ANMELDENSore itu, jam kerja belum sepenuhnya usai.
Freya sudah bersiap-siap merapikan pekerjaannya sebelum meninggalkan konternya.
Rachel yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu, mengerutkan kening penasaran.
“Frey, kamu mau pulang lebih awal?” tanya Rachel, menghentikan sejenak pekerjaannya merapikan rak.
Freya semakin panik melihat Keano yang tampak begitu tersiksa, Keano meringis seperti sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.Freya tak bisa berpikir terlalu banyak.Dia buru-buru menggenggam tangan Keano, berharap sentuhan itu bisa sedikit menenangkan. Namun, alih-alih mereda, genggaman Keano justru membalas dengan cengkeraman yang begitu kuat pada jari-jari Freya, sampai dia meringis menahan rematan tangan Keano.Freya bingung sejenak, mencoba mengingat apa yang berhasil menenangkan Keano tadi pagi di dalam mobil. Tanpa berpikir lebih panjang, dia bergerak duduk lebih dekat, lalu memeluk tubuh Keano seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya.“Pak Keano, tenang. Saya di sini,” bisik Freya lembut di telinganya, tangannya mengusap pundak Keano dengan gerakan perlahan dan berulang untuk menenangkan.Beberapa menit berlalu, ketegangan perlahan mengendur. Freya merasakan tubuh Keano yang tadi begitu kaku dan gemetar, kini mulai lemas dan napasnya yang memburu perlahan kembali teratur.
Malam semakin larut. Freya terbangun karena tenggorokannya terasa kering, akhirnya memutuskan turun ke dapur untuk mengambil segelas air. Dia melangkah keluar kamar dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Keano yang tampak sudah tidur dengan sangat lelap.Begitu sampai di lorong lantai dua, Freya tidak sengaja berpapasan dengan Nadine yang baru saja keluar dari kamarnya sendiri.Keduanya sama-sama terdiam sejenak, menciptakan keheningan yang sedikit canggung. Freya tersenyum kikuk, berusaha tenang, tidak yakin harus bersikap seperti apa menghadapi mertuanya di tengah malam seperti ini.“Mau ke mana?” tanya Nadine akhirnya, memecah kecanggungan itu.Freya tersentak. Nada bicara Nadine berubah dari sebelumnya dan sama seperti pagi tadi di ruang makan.“Ke dapur. Mau ambil minum,” jawab Freya sopan meski sedikit salah tingkah.Nadine hanya mengangguk tanpa banyak berkomentar. Freya pun melangkah lebih dulu menuruni tangga, tapi ternyata Nadine mengik
“Saya berencana mengumpulkan bukti lain, Pak,” jelas Freya, suaranya lebih mantap kali ini. “Saya yakin, cepat atau lambat, Brian akan kembali melakukan kelalaian dalam pekerjaannya, atau bahkan penyelewengan jabatan lain yang lebih terang-terangan. Saya akan mengumpulkan bukti itu untuk memperkuat alasan pihak toko memecatnya secara resmi.”Keano terdiam mendengar penjelasan itu, tapi pikirannya justru melayang pada bayangan yang tadi sempat mengganggunya. Ingatannya tertarik ke kejadian saat Brian tersenyum begitu manis pada Freya di depan toko, seolah Brian dan Freya benar-benar dekat.“Apa kamu tidak menyesal ingin membuat Brian didepak?” tanya Keano tiba-tiba, matanya menatap Freya lekat-lekat, mencoba membaca reaksi yang akan muncul dari pertanyaan itu. “Bukankah Brian juga pernah baik padamu?”Freya tersentak mendengar pertanyaan yang begitu tidak terduga itu. “Maksud Bapak apa? Saya tidak paham.”Keano tidak langsung menjelaskan, hanya menatap Freya dalam diam, menunggu jawab
“Ya.” Mata Keano yang biasanya tajam kini melunak ke arah Freya.Freya mengangguk-angguk pelan, tak banyak bicara lagi.Keano memanggil pelayan, memesan beberapa menu makanan untuk mereka.Sedangkan Freya duduk dengan tenang, patuh dengan pilihan yang Keano berikan.Makan malam berlangsung dengan suasana yang cukup nyaman, meski Freya masih menyisakan sedikit kecanggungan duduk berdua saja dengan Keano di tempat seelegan ini tanpa alasan bisnis yang jelas. Di tengah suapan yang sedang dia nikmati, Freya mendengar Keano yang tiba-tiba bertanya, memecah keheningan yang sempat menggantung di antara mereka.“Kamu tidak mau pesan kopi?” tanya Keano, matanya menatap Freya. Freya sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Tidak, Pak. Saya sebenarnya kurang suka kopi, apalagi kopi hitam. Rasanya terlalu pahit untuk lidah saya.”Keano menatap Freya lekat-lekat, sorot matanya menyelidik seolah sedang mencocokkan sesuatu di dalam kepalanya sendiri. Namun, dia tidak banyak berkomentar, hanya meng
Sore itu, jam kerja belum sepenuhnya usai.Freya sudah bersiap-siap merapikan pekerjaannya sebelum meninggalkan konternya.Rachel yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu, mengerutkan kening penasaran.“Frey, kamu mau pulang lebih awal?” tanya Rachel, menghentikan sejenak pekerjaannya merapikan rak.“Iya, Chel. Ada perlu sebentar, sudah ada izin juga kok,” jawab Freya sambil merapikan kertas catatan miliknya, mencoba terlihat sesantai mungkin.“Perlu apa? Ayahmu lagi? Ayahmu bikin masalah lagi?” Rachel semakin penasaran, matanya menyipit sedikit menyelidik.Freya berpikir cepat, mengingat alasan yang biasa dia pakai untuk menutupi urusan-ur
Freya melangkah masuk ke dalam toko dengan wajah kesal, cup kopi pemberian Brian masih tergenggam di tangannya karena tadi terpaksa dia ambil hanya untuk menghindari keributan lebih panjang di depan umum.Begitu sampai di area belakang toko, Freya langsung menuju wastafel kecil yang biasa digunakan karyawan untuk mencuci tangan, lalu tanpa ragu membuang seluruh isi gelas itu ke dalamnya.Rachel yang kebetulan sedang merapikan stok di dekat sana, menoleh melihat tindakan Freya yang begitu tegas. “Frey? Kenapa kopinya dibuang?”“Ini dari Brian,” jawab Freya singkat, suaranya masih menyisakan nada kesal yang belum sepenuhnya reda.Mendengar nama itu, wajah Rachel langsung berubah geram. “Astaga, Brian lagi? Sebenarnya maksudnya apa, sih? Sudah







