Home / Romansa / Istri Pengganti yang Melawan / Keberanian yang Membawa Petaka

Share

Keberanian yang Membawa Petaka

last update publish date: 2026-10-28 10:48:31

“Kelihatannya istrimu sangat menikmati waktunya di belakangmu. Kutebak kau pasti tidak tahu menahu tentang ini.”

Notifikasi pesan masuk di atas layar ponsel memecah fokus Faren yang sedang meneliti deretan angka laporan dari Callan. Dahi pria itu berkerut tipis. Namun begitu beberapa lampiran foto menyusul di bawah pesan tersebut, jemarinya yang semula bergerak di atas keyboard laptop mendadak terhenti.

Detik demi detik kemudian, keheningan yang terasa sangat dingin mendadak menyelimuti ruang kerja Faren. Di layar ponselnya, terpampang jelas sosok Nayara yang sedang tersenyum manis, jenis senyum lepas yang tidak pernah gadis itu tunjukkan padanya, bersama seorang pria di tengah keramaian mall.

Rahang Faren mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Tatapannya membeku, menatap layar yang perlahan membakar egonya.

Sebuah pesan singkat kembali masuk dari sang pengirim foto yang tidak lain adalah Sebastian.

“Mall Taman Anggrek, jam 11 siang tadi. Kasihan sekali kau, Farendra. Belum ada sebulan menikah tapi harga dirimu sudah diinjak-injak.”

Faren meremas ponselnya keras sebelum membanting benda itu ke atas meja. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar tanpa mempedulikan Callan yang menatap bingung.

Hari ini, Nayara Renjadi Danuwira harus membayar mahal atas senyuman itu, dan harga diri Farendra Sutanto yang telah ia injak.

Brakkk!!!

Suara benturan pintu yang dibuka paksa terdengar tajam hingga sukses mengagetkan Nayara yang sedang bersantai sembari mengerjakan desainnya di iPad yang baru. Jantungnya berdegup kencang, namun matanya langsung menatap datar begitu melihat Faren berdiri di ambang pintu dengan wajah sekeras batu.

“Aku tahu kau punya banyak uang untuk sekedar mengganti pintu yang rusak. Tapi tidakkah kau punya sedikit tatakrama?” cetus Nayara dingin, berusaha menutupi keterkejutannya sembari menegakkan posisi duduk.

Faren tidak membalas ucapan itu. Ia melangkah masuk, mengunci pintu di belakangnya hingga terdengar bunyi klik yang kentara, lalu berjalan pelan menuju tempat tidur. Tatapannya bukan tertuju pada Nayara, melainkan pada benda tipis berlogo apel yang berada di pangkuan gadis itu.

“Bagus sekali.” Suara Faren terdengar sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang sedang menyimpan bahaya besar bagi Nayara. “Belum ada 24 jam iPad lamamu hancur, kau sudah memegang yang baru. Pakai uang siapa? Atau… ada ‘seseorang’ yang membelikannya untukmu?”

Nayara menyunggingkan senyum sinis mendengar pertanyaan yang sarat akan sindiran itu. Ia sengaja mengusap layar iPadnya dengan santai di depan mata Faren. “Kenapa? Kau penasaran?” tanya Nayara enteng, memancing emosi Faren semakin ke puncak.

“Anggap saja ini rezeki dari seseorang yang jauh lebih punya hati dibanding pria brengsek sepertimu.”

Kalimat itu bagai bensin yang sengaja disiramkam tepat di atas kobaran api. Rahang Faren menegang, langkah kakinya kian mendekat hingga akhirnya mengurung tubuh Nayara sepenuhnya.

“Rezeki?” Faren mendecih. “Atau hadiah dari seseorang di Mall Taman Anggrek jam 11 siang tadi, Nayara?”

Mata Nayara terbelalak kaget. Ia tidak menyangka Faren akan tahu kepergiannya siang ini, lengkap dengan lokasi, waktu, dan dengan siapa ia bertemu. Meski ada sedikit rasa takut yang terselip di relung hatinya, Nayara buru-buru menyembunyikannya di balik tatapan penuh amarah.

“Kau menguntitku?!” Nayara mengeram pelan, geram karena privasinya diusik sedemikian rupa.

Faren yang sudah dikuasai amarah sepenuhnya lantas mengcengkeram dagu Nayara kuat, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang berkilat penuh ancaman.

“Tidak penting darimana aku tahu semua kelakuan murahanmu hari ini, Nayara. Dasar gadis tidak tahu malu! Karena kau telah menginjak harga diriku sebagai seorang suami, maka sekarang akan kutunjukkan seperti apa harusnya istri seorang Farendra Sutanto bersikap!”

Tangan Faren yang kosong lantas merampas iPad dari dekapan Nayara secara tiba-tiba, hingga gadis itu tidak sempat menghindar. Begitu benda itu berpindah tangan, Nayara langsung berdiri dan menepis tangan Faren dengan sentakan kasar, lalu tertawa hampa penuh cemoohan dengan mata berair.

“Hancurkan saja!” tantang Nayara berani. “Namun ingat, mau seratus kali pun kau hancurkan iPadku, aku akan selalu punya cara untuk membeli yang baru! Kau pikir dominasimu bisa membendung kehidupanku? Tidak akan pernah!”

Aura di dalam kamar mendadak membeku. Kata-kata Nayara bagai pisau tajam yang merobek habis ego Faren. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Faren membanting benda di tangannya ke lantai marmer dengan sekuat tenaga.

PRANG!

Benda tipis yang bahkan belum ada 24 jam berada di tangan Nayara itu hancur berhamburan di dekat kaki mereka. Nayara mematung sejenak namun menolak menunjukkan rasa terkejutnya. Gadis itu tetap membusungkan dada, menatap Faren dengan pandangan hina.

“Hanya itu kemampuanmu? Merusak barang?” ejek Nayara dingin. “Sangat berbeda dengan Kanael yang punya tata karma. Oh, dan yang paling penting, dia bukan pria brengsek yang hanya bisa melampiaskan amarah dengan kekerasan!”

Mendengar dirinya dibandingkan dengan pria lain, terutama pria itu adalah sosok yang bersama Nayara siang ini, menjadi puncak kegilaan bagi Faren. Tanpa menjawab perkataan Nayara yang menusuk ulu hatinya, pria itu merogoh ponsel di saku jasnya lalu menelepon seseorang dengan gerakan tenang yang mengerikan.

“Callan,” suara Faren terdengar sangat datar, nyaris tanpa emosi sedikit pun. “Pastikan seorang atas nama Kanael di drop out dari Astra Dharma University malam ini juga, dan pastikan tidak ada satu universitas pun di kota ini yang mau menerimanya lagi.”

Wajah Nayara seketika pucat pasi. “Apa yang kau lakukan, sialan! Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini!”

Nayara mencoba merebut ponsel itu. Tetapi tenaga Faren menahannya dengan satu tangan dan mencengkeram bahunya hingga gadis itu terduduk kembali di tepi tempat tidur.

“Kau yang memulainya, Nayara,” bisik Faren dingin dan penuh dominasi tepat di depan wajah Nayara.

“Kau ingin bermain-main dengan harga diriku? Maka Kanael sialan itu yang harus menanggung akibatnya.”

“Kau iblis!” teriak Nayara kencang. Matanya mulai memerah menahan amarah dan rasa bersalah yang luar biasa pada Kanael.

Faren sama sekali tidak mempedulikan makian itu. Seringai lebar yang sarat akan kepuasan terpancar dari wajahnya tatkala pria itu mengambil langkah mundur menuju pintu. Tanganya gesit memutar anak kunci yang tergantung, lalu tepat sebelum pintu kembali ditutup dari luar, pria yang masih dikuasai amarah itu berucap, “Maka jangan pernah berani lagi untuk bermain-main dengan iblis ini, Nayara!”

Klik.

Pintu kamar yang kembali sunyi itu terkunci rapat dari luar, menyisakan Nayara yang masih terengah-engah karena amarah. Gadis itu akhirnya menyadari kalau perlawanannya malah membawa pada konsekuensi yang jauh lebih gelap. Matanya menatap nanar pada iPad barunya yang harus kembali menjadi serpihan.

Hatinya mencelos dan dipenuhi rasa bersalah memikirkan bagaimana nasib Kanael setelah ini. Dengan iPad yang sudah dihancurkan dan ponsel yang masih disita, ditambah sekarang dirinya terkunci tanpa tahu harus berbuat apa, pikiran Nayara benar-benar menemukan jalan buntu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti yang Melawan    Keberanian yang Membawa Petaka

    “Kelihatannya istrimu sangat menikmati waktunya di belakangmu. Kutebak kau pasti tidak tahu menahu tentang ini.”Notifikasi pesan masuk di atas layar ponsel memecah fokus Faren yang sedang meneliti deretan angka laporan dari Callan. Dahi pria itu berkerut tipis. Namun begitu beberapa lampiran foto menyusul di bawah pesan tersebut, jemarinya yang semula bergerak di atas keyboard laptop mendadak terhenti. Detik demi detik kemudian, keheningan yang terasa sangat dingin mendadak menyelimuti ruang kerja Faren. Di layar ponselnya, terpampang jelas sosok Nayara yang sedang tersenyum manis, jenis senyum lepas yang tidak pernah gadis itu tunjukkan padanya, bersama seorang pria di tengah keramaian mall.Rahang Faren mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Tatapannya membeku, menatap layar yang perlahan membakar egonya. Sebuah pesan singkat kembali masuk dari sang pengirim foto yang tidak lain adalah Sebastian.“Mall Taman Anggrek, jam 11 siang tadi. Kasihan sekali kau, Farendra. Belu

  • Istri Pengganti yang Melawan    Menolak Layu

    “Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari. “Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara. Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati. Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa ti

  • Istri Pengganti yang Melawan    Keberanian yang Mendadak Luruh

    "Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun

  • Istri Pengganti yang Melawan    Mama Sofia

    "Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare

  • Istri Pengganti yang Melawan    Senjata Rahasia Nayara

    "Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b

  • Istri Pengganti yang Melawan    Hidup Baru

    Byur!!!"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar. Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi. "Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria. Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status