replied, turning his back on me to escort Elara down the hall. "Have your stuff out by tonight, or I'll have the Omegas burn it."
I stood alone in the center of the bedroom. I was a ghost in my own home.
The tension in the dining hall was suffocating.
Over a hundred elite pack members sat at the long wooden tables, the clinking of silver against porcelain the only sound daring to break the atmosphere. Everyone felt it. The humiliation radiating from the head table.
I sat in my usual chair to the right of the Alpha. But the chair to his left—traditionally empty—was occupied by Elara. And her son sat directly on Dante’s lap.
"Open up, buddy. Here comes the airplane," Dante cooed, feeding the boy a piece of chicken.
Whispers erupted from the lower tables. I kept my eyes fixed on my plate, my food entirely untouched. My jaw ached from how hard I was grinding my teeth.
"Pass the salt, Valeria," Dante ordered without looking at me.
"Valeria. The salt."
"Get it yourself," I said quietly.
The entire hall went silent. Forks paused mid-air. Elara let out a small gasp, covering her mouth with her hand.
Dante slowly set the fork down. He shifted the boy off his lap and handed him to Elara. "Take him to the kitchen, Elara. Get him some dessert."
"Dante, please don't be mad—"
"Go, Elara," he said, his tone leaving no room for argument.
She scurried away, playing the perfect victim, leaving me alone with the monster I was mated to. Dante slowly turned his head to look at me. His eyes were entirely black. His wolf was at the surface.
"Stand up," he commanded.
I met his gaze, my own pride forcing my chin high. I stood.
"You think you can disrespect me in front of my pack?" he asked, his voice echoing off the walls.
"You disrespected me the second you put her in my seat at this table," I fired back. "I am the Luna of the Silver Crest. Not her."
"You are nothing but an entitled brat who cares more about a title than the survival of this family," Dante sneered, standing up to match my height.
"Survival? She's wearing your clothes, sleeping in my bed, and acting like she owns this pack! You are blind, Dante!"
"Shut your mouth!" he roared, slamming his fist onto the table. The wood cracked under the sheer force of his anger. Several pack members flinched.
"Make me," I challenged, the pain in my chest morphing into reckless, blazing anger. "Reject me then, Dante. If you want her so badly, do it. Say the words. Sever the bond right now."
I waited for it. A part of me craved the rejection just to end the agonizing daily torture of his indifference.
But Dante just laughed. It was a dark, humorless sound that sent a chill down my spine.
"Reject you?" he mocked, leaning in close so only I could smell the malice rolling off him. "Why would I reject you and give you the satisfaction of walking away free? No, Valeria. You are going to stay right here."
"I won't be a prisoner in my own pack."
"You don't have a choice." Dante turned to face the silent, watching crowd. He raised his voice, projecting his Alpha command across the room. "Hear me! From this night forward, Valeria is stripped of her Luna duties."
Gasps echoed through the hall. My heart plummeted into my stomach.
"Dante, stop," I whispered, the first crack of genuine panic breaking through my voice.
He ignored me, his eyes locked on the crowd. "She has proven herself unstable, selfish, and unworthy of the title. Elara will assume all Luna responsibilities regarding pack welfare and internal affairs."
"You can't do this!" I screamed, lunging forward, but his hand shot out, wrapping around my throat.
He shoved me backward, and I stumbled, catching myself on the edge of the table.
"It's done," Dante said coldly.
"You are stripped of your rank. You will move to the Omega quarters tonight."
"Ya, semoga," ulang Tirta lalu tersenyum simpul pada Lexus. "Aku pamit dulu, aku ada kerjaan," Tirta langsung melepas pelukan bocah kecil itu kemudian melangkah meninggalkan ibu dan anak itu di ruangannya.Wajahnya masih datar saat dia tiba di depan pintu kayu yang cepat-cepat dia tutup kembali dengan cuping bibir yang dia tinggikan. "Aku benci anak kecil," tuturnya sambil melangkah cepat menuju ruang kerjanya.Saat itu, Sandra masih tidak tau kalau Tirta punya alergi pada anak kecil. Dia terus mengganggap kalau Tirta adalah pria baik seperti yang tampak selama ini. Wanita yang lama menjanda itu tetap yakin jika hidupnya akan sangat terjamin saat dia mempertahankan pernikahannya dengan Tirta meski sikap Tina, istri tuanya tadi pagi begitu kasar padanya.Di sudut rumah, Tirta nampak mendekat ke arah jendela kemudian membuka tirainya lebar. Dia lalu duduk di mengahadap jendela bertinggi 3 meter itu sambil menata ke halaman rumahnya yang malam itu sudah sepi.Tidak ada orang melintas di
Diam!Sandra berteriak sekencangnya lalu mendorong Tina kuat hingga wanita paruh baya itu hampir terjatuh ke lantai namun untungnya seorang pelayan yang ada di belakangnya berhasil menghalangi laju jatuhnya istri pertama Tirta.Aduh!Tina berhasil berdiri lalu mendekat ke arah Sandra yang memang secara usia masih jauh lebih kuat darinya. "Berani kamu sama aku!" teriak Tina membuat Tirta terpaku melihat wajah istri pertamanya yang penuh amarah. "Dasar wanita tidak tau malu!" "Heh!" Sandra bertolak pinggang lalu membusungkan dadanya seakan siap untuk menerkam wanita tua kasar ini. "Kamu boleh marah padaku, Nyonya. Tapi kamu harus ingat kalau aku juga istri resmi dari Tirta. Kami menikah secara tercatat dan tidak ada orang yang boleh meneriakiku dengan perkataan rendahan itu,""Apa?" Tina menoleh cepat ke arah Tirta dan menatap pria yang sudah menikahinya berpuluh tahun itu dengan penuh amarah. "Kamu menikahinya secara resmi?" tanya Tina masih belum mempercayai apa yang dikatakan oleh S
"Kenapa kamu marah? Memang dia bukan istri sahmu, kok. Istri sahmu cuma aku!" ketus Tina yang juga dipanggil Madam oleh pelayan di rumah ini."Kamu tau kenapa aku begitu membencimu?" tatap Tirta begitu marah pada istri pertamanya. "Kamu selalu saja dingin padaku dan tidak pernah menghargaiku!"Tina terdiam sesaat lalu melirik ke arah Surti yang masih saja melotot melihat sikapnya yang kasar. "Oh, jadi kamu mau membela anak perempuan miskin ini di depanku?" tanya Tina lalu meraih tangan Surti dengan kasar. "Apa hebatnya dia dibanding aku, Tirta!"Tirta meraih tangan Tina lalu melepaskan cengkraman tangan istri pertamanya dengan kuat. "Jangan sakiti dia!""Oh, jadi seperti itu kamu di depanku sekarang? Karena apa? Karena dia punya lubang yang lebih hangat?" kesal Tina membuat tangan Tirta ingin sekali menghempas wajah istri pertamanya tapi tidak. Dia meremas kembali jemarinya karena meskipun dia pria yang tidak mencintai istri pertamanya, tapi dia tidak boleh melakukan ini."Apa?" tanya
"Wah!" Lexus memeluk lagi Tirta dengan hangat kali ini lebih erat dari yang awal dia lakukan. "Terima kasih, aku pasti sangat senang jika bisa menginap di sini, Tuan... Eh... Papa?""Hahahhaha!" tawa Tirta mengelegar membuat semua orang di ruangan itu ikut tertawa. Mereka melanjutkan pertemuan pertama Tirta dengan canda tawa sambil tentu menikmati semua makanan yang tersedia di meja yang sudah diantar pelayan sebelumnya.Sandra nampak begitu bahagia karena akhirnya Tirta yang dia kira akan sangat kuat menolak putranya akhirnya mau memberikan sedikit ruang di hatinya untuk putra kecilnya yang sempat sakit keras beberapa waktu yang lalu.Setelah puas guyon di ruangan mewah, Lexus dan Surti akhirnya dipersilahkan masuk ke dalam kamar mewah di sudut rumah yang luas. Tirta sengaja menyiapkan kamar dekat kolam renang untuk keduanya agar keesokan harinya bocah kecil itu bisa langsung nyebur dan bersenang-senang sampai siang hari.Kebetulan besok Lexus libur dan rasanya tidak ada kerjaan pen
Catatan sipil akhirnya meresmikan pernikahan Sandra dan Tirta kemudian semua pelayan yang jadi saksi pernikahan sederhana ini bersorak senang.Selamat!Sandra tersenyum simpul lalu melirik Tirta yang sejak tadi tidak memperlihatkan wajah seharusnya. Pria paruh baya itu lebih senang terlihat murung
"Jadi kamu sungguh-sungguh?" Tiba-tiba Sandra merasa galau mendengar perkataan calon suami yang sudah memberikannya segalanya.Memang dia punya uang, tapi apakah pernikahan ini akan lebih baik dari pernikahan pertamanya?Sebenarnya pertanyaan itu yang paling besar saat ini dikepala Sandra, tapi dia
"Sopir, ayo jalan," pinta Sandra lalu menutup jendela kaca mobil rapat-rapat dan Tina kembali melaju."Siap," jawab sopir dengan wajah yang datar tapi tidak dengan Surti. Wanita paruh baya ini terus menatap wajah Sandra yang seketika terlihat panik tapi terus diam seakan tidak mau ibunya tau posis
"Jadi kamu mau pergi sendiri atau aku panggil pelayan?" tanya Tirta nampak mulai kesal dengan istri tuanya."Berani kamu, Tirta!" teriak Tina yang sudah kepalang marah pada pria tua doyan daun muda ini."Berani, lah. Ini rumahku! Kenapa harus takut? Lupa kamu kalau aku punya perjanjian bisnis sama












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews