LOGIN21++. Mature Content! Sadari umur. Bijak dalam memilih bacaan. Chana, harus mati setelah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan adik tirinya saat ia tengah hamil tua. Di kurung dalam mansion tua dan seluruh keluarga mengasingkannya, dia jelas melihat bagaimana adik tirinya mengambil putra pertama yang dilahirkannya untuk disiksa hingga tiada lalu dia dipaksa menegak segelas racun untuk kematiannya. Hal yang baru dia ketahui saat tubuhnya merasakan sakit luar biasa, seluruh kesakitan dalam hidupnya telah diatur sedemikian rupa oleh suami dan adik tiri juga seluruh keluarganya. Ia dihianati oleh seluruh orang yang ia cintai hingga mati! Merasa tak terima dan menuntut kebahagiaan juga dendam yang harus dia balaskan, dia dilahirkan kembali tepat satu bulan sebelum pernikahannya terjadi. Membatalkan pernikahan, memutuskan hubungan, membuka topeng busuk adik tirinya sampai mengungkap seluruh perselingkuhan mereka, dia juga menuntut hak atas semua yang harus dia miliki sebagai putri tertua keluarga ternama. Dalam kehidupan ini, dia berniat membalaskan dendam atas kematian putra dan setiap rasa sakit yang dia terima lengkap dengan seluruh bunga yang harus mereka terima. Namun sebuah rencananya gagal hingga membuatnya harus terjerat dengan seorang pria dingin mesum yang meminta pertanggung jawaban atas kejadian malam panas yang pernah mereka lakukan. Chana, merasakan dilema saat pria itu terus menariknya dalam sebuah lingkar hubungan yang membuatnya trauma hingga mati. "Chana, bagian mana tubuhmu yang belum kusentuh? Beraninya kau mencoba lari setelah aku merelakan keperawananku! Kau harus bertanggung jawab atas malam panas yang pernah kita lalui." "Tuan, aku juga menyerahkan bagian pertama dalam hidupku. Jadi, bisakah kita anggap semuanya menjadi One Night Stand saja?" Pria dingin itu tersenyum, "Beraninya kau meminta hal penting itu menjadi One Night Stand. Aku akan memastikan seluruh hidupmu berada dalam ranjang panasku seumur hidup."
View MoreDering suara ponsel mengangu tidur seorang gadis muda yang terlihat baru saja memejamkan matanya. ia melenguh malas, tapi tetap bangun dengan wajah lelah.
"Cepat banget jam 8, padahal aku baru tidur." Iya lah, tadi malam ia tidur jam 4 subuh. Ia segera bangkit dari kasur tipis yang menjadi alas tidurnya. Ya, begitulah hidup Sarah. Tinggal di kontrakan kecil dan tidur beralaskan kasur santai. Ia tidak punya uang untuk membeli kasur yang lebih empuk, bisa makan aja ia udah bersyukur banget. Setelah merasa cukup santai ia berjalan ke kamar mandi belakang, kamar mandi yang menjadi tempat seluruh penghuni kos untuk membersihkan badan. "Udah bangun, Sar? Tumben lambat sekarang. Biasanya jam 6 subuh kamu udah siap berangkat kerja." Sapa seorang gadis yang juga ngekos di tempat itu. "Ya gini lah. Aku lembur kemarin, jadi hari ini masuk jam setengah sembilan." Jawabnya, "aku pake kamar mandi duluan ya." "Ya, pakek aja. Aku udah siap kok." Sarah bukan tidak memiliki keluarga sebenarnya. ia masih punya ayah dan juga ayahnya tinggal di kota yang sama dengannya. Hanya saja memang dasar laki-laki itu tidak bertanggung jawab, setelah ibunya meninggal dia menikah dengan istri barunya dan membuang Sarah tanpa belas kasih. Bahkan memberi uang jajan saya selama dua tahun ini tidak pernah, jangankan memberi uang harta peninggalan ibunya saja ia rampas untuk istri mudanya. **** Dalam waktu dua puluh menit Sarah selesai bersiap. Pakai baju kemeja dan celana Levis itu cukup pas di tubuhnya membuat kecantikannya terpancar keluar. Andai saja dia bersekolah tinggi pasti mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Dia hanya gadis yang tamat SMA, memiliki ijazah rendah begitu ia hanya mampu bekerja di toko pakaian. Untuk mencari uang tambahan ia juga menambah jop akhir pekan ke klub malam menjadi pelayan. Ya, seperti itulah hidupnya. Syukur tak bersyukurnya ia terpaksa harus tetap menjalani kehidupan keras di kota besar ini. Sepuluh menit perjalanan ia berhasil sampai di toko tempatnya bekerja. Sarah sedikit berlari agar bisa cepat sampai untuk membantu teman-temannya yang lain membuka toko. "Wah, telat kamu Sar?" Sarah menyengir, "gimana gak, mbak. Semalam pak bos suruh aku balik jam 3 subuh." "Hah! Serius?" "Iya. Aku sama Agus di tahan di gudang buat catat barang yang baru sampai. Tapi lumayan sih, dapat uang lembur. "Skate-kate... Kalau aku gak peduli uang lembur, waktu istirahat ku lebih penting." Benar sih. Waktu istirahat itu lebih penting, itu kan kata orang yang punya uang. Bagi dia dapat duit lebih penting dari pada tidur, toh ini hanya sekali-sekali. Bekerja seperti biasa dari pagi sampai jam delapan malam, dan malam akan di ganti sif oleh laki-laki. Karena hari ini hari Sabtu, berarti akhir pekan ia akan lanjut ke klub malam untuk menjadi pelayan. Mana kurang tidur, kerja banyak. Sarah menatap nanar dirinya yang semakin hari semakin kurus. "Padahal umurku baru 22 tahun, tapi udah keliatan dewasa banget. Ya Allah... Apa aku jual diri aja ya, biar banyak duit." Terkadang hidup susah membuat ia berpikir gila. Tapi untuk menjadi wanita penghibur ia takut, selain pandangan orang buruk padanya ia juga takut terkena penyakit menular. Untung selama ini bekerja di klub malam tidak ada yang menganggunya. Meskipun ada sentuhan-sentuhan dikit yang tidak bisa ia hindari. "Kamu langsung ke Klub itu, Sar?" Agus datang menghampiri Sarah, "kerena searah yuk aku antar sekalian." "Serius? Kamu ngapain ke arah sana. Bukannya rumah kamu berlawan arah ya?" "Mau ke rumah nenek. Ayok, sekalian aku antar." Tentu saja Sarah tak menolak. Dengan begini ia bisa menghemat ongkos tujuh ribu perak. Kan lumayan untuk ia beli makanan nanti. **** Sedangkan di tempat lain, seorang wanita cantik terlihat sedang tengah sibuk membawa barang belanjaannya. Meskipun hari sudah cukup malam tak membuat semangatnya surut untuk menghambur-hamburkan uang. Jika di sana Sarah setengah mati mencari uang maka berbeda dengan Amora yang sesuka hati menghamburkan uang suaminya. Apapun yang ia inginkan dengan mudah ia dapatkan, dari kecil ia tidak merasakan apa itu artinya susah. Dia adalah seorang putri dari orang tuanya dan sekarang menjadi ratu satu-satunya di istana suaminya. "Kamu! Tolong bawa belanjaan saya ini," perintahnya pada salah satu pegawai mall sembari menyerahkan barang belanjaannya yang super banyak. "Baik, nyonya." Padahal dari lantai satu ke parkiran gak terlalu jauh, tapi ya ia tentu saja malas bersusah-susah membawa barangnya itu jika ada pelayan yang bisa membantu. Jangan sampai telapak tangannya yang halus memerah karena kantong belanjaan itu, pikir Amora. Mobil mewah, berpenampilan glamor. Itu sudah menjadi ciri khas seorang Amora. Dari kecil selalu berkecukupan, bahkan sekarang ia menikah dengan laki-laki kaya di kota ini, semua orang tak akan