LOGIN
Saat Yin Anzhu membuka mata, ia menemukan dirinya sedang berada di dalam kereta pejabat yang membelinya dari ayahnya.
Pakaian sederhananya telah berganti sebuah gaun merah muda yang indah. Perhiasan yang tidak pernah ia lihat, telah bertengger di tangan dan di leher. Rambutnya yang biasa setengah diurai, kini telah ditata dengan banyak ornamen. Apakah kue favoritnya telah diberi obat bius? Yin Anzhu tidak terlalu yakin. Namun itulah hal terakhir yang dimakannya sebelum kehilangan kesadaran. Ayah kejam itu! Dia benar-benar hanya melihatnya sebagai alat pertukaran?! “Tidak. Aku tidak bisa jatuh ke tangan pejabat tua itu!” Yin Anzhu tiba-tiba menggerakkan tubuhnya. Masih belum banyak bertenaga, ia malah terjerembab dan menabrak meja teh di depan. “Akh!” Ia dan semua benda di atas meja segera jatuh ke atas lantai kereta. Yin Anzhu menggigit kuat bibirnya, memaksakan kesadarannya kembali. Tangannya yang perih tidak dipedulikannya. Pikirannya sepenuhnya hanya fokus untuk keluar dari kereta celaka itu. Kalau tidak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan berakhir dalam beberapa waktu ke depan. Yin Anzhu melempar diri keluar dari jendela kereta. Tubuhnya menghantam tanah sebelum terguling di atas jembatan lengkung. Darah segera mewarnai permukaan Jembatan Keberuntungan dengan jejak merah. Teriakan panik bergema dan orang-orang otomatis mundur dengan tampang ngeri. “Pembunuhan! Ada pembunuhan!” Semua teriakan itu makin jelas di telinga Yin Anzhu. Rasa sakit barusan membuat pikirannya bangun lebih cepat. Setelah tubuhnya berhenti berguling, ia bangkit dengan susah payah, lalu menyeret kakinya ke pagar jembatan. Darah mengucur dari tangan yang mencengkram pagar kayu, meninggalkan jejak gelap di sana. Seorang pria paruh baya yang mungkin lebih tua dari ayahnya segera memasuki pandangan. Itulah Tuan Deng si pejabat. Melihatnya, Yin Anzhu merasakan amarah melonjak di dalam dada. Ia menarik napas, membuka mulutnya dan berseru lantang, “Orang Tua, apakah ayahku yang menyerahkanku padamu?” Tuan Deng tidak menjawab, tapi menunjuknya dan berteriak marah, “Kau, masuk kembali ke dalam! Aku sudah membelimu dengan harga yang mahal!” Saat itulah Yin Anzhu sadar, dia seharusnya tidak mendengarkan semua bujukan itu dan datang kemari. Beberapa waktu yang lalu, ia masih hidup sederhana di desa dengan nenek dan kakeknya. Suatu hari sebuah kereta mewah datang dari ibukota. Ayahnya mengirim pelayan untuk membawanya pulang. Padahal, sejak ibunya tiada dan dia diasuh oleh kakek neneknya, tidak pernah ada kabar apapun dari ayahnya. Bisa dikatakan, ia sudah ditelantarkan sejak lahir. Nenek dan kakeknya melihat ini sebagai kesempatan Yin Anzhu untuk hidup lebih layak dan memiliki masa depan yang baik. Jadi, ia menurut dan pergi ke ibukota untuk tinggal di kediaman sang ayah. Namun siapa sangka, ini semua hanya rencana licik ayahnya! “...posisi kepala divisi di Kementerian Pekerjaan Umum baru saja kosong. Kita akan mengirim Anzhu kepada Tuan Deng. Kudengar dia menyukai para gadis muda. Dia akan membantuku dengan memberikan kata-kata baik pada pejabat personalia di atas.” Yin Anzhu mendengar itu, dan merencanakan lari dari rumah. Namun ia terkena jebakan mereka saat makan siang. Menemukan kenyataan ini, kebenciannya pada ayahnya semakin bertambah. Masih mencengkram kuat pagar jembatan, Yin Anzhu melotot kepada beberapa pelayan laki-laki yang bergerak maju ke arahnya. Ketika