Se connecter"Masih kesal, hm?" bisik Bumi dengan suara beratnya yang mendadak melembut. Jemari panjangnya terulur menyelipkan helai rambut Maura ke belakang telinga, menyapu permukaan leher istrinya yang bersemu merah. "Kan tadi di kelas cuma penyampaian materi secara. Cuma dikit-dikit inget yang semalem aja, jadi keceplosan." lanjutnya tnpa merasa berdosa."Keceplosan gundulmu!" semprot Maura mendelik tajam, walau akhirnya pertahanannya runtuh juga saat melihat tatapan Bumi yang berbinar dan penuh pemujaan. "Bikin deg-degan tahu nggak! Nanti kalau anak-anak pada curiga gimana?""Enggak akan ada yang curiga, Sayang. Mereka cuma mikir kamu mahasiswa apes yang kena panggil dosen," kekeh Bumi renyah.Pria itu menundukkan kepala, memangkas jarak di antara wajah mereka. Belum sempat Maura memprotes lagi, bibir hangat Bumi sudah lebih dulu mendarat di bibirnya, mencecapnya dengan kecupan lembut, lama, dan sarat akan kerinduan yang seolah tak pernah usai.Maura yang tadinya berniat mogok, perlahan tanga
"Saya ambil contoh kasus nyata," ujar Bumi lagi, nadanya datar tapi sarat akan sindiran halus. "Ada seorang mitra yang awalnya menolak tegas. Tapi begitu 'eksekusi' dimulai dan ritme dinaikkan, dia justru memberikan respons yang sangat kooperatif. Begitu juga maksud materi kai ini."Brak!Saking terkejutnya, Maura tak sengaja menyenggol bukunya sampai jatuh membentur lantai. Suara itu membuat setengah isi kelas menoleh ke arah barisan belakang."Ada masalah di belakang, Maura?" tanya Bumi dengan wajah tanpa dosa, menatap istrinya dengan alis terangkat rapat."N-nggak ada, Pak! Maaf, buku saya jatuh," sahut Maura terbata-bata, cepat-cepat membungkuk mengambilnya sekalian menyembunyikan wajahnya."Baik, tolong konsentrasi," kata Bumi santai, menyunggingkan senyum tipis sewaktu Maura kembali duduk tegak. "Jangan sampai ketahuan lemas di tengah jalan, padahal materinya baru dimulai."Risti menutupi mulutnya rapat-rapat agar pekikan tawanya tidak pecah di tengah kelas.Maura cuma bisa meng
Leon terkekeh pasrah, akhirnya membiarkan kakinya melangkah disesuaikan dengan ritme jalan Maura yang siput.Mereka memang seakrab itu sejak awal semester, berjalan saling rangkul atau gandengan tangan sudah jadi pemandangan biasa bagi siapapun yang kenal mereka.Tapi bagi angkatan lain atau mereka yang cuma tahu luaran, interaksi ini selalu jadi bahan salah paham.Tidak dengan Maura tidak dengan Risti, Leon selalu jadi sasaran olokan teman tongkrongannya.Koridor gedung fakultas yang tadinya sepi mulai ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Dan benar saja, cara Maura bergelayut manja di lengan Leon dan jalan yang agak diseret langsung mengundang lirikan mata dari berbagai sudut."Duh, mending lo agak jauhan dikit deh, Ra. Entar kalau ada yang spill ke Pak Bumi, abis gue dipotong nilai," goda Leon, tapi tangannya malah makin sengaja menahan siku Maura agar gadis itu tidak bergeser."Biarin! Biar sekalian lo diratakan sama Pak Dosen!" sungut Maura, menutupi leher kirinya dengan helai rambut
Bumi mengawasi langkah istrinya dari balik kaca mobil yang terpasang kaca film gelap. Memperhatikan cara jalan Maura yang agak aneh, akibat dari serangan brutal semalam. Yang kini dibalut usaha keras agar terlihat biasa saja di depan dua manusia yang sedang berbincang di halte.Dua mahasiswa laki-laki yang sedang menunggu di sana sempat menoleh sekilas begitu mendengar pintu mobil tertutup. Tapi, melihat Maura yang berjalan cepat dengan kepala tertunduk sambil membetulkan tali tasnya, perhatian mereka kembali teralih pada layar HP masing-masing.D dalami mobil, Bumi mengusap pipinya yang baru saja dihadiahi ciuman kilat oleh istrinya. Seringai tipis bertengger di bibir manis itu."Pinter, katanya?" gumamnya lalu terkekeh.Dia membenarkan letak kacamatanya, menyandarkan punggung ke jok kulit, lalu menatap siluet Maura yang makin menjauh menyeberangi gerbang fakultas. Ancaman potong jatah benar-benar berhasil menciutkan nyali seorang Dosen Bumi Arkatama yang biasa ditakuti satu gedung k
Di tengah kemacetan kota.Di dalam mobil mewah bernuansa hitam elegan milik Bumi, pendingin udara berhembus sejuk. Tapu, udara di dalam kabin itu terasa sangat riuh, bukan karena radio, tapi karena mulut sang Pak Dosen yang mendadak berubah menjadi penceramah mesum.Bumi yang rapi dengan kemeja yang dipakainya kemarin dan kacamata berbingkai tipis, kini sama sekali tidak mencerminkan wibawanya. Sambil satu tangannya memegang kemudi, pria itu tanpa henti mengoceh dengan wajah berbinar antusias."Kamu tahu rasanya pas kamu jepit semalam, Sayang? Rasanya kayak setengah nyawaku dicabut," ucapnya, melirik Maura yang duduk di kursi penumpang sampingnya.Maura hanya membuang muka ke luar jendela, menatap deretan sepeda motor yang menyelip di antara kemacetan. Pipi gadis itu masih terasa panas, mendengar kuliah evaluasi dari suaminya sejak mereka keluar dari parkiran hotel tadi."Gimana menurut kamu, Sayang? Aku kurang apa semalam? Kurang lama, ya?" lanjut Bumi tanpa dosa. Pria itu menyeringa
Dengan napas memburu dan, ia refleks mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi ke udara, memangkas jarak agar dorongan suaminya menghujam jauh lebih dalam."S-segitu mas... A-ah! Lagi!" racau Maura, kehilangan seluruh rasa malunya.Aksi berani Maura membuat posisi mereka kian terbuka lebar. Jepitan hangat di dinding dalam sang istri mendadak mengencang hebat, menjepit inti Bumi bertubi-tubi dengan ritme yang begitu rapat dan nikmat.Sensasi tajam itu menyengat seluruh saraf Bumi, mengirimkan gelombang kenikmatan dahsyat yang seolah menerbangkannya tinggi ke langit ke tujuh."Ssshh... Gila, Sayang! Jepitan kamu gila!" geram Bumi dengan rahang mengeras.Bumi makin kesetanan. Pria itu mencengkeram pinggul Maura yang terangkat, menahannya tetap menungging tinggi lalu menggenjotnya dalam tempo liar yang brutal tanpa memberi ampun. Ranjang berderit makin kencang, bersahut-sahut dengan desah napas memburu mereka berdua.Puncak pelepasan itu akhirnya menghantam Maura lebih dulu."MAS BUMIII! AAHHH!
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