berani menyinggungnya jika tahu Nama suaminya. Sampai di rumah ia telah di sambut oleh suaminya yang ternyata pulang kerja terlebih dahulu, Amora gegas mendekati sang suami dan memeluk suaminya. "Mas, aku kangen. Kok pulang gak kasih kabar, kalau tau kan aku gak akan keluar hari ini." Rengekan manja terdengar dari bibir tipisnya yang merah menggoda. Devan melepaskan pelukan istrinya dengan lembut, "hanya kebetulan pekerjaan cepat selesai. Kamu dari mana sayang?" Jawabnya basa-basi, padahal ia bisa menebak dengan mudah. Amora sudah biasa menerima perlakuan seperti ini, ia hadapan Devan akan bersikap begitu manja. Ia tahu semua pria itu suka wanita yang manja dan wanita yang menggoda Lagi pula Devan bukan suami yang dingin, ia juga terkadang bersikap lembut dan manja padanya. Hanya saja akhir-akhir ini Devan berubah sedikit acuh, mungkin karena pernikahan mereka yang sudah memasuki usia delapan tahun, membuat dia merasa sedikit jenuh. Tapi tak Masalah, Amora akan selalu menarik perhatian suaminya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi wanita satu-satunya untuk Devan di masa depan. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, mas. Kamu pasti capek." "Tidak perlu, Aku sudah meminta bibi melakukannya." Amora kecewa penolakan sang suami. Tapi ia tak Patang menyerah, "kalau begitu aku akan siapkan makan malam untuk mu... Kali ini tolong jangan menolaknya," Devan tersenyum kecil, "baiklah." Delapan tahun berumah tangga sebenarnya Davin merasa jenuh, apalagi setelah ia tahu istrinya tak ingin memiliki anak. Rasa kecewa jelas ada, tapi ia tidak bisa memaksa juga. Karena itulah ia melampiaskan pada pekerjaan, beharap dengan begitu bisa melupakan urusan rumah tangganya. Dulu, di awal pernikahan mereka Davin dan Amora memiliki hubungan yang romantis. Saling mencintai meskipun mereka menikah karena perjodohan. Tapi belakangan ini tanpa terasa ada jarak yang menjauhi mereka, sikap keras kepala Amora yang tak ingin hamil karena takut gendut membuat Davin muak. Devan menatap Amora beberapa saat, setelahnya ia memilih masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri. **** Sedangkan di tempat lain Sarah tengah berdiri terdiam ketakutan. Bagaimana tidak, tadi ia sempat pingsan saat sedang bekerja di klub. Tidak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit, tapi ucapan dokter membuat ia sangat terkejut. "Sakit? Operasi?" Dua kata itu membuat kepala kecilnya pening. Bagaimana tidak, ia baru saja tahu bahwa dirinya terkena usus buntu yang butuh operasi. Uang dari mana? "Aku harus cari ayah. Bagaimana pun dia pasti mau memberi aku uang." Ya, hanya itu tempatnya mengadu sekarang. Ia tidak punya sanak saudara, hanya ayahnya. Ia berharap pria itu mau membantunya.Chana membuka pintu kamarnya dan teringat dengan flashdisk yang dia terima. Rasa ingin tahunya meningkat pesat namun dia juga sadar bahwa dia tak memiliki laptop di rumah ini. Menyelinap ke ruang kerja ayahnya, dia membawa dua flashdisk yang dia dapatkan dengan tangan gemetar karena pertama kalinya menyelinap ke ruang kerja ayahnya. Awalnya dia sangat bimbang untuk memilih flashdisk mana yang akan dia buka dulu. Tapi ketika mengingat wajah tampan Richard, dia pun memutuskan untuk membuka flashdisk yang Richard berikan terlebih dahulu. Mata Chana terfokus pada layar monitor yang mulai menampilkan gambar. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada setelah memilih salah satu video dari tiga video yang ada. Namun setelah beberapa detik layar monitor itu tetap gelap. Kesunyian mendominasi kecuali suara gemerincing besi yang sesekali terdengar. "Apa ini. Video ini dalam ruangan yang gelap. Apakah Richard ingin mempermainkan aku?" Tapi kemudian Chana terpana saat ruangan gelap dalam video i