mereka tidak berhenti, Yin Anzhu menarik semat perak yang menahan rambutnya. Seketika separuh rambut yang ditata dengan hati-hati terurai, beterbangan oleh angin malam yang berhembus. Yin Anzhu mengarahkan tusuk rambut perak itu ke lehernya sendiri. Sorot mata gelapnya dipenuhi tekad kuat. Ia mengangkat dagunya tinggi, menantang. “Jika kalian masih ingin membawaku, kalau begitu bawa saja jasadku kembali!” “Masih berani mengancam?! Cepat kembali ke kereta sekarang sebelum kesabaranku habis!” ancam Tuan Deng. Para penonton yang entah sejak kapan telah berkumpul di sekitar, seketika panik melihat tindakan putus asanya. Tak sedikit yang segera berteriak menasehati agar ia tidak berpikiran pendek. Di antara keributan itu, sebuah suara rendah dan tenang tiba-tiba tertangkap oleh telinga Yin Anzhu. “Geser sedikit ujungnya ke atas. Akan membunuh lebih cepat.”Nyonya Tua Du muncul dari balik pintu gerbang yang belum lama ini diganti. Sebuah keranjang anyaman penuh dengan sayuran liar tergantung di punggung bungkuknya. Pada musim itu, di gunung belakang rumah mereka, sayuran liar tumbuh bagaikan rumput liar. Orang-orang desa memanfaatkan ini untuk keluar lebih awal, memetik banyak untuk dibawa dan dijual ke pasar kabupaten. Melihat neneknya kembali, Yin Anzhu berdiri dari bangku dan menyambutnya ke pintu. “Nenek sudah bekerja keras,” ujarnya. Ia melepaskan keranjang dari punggung Nyonya Tua Du dan membawa keranjang yang cukup berat itu ke ruang dapur. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan cangkir di tangan. Ia menyerahkan air hangat kepada neneknya yang sudah duduk dengan kaki diluruskan. Nyonya Tua Du menatap cucu kesayangannya, bertanya sambil lalu, “Anzhu, kau tidak ingin mengunjungi ayahmu di Kabupaten Jing?” Yin Anzhu mengernyit. Ia menghempaskan diri pada bangku di samping. “Kenapa? Nenek ingin dia memanfaatkanku lagi untuk
Awalnya, saat Yin Anzhu mencari tahu masalah Aula Ruyi, ia pergi ke toko-toko lain yang menjual barang yang sama, termasuk beberapa toko milik keluarga Shangguan di Pasar Timur.Ia menemukan bahwa toko mereka bahkan menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga normal. Penasaran, ia berdiskusi dengan ibu mertuanya dan meminjam buku pembelian dari pengurus.Dia kemudian mendapati keuntungan toko keluarga yang seharusnya lebih tinggi, namun tercatat lebih rendah. Dengan jeli ia juga menemukan bahwa cukup banyak ketidaksesuaian pada pencatatan buku pembelian dan penjualan.Karena hal inilah mereka akhirnya mencurigai adanya kecurangan yang terjadi. Setelah diam-diam diselidiki, akhirnya terkuak bahwa salah seorang pengelola toko yang merupakan orang Selir Meng-lah yang melakukan penggelapan.Dengan ancaman dari Nyonya Su, melalui Song Mama, pengelola itu akhirnya mengaku bahwa ia diperintah oleh Selir Meng untuk melakukan itu, juga tahu bahwa hasil penggelapan selama ini dikirim ke se
Seminggu kemudian, seorang mak comblang tiba di kediaman.Ketika Nyonya Tua mengumpulkan orang-orang, ia memberitahu bahwa Tuan Kedua Jiang akan secara resmi bertunangan dengan Shangguan Zhiyi.Ini sedikit mengejutkan, karena sebelumnya mereka sempat mendengar bahwa Shangguan Zhiyi ingin mengakhiri perjodohan.Tidak disangka, orang yang akan bertunangan kini tidak berkata apa-apa. Hanya bersikap seperti biasa, seolah-olah perkataan sebelumnya tidak pernah terucap darinya.Sementara orang-orang menganggukkan kepala, turut senang mendengar kabar ini, Selir Meng menundukkan wajahnya, mengangkat sapu tangan dan menutupi mulutnya. Kilatan dingin yang tak terlihat oleh orang-orang melintas di matanya.Pasangan yang begitu baik, yang coba ia usahakan untuk putrinya, pada akhirnya gagal didapatkan. Seharusnya ia memastikan rencana itu berjalan lancar hingga akhir!Sementara ia menyembunyikan ekspresinya, Nyonya Tua beralih padanya sekilas. Setelah beberapa saat, ia berkata kepada semua orang,
Shangguan Chen menggulung kembali lukisan kaligrafi di tangannya, meletakkannya ke atas meja.“Kau terlalu banyak berpikir,” ujarnya tanpa emosi.“Bukan?” Yin Anzhu penasaran. “Lantas?” Namun seperti biasa, pria itu tidak menanggapi. Ia mengabaikan Yin Anzhu, mengambil teh, dan menyeruputnya dengan sikap bersahaja.Yin Anzhu mengangguk-angguk, lalu bergumam sendiri. “Benar juga. Rasanya kau bukan orang seperti itu.”“Lalu, orang seperti apa aku?”Pria itu menurunkan cangkir, matanya menatapnya lurus.Yin Anzhu kembali menopang dagunya. Ia memikirkan pertanyaan barusan.“Hmmm… Kau pria licik yang tidak menyukai wanita…”Ia menatap Shangguan Chen dengan alis terangkat. “Aku benar?”Tidak ada jawaban. Namun, kali ini pria itu menatapnya dua detik lebih lama dari biasanya.Sementara itu, tampaknya perselisihan pasangan di depan telah mencapai puncak. Shangguan Zhiyi berseru, berkata tidak ingin melanjutkan pertunangan mereka lagi kepada Jiang Wenxiu. Setelah mengatakan itu dengan marah,
"Panggilkan Nyonya Muda kalian," perintah Shangguan Zhiyi begitu melangkah masuk melalui gerbang bulan di Halaman Bambu Hijau.Ia berdiri menunggu dengan tangan di pinggang. Sorot matanya menajam tidak senang.Rong Mama yang kebetulan sedang berjalan ke depan, berhenti dan membungkuk menyapanya, "Nona Kedua."Mendapati raut wajah Shangguan Zhiyi yang seperti akan pergi menemui seorang musuh bebuyutan, Rong Mama tidak langsung melakukan instruksi barusan. Alih-alih, ia bertanya, "Nona Kedua akan menemui Nyonya?"Kening Shangguan Zhiyi berkerut tidak sabar. Ia memandang berkeliling. Melihat Rong Mama masih berdiri di tempat, ia kembali bergerak, "Lupakan. Biar kutemui dia di kamar. Dia pasti ada di sana, kan?"Rong Mama buru-buru mencegah. "Nona Kedua, Anda tidak bisa..."Akan tetapi, gadis itu sudah berjalan cepat menyusuri jalan setapak taman menuju ke arah paviliun utama. Terbayang suasana hatinya yang tidak bersahabat, dan mengingat apa yang terjadi terakhir kali, Rong Mama takut
Di Halaman Plum, keributan kecil terjadi saat Xixi tiba.“Aku tidak akan pergi!” sahut Shangguan Zhiyi tegas.Tong’er melihat alis halus nona mudanya mengeras, ia menoleh pada Xixi, menggeleng, “Kembalilah dan katakan kepada Tuan Muda Sulung, Nona Kedua sedang tidak begitu sehat.”Xixi melirik ragu-ragu ke depan, kepada Shangguan Zhiyi yang terlihat akan mengamuk jika ia masih bersikeras memintanya datang. Ia segera menunduk patuh, berkata “Baik,” lalu beranjak dari sana.Tong’er mengambil wadah lampu minyak di atas meja. Ia melirik nona mudanya, berujar sambil lalu, “Tuan Kedua Jiang sudah lama tidak berkunjung kemari. Belakangan ini saya dengar beliau sering bertugas di luar kota.”Ia menuangkan minyak lampu ke dalam wadah poselen berhias pola sederhana. “Begitu sulit mendapatkan waktu senggang, tidakkah sayang jika Nona tidak pergi menemuinya barang sebentar?”Ia ingin menambahkan “bagaimanapun, dia adalah tunangan Anda,” namun ia memutuskan tidak mengungkitnya. Akhir-akhir ini, n