Chana merasakan aneh karena tiba-tiba Oscar menjauh seolah menjaga jarak. Tanpa sadar dia mengikuti arah pandang Oscar yang jatuh pada pria tinggi yang mulai datang menghampirinya. Entah kenapa, rasa tak peduli hadir saat dia mengingat kejadian yang dia temukan di kantor Axel. Axel berdiri di tengah pintu cukup lama, matanya mengedar pelan dan pandangannya jatuh pada peti mati lalu Chassy dan Elden yang masih menangis berpelukan. Rion adalah orang yang memberitahu dirinya tentang kematian Agraf saat mereka baru saja berkumpul bersama malam ini. Tapi dia juga tak menyangka bahwa akan melihat Oscar begitu dekat dengan Chana. Keduanya tampak sangat akrab dengan pembicaraan yang terlihat serius. Tapi hal yang mengusik pandangannya adalah tatapan Oscar pada istrinya begitu menganggu. Axel tak menyukainya. Saat melihat Oscar menjauh, dia sedikit lega, tapi dia tak menyangka akan mendapatkan tatapan acuh tak acuh dari istrinya. Tatapan yang mengatakan bahwa kehadirannya menganggu dan dia t
Damon membanting pintu ruangan kerjanya lalu mengunci rapat. Meletakkan tubuh Chelsea ke lantai dingin tanpa perasaan. Matanya menyala melihat wajah cantik di depannya tengah mengigit jari lentik dengan menjulurkan lidah secara sensual. Tanpa sadar, tangannya terulur, menarik stoking tipis yang Chelsea gunakan. Robekan yang terjadi membuat pemandangan menjadi semakin indah. Chelsea terlihat sangat cantik dengan pakaian yang tak lagi utuh, kulit paha yang mulus dengan rambut panjang berwarna pirang yang tergerai acak. "Nona, kau sangat cantik." Pujian itu tulus, Di mata Damon kecantikan yang sempurna akan lebih nyata jika wanita di depannya tak mengenakan pakaian apa pun. Sebagai pria dia memiliki gairah yang normal. Dan di depannya, seorang wanita dengan sengaja menggoda dirinya secara terang-terangan. "Tuan, dari mana kita akan mulai?" Chelsea kehilangan seluruh kesadarannya. Ingatannya hanya berputar pada malam-malam panjang penuh jeritan kenikmatan yang pernah dia lalui sebulan
Damon menyeret Chelsea kasar memasuki sebuah lift yang terletak di balik kamar ruang pribadi Axel di Axion Company. Axel hanya menatap datar saat tubuh ramping Chelsea mencoba memberontak dan melambaikan tangan padanya. Kemudian sudut bibir Axel terangkat tipis, dia melihat secangkir teh yang dipaksakan Damon untuk Chelsea minum. Meski menolak, nyatanya wanita gila itu meminumnya meski tak semuanya. "Tidak, Axel, Axel, tidak. Aku tak ingin kembali. Axel," "Nona, diam dan patuhlah. Atau tuan muda akan marah." "Lepaskan, lepaskan tanganku. Aku harus menamparnya karena berani mengusirku dan menikahi wanita lain!" Damon tak bereaksi dan tetap menyeret tangan Chelsea. Meski Chelsea terjatuh di lantai, Damon tetap menarik tangan kurus itu tanpa memperdulikan cakaran yang bersarang di tangannya. Mendengar kata-kata Chelsea, sudut bibir Axel tertarik. Minatnya tiba-tiba bangkit saat dia melirik cangkir teh yang telah kosong. "Damon, lepaskan dia." Damon terhenti, dia berbalik. "Tuan mud






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore